Perubahan Kecil

1804 Kata
Sudah satu minggu Indah kembali ke rumah Abraham. Suasananya begitu canggung, lebih-lebih saat pertama kali menginjakkan kakinya di sana. Tidak ada keberanian sedikit pun untuk keluar dari kamar, ia selalu mengurung diri seperti kebiasaannya. Tidak ada yang menemani, kesepian melanda hatinya. Dhananjaya tak pernah menemuinya entah itu menjenguk, ataupun memintanya untuk menghadap. Entah apa yang direncanakan takdir untuknya, Indah merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi. Mendiami sebuah rumah tanpa berinteraksi dengan sesama manusia, siapa yang akan tahan akan hal itu? Namun, lagi-lagi Indah hanya bisa pasrah. Dalam keterpurukannya, ia tak pernah meninggalkan kewajibannya untuk bersembahyang. Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Indah menatap ke asal suara secara spontan. Aneh, biasanya para pelayan akan langsung masuk dengan tidak sopannya, tanpa permisi apalagi sekadar mengetuk pintu. Siapa yang ingin bertemu dengannya? Merasa penasaran, Indah berjalan ke arah pintu untuk membukanya. “Nona.” Indah menatap bingung wanita di hadapannya. “Apa aku boleh masuk?” tanya Jasmin ragu-ragu. “Tentu.” Indah mengangguk antusias, tak mungkin melarang putri bungsu Abraham yang sangat ia segani untuk masuk ke dalam kamarnya. “Apa aku mengganggu?” Jasmin mulai masuk, melihat-lihat isi kamar Indah yang tampaknya tidak ada hal menarik baginya. “Tidak, Nona.” Indah menggeleng pelan atas pertanyaan Jasmin. “Jangan canggung seperti itu. Aku adik iparmu, adik Kak Jay, Jasmin.” Jasmin tak suka, Indah sangat menyanjungnya seperti pelayan. “Indah.” Indah memperkenalkan diri. “Kamu suka membaca buku?” Jasmin membalas uluran tangan Indah seraya tersenyum ringan. Indah tidak langsung menjawab, tak mengerti dengan tujuan dari kedatangan Jasmin. Apakah wanita itu sedang menyinggung tentang buku yang pernah ia ambil di perpustakaan? “Aku hanya jenuh. Waktu itu, aku iseng masuk ke dalam perpustakaan dan menemukan buku Nona Jasmin.” Indah merasa malu juga tak enak. “Jangan bersikap seperti itu, jangan menunduk saat bicara denganku. Dengar, kamu bebas membaca buku yang ada di sana termasuk buku milikku. Hanya saja, buku yang kamu ambil memang akan aku gunakan saat itu. Jadi, aku membawanya darimu. Kamu ingin melihat buku koleksiku?” kata Jasmin panjang lebar, menatap Indah dengan rasa iba. “Apa itu boleh?” Indah membelalakan matanya dengan sempurna. Tentu, ia merasa tak percaya dengan tawaran Jasmin. “Ikutlah denganku,” ajak Jasmin, meminta Indah untuk ikut. Awalnya Indah enggan, ingat akan larangan banyak orang yang tidak memperbolehkannya keluar kamar. Namun, Jasmin bilang semua akan baik-baik saja, ia yang akan bertanggung jawab jika saja seseorang memarahinya. Oleh karena itu, Indah mau saja mengikuti adik iparnya. Jasmin sangat cantik, pakaiannya pun terlihat bukan pakaian yang biasa Indah lihat di luar sana. Wajahnya memiliki kemiripan dengan sang ibu, sombong dan ketus. Namun dari nadanya bicara, tidak sesinis dan nada tinggi seperti Maria ataupun Dhananjaya. Langkah Jasmin terhenti di pintu besar perpustakaan. Ia pun mengajak Indah untuk masuk. Langkahnya berlanjut menuju salah satu rak, di mana buku-buku miliknya tersimpan rapi di sana. Buku-buku itu tidak diperlukannya lagi. Jadi, ia mengizinkan Indah untuk memilih buku mana pun yang ingin Indah baca. Di ruangan itu, Indah dan Jasmin banyak mengobrol. Namun, Indah lebih banyak diam, hanya sebuah anggukan atau gelengan di kepalanya sebagai jawaban. Sosok Jasmin yang tidak pernah ia ketahui, membuatnya kagum karena ternyata wanita itu sangat cerewet, bertolak belakang dengan wajahnya yang terkesan ketus dan sombong. Sejak saat itu, Jasmin tak sungkan untuk masuk ke kamar Indah hanya untuk mengajaknya ke perpustakaan dan mengobrol di sana. Tentu, Indah tidak mungkin menolaknya. Indah merasa memiliki teman baru dalam hidupnya. Bahkan, ia masih tak percaya Jasmin yang merupakan gadis berstatus tinggi itu mau bicara dengannya. Satu lagi, tidak ada satu pun pelayan yang berani melarangnya keluar kamar jika bersama Jasmin. Bukan hanya Indah, tapi Jasmin juga merasa punya teman baru di rumahnya. Ibunya, Maria, jarang sekali ada di rumah. Ibunya itu akan menghabiskan waktu bersama teman-teman sosialitanya yang juga dari kalangan atas. Oleh karena itu, Jasmin sering kali merasa kesepian di rumahnya sendiri. Namun, sekarang ada Indah yang merupakan kakak ipar sekaligus temannya bicara. “Indah, maukah kamu menemaniku?” Jasmin memecah keheningan saat asyik membaca buku di perpustakaan. “Ke mana?” Indah tidak dapat menyembunyikan ketertarikannya. “Mall? Atau ... kafe?” jawab Jasmin tak tentu. Ia hanya merasa bosan, ingin keluar rumah untuk menghirup udara segar. Indah yang tadi sempat tersenyum senang, kini menundukan kepalanya. “Aku tidak berani,” lirihnya. “Tidak berani apanya?” Jasmin terlihat kesal. “Meminta izin kepada Pak Jay.” Indah kembali menatap Jasmin, terpancar jelas ia tak memiliki keberanian untuk meminta izin kepada Dhananjaya. “Indah, tolong, jangan panggil kakakku dengan sebutan ‘Pak’. Dia adalah suamimu.” Jasmin mengoceh, kesal sendiri mendengarnya. Indah tidak menjawab apa pun, tidak mengangguk atau menggeleng. Jasmin memang sudah mengatakan itu berulang kali, ia tak suka dengan sikap Indah yang terlihat sangat sungkan dan memilih untuk menjadi 'orang lain', menghormati semua orang termasuk pelayan, bersikap seolah dirinya lebih rendah dari para pekerja Abraham. Siapa Indah? Yang Jasmin tahu, wanita itu adalah kakak iparnya. Terlepas seperti apa hubungan Indah dan Dhananjaya, wanita itu tetaplah patut dihormati oleh semua orang termasuk dirinya sendiri. Latar belakang bukan alasan Indah tidak dianggap sebagai menantu Abraham. Sayangnya, yang berpikiran seperti itu hanya Jasmin, tidak dengan yang lainnya. “Kamu bisa memanggilnya ‘Pak’, tapi tidak saat bersamaku!” Jasmin mendengkus kesal. “Baiklah, biar aku yang meminta izin kepada Kak Jay untuk mengajakmu keluar,” lanjutnya, lalu berjalan menjauhi Indah. Di tempat lain Dhananjaya sedang sibuk dengan beberapa dokumen yang bertumpuk di mejanya. Mendengar ponselnya yang berdering, hatinya langsung meggerutu kesal. Namun, mau tak mau ia menjawab panggilan Jasmin tanpa berniat untuk memeriksa layar ponselnya dulu guna mengetahui siapa si pemanggil. “Kak, bisakah aku membawa istrimu keluar?” tanya Jasmin pelan, ragu. “Apa maksudmu?” Dhananjaya mengerutkan keningnya bingung, aktivitasnya pun mendadak terhenti. “Aku ingin membawa istrimu ke mall.” Jasmin menegaskan. Dhananjaya tak bisa mencerna dengan baik. Pasalnya, ia memang tak tahu kedekatan antara Indah dan Jasmin. “Tidak,” jawabnya tegas. “Kenapa?” Jasmin memprotes kesal sekaligus penasaran. “Dia tidak boleh ke mana-mana.” Dhananjaya tak memiliki alasan jelas. “Ayolah, Kak. Istrimu itu bukan tawanan. Dia perlu menghirup udara segar.” Jasmin mendesah dengan suara mendominasi antara kesal juga membujuk. “Apa dia yang menginginkannya?” Dhananjaya menduga yang tidak-tidak. “Tidak, Kak, aku yang mengajaknya, bukan kakak ipar.” Jasmin mengenyahkan tuduhan sang kakak. “Dengar, jika kamu membawanya keluar, kemungkinan dia akan kabur dan tidak akan kembali ke rumah.” Dhananjaya memberikan alasan yang tak masuk akal. “Apa Kak Jay sangat mengkhawatirkannya?” Jasmin menggoda, salah paham. Dhananjaya terdiam sesaat. Apa yang salah dengan ucapan sebelumnya? Namun, ia menjawab dengan tegas, “Tutup mulutmu, Jasmin. Omong kosong macam apa itu?” “Jadi, bagaimana? Apa aku bisa membawa kakak ipar?” Jasmin meminta jawaban. “Terserah. Dia harus sudah ada di rumah ketika Kakak pulang.” Dhananjaya tak ingin pusing. “Baiklah.” Jasmin mengakhiri panggilan, tersenyum ke arah Indah. “Kakak mengizinkanmu. Ayo siap-siap,” ucapnya girang. Indah tersenyum lega, tak percaya Dhananjaya akan mengizinkannya keluar rumah. Tentu, ia segera berganti pakaian dan bersiap pergi. Untuk yang pertama kalinya ia keluar dari rumah dengan tujuan jalan-jalan, bagaimana ia bisa tidak semangat? Mengunjungi sebuah mall, Indah dan Jasmin ditemani salah satu pelayan Abraham. Jasmin tak sungkan untuk merangkul bahu teman barunya semata-mata agar wanita itu berjalan di sampingnya, tak ingin Indah berjalan di belakangnya seperti pelayan. “Jasmin?” panggil seorang pria dari kejauhan. Sontak, Jasmin dan Indah berhenti melangkah. Menoleh ke asal suara, mereka melihat Rega bersama istri serta anaknya yang masih kecil. Kedua orang itu tersenyum ramah sambil menghampiri. “Kak Rega.” Jasmin membalas senyum. “Sedang apa kamu di sini?” Rega tampak kebingungan dengan hubungan yang terjalin antara Indah dan Jasmin, persis seperti teman dan bukan sebagai ipar. “Mencari udara segar,” jawab Jasmin sambil mencubit pipi keponakannya. Rega mengangguk paham. Sadar akan tatapan sang istri kepada Indah, Rega berkata kepada istrinya, “Indah, istri Jay.” “Aku masih ingat, tapi sepertinya kita belum saling mengenal.” Nadia tak sungkan untuk mengulurkan tangannya ke arah Indah dan memperkenalkan diri, “Nadia.” “Indah,” balas Indah seraya mengangguk sopan. “Ya sudah, kami akan lanjut keliling,” kata Rega pada Jasmin, lalu mengajak istrinya untuk pergi. Jasmin dan Indah juga melanjutkan langkahnya menuju eskalator. Indah merasa tak percaya, ternyata bukan hanya Rega yang bersikap ramah, tetapi istrinya pun demikian. Namun, mengapa suaminya sendiri tak pernah bersikap lembut seperti Jasmin dan Rega? Pria itu sangat kaku, tidak pernah tersenyum sedikit pun. “Kak Rega adalah anak Paman Haidar, kakaknya Ayah. Kamu pasti tidak mengenalnya, 'kan?” Jasmin menatap Indah prihatin. Bagaimana tidak? Indah sudah menjadi istri kakaknya selama empat bulan, tapi tidak pernah dibawa berkunjung ke keluarga besar Abraham, sehingga baik Indah ataupun keluarga besar Abraham sama-sama tidak saling kenal. “Kak Jay memang keterlaluan. Apa dia tidak pernah membawamu ke mana pun?” Jasmin mendengkus kesal. “Aku tidak keberatan. Lagi pula, aku juga akan sangat sungkan jika harus berkenalan dengan keluarga besar,” jawab Indah apa adanya, karena memang itu yang ia rasakan. “Kamu adalah istrinya, tentu kamu harus mengenal semua keluarga suamimu.” Jasmin mencibir dengan mimik kesal. “Hey, yang kamu bicarakan itu kakakmu.” Indah tersenyum geli melihat tingkah Jasmin yang sedang membelanya seolah Dhananjaya adalah orang lain. “Ya, dan dia adalah suamimu! Tidak masuk akal!” kesal Jasmin karena Indah tidak mengeluh, apalagi menuntut sesuatu pada Dhananjaya, suaminya sendiri. Hubungan Indah dan Jasmin semakin dekat dari waktu ke waktu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di dalam ataupun luar rumah. Jika keluar, pastilah mereka akan mengunjungi kafe atau mall. Hubungan yang terjalin lebih dari sekedar kakak ipar dan adik ipar, tetapi seperti sahabat pada umumnya. Bercerita tentang kehidupan masing-masing, sering mereka lakukan. Namun, Indah tidak berani membicarakan suaminya sendiri yang masih bersikap dingin padanya. Apalagi membicarakan orang rumah seperti Maria, Alda, dan yang lainnya, ia tidak berani. Ketidaknyamanannya biarlah ia sendiri yang merasakan. Kenyataannya, Jasmin sudah tahu sedikit tentang Indah yang sering diperlakukan tidak hormat oleh para pelayannya. Maria sudah jelas tidak menyukainya bahkan sebelum pernikahan terjadi, tapi para pelayan seharusnya tetap menghormati Indah sebagai anggota keluarga Abraham, pikir Jasmin. Perihal hubungan Indah dan Dhananjaya, barulah Jasmin tak tahu sama sekali. Ia tahu pernikahan kakaknya itu bukan karena cinta, tapi keterpaksaan. Namun, hati kecilnya berharap Indah dan Dhananjaya akan saling mencintai suatu hari nanti. Membicarakan tentang kelayakan, sejujurnya Jasmin juga berpikir Indah tidak pantas menjadi kakak iparnya. Namun, kelembutan, kejujuran, kebaikan, serta ketabahan wanita itu, Jasmin melihat sisi Indah yang sesungguhnya. Dia tidak cantik dari segi rupa, tapi hatinya yang cantik juga tulus. Oleh karena itu, Jasmin tidak memiliki alasan untuk tidak menyukainnya. Kejujuran Indah saat mengakui bahwa dirinya yang telah membawa buku Jasmin dan meminta maaf padanya sudah cukup membuat hati Jasmin tersentuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN