Sudah hampir satu bulan Dhananjaya tidak menemui Indah di kamarnya ataupun meminta wanita itu untuk menghadap. Terakhir bertemu yaitu saat di rumah sakit, saat sang istri mengalami keguguran. Padahal, Indah sangat ingin bertemu dengan pria kaku itu.
Salahkah jika Indah merindukan suaminya sendiri? Ia selalu berdiri di dekat pintu, membuka pintu kamarnya hingga memberikan celah agar dapat melihat Dhananjaya dari kejauhan saat pria itu akan pergi atau pulang.
Sosok tampan yang terlihat sangat perkasa itu mampu membuat hati Indah berseri-seri. Bagaimana tidak? Indah tidak pernah bermimpi sedikit pun untuk memiliki suami setampan dan sekaya Dhananjaya. Sekarang, pria yang digilai banyak wanita itu telah menjadi suaminya secara resmi.
Namun, Indah selalu merasa dirinya sangat kecil, ia tak menganggap Dhananjaya sebagaimana sebagai suami melainkan majikannya. Tidak perlu dijelaskan, ia merasa sangat sungkan pada suaminya sendiri.
“Indah, bersiaplah. Pak Jay memintamu untuk ke rumah Tuan besar Sanjaya. Pak Jay sudah ada di sana,” kata Alda setelah masuk ke dalam kamar Indah tanpa izin.
“Tuan besar Sanjaya?” Indah mengernyit bingung, tak tahu siapa nama yang disebut.
“Ayahnya Pak Basuki, Kakek Pak Jay,” terang Alda malas. Sanjaya adalah kepala keluarga Abraham, bagaimana Indah tidak mengenalnya? Yang benar saja!
Indah diam tak mengerti. Dhananjaya memintanya untuk ke rumah kakeknya? Untuk apa? Ini yang pertama kalinya suaminya itu memintanya untuk ke rumah keluarga yang lain. “Untuk apa aku ke—”
“Itu perintah Pak Jay. Aku tidak tahu untuk apa kamu diminta ke sana,” potong Alda sinis.
Tidak bisa dan tidak mungkin membantah, Indah hanya bisa mengangguk patuh. Ia pun segera berganti pakaian, bersiap-siap untuk pergi. Lagi pula, ia juga merasa senang akan bertemu Dhananjaya. Kesenangannya itu tidak dapat disembunyikan, Indah begitu antusias mempercantik diri untuk bertemu sang suami yang sudah sangat ia rindukan.
Rumah Sanjaya tidak jauh dari kediaman rumah Basuki yang ditempati Indah. Satu komplek mewah itu diisi rumah-rumah keluarga Abraham lainnya termasuk Sanjaya sendiri. Namun jika berjalan kaki, akan memakan waktu yang cukup lama dan melelahkan. Tentu, Indah dan Alda menggunakan mobil untuk ke rumah Sanjaya.
Sedangkan Dhananjaya, sudah berada di rumah kakeknya itu. Tadi saat di kantor, Sanjaya memintanya untuk datang karena dirinya sedang tidak sehat dan tidak bisa pergi menemui cucu kesayangannya itu. Dhananjaya menurut, ia langsung mengunjungi rumah sang kakek. Namun, ternyata Sanjaya juga ingin bertemu Indah.
***
Duduk di ruangan keluarga yang sangat luas, Dhananjaya dan Sanjaya duduk berhadapan. Sanjaya memang tampak tak sehat. Cuaca yang terbilang panas, terasa dingin hingga pria tua itu memakai sweater juga syal di lehernya.
“Kakek, kenapa Kakek tidak langsung saja membicarakan apa yang ingin Kakek bicarakan padaku? Kenapa harus ada Indah juga?” Dhananjaya mengeluh, penasaran dengan apa yang ingin kakeknya sampaikan.
“Kamu sudah menikah Jay, tapi sikapmu sama saja, tidak ada perubahan.” Sanjaya menipiskan bibirnya, mengejek.
“Apa yang harus aku ubah?” Dhananjaya jelas kesal. Memangnya ia harus seperti apa setelah menikah?
“Bawa istrimu ke mana pun kamu pergi, kecuali ke kantor. Kakek memintamu ke mari, seharusnya kamu membawa istrimu juga.” Sanjaya menasehati sekaligus menegurnya.
Dhananjaya terlihat mengembuskan napasnya dengan kasar. “Aku langsung ke sini saat Kakek menghubungiku tadi. Tidak sempat pulang,” kilahnya dengan enteng.
Keluar dari mobil, Indah terkagum-kagum dengan keindahan yang dimiliki rumah Sanjaya. Baginya, rumah mertuanya sudah sangat luas, tapi kini ia melihat rumah yang lebih luas lagi dari rumah mertuanya. Namun, rumah itu terlihat sangat sepi bagai tidak berpenghuni.
Seorang pelayan wanita membuka pintu utama dan mempersilakan Indah untuk masuk dengan ramah. Alda ikut masuk, berjalan di belakang tubuh Indah. Pelayan itu membawa mereka berdua ke ruang keluarga yang letaknya ada di bagian belakang.
“Assalamu'alaikum,” salam Indah saat datang.
“Wa'alaikumsalam,” sahut Dhananjaya dan Sanjaya secara bersamaan.
Indah melirik ke arah Dhananjaya sebentar sebelum akhirnya menatap Sanjaya. Dengan sungkan, ia membungkukkan badan, tangannya terulur ingin meraih tangan Sanjaya untuk diciumnya.
Namun, Sanjaya malah mengangkat tangannya sambil berkata, “Tidak, Nak, lakukan itu pada suamimu terlebih dahulu.”
Indah terkesiap dengan penolakan Sanjaya. Sempat merasa bingung, tapi beberapa detik kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Dhananjaya. Bukan hanya Indah, tetapi Dhananjaya juga merasa bingung. Namun, reflek ia pun mengulurkan tangannya kepada Indah walau ia tak tahu untuk apa. Tidak menunggu lama, Indah segera mencium punggung tangan Dhananjaya.
Diliriknya Sanjaya yang sedang tersenyum sambil mengangguk, menandakan itulah yang memang ia maksud, Indah harus menghormati Dhananjaya terlebih dahulu. Walaupun usianya sudah tidak muda dan pantas dihormati, tetaplah Dhananjaya yang harus menjadi prioritas Indah sebagai baktinya sebagai seorang istri. Setelah mencium tangan Dhananjaya, kini Indah beralih mencium tangan Sanjaya dan kali ini ia tidak menolak. Sebaliknya, ia mengusap rambut Indah dengan sayang.
“Duduklah,” pinta Sanjaya tersenyum ramah.
Meski sungkan dan sejujurnya Indah tidak pernah duduk berdua bersama pria yang sudah menjadi suaminya itu, tapi kali ini ia tidak mungkin duduk di sofa yang berbeda. Jadi, ia duduk tepat di samping suaminya itu. Wajah Dhananjaya seperti biasanya, dingin tanpa ekpresi apa pun.
“Seperti yang kalian lihat, Kakek sudah sangat tua.” Sanjaya memulai percakapan.
Dhananjaya langsung menyahuti dengan nada kesal, “Kakek, jika Kakek ingin membicarakan tentang keturunan, Indah sempat hamil—”
“Kakek belum selesai bicara, Jay.” Sanjaya menghentikan ucapan cucunya itu. Ia lanjut berkata, “Dengar, Kakek punya hadiah untuk istrimu. Hadiah itu mutlak miliknya dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun termasuk anak-anak Kakek.” Tatapannya beralih kepada Indah. “Kakek sudah membelikan sebuah rumah untukmu, Nak. Tinggalah di sana.”
“Apa maksud Kakek?” Dhananjaya meminta penjelasan.
Helaan napas panjang keluar begitu saja dari mulut Sanjaya. Ia berkata penuh makna, “Keluarlah dari rumah orang tuamu, dan tinggal di rumah baru. Pengaruh yang diberikan rumah orang tuamu itu sangat besar untuk kesehatan hati istrimu. Jika kamu masih tidak mengerti, baiklah, Kakek akan menjelaskannya.
“Kakek sudah pernah mengatakannya, Kakek ingin cicit darimu. Mulailah program hamil. Kakek dengar kandungan istrimu lemah. Kakek harap, kamu pintar seperti otakmu yang genius itu, Jay. Indah tidak nyaman di rumah itu. Tinggalah di rumah yang Kakek berikan. Jangan biarkan seseorang mengganggu pertumbuhan cicit Kakek lagi,” kata Sanjaya panjang lebar, menyerukan isi hatinya.
Bukan sebuah rahasia lagi jika Indah diperlakukan tidak baik oleh keluarga Basuki dan selalu mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari semua pelayan. Semua informasi yang didapatnya tentang Indah, Sanjaya dapatkan dari Hendra, tangan kanan Dhananjaya sendiri. Ya, Sanjaya mempercayakan Indah pada Hendra, meminta pria itu untuk menjaganya. Pada kenyataannya, Hendra tetap Hendra yang selalu mengikuti ke mana pun tuannya pergi.
Hendra sudah melempar amanahnya kepada Alda, meminta wanita itu untuk mengawasi dan melindungi Indah. Namun, yang terjadi dia juga bergabung dengan orang-orang yang sering menyakiti hati Indah. Hendra tahu itu, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Kedudukannya sebanding dengan Alda, sama-sama ketua 'babu' di rumah Abraham.
“Kakek cukup memberikanku perintah, tidak perlu membeli apa pun untuk kami. Aku bisa membeli rumah dengan uangku,” balas Dhananjaya sopan, tak ingin membuat kakeknya merasa kecewa karena menolak pemberiannya.
“Hey, Kakek sudah katakan, rumah itu untuk istrimu. Artinya, kamu yang akan menumpang hidup di rumah istrimu.” Sanjaya mengingatkan.
“Kakek, tolong, jangan campuri rumah tanggaku. Aku yang akan mengurus istriku sendiri. Akan kupastikan, dia akan melahirkan cicitmu.” Keputusan Dhananjaya sudah akhir, tak ingin dibantah oleh kakeknya sekalipun, ia tak menerima rumah pemberian kakeknya itu. “Kita pergi,” ajaknya pada Indah.
Sanjaya tak ingin melarangnya. Ia tahu, cucu tersayangnya itu kesal padanya. Sanjaya tahu Dhananjaya sangat dingin kepada Indah. Oleh karena itu, ia sendiri yang harus membuat cucunya sedikit menghargai istrinya sendiri.
Sanjaya sudah sering menasehati Basuki dan Maria perihal sikap mereka terhadap Indah. Basuki bisa saja bersikap lembut, tapi Maria tak pernah mau mendengarkan permintaan ayah mertuanya itu. Jadi, Sanjaya ingin Dhananjaya sendiri yang memperhatikan wanita yang sudah menjadi bagian keluarga Abraham yaitu Indah.
“Besok kita ke rumah sakit untuk melakukan program hamil. Untuk masalah rumah, aku akan mengaturnya,” kata Dhananjaya saat di dalam mobil, perjalanan pulang.
“Baik.” Hanya itu yang bisa Indah ucapkan, tak mungkin ia dapat menolak usulan Dhananjaya.
Di tengah makan malam sedang berlangsung, Dhananjaya tak henti memikirkan ucapan kakeknya. Haruskah ia meninggalkan rumah orang tuanya dan membeli rumah sendiri semata-mata agar Indah hidup dengan nyaman? Namun, hatinya berkata lain. Untuk apa ia memikirkan kenyamanan Indah? Wanita itu tidak berarti apa-apa baginya.
Tapi entah sejak kapan, Dhananjaya mulai terobsesi untuk memiliki keturunan. Ya, kali ini hatinya yang menginginkan adanya seorang anak, bukan keterpaksaan yang dilakukan kakek dan orang tuanya. Agar Indah cepat mengandung kembali, lalu pergi setelah melahirkan, Dhananjaya sudah membulatkan niatnya.
“Ayah, Ibu, aku akan mencari rumah baru.” Dhananjaya berhasil memecah keheningan.
“Untuk apa?” tanya Basuki ingin tahu.
“Kakek menginginkanku meninggalkan rumah ini.” Dhananjaya tetap tenang seolah ia tidak keberatan.
“Apa? Kenapa?” Maria memekik, tak percaya dengan permintaan ayah mertuanya.
“Tanyakan pada diri kalian, apa yang membuat Kakek menginginkan itu.” Dhananjaya memutar pertanyaan dengan enteng.
“Jay, bicara yang jelas.” Basuki memperingati tak suka.
“Kakek ingin cicit. Permintaannya tidak berubah, bukan?” Dhananjaya menatap kedua orang tuanya sinis, tampak kesal akan keinginan Sanjaya juga keadaan di rumahnya yang tidak mendukung.
“Lalu? Apa masalahnya jika kamu tetap di rumah ini?” Basuki meminta penjelasan lebih.
“Aku tidak masalah, tapi Indah yang memiliki masalah.” Dhananjaya menyindir halus tapi tepat sasaran.
Maria mengomeli, “Apa wanita kampung itu mengadu pada Kakekmu? Kurang ajar! Sudah Ibu katakan, wanita seperti itu—”
“Indah tidak pernah mengeluh dan tidak pernah mengadu. Bagaimana dia bisa mengadu pada Kakek, jika mengadu padaku saja dia tidak berani?” potong Dhananjaya dengan cepat. Entah kenapa, hatinya merasa bosan mendengarkan ibunya yang terus menyalahkan Indah dari segi apa pun.
“Jay, tetaplah di sini,” pinta Basuki pelan, lalu menatap istrinya yang terlihat cemberut. “Untuk kamu, Maria, jangan pernah mengganggu Indah. Biarkan dia nyaman di sini.”
Maria langsung meliriknya dengan wajah kesal. Lantas ia membela diri sambil melotot tak senang atas tuduhan Basuki, “Hey, siapa yang mengganggu wanita itu? Dia—”
“Wanita itu memiliki nama, Indah. Maria, cobalah untuk menerima Indah di rumah ini,” sela Basuki yang juga menampilkan wajah kesalnya.
“Apa? Jangan harap itu akan terjadi.” Maria mendelikkan matanya ke arah lain.
“Walau bagaimanapun, wanita itu yang akan melahirkan cucu kita.” Basuki tak henti membujuk sang istri. Bukan takut, ia hanya malas adanya masalah yang mungkin akan tercipta kembali.
Maria tersenyum kecut. “Itu bukan sanjungan, bukan? Jelas Jay yang salah karena menikahi wanita itu. Wanita yang—”
“Cukup!” Dhananjaya menggebrak meja hingga kedua orang yang sedang bersitegang itu langsung meliriknya. Namun, mata Dhananjaya terfokus pada sang ibu. “Jika Ibu ingin aku bercerai dengannya, maka aku akan menceraikannya secepat mungkin. Hanya saja di masa mendatang, jangan pernah memintaku untuk menikah lagi,” ancamnya tak main-main.
“Jay, cobalah mengerti. Tidak perlu meninggalkan rumah ini.” Basuki mengeluh, terdengar seperti memohon agar Dhananjaya memahami sifat wanita itu yang memang sangat keras kepala. “Maria, jika kamu ingin Indah cepat keluar dari rumah ini, maka biarkan dia merasa nyaman agar kehamilannya lancar,” sambungnya kepada Maria, terdengar tegas yang disertai wajah jengah.
Namun, Maria semakin tak terima karena tidak ada yang memihaknya. Ia bangkit dari kursinya dengan gerakan kesal sambil mengoceh, “Aku sudah mengatakannya berulang kali, ceraikan wanita itu! Aku bisa mencarikan wanita yang lebih layak dari wanita kampung itu!”
Setelah Maria menghilang dari pandangan, Basuki melihat Dhananjaya yang sedang melamun, memainkan makanannya tanpa minat. “Jay, coba untuk mengerti sifat Ibumu.”
Basuki terus mencegah agar Dhananjaya tetap berada di rumahnya. Putra sulungnya adalah kebanggaan keluarga Abraham. Keahliannya berbisnis bahkan mengalahkan para orang tua. Jika Dhananjaya meninggalkan rumah Basuki karena Indah merasa tak nyaman, maka sudah dipastikan dirinya akan menjadi bahan gunjingan orang bahkan keluarganya sendiri.
Pada akhirnya, Dhananjaya tetap di rumah itu dengan syarat semua orang harus merubah sikapnya terhadap Indah. Setidaknya, orang-orang di sana jangan pernah membuat Indah merasa tertekan agar jika wanita itu hamil lagi, ia tak akan mengalami stres seperti sebelumnya.