Masalah Kecil yang Menjadi Besar

2064 Kata
“Alda! Bantu cari buku yang kemarin ketinggalan di perpustakaan!” Jasmin berdiri tak jauh dari kamar Indah, berteriak ke arah lantai dasar. Suara Jasmin begitu menggema hingga dapat terdengar oleh siapa pun. Beberapa pelayan yang sedang berkumpul di lantai dasar, saling menatap satu sama lain. Namun, hanya Alda yang berani menemui anggota keluarga. Untuk itu, ia bergegas pergi ke lantai atas. “Nona, apa yang bisa kubantu?” tanya Alda ketika kakinya terus mengejar langkah Jasmin. “Bantu cari bukuku yang ketinggalan di perpustakaan,” titah Jasmin tanpa menatap lawan bicaranya. “Baik, Nona.” Alda mengangguk sopan walau Jasmin tidak melihatnya. Indah berdiri di balik pintu kamarnya, mendengar suara Jasmin yang begitu tidak sabaran untuk menemukan bukunya. Sepertinya wanita itu sedang membutuhkan buku itu secepatnya. Judul bukunya memang tidak disebutkan, tapi Indah yakin, yang dicarinya pasti buku yang sedang ia baca. Ingin mengembalikan buku itu, tapi ia pun takut akan makian Alda atau bahkan Jasmin yang tidak pernah berbicara dengannya. Cukup lama Indah berdiri di sana tanpa melakukan apa pun, tapi pikirannya sedang mencari cara untuk mengembalikan buku itu. Akhirnya ia memberanikan diri untuk keluar dari kamar, membawa buku ditangannya. Tepat di lorong pertigaan, dengan cepat Indah bersembunyi saat Alda berjalan keluar dari lorong tersebut. Indah lega, wanita ketus itu tidak ada di perpustakaan, jadi ia bisa menyimpan buku itu tanpa ketahuan. Pintu perpustakaan terbuka lebar, Indah mengintip ke dalam dan melihat tubuh Jasmin yang masih mencari bukunya di rak paling ujung. Kaki Indah sedikit berjingkat, tak ingin menimbulkan suara yang dapat membuat Jasmin menyadari kehadirannya. Namun, usahanya sia-sia karena Jasmin tidak sengaja menoleh ke arahnya. Melihat bukunya berada di tangan Indah, ia pun segera menghampiri. Sementara Indah, mundur beberapa langkah seolah takut wanita itu akan menerkamnya. “Maaf, a—aku yang mengambil bukunya. Sekali lagi, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya.” Indah sangat gugup, tangannya sedikit bergetar. “Untuk apa kamu baca buku ini?” Jasmin terlihat kesal, mengambil bukunya dengan kasar. “Aku hanya merasa jenuh. Permisi.” Indah segera berbalik, lalu meninggalkan ruangan itu. Jasmin tidak bersuara lagi membuat Indah merasa lega. Walaupun wanita itu terlihat kesal, setidaknya ia tidak sampai memakinya karena mengambil buku miliknya. Indah harap, Jasmin dapat memaafkannya dan tidak memarahinya di kemudian hari. “Indah? Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu yang membawa buku Nona Jasmin?” Alda menatap penuh intimidasi saat berpapasan bersama Indah. Ia melihat sendiri, menantu Abraham itu keluar dari perpustakaan. “Maaf.” Indah tidak berani mengelak. “Berani sekali kamu! Cepat minta maaf kepada Nona Jasmin!” Alda tak segan menarik lengan Indah, menyeretnya ke dalam perpustakaan untuk meminta maaf pada Jasmin. “Alda, biarkan saja. Yang penting buku ini sudah ditemukan.” Jasmin menahan Alda agar tidak terus melangkah. Tatapannya teralih ke arah Indah, lalu berkata, “Kamu boleh pergi.” “Terima kasih, Nona.” Indah manggut-manggut dengan cepat, merasa terlindungi dari makian Alda. “Jangan pernah mengambil apa pun di rumah ini. Kamu mengerti?” Alda memperingati dengan tegas. “Baik.” Sekali lagi, Indah mengangguk sebelum akhirnya pergi. Sepertinya wanita berusia 21 tahun itu tidak terlalu berbahaya bagi Indah. Maksudnya, tidak terlalu sinis dan keras kepala seperti Dhananjaya dan Maria. Namun, tetap saja Indah tidak berani melakukan sesuatu yang dapat membuat anak bungsu Abraham marah lagi. Keluar dari lorong perpustakaan, Indah melihat Maria baru saja sampai di lantai tiga. Dari kejauhan saja, wajahnya sudah sangat tidak bersahabat. Sepertinya Alda mengadu tentang apa yang terjadi, hingga Nyonya Besar di rumah itu tampak sangat murka. Masalah kecil, semua orang pasti setuju dengan kalimat itu. Namun, tidak dengan Maria yang sangat tidak suka jika Indah berkeliaran di rumahnya. Terlebih, wanita itu berani mengambil barang milik Jasmin. Masalah kecil ini akan Maria besar-besarkan. “Lancang sekali kamu membawa buku milik Jasmin! Apa kamu sedang mengumpulkan barang-barang curianmu untuk kamu jual setelah Jay menceraikanmu?” teriak Maria, tepat di hadapan Indah. “Ti—tidak, Nyonya.” Indah menggelengkan kepalanya, menatap Maria bagai seorang algojo yang akan menghukumnya. Plak! Sebuah tamparan sangat keras meluncur di pipi kiri Indah. Mustahil Indah dapat mencegah, apalagi menyerukan perasaannya yang tak terima atas perlakuan itu. Apa yang bisa ia lakukan selain menundukkan kepalanya? “Dasar wanita tak tahu diri! Kamu sudah makan dan tidur enak di sini! Ditambah biaya pengobatan ayahmu yang tidak sedikit. Apa itu saja tidak cukup?! Sekali lagi kamu berani mencuri apa pun di rumah ini, kamu akan tahu akibatnya!” ancam Maria tak main-main. Tangannya tak ingin diam, menunjuk-nunjuk ke arah wajah Indah seperti seorang pelaku pencurian uang atau bahkan berlian. Jika saja Indah mengangkat wajahnya, sepertinya Maria sudah siap untuk menamparnya kembali. Segala makian, hinaan, dan tuduhan terus Maria layangkan untuk Indah. Tak ingin Indah menikmati udara luar, Maria menyeretnya ke dalam kamar. Tidak seharusnya wanita yang sedang mengandung cucunya itu berkeliaran, bahkan di lantai tiga sekalipun. Udara yang harus dihirupnya hanya sebatas kamarnya saja, tidak boleh ke ruangan lain. Jasmin yang masih di dalam perpustakaan, segera berlari ke asal suara kericuhan terjadi. Ia pun dapat melihat sang ibu yang sedang menarik tangan Indah secara kasar, wajar saja wanita yang ditariknya begitu sulit menyeimbangkan langkah. Jasmin pun mempercepat jalannya, mengejar sang ibu. “Tempatmu di sini! Apa kamu dengar? Jangan pernah keluar dari kamarmu!” Maria lalu mendorong tubuh Indah ke sofa dengan kasar. “Bu!” Jasmin ikut masuk ke dalam kamar, begitu pun Alda yang ada di belakangnya. “Ibu, kenapa harus main kasar?” “Jasmin, jangan membela orang seperti dia! Dia sudah diperingati berulang kali, tapi tak pernah mengerti. Apalagi jika tidak diperingati?!” Maria balas tak terima melihat Jasmin ingin menghentikannya. “Hey, apa kamu bodoh? Tidak mengerti maksud peringatan dariku?” tanyanya pada Indah. “Peringatan apa maksud Ibu?” Jasmin tak mengerti sama sekali. “Sudahlah, ayo pergi. Ibu tidak betah di sini.” Maria menyambar tangan putrinya untuk ia bawa keluar. “Ibu duluan saja.” Jasmin sengaja menghindar, tak ingin meninggalkan kamar itu sebelum memastikan sesuatu. “Jasmin! Jangan bilang kamu mulai prihatin padanya!” Maria melotot kesal. “Memangnya kenapa, Bu? Apa salah dia?” Jasmin tak ingin mengalah. “Kamu tanya salah apa? Bukannya dia sudah berani mengambil buku milikmu? Apa itu bukan kesalahan?” Maria tak habis pikir, mengapa Jasmin tak ikut menyalahkan Indah perihal bukunya. “Bu—” “Sekali pencuri, tetaplah pencuri. Ibu tidak akan biarkan dia tetap menjadi pencuri! Hari ini buku, besok atau hari mendatang dia akan mencuri uang, perhiasan, atau bahkan dokumen penting!” Maria berbalik, lalu pergi dengan kakinya yang terhentak-hentak ke lantai. Jasmin melihat Indah duduk di sofa dalam posisi tak beraturan, memegangi perutnya yang tampak kesakitan. Mulutnya terus berdeham, seolah sedang menahan suatu yang sangat sakit. “Kamu ... tidak apa-apa?” tanya Jasmin tanpa melakukan apa pun, tetap berdiri di tempatnya, bingung harus melakukan apa. “Kenapa perutmu?” “Sakit.” Indah terus merintih kesakitan. Tak lama dari itu, tubuh Indah ambruk ke atas lantai. Melihat adanya bercak darah, seketika itu juga Jasmin sangat panik. “Ka—kamu ... kamu pendarahan. Apa kamu sedang hamil?” Indah mengangguk tanpa bersuara. Jasmin menutup mulutnya yang ternganga, matanya kian meolot takut. Rasa panik yang besar menyerangnya. Demi apa pun, ia tak tahu bahwa ternyata kakak iparnya sedang hamil. Tinggal di rumah yang sama, bukan berarti Jasmin tahu apa yang terjadi di rumahnya. Perdebatan Jasmin dan Maria kembali terjadi saat Jasmin ingin ikut membawa Indah ke rumah sakit, sedangkan ibunya bersikeras melarang, merasa hal itu tidak penting. Di sisi lain, Jasmin juga baru ingat bahwa ia ada kelas sore. Pada akhirnya, ia tak bisa ikut mengantar Indah untuk diperiksa. Memasuki gedung rumah sakit, Alda membawa Indah dengan tergesa-gesa. Indah sudah mengatakan dirinya tidak bisa berjalan cepat karena tubuhnya lemah, tapi wanita itu terus menyeretnya, benar-benar tidak peduli dengan kesulitan Indah saat berjalan. Dokter mengatakan Indah mengalami pendarahan dan menyebabkan janinnya keguguran. Tidak diragukan lagi, penyebab kegugurannya karena Indah merasa stres dan tertekan. Ditambah guncangan yang dilakukan Maria, menjadi alasan yang fatal keguguran terjadi. Mengetahui hal itu, Indah hanya bisa menangisi nasibnya. Ia sudah dapat membayangkan murkanya Dhananjaya perihal ini, juga tak tahu harus berkata apa nanti. Harapan untuk segera mengakhiri 'misi' di rumah Abraham kini tertunda. Indah harus mengulur waktu, menunggu rahimnya terisi janin yang harus ia lahirkan ke dunia. “Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan, hah? Dasar bodoh! Apa kamu tidak mengerti juga dengan apa yang aku perintahkan? Aku sudah mengatakannya berulang kali, jaga kandunganmu baik-baik! Apa ini, hah?” Dhananjaya mengamuk saat baru saja sampai ke ruangan Indah. “Maaf.” Tidak ada kata-kata lain selain meminta maaf dari mulut Indah. Ia pun menundukkan kepalanya, tak berani menatap sang suami yang terlihat sangat murka. Bahkan, Indah baru pertama kali ini melihat kekesalan yang teramat dari seorang Dhananjaya. “Sia-sia saja aku membiayai perawatan ayahmu! Benar-benar tidak berguna! Sesulit itukah melahirkan anakku?!” cecar Dhananjaya yang sebenarnya ingin sekali menyakiti Indah. Namun melihat wanita itu lemah, membuat hatinya menahan pukulan yang ingin ia layangkan. Melihat Indah tak berdaya, Imah yang juga ada di sana merasa sangat prihatin. Sedangkan Alda, hanya berdiri menyaksikan amarah Dhananjaya yang memuncak. Imah tak ingin terus diam seperti manusia yang tidak memiliki hati. Oleh karena itu, ia memberanikan diri untuk maju, tidak peduli dengan pekerjaannya yang mungkin hanya tinggal hari ini. “Pak Jay, maaf saya ikut bicara. Nona Indah selalu mendapatkan tekanan dari orang rumah. Bagaimana ia bisa baik-baik saja?” ucap Imah lemah lembut. “Apa kamu ingin membelanya? Berani sekali.” Tatapan Dhananjaya yang semula tertuju pada Indah, kini beralih kepada Imah yang dinilai sangat pemberani. Alda terkesiap dengan apa yang dikatakan Imah. Beraninya orang tua itu membawa 'orang rumah' sebagai penyebab kegugurannya Indah! Alda tentu panik. Ia yang sudah mengadu tentang Indah pada Maria, ia pula yang menyaksikan sendiri saat Maria menggertak Indah. Apa jadinya jika Dhananjaya tahu bahwa ia pun sebenarnya terlibat? Imah mengadu, “Kandungannya sangat lemah, sedangkan Nona Indah mengalami depresi akibat—” “Hentikan!” potong Hendra melotot ke arah Imah. Bukan hal yang baik memperbesarkan masalah. Indah sudah mengalami keguguran, dan tidak mungkin mengembalikan janinnya walaupun Dhananjaya menghukum siapa pun yang telah membuat istrinya tertekan. Jika masalah ini diperbesar, hanya akan menciptakan kekacauan di keluarga Abraham tanpa adanya solusi. “Pak Jay, kendalikan dirimu. Dia bisa hamil lagi nanti. Pak Jay tenang saja.” Hendra berusaha menenangkan Dhananjaya. “Dia membuang waktuku dengan hal yang tidak penting!” Dhananjaya masih tak terima dengan apa yang terjadi. Tak ingin berlama-lama membuang waktunya, Dhananjaya keluar dari ruangan itu tanpa mengatakan apa pun lagi kepada Indah. Bahkan, untuk sekadar menemani layaknya pasangan suami istri saja ia tidak sudi melakukannya. Sebaliknya, ia terlihat muak melihat wajah Indah, ingin sekali melakukan sesuatu yang dapat menyakiti wanita itu. Sungguh, hari ini bagaikan hari yang sangat menyedihkan bagi Dhananjaya. Ia sudah sangat bahagia mengetahui Indah hamil. Bukan semata-mata untuk memenuhi keinginan kakeknya sehingga ia tetap bisa memimpin perusahaan, tapi Dhananjaya memang sangat mengharapkan seorang anak, siapa pun yang melahirkannya. Dhananjaya tidak baik-baik saja, tidak seperti biasanya yang tetap tenang dalam kondisi apa pun. Sekarang, ia merasa benar-benar telah menemukan hari sial dalam hidupnya. Ia tidak merasa keberatan telah membiayai pengobatan ayah mertuanya, hanya saja kabar keguguran Indah membuatnya merasa waktu untuk menantikan anaknya terlahir hanya sia-sia. “Jay, Ayah dengar istrimu keguguran. Apa itu benar?” tanya Basuki saat makan malam sedang berlangsung. Dhananjaya menghentikan aktivitas makannya. Kedua tangannya yang sedang memegang alat makan, melayang di udara. “Jangan pikirkan itu. Jay, sebaiknya cepat ceraikan dia. Ibu bisa mencari wanita yang lebih pantas untukmu,” sahut Maria tenang seolah apa yang dialami Indah bukanlah sesuatu yang penting baginya. Dhananjaya tak ingin menjawab apa pun. Dengan kasar ia menyimpan alat makan hingga bunyi denting terdengar nyaring. Ia pun bergegas meninggalkan ruang makan dengan langkah lebarnya. Entah apa penyebabnya, ia sangat kesal ketika mendengar sang ibu memintanya untuk menceraikan Indah. Sebenarnya Maria tidak salah, karena Dhananjaya sendiri sempat memikirkan itu, menceraikan Indah. Hanya saja jika ia melakukannya, artinya ia tidak bisa mewujudkan keinginan Sanjaya yaitu keturunan darinya. Menikah lagi? Demi apa pun, Dhananjaya merasa pernikahan itu hanya membuang waktunya saja. Di rumah sakit, Jasmin menyempatkan waktunya untuk berkunjung setelah pulang kuliah. Mengetahui Indah keguguran, ia menangis. Ya, wanita ketus itu menyesali sesuatu yang tidak diperbuatnya. Seharusnya ia mencari bukunya sendiri tanpa bantuan Alda, seharusnya Alda tidak mengadu pada Maria. Sungguh, ia tak tahu akibatnya akan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN