bc

100 DAYS (Dijodohkan Dengan Si Gendut)

book_age18+
1.8K
IKUTI
12.3K
BACA
contract marriage
love after marriage
submissive
drama
sweet
humorous
friendship
chubby
like
intro-logo
Uraian

"Sial!"

Rasanya hanya makian dan rentetan kalimat kejam berisi cemoohan yang terus membuncah tanpa bisa aku kendalikan. Bagaimana bisa Mamah menjodohkan aku dengan gentong air, alias si Gendut Shasa.

Aku tidak mau dicoret dari daftar waris karena menolak perjodohan ini. Aku akui suaranya merdu, bahkan aku pernah terpesona kala sebuah syair dia lantunkan dengan suara emasnya. Namun, mataku sakit kalau harus terus menatap badan gembrotnya yang penuh dengan lemak bergelambir dan perut berlipat.

Tuhan, aku mohon bukalah mata mamah. Sungguh aku tidak ingin menerima perjodohan Gila ini! Akhirnya, sebuah keputusan aku ungkapkan dengan lantang di depan Mamah, Papah dan adikku, Hana.

"Aku, Hulwan Mudzhaffar, bersedia menikah dengan Harsa Shumaila jika dalam seratus hari si gembrot Shasa itu bisa berubah seseksi Sassha Carissa, titik."

chap-preview
Pratinjau gratis
Si Gendut
“Tidak, kamu tidak boleh kuliah kalau tidak di sini,” tegas Ayah yang sudah sejak awal melarangku untuk meninggalkan kota mangga tercinta ini. Bukan sekali ini saja ayah mengatakan hal itu, sudah sejak awal dia dan bunda memang sepakat tidak mengizinkan aku kuliah di luar kota. Ke Bandung atau pun Jakarta yang dekat saja mereka melarangku. Apalagi untuk ke Yogyakarta seperti keinginanku. Entah kenapa sejak pertama mengenal kota pelajar yang sering dijadikan destinasi studi tour di sekolah Ayah dan Bunda, aku sudah sangat jatuh cinta padanya. Apa lagi tour bersama para siswa kedua orang tuaku kerap membawaku mengunjungi universitas-universitas yang ada di sana. Sejak usiaku belum genap dua tahun mereka sudah acap kali membawaku tiap acara tour, jadi sebenarnya mereka juga ikut andil membuatku bermimpi bisa melanjutkan pendidikanku di kota gudeg, Jogja. Ayah dan Bunda jelas lah orang berpendidikan, kedua orang tuaku sama-sama seorang guru dan mengajar bidang studi yang sama meskipun di sekolah yang berbeda. Namun, entah mengapa keduanya begitu protektif dan tidak mengizinkanku bebas memilih kampus terbaik yang aku inginkan. Mereka selalu memperlakukanku seolah putri raja yang harus selalu dijaga. Hingga usiaku genap delapan belas tahun, mereka selalu memanjakanku sama seperti saat aku masih bocah. Padahal bentuk badanku yang luar biasa ini, harusnya membuat mereka tidak terlalu menkhawatirkanku. “Tuhan, aku mau kuliah di Jogja,” teriakku dengan menggeram saat sudah berada di dalam kamar. Aku kecewa pada ayah, dia sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk memilih universitas terbaik untuk melanjutkan mimpiku menjadi seorang wirausaha wanita yang bisa mengembangkan usaha kedua orang tuaku. Mimpiku sudah melambung tinggi, tapi terhempas begitu saja saat mereka sudah mengetuk palu kalau aku hanya boleh kuliah di kota ini. Kalian tahu? Cuma ada satu universitas swasta di kota kecil ini hingga jelas aku tidak bisa memilih satu dari beberapa karena cuma ada satu. Hanya satu saja, seperti cinta ayahku yang hanya satu untuk bunda. Ciyee …. “Shasa ... Sha ….” Aku mendengar suara Bunda memanggilku sembari mengetuk pintu kamar. Ah, bukannya pembicaraan sudah berakhir dan keputusan final sudah diambil, buat apa lagi bunda ke kamar kalau hanya untuk memintaku bersabar dengan keputusan yang sudah ayah tentukan. Aku tentu sudah bersabar, sabarku lebar, selebar badanku yang kadang harus berjalan miring saat memasuki toilet sekolah yang pintunya begitu sempit. Dengan malas aku melangkah mendekati pintu untuk membuka dan mempersilakan ratu di rumah ini masuk. Bunda adalah permaisuri di istana ini, istana tempatku dibesarkan dan rajanya selalu tunduk pada titah sang permaisuri. Bunda juga inspirasiku, dia wanita serba bisa. Mengajar, berdagang, masak dan mengurus rumah selalu dia lakukan dengan senyum yang lebar tanpa keluh kesah sedikit pun. Itu juga yang membuatku tak pernah bisa menyimpan rasa kesal padanya. Bagiku bunda bukan hanya ratu dan permaisuri di rumah ini, dia bukan hanya sekedar ibu dan sahabat terbaik untukku. Lebih dari itu, bunda adalah malaikat tak bersayap yang selalu memberiku cinta dan penjagaan terbaik. “Shasa, boleh bunda masuk?” Aku mengangguk, mana mungkin aku melarangnya masuk. Aku yakin dia akan mencoba menenangkan rasa kecewaku dengan kalimat indahnya dan itulah kelemahanku. Aku pasti menurut saat bunda menasihatiku dengan penuh kelembutan. “Kamu ingat tante Devi?” tanya Bunda yang membuatku sedikit menerawang untuk mencoba mengingat tante Devi yang dimaksud bunda. “Tante Devi, sahabat Bunda yang punya usaha batik, sayang,” sambung Bunda. “Oh, iya. Mamahnya Hana, aku sering kontak sama Hana Bun. Dia juga mau ambil manajemen ekonomi,” kataku sambil meringis mengingat Hana akan kuliah di Universitas yang tidak jauh dari rumahnya. “Nah, itu dia maksud Bunda. Kamu pasti tahu kalau Hana akan melanjutkan kuliah ke Undarma kan?” “Iya,” jawabku dengan nada malas. Tentu saja aku tahu Hana akan melanjutkan ke sana. Setiap hari kami selalu bertukar informasi sejak sebelum ujian nasional hingga sekarang kami ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. “Mamah rasa, keputusan Ayah bukan ide buruk kalau di sana kamu bisa kuliah dengan Hana, bahkan tinggal di rumah Hana,” kata Bunda yang langsung saja membuat mataku membola saat mendengar kalimatnya. “Aku tinggal di rumah Hana?” tanyaku. “Iya, Tante Devi dan suaminya sudah setuju.” Seulas senyum Bunda membuatku meringis. Aku bingung harus bahagia dengan apa yang baru saja kudengar atau tetap bersikukuh untuk melanjutkan kuliah di kota gudeg atau kota kembang. Padahal orang tuaku termasuk orang modern. Namun, entah mengapa keduanya seolah tidak rela melepas aku untuk berkuliah di luar kota. “Bunda nggak tenang kalau kamu jauh dari tanpa siapapun.” Aku tersenyum mendengar pengakuan Bunda. Mereka terlalu mengkhawatirkanku. Mungkin karena bentuk tubuhku yang tak lazim sehingga bunda maupun ayah takut kalau aku jadi korban bullyan. Padahal sejak SMP telingaku sudah terbiasa mendengar cemoohan dari mulut-mulut tak bertanggung jawab yang kerap memanggilku. Gendut, gembrot, anak gajah, gentong dan sebutan lain yang mereka berikan padaku yang bertubuh Giant. Aku memang gendut, dengan tinggi hanya 157 cm beratku mencapai delapan puluh kilogram. Bayangkan betapa bulat dan montoknya aku dan aku tak pernah peduli akan hal itu. Aku yakin orang gendut seperti pasti bisa sukses tanpa harus berpikir bagaimana agar bisa kurus. Namun, bunda selalu saja memintaku untuk sedikit berdiet. Mengatur pola makan agar aku tak bertambah melebar. “Apa yang membuat Bunda nggak tenang? Aku yakin bisa mandiri kok, Bun. Masa sih Bunda tidak mengizinkan anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik,” rajukku masih berharap bunda sedikit saja membuka hatinya. “Banyak. Kamu anak gadis, pergaulan di kota besar tanpa pengawasan orang tua itu berat, Sha.” “Dan aku yakin bisa melewatinya tanpa mengecewakan ayah dan bunda,” tegasku dengan menggenggam jemari Bunda. “Tidak, Sha. Ini sudah keputusan kami. Maaf kalau bunda maupun ayah idak mengizinkan kamu untuk ke Bandung atau pun ke Jogja,” putus Bunda. Sebuah keputusan paten yang benar-benar membuat diriku harus menerimanya dengan hati yang lapang. Akhirnya, di sinilah aku berada dan tinggal untuk sementara. Di sebuah rumah berlantai dua milik tante Devi. Aku mendapat kamar di lantai atas tepat bersebelahan dengan kamar Hana, sedangkan satu kamar lagi adalah milik Hulwan anak pertama Tante Devi dan Om Farid. Kamar yang pintunya selalu tertutup karena selama aku tinggal di sini Awan, panggilan sayang dari Hana pada kakaknya yang berarti Abang Hulwan, jarang sekali pulang. Bang Hulwan lebih sering tidur di rumah produksi batik milik tante Devi. Menurut Hana di sana memang disediakan sebuah kamar untuk Hulwan tidur dan beristirahat di sana. Akhirnya, Hulwan malah lebih sering bermalam di sana daripada pulang ke rumah ini. Toh setiap hari tante Devi dan Om Faris memang menghabiskan sebagian waktu mereka di sana. Hanya Hana yang sering mengeluh merindukan Abangnya saat kami berkumpul untuk makan malam ataupun sarapan. Aku memang belum bertemu langsung dengan Hulwan, hanya tahu dari foto keluarga yang banyak tergantung di ruang tamu maupun keluarga. Hana bilang Abangnya ganteng, tapi dari foto yang sering aku pandangi dia terlihat biasa saja. Angkuh dan dingin, dua kata yang aku tangkap dari wajah Hulwan yang terlihat tidak bersahabat. Kalaupun benar Hulwan setampan seperti apa yang Hana sering ceritakan. Aku pun belum tentu terpesona dengan wajahnya. Di usia ku yang baru menginjak sembilan belas tahun, aku sama sekali belum pernah tertarik atau jatuh pada teman priaku. Apalagi memiliki pacar. Ah, pacar? Pria? Rasanya aku pesimis akan ada pria yang mau dekat denganku dengan bentuk badan seperti ini. Mukaku bulat, sebulat mataku yang hitam dan tajam. Alisku tebal dengan bulu mata lentik, hidungku juga mancung. Namun, sayang tertutup lemak karena pipiku yang tembam membuat hidungku malah terlihat besar penuh daging. Bunda sering bilang kalau aku cantik seandainya mau sedikit saja mengatur pola makan agar berat badanku berkurang. “Pasti dagu bulat runcingmu akan terlihat kalau lemak di pipimu berkurang,” komentar Bunda yang kerap aku dengar. Namun sama sekali tidak membuatku berubah pikiran. Gendut is beautiful, satu moto yang kerap menguatkanku kala cemoohan orang-orang tentang badan gempalku terdengar. Mereka hyang meledekku itu lebih karena iri dengan kepandaian dan kecemerlangan otakku, ditambah lagi suara emasku sering membuat orang-orang terpesona. Gendut berkualitas, seperti itulah Hana sering memujiku. Dia begitu cantik, Yohana Meizora kini adalah sahabat terdekatku dari awal aku masuk kuliah hingga enam bulan menjadi seorang mahasiswi, kami selalu terlihat berdua. Namun aku dan Hana bak angka sepuluh, dimana Hana tinggi langsing dengan bentuk tubuh yang menggoda kaum adam, sedangkan aku bulat, pendek dengan ukuran baju XXXL, bahkan XXXXL. Bayangkan betapa berbedanya kami. “Gendut, minggir!” teriak seorang pria yang mengayuh sepeda ke arahku. Brraaakkkkkkk. “Aw ….”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook