Apa arti mimpi itu? Mengapa terus-menerus menghantui Nara?
~
Tepat ketika mereka telah berada di dalam kelas, Nara langsung memberontak. Membebaskan tangannya dari genggaman Nimo secara paksa.
"Lo kenapa selalu ikut campur urusan gue, sih?!"
"Sori, gue nggak maksud buat ikut campur," ucap Nimo, merasa bersalah. "Tapi tadi cowok lo udah keterlaluan."
"Keterlaluan gimana maksud lo?" Nara bertanya dengan raut tak terima, ketika Nimo mengklaim Niko seenaknya seperti ini.
"Gue denger dia nyentak lo tadi, cuma karena lo kasih minum ke dia di depan umum. Sekalipun dia pacar lo," tegas Nimo, menatap sepasang mata Nara.
Sesaat Nara memalingkan wajahnya. "Terus kalau Niko nggak berhak nyentak gue, lo pikir lo berhak buat ngelakuin hal kayak tadi?"
"Lo pikir lo siapa? Gue kenal lo nggak lebih lama dari gue kenal Niko," tambahnya lagi.
Suasana hening.
Mendengar itu, seketika Nimo tampak frustrasi. Tangannya mengepal di saat sepasang matanya berair. Lalu kemudian dia bertanya pelan. "Kenapa lo semudah itu lupain gue di saat lo masih simpen gantungan kunci itu, Ra?"
"Lupain lo?" Alis Nara tertaut. "Becanda lo. Kita aja baru kenal berapa hari."
"Sekarang gue tanya. Gantungan kunci itu, lo dapet dari mana?" Nimo menunjuk ke arah gantungan kunci dengan bandul N, yang tergeletak di atas meja Nara, menyangkut pada resleting tempat pensilnya.
"Mau dari siapapun yang jelas bukan urusan lo," ketus Nara seraya berbalik pergi.
"Itu dari gue, Ra. N, artinya Nara. Dan Nimo."
Baru beberapa langkah gadis itu pergi, seketika derapnya tertahan. Dia menggeleng. "Kata Niko N artinya Nara, dan Niko," jawabnya yang benar-benar membuat Nimo bergeming.
Di tengah ruangan yang penuh dengan kobaran api, seorang gadis cilik meringkuk ketakutan. Bahkan saking takutnya, ketika yang lain sibuk berlarian menyelamatkan diri, dia menangis sambil menyerukan kata 'mama'.
Gadis itu terisak. "Mama... Mama...."
Dia datang ke tempat tersebut bersama mamanya. Namun tiba-tiba, sang mama pergi entah ke mana tanpa dia sadari, menyisakan dirinya benar-benar sendirian dan tak bisa melihat apa-apa akibat asap tebal yang menyesakkan dadanya sehingga dia terbatuk-batuk.
"Mama... Mama...." lirihnya di sela-sela batuk dan isak tangisnya.
Api semakin besar membuat ruangan terasa semakin panas. Banyak barang-barang yang sudah terbakar mulai runtuh. Sedangkan gadis delapan tahun itu yang tidak tahu harus berbuat apa dalam situasi bahaya ini, hanya bisa mengencangkan tangisannya sambil memanggil sang mama sekeras mungkin. Kini dia menangis bukan cuma karena takut, melainkan juga karena seluruh tubuhnya yang terasa seperti ikut terbakar. Ditambah asap tebal dalam ruangan itu yang mulai terhirup oleh hidungnya dan berkumpul menyelimuti paru-parunya, membuat dia kini sungguh kesulitan untuk bernapas.
Air mata gadis kecil itu masih terus mengalir. Akan tetapi isakan dan suaranya sudah mulai parau bahkan hampir tidak terdengar. "Mama... hiks, Mama...."
"Mama...."
Tubuh Nara terlonjak. Tiba-tiba dia mendapati dirinya di tengah ranjang, dengan air mata dan keringat bercucuran deras hingga napasnya tersengal hebat.
Gadis kecil dengan wajah yang tidak pernah terlihat jelas olehnya itu, Nara tidak tahu kenapa semenjak beberapa tahun terakhir dia terus memimpikannya. Membuat dirinya sering kali tiba-tiba terbangun dengan air mata dan keringat yang mengalir deras, namun tanpa pernah dia tahu apa sebabnya.
Tok tok tok!
"Nara bangun, Nak. Nenek sudah buatkan sarapan spesial buat kamu."
Ujaran suara wanita tua itu seketika mampu membangkitkan semangat Nara. "Iya, Nek. Nara mandi dulu."
Bubur beras merah dengan ati sapi. Cuma dalam hitungan detik, langsung berhasil membuat Nara lompat menyambar handuk. Padahal sebenarnya anak itu malas sekali untuk mandi di hari libur.
Tetapi tidak ada yang tidak ada alasan di dunia ini, Laila—neneknya Nara—pun pasti memiliki alasan kenapa dia membuat sarapan spesial itu untuk Nara. Alasan yang sudah bisa Nara tebak di luar kepala dan ia tidak pernah merasa keberatan yaitu; Nara yang mesti menemaninya ke pasar.
"Nenek tunggu di ruang makan, ya," ucap Nenek Laila sebelum meninggalkan pintu kamar Nara.
"Bi, mungkin nggak sih kalau kita udah lama nggak ketemu sama seseorang, kita bisa lupa total tentang orang itu?" tanya Nimo pada Bi Eni yang merupakan penanggung jawab panti sekaligus kini penanggung jawab dirinya selama tinggal di Jakarta.
Sambil memilih-milih sayuran yang segar menurutnya, Bi Eni berdeham sebentar. "Kalau lupa sedikit doang masih mungkin, Den. Tapi kalau udah total gitu, kayaknya nggak mungkin kalau sebelumnya nggak terjadi apa-apa sama dia," jawabnya kemudian.
"Nah, bener kan? Menurut Nimo juga gitu. Biasanya kalaupun emang lama nggak ketemu, dikasih cerita dikit juga langsung inget. Ya kan, Bi?" timpal Nimo, antusias meminta pembenaran.
"Betul, Den." Bi Eni mengangguk. Tapi tak lama dia tampak berpikir. "Tapi, Den... Dulu di kampung Bibi pernah ada yang lupa total gitu juga. Nggak inget apa-apa setelah dia ngalamin kecelakaan parah. Katanya, sih, dia itu amne..." Bi Eni mencoba mengingatnya. "Amne apa, ya, Bibi lupa. Amne...."
"Amnesia?" sambung Nimo, melengkapi.
"Nah, itu. Dia nggak inget apa-apa. Nggak inget siapa-siapa juga. Lah, atuh kumaha sama namanya sendiri aja dia nggak inget," tutur Bi Eni dengan logat sundanya.
Tidak menyahut apa-apa lagi, Nimo terdiam, berkutat dengan isi kepalanya. Dengan banyak tanya yang tak bisa tersuarakan. Apa mungkin Nara mengalami hal tersebut? Amnesia?
"Emangnya siapa sih yang lagi Den ceritain ini?" Pekikan Bi Eni yang satu itu sesaat membuat Nimo terhenyak.
"Bu-bukan siapa-siapa, Bi!" tanggap cowok itu cepat meski gagap di awal.
"Oh, Bibi kira temen deket Aden. Makanya Aden sampai tinggal di Jakarta gini," tebak Bi Eni asal. "Ternyata bukan siapa-siapanya Aden kan?"
"Eh?" Tiba-tiba Nimo kian gelagapan sendiri. Walau Bi Eni masih tetap tidak sadar bahwa semua perkataannya itu lebih dari tepat.
Melihat sang cucu yang biasanya bawel dan banyak bicara, tetapi saat ini tampak tenang bahkan cenderung pendiam, seketika membuat Nenek Laila bertanya. "Kamu mimpi itu lagi, ya?"
"Hm." Nara mengangguk. "Nenek tahu nggak anak itu siapa? Terus kenapa Nara nggak pernah bisa liat mukanya, ya? Aneh deh," gerutunya.
Alih- alih menjawab, Nenek Laila malah menarik napas berat. "Kamu mau dimasakin apa hari ini?" tanya nenek itu kemudian, yang terdengar mengalihkan topik pembicaraan.
Sedangkan Nara yang kelewat polos, ternyata tidak menyadari sama sekali hal tersebut. Lalu dia malah menjawab, "Apa aja. Masakan Nenek kan selalu enak!"
"Ah, tapi Nenek udah nggak mempan, ya, sama rayuan kamu!" sungut Nenek Laila dengan wajah juteknya.
Nara tertawa. "Nenek kalau kayak gitu makin keliatan tua," selorohnya.
Namun tak lama melihat seseorang yang tahu-tahu berhenti menghalangi jalannya, tawa Nara memudar.