1. Salwa

1884 Kata
Sudah puluhan kali aku izin keluar kantor, berangkat lebih siang, pulang lebih sore. Sepertinya aku punya aturan kerja sendiri. Ya, begitulah karena aku anak Papi, pemilik perusahaan tempat aku bekerja. Bukan berarti aku tidak bisa professional dalam urusan kerja. Semua pekerjaan yang menjadi tanggungjawabku akan aku selesaikan dengan baik. Ada saatnya aku bekerja dengan sangat serius hingga lupa waktu, namun ada kalanya aku bosan luar biasa menghadapi suasana kantor seperti ini. Tentu saja masalah waktu, aku tidak suka dalam delapan jam sehari hanya duduk di belakang meja kerja dan terus memelototi benda-benda tidak bergerak, menatap layar monitor sampai tidak berkedip, mengecek dan menandatangani tumpukan berkas. Yang beginilah yang membuat aku ingin kabur keluar! Aku tidak suka terkurung dalam ruangan bersuhu dingin, sepi, tersistem dan terlalu rapi—karena itu aku merombak ruang kerjaku habis-habisan, ruangan ini layak disebut pameran lukisan dan kaligrafi. Telingaku bahkan membantah untuk mendengar suara langkah kaki seseorang yang berlalu lalang di kantor, suara klik-klik mouse, suara tuts keyboard, mesin printer, apalagi suara sepatu hak perempuan yang hampir setiap hari menceramahiku, Tante Mely. Beliau adik Papi, senior manager di kantor. Dan hampir setiap hari dia tidak pernah bosan membaweliku soal kabur di jam kerja. Katanya aku sudah memberi contoh tidak baik pada bawahan. Terserah, siapa suruh memasukanku ke sini, sejak awal aku tidak sepenuhnya tertarik. Lupakan malasah kantor, aku ingin sejenak melepas rindu bersama teman-teman kuliah. Aku kangen panti, kangen pengajian kampus, dan seminar yang menambah wawasan keilmuan. Rasanya dunia terlalu cepat bergerak dan waktu tak mungkin berjalan mundur. Umurku tidak tergolong remaja lagi, 23 tahun lalu aku lahir dan berjalan di atas muka bumi. “Empat, campur, nggak pake lama!” Selli teriak pada Mang Ucup, penjual bakso langganan kami saat masih kuliah dulu. Sampai saat ini kami masih sering nongkrong di sini, tempat makan dekat kampus. Suasananya ramai, maklum tempatnya memang pinggir jalan raya sekali dan amat strategis (mudai dari calon konsumen, pengamen, pencopet, dan strategis dari razia parkir liar). Di sini kami bisa mendiskusikan apapun, mulai dari hal sepele sampai serius, dari salon langganan Selli sampai kajian yang sering di kunjungi Hana, atau tentang cowok-cowok yang menjadi target Arnet di kantor barunya. Mataku menyapu pemandangan lain. Kulihat masih ada beberapa anak jalanan yang lalu lalang membawa alat musik buatan dari botol bekas diisi kerikil dan bebatuan, mereka bernyanyi lalu menagih para pendengar lagu untuk meminta rupiah. Kurasa beberapa pasang telinga tak sungguh-sungguh memikmati lagu yang dibawakan pengamen itu; kebanyakan anak kecil, seusia SD. Ya Robb… hatiku berkali-kali trenyuh melihat pemandangan itu. Kadang aku merasa iba dan akhirnya bertanya pada mereka secara langsung, tentang keberadaan orangtua yang sudah seharusnya memberinya nafkah. Ada anak yang malah lari sebelum menjawab, kadang responnya malah memaksa untuk segera diberi selembar atau dua lembar rupiah. Mereka anak-anak di bawah umur, tidak layak menjadi penghuni jalanan seperti ini. Jakarta keras bukan main. Bahkan anak sekecil mereka saja sudah harus bertarung dengan kota sesibuk ini. “Heh! Ngelamun aja. Bakso udah dateng. Hmmm… sedap!” Arnet yang duduk di sampingku membaui kuah baksonya, tentu saja setelah menyikut lenganku. “Aku kangen baksos dan turun ke jalan, buka bersama di panti, lalu kajian UKM kampus.” Kataku jujur. “Sama. Aku sibuk kerja sekarang. Duh, Tuhan… rasanya aku durhaka sekali sampai lupa mengabari ibu dan bapak!” sambar Arnet. Hana mengangguk. “Panti, tempat itu selalu buat aku tergugah. Membuatku banyak bersyukur karena masih punya orangtua yang lengkap.” Kami semua mengangguk. Bersyukur… katanya itu kunci hidup bahagia. Obrolan masih berlanjut disamping kami menikmati bakso Mang Ucup yang lezatnya tiada terkira. Ini pakai daging sapi asli, sudah dicek kehalalannya, begitu sumpah Mang Ucup saat Hana bertanya secara detail. “Yah.. aku harus balik kerja! Bos bisa ngamuk besar kalau dia tahu aku nggak di tempat. Bye, guys.” Selli yang sudah melahap baksonya sampai habis, kini terburu berdiri dan segera berlari menuju jembatan penyebrangan. Kebetulan kantor tempat dia bekerja lokasinya tak jauh dari kampus. Aku menatap Arnet yang juga bersiap-siap untuk pergi, padahal dia adalah marketing yang bisa sepuasnya berada di luar kantor. Belakangan Arnet menyukai rekan satu kantor, itu jadi sebab dia betah berlama-lama di kantor yang super membosankan. Ia mengaku rela terkurung 24 jam asal bersama cowok incarannya itu. “Doain aku ya, Sal, Han… biar cepet-cepet dapat si Dio.” Gadis itu sudah berdiri, ia melirik aku dan Hana bergantian. Kami berdua tak menjawab. “Eh, kapan-kapan minta jatah liburan gratis ke Papi kamu dong! Itung-itung sedekah sama kita. Ya kan, Han?” lanjut Arnet sambil meringis. Hana tak sempat lagi mengunyah, bakso separuh kasar itu rupanya terpaksa tertelan karena ucapan Arnet. Aku sendiri terkekeh mendengar ocehan Arnet yang terus meminta sedekah liburan. Hahaha… masa ada liburan gratis di bilang sedekah? Itu hanya tak-tik Arnet saja yang malas keluar uang demi jalan-jalan ke LN, padahal bonus dari penjualan produknya cukup lumayan untuk keliling Turki setahun sekali. “Dia memang mau hemat demi salon…” Ucap Hana yang hapal tak-tik Arnet. Sejak dulu dialah perempuan paling modis di geng kami, fashion-nya paling up to date, segala macam barangnya pasti bermerek dan trendy. Kini tinggal aku dan Hana, gadis itu memakai kerudung panjang. Sejak awal masuk kuliah dia sudah berbusana sesyar’i itu. Dia adalah guru privat, waktu luangnya lebih banyak dan ia gunakan untuk menebar kebermanfaatan di muka bumi. Dia adalah gadis panggilan. Ya, dia akan tiba-tiba menjadi pengisi acara seminar untuk remaja SMP - SMA, bahkan bisa menjadi tutor mengaji dan guru bahasa Arab sekaligus. Hidupnya berbau akhirat, aku saluuttt padanya. Kukira dia memang sedang mengejar surga! Sampai sekarang aku dan Hana masih sering bertemu (lebih sering dari yang lain). Lebih banyak dia yang mengajakku pergi, tentu saja ke acara yang memberikan hikmah dan berkah pada kehidupan dunia - akhirat, apalagi selain pengajian rutin bulanan bahkan mingguan? Selli, temanku yang satu itu masih agak susah diajak ke area berbau islami, sementara kami tak mungkin juga mengajak Arnet yang sejak lahir sudah memeluk Kristen. Perbedaan keyakinan tak menghalangi persahabatan kami berempat. Pukul empat sore aku kembali ke Jeep-ku yang terparkir secara liar di dekat trotoar yang berjejer tenda makanan. Masalah tata tertib, aku memang sering melanggar. Papi berkali-kali mengingatkan kecerobohan dan keteledoranku tentang hal ini, namun aku seperti tak terlalu peduli. Bagiku hidup butuh sedikit kebebasan, seperti kerja kantoran juga butuh refreshing. Iya kan? Rasanya bosan sekali kalau hidup terlalu teratur dan terorganisir. Mana kejutannya? Kalau saja Papi tahu anaknya nokrong di pinggir jalan dan memakan bakso Mang ucup yang belum teruji higenis. Mungkin penjual bakso itu akan disidang esok harinya. Untunglah Papi tidak menyewa mata-mata untuk mengawasi gerak-gerikku sekarang. Tapi esok lusa, mungkin aku harus lebih hati-hati. Maklum, orangtuaku memang sedikit protektif tentang anak-anaknya. Belum sempat tubuhku masuk ke dalam mobil, ponselku berdering. Papi menelepon. Matilah aku! “Ya, Pap?” “Dimana, Sal?” “Salwa di…” Seumur-umur aku tidak setuju berbohong itu baik dilakukan. Tapi tolongkah kali ini kalian harus mengerti. Ini terpaksa sekali. “Di kampus. Ada berkas yang dulu ketinggalan, Pi.” Kataku sok tenang. Semoga Papi percaya dengan jawaban asalku. Lagipula sudah enam bulan yang lalu aku selesai berurusan dengan kampus itu. “Begitu?” “I-ya!” “Pulangkah cepat, Sal.” “Oke.” Aku merasa sangat lega. Alhamdulillah,  Papi percaya. Jantungku tadi berbebar sangat cepat karena cemas kebohonganku akan terendus. Beliau hanya ingin aku segera pulang karena ada makan malam spesial. Pastilah ada hal penting yang Papi mau bicarakan. Entah itu tentang apa.  Baru saja aku membuka pintu Jeep dan melempar tas ke kursi sebelah, mendadak ada seseorang mendorng tubuhku hingga terjungkal dan merebut ponselku satu-satunya. Gerakannya sangat gesit, bukan amatir! Aku tercenung sesaat setelah ponsel dalam genggamanku raib. Benar kata Papi, aku memang tidak boleh sering-sering berada di tempat seperti ini. Pengamen, anak jalanan, bahkan penjambret, semua berkeliaran mencari mangsa empuk dengan sudut matanya yang jeli. Aku tak kehabisan akal, setelah memastikan Jeepku terkunci aku berusaha mengejar anak kecil yang mencuri ponsel pribadiku itu. Sayang, aku memakai sepatu hak, jika tidak—mungkin lariku bisa lebih kencang dari si penjambret. Bocah kecil itu sangat lincah, Ya Gusti… tolonglah berbaik hati padaku kali ini. Aku tak mungkin berlari mengitari jalan kecil pinggir sungai dan… oh ya ampun! Ada perlintasan kereta api juga. Mataku melotot merihat area pemukinan kumuh ini, sementara anak itu tetap lincah berlari. Sepertinya dia sudah lihai mencuri. Aku tetap tidak mau kalah. Aku meneriaki dia “jambret kecil”. Aku sangat geregetan, sudah ingin melepas sepatu hak ini lalu kulempar kepadanya. Aku menahannya, jika dia terluka aku yang akan kena masalah. Ini bukan masalah harga ponsel itu, Papi bisa membelikanku sepuluh ponsel mahal sekaligus. Namun, ini tentang semua file kantor yang aku simpan di dalamnya, juga ada file pribadiku yang sangat penting. Aku tidak mau berhenti mengejar sampai dapat! Napasku tersengal-sengal, hampir habis rasanya. Berlari dan meneriaki anak itu sungguh menguras energi. Tunggu, beberapa orang melihatku kemalingan tapi sepertinya mereka sama sekali tidak peduli. Kehidupan macam apa di pinggir rel kereta ini? Aku berusaha menepis prasangka burukku, mungkin mereka tidak peka. Atau dikiranya aku hanya sedang main-main dengan bocah itu? “Jambrettt!!!” teriakku lagi. Kesal. Anak itu berlari dengan kecepatan sama, sementara aku mulai kelelahan. Dan tiba-tiba saja ada bajai biru menghadang di depan. Aku hampir saja menabrak, aku meminta maaf pada pemiliknya yang berwajah sangar, tetapi justru aku yang kena omel dan dibentak-bentak. “Jalan pakai mata dong!” Hei, aku ingin balik berteriak. “Sejak kapan mata untuk jalan? Mata untuk melihat, Bang!” Aku kehilangan anak itu, sempat putus asa berlari tanpa tujuan, sepertinya aku pun tersasar. Beberapa detik kemudian ada anak perempuan kecil yang menunjuk ke arah kanan, aku berusaha mengikuti arahannya. Sampai kapan kejar-kejaran ini berakhir, aku sedang tidak berniat menjadi pemain dalam film India—yang setiap sesinya ada joget dan bernyanyi—atau kartun Tom and Jerry. Rasanya aku sudah lelah, keringatku berkucuran, bajuku mulai kebasahan. Aku benar-benar sebal dengan anak itu, ingin menangis saja, ingin menghubungi Papi agar menangkap anak itu dan mengembalikan ponselku. Banyak data berharga di dalamnya. Apa ini akibat kebohonganku? Ya Gusti… aku memang salah. Bohong itu dosa dan Engkau langsung membalasnya di sini? Cengan sadar aku beristighfar, meminta ampun pada Tuhan Yang Maha Esa, meminta maaf pada Papi. Mataku berkaca-kaca. Syukurlah mataku masih sedikit awas, agak jauh di depanku ternyata ada bocah kecil itu. Dia sedang berjalan santai dan sepertinya tidak sadar kalau aku masih membuntutinya. Kulepas sepatu hak yang berbunyi berisik, langkahku semakin cepat untuk mencegat bocah itu. Akhirnya, aku berhasil meraih telinganya, aku jewer anak itu sampai wajahnya memerah, dia seperti ingin menangis. Aku tak tega sebenarnya. “Mana ponsel Kakak yang kamu ambil?” tanpa menunggu lama aku melepas jeweran dan merebut ponsel yang ada dalam genggamannya. Kena. Anak itu langsung lari menjauh. Kini tersisa napasku yang tersengal-sengal dan rasa bersalah karena telah menjewer anak kecil itu dengan ganas. Lain kali aku akan kembali kesini, mencari bocah itu lagi. Saat aku kembali ke lokasi Jeep tadi, sudah ada pertugas polisi dan Dinas Perhubungan yang akan menderek mobilku. Gusti… aku salah lagi. Apa boleh buat, segera kutelepon Papi untuk meminta bantuan. “Halo, Pi. Tolong Salwa. Jeepnya di Derek Dishub!” Kali ini aku benar-benar membutuhkan pertolongan Papi. Tentu saja Papi mengomeliku lebih dulu sebelum bertanya apakah aku bisa pulang sendiri dengan taksi? Dan aku menyerah, kalah.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN