Malam ini begitu hening, Mbok Ratih sudah selesai mengaji satu jam yang lalu. Kini aku sendirian, Mbok sedang keluar katanya sebentar, tapi karena sepi mendera, semenit bagaikan satu jam. Pintu terketuk, aku menoleh, akhirnya Mbok datang juga. Aku sudah ingin menjerit. Mami dan Papi kusuruh pulang kerena mereka kelelahan sejak beberapa hari lalu, sementara Yasmin pasti belum pulang dari rumah sakit, dan Mama juga kusuruh tinggal di rumah. Kondisi mereka akan drop jika terus begadang menjagaku. Pelan, akhirnya pintu itu terbuka. Cukup lama aku menunggu. “Assalamu’alaikum, Nabila?” Bukan Mbok Ratih. “Ya… wa—wa’alaikumsalam!” kataku agak terbata. Ada desir hangat yang menyambar dadaku, jantungku pun mulai berbedar me

