Hitungan Detik

943 Kata
Karena apapun tentang Niko, dalam hitungan detik mampu mempengaruhi diri Nara. • • • Kring!!! Bel istirahat berdering. Sebagian murid langsung membubarkan diri, keluar kelas tanpa peduli akan meja mereka yang masih berantakan. Lalu sebagiannya lagi rela mengorbankan beberapa waktu istirahat mereka untuk membenahi buku-buku di atas meja ke dalam tas. Termasuk Nara, yang terlihat sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam laci meja. Sementara dari belakang persis, Nimo hanya memerhatikan gadis yang tidak mengingatnya itu, sudah sejak sepanjang kelas berlangsung hingga detik ini. Dalam diam, Nimo benar-benar berupaya keras menahan hasratnya yang ingin tahu, perkara apa yang menyebabkan Nara sampai bisa melupakannya. Perlukah ia bertanya pada gadis itu langsung? "Nara," panggilnya segera, ketika Nara baru beranjak dari kursinya. "Iya?" Gadis itu berbalik. "Woah, kita sekelas!" serunya yang baru menyadari keberadaan Nimo, di saat Nimo sudah menyadarinya pertama ia mendengar suaranya. "Iya." Nimo mengangguk dengan senyum samar, walau ia tahu kalau terkadang dunia memang tidak adil. "Mau istirahat bareng? Gue baru di sini, jadi nggak di mana kantinnya." Sebentar Nara berpikir. Kebetulan sekali. Tadi Niko bilang tidak bisa istirahat dengannya. Lalu sekarang cowok berlesung pipi itu mengajaknya istirahat bersama. "Boleh," jawabnya kemudian. "Nanti gue kasih tau makanan apa yang paling enak di kantin kita!" ajak Nara, senang. Namun belum sempat Nimo mengiyakan, tiba-tiba Raina berlarian dari luar dan berhenti menepuk pundak Nara. "Ra, Niko kayaknya lagi dihukum tuh di lapangan!" Seketika perhatian Nara teralihkan. "Hah? Kenapa?" Raina menggeleng. "Nggak tau." Mengabaikan Nimo begitu saja dan bergegas ditemani Raina, Nara melupakan ucapannya yang baru saja menerima tawaran Nimo untuk ke kantin bersama. Juga melupakan janjinya yang ingin merekomendasikan makanan terenak baginya pada Nimo. Semudah itu Nara melupa. Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Karena apapun tentang Niko, dalam hitungan detik mampu mempengaruhi diri Nara. "Liat, tuh, si Niko. Biar dihukum karena nggak kerjain PR pun, tetep aja cewek pada klepek-klepek sama dia," celoteh Gilang, ketika melewati ramainya area lapangan saat mereka hendak menuju kantin. Yang kemudian hal itu juga disesali oleh Yudan. "Ah, tau gitu sih mending aja tadi gue nggak ikut ngerjain kayak dia." "Biar dihukum di lapangan, terus keliatan keren di mata cewek-cewek, gitu maksud lo?" sarkas Nata. "Iyalah. Lebih keliatan gentle!" bangga Yudan. Plak! "In your dream, man!" kesal Lukas, menggeplak kepala Yudan. "Si Niko tuh kayak gitu karena emang aja mukanya ganteng! You must know that!" "Nah, bener lo, Kulkas!" setuju Adnan. "Jangan harap kejadiannya bakal sama kalo ini semua terjadi sama lo, Naduy!" "Iya juga, sih. Dia mah ketauan ganteng! Sebrengsek-brengseknya orang ganteng, bakal tetep disukain kalo ganteng mah," balas Gilang. "Kalo muka lo kayak pepesan ikan gitu, sih, nggak kebayang gue bakal kayak gimana jadinya. Haduhhh..." Adnan menggeleng frustrasi. "Asal lo tau, nih. Yang namanya orang ganteng, mah, bebas. Mau gonta-ganti cewek seratus kali dalam sehari kek, selingkuh kek, mainin perasaan cewek kek, halal-halal aja bagi mereka! Kayak si Niko, tuh, Mau pacarin cewek cuma karena maksud tertentu juga nggak masalah!" papar Nata, dengan merangkul Yudan begitu akrabnya. Detik itu juga, Ethan mengernyit. "Maksud tertentu?" seruaknya, yang sejak tadi sebenarnya tidak ingin ikut nimbrung dalam pembicaraan ini. Tidak cuma Ethan, semua pasang mata di antara mereka seketika tertuju pada Nata. "Maksud lo apa, bro? I thought he really loves his girlfriend," pikir Lukas. Di pojokan kantin yang merupakan basecamp mereka, Nata duduk di meja dan kemudian bertanya heran pada teman-temannya. "Lo semua emang nggak tau kalo si Niko pacarin Nara cuma buat dimanfaatin aja?" Akibat ulahnya yang tidak mengerjakan tugas, tengah hari bolong di tengah lapangan, Niko harus hormat di hadapan tiang bendera sampai bel masuk berdering. "Gila, anjir! Lagi dihukum aja gantengnya nggak ilang dong!" "Lagi keringetan aja gantengnya juga nggak luntur!" "Ih, lo pada gimana sih! Justru tuh keringetnya itu yang bikin kegantengan dia nambah seribu persen, tau nggak!" Pekikan demi pekikan seperti itu entah membuat Niko tidak betah berlama-lama menjalani hukuman ini. Bukan karena panasnya terik matahari, bukan juga karena tangannya yang pegal lantaran tidak boleh diturunkan. Melainkan karena gadis-gadis yang menontoninya itu. Melempar pujian yang menggelikan di telinganya, dengan binar mata yang membuatnya risih bukan main. Sehingga alih-alih mendapat pujian yang berlebih, Niko lebih suka dimaki! Dan karena mereka pula, dirinya harus menjadikan seseorang yang sama sekali tidak ia sukai apalagi sayangi sebagai kekasih. Untuk mengurangi minat mereka yang menggilainya, ketika tahu bahwa dirinya telah memiliki kekasih. Sejenak Niko menengok arloji hitam di pergelangan tangannya. Masih 10 menit lagi sampai hukumannya selesai, akan tetapi tenggorokannya sudah terasa seperti tanah gersang. Kering, dan mencekik leher. Hingga tak lama berselang, seseorang menyodor sebotol air mineral ke arahnya. Niko menoleh. "Buat kamu," ujar Nara-seseorang itu- yang menatapnya dengan mata menyipit akibat kesilauan. Tidak merasa senang ataupun terselamatkan, Niko malah membuang napas kasar, layaknya membenci apa yang dilakukan gadisnya itu. Menahan amarahnya, lantaran karena gadis itu, di saat seperti ini pun dirinya harus melakukan kepura-puraan. Namun demikian, dengan sangat terpaksa, saking tidak inginnya dia dicurigai akan perasaannya yang palsu terhadap Nara, Niko tetap mengambil minuman itu. Namun dengan rampasan yang begitu kasar, sampai-sampai membuat Nara terhenyak. Ditambah lagi ia juga harus mendengar bisikan yang menyentaknya, yang keluar dari mulut Niko. "Lain kali nggak usah sok kasih perhatian ke gue di depan umum!" tandas Niko ketus, dengan nada berbisik. "Ngerti?!" tegasnya lagi, seraya menatap tajam mata Nara selagi ia mengembalikan botol mineral itu. Nara bergeming. Hatinya tak percaya menyaksikan itu semua. Pikir Niko tidak ada seorang pun yang menyadari perlakuannya terhadap Nara saat itu. Namun kenyataannya ia keliru. Satu orang yang berdiri di sisi lain tiang bendera menyadarinya. Mendengar bisikannya yang sarat akan peringatan. Juga melihat sorot matanya yang penuh amarah. Ya, Nimo menyadari semuanya. Dan sama seperti Nara, ia pun juga tak menyangka. Sehingga tanpa pikir panjang lagi, ia raih tangan gadis masa kecilnya itu, dan membawanya menjauh dari Niko. Melewati orang-orang yang tampak tercengang bukan main, di koridor lantai dasar. Tidak mengingat lagi apapun yang dilakukan gadis itu padanya. Karena tidak peduli seberapa sakit pun dirinya karena Nara, sejak kecil Nimo lebih membenci ketika ia melihat ada orang lain yang membentak bahkan berlaku kasar pada gadis itu.          BTW KARENA LAGI KANGEN SAMA SQUAD EMERALD EYES, JADI AKU MUNCULIN MEREKA DI SINI
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN