2. Perjodohan

1609 Kata
Serentetan ocehan, wejangan, nasihat—atau apalah itu namanya—sudah aku lahap malam ini. Makan malam spesialnya gagal. Tema meja makan kali ini adalah aku. Aku yang keluar kantor tanpa bilang dulu ke Papi atau Mami, aku yang kena jambret dan juga Jeepku yang harus diurus oleh anak buahnya Papi besok.             “Kamu itu bandel banget sih, Salwa. Mami pusing mikirin hal aneh apa lagi yang bakal kamu lakuin. Berhenti bikin Mami stress!”             Dengan mendengar Mami begitu pun aku sudah ikutan stress!             “Pokoknya besok kamu ikut mobil Papi, selama seminggu. Nggak boleh bantah. Dan kalau mau kabur tolong harus disupirin sama Si Anu… siapa ya namanya?”             Dan ya, Mami sering lupa nama sopirnya sendiri. Itulah akibatnya jika sering gonta-ganti sopir, lagipula mana ada sopir yang betah dengan omelan Mami.             “Agung, Mi.” Yasmin akhirnya angkat suara. Hanya dia yang diam selama aku bermasalah, dia tidak akan ikut campur selama aku masih baik-baik saja.             “Ya, Si Agung itu yang akan antar kamu nanti.” Mami kembali menyendok makanannya, beliau terlihat gemas ingin menepuk pantatku. Aku menatap Mami sekali lagi, kulihat rambutnya sudah dicat warna lain padahal baru bulan lalu Mami mengecat rambut. Mami selalu melakukan pemborosan, jika dugaanku benar, pasti demi sebuah makan malam ini Mami melakukan perawatan khusus di salon seharian. Akan aku cari tahu lewat Mbok Ratih yang selalu setia jadi mata-mata pribadiku di rumah ini.             Papi berdeham sekali. Kami terpusat padanya. Beliau mengelap mulut yang sama sekali tidak kotor. Garis-garis halus di wajahnya semakin sulit disembunyikan, ada banyak keriput yang mulai bermunculan dengan sebab bertambah usia. Papi terlihat lebih tua dari Mami, karena jelas—Papi tidak pernah ke salon apalagi perawatan. Papi tidak suka hal begituan, beliau lebih memilih berolahraga dan menjaga asupan makan.             “Jadi koas Yasmin tinggal satu tahun lagi?” Papi menatap Yasmin dengan gamblang. Ada gurat senang di sana meskipun jika dikorek lebih dalam Papi nampak kecewa dengan pilihan Yasmin menjadi seorang dokter. Sebenarnya Papi ingin aku dan Yaskin bersama-sama bekerja di kantor yang bergerak di bidang tour & travel.             Yasmin mengangguk, ia tersenyum bahagia. Aku pun ikut senang jika dia begitu. Aku selalu mendukungnya seperti dia yang selalu ada di balik punggungku. Aku selalu ada untuknya dan dia pun begitu. Katanya aku dan dia adalah kembar, tapi sampai detik ini aku tidak pernah percaya. Ada banyak kejanggalan jika kami memang kembar. Tunggu, dimana letak kemiripanku dengan Yasmin?             Nama kami mamang sengaja dibedakan, katanya karena sejak lahir wajah kami memang beda. Kembar tidak identik? Kami benar-benar merasa tidak pernah ada kemiripan apapun selain kami sama-sama terlahir sebagai perempuan. Selanjutnya, ini yang akan membuat kalian lebih shock, aku dan keluarga ini berbeda haluan. Maksudnya, keyakinan. Aku memang pernah ke Gereja bersama Yasmin, tapi sejak masuk SMP aku malah memilih sekolah yang mayoritas siswanya muslim, sementara Yasmin tetap di sekolah Kristen. Mereka memisahkan kami hingga masuk SMA kami memutuskan untuk satu sekolah lagi. Terbukti dengan aku dimasukan ke sekolah mayoritas muslim akhirnya aku memeluk agama dengan penganut terbanyak di Indonesia dan dunia. Aku bangga meskipun aku berbeda dengan Mami, Papi dan Yasmin.             Sewaktu duduk di bangku SD, keyakinanku masih bimbang. Maaf, kadang aku ikut keluarga ke Gereja, kadang juga ikut Mbok Ratih ke pengajian di sebuah Masjid dekat kompleks. Masjidnya besar dan indah, konon arsiteknya sekolah di Eropa, tipe bangunannya megah serta modern, gaya Eropa. Membuat aku jatuh cinta sejak dulu. Itulah yang membuat aku mau ikut Mbok Ratih ke sana. Awalnya hanya iseng, ingin melihat keindahan masjidnya sampai dalam… ternyata aku malah mendapat hidayah. Sejuah itu ternyata.             Kepada Yasmin seharusnya aku memanggil dia “Kakak”, dia menolak karena tidak mau terlihat lebih tua. Lagi pula kami kan lahir di hari yang sama, hanya beda jam. Dia duluan, aku belakangan. *** “Eh, calon dokter muda. Udah ada cowok yang ngelirik belum?” ledekku ketika membajak ranjang empuk Yasmin. Dia sedang duduk di dekat jendela sambil menyesap cokelat hangat buatan Bi Sani. Di rumah ini ada tiga pembantu perempuan, dua sopir, dua sekuriti dan seorang anak SMA bernama Yahya, anak angkat Mbok Ratih. Rumah kami ramai, tak pernah sepi. Menyenangkan hidup dengan mereka.             “Nggak penting ngurusin begituan. Aku harus cepat selesai koasnya, lalu ujian, lalu ikut program dokter internship dan kelar.” Katanya serius. Tidak usah heran, dia memang seserius itu. Aku lebih bawel darinya, juga kebalikannya. Sejak kecil Yasmin lebih disiplin daripada aku, lebih rajin membaca, mendapat peringkat di kelas, juara satu bertahan saat SMA.             “Yasmin, kenapa nggak lanjut spesialis, sayang?”             Dia mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Lama, Sal.” Ia kembali menyesap cokelat miliknya. “Kamu kan sudah kerja, aku juga mau cepat kerja!” lanjutnya sambil menghabiskan seduhan cokelat dalam mug putih. Dia menjilati bibirnya, meledekku. Ledekannya berhasil. Aku mendengus dan ingin menyeduh cokelat itu sendiri. *** “Duh, Non Salwa… biar Mbok aja yang buatin cokelatnya. Non duduk aja di sana. Nanti Mami marah-marah lagi dan kumat darah tingginya.” Mbok Ratih merebut mug dalam genggamanku.             “Ya sudah. Buatin yang anget ya!” perintahku akhirnya. Aku tidak boleh mengerjakan apapun di dapur ini. Katanya ini area terlarang untuk seorang majikan apalagi nona muda sepertiku. Ah, Mbok Ratih kadang suka berlebihan dan kelewat protektif dari Mami-Papi. Padahal aku senang melakukan pekerjaan rumah. Aku sangat bosan bermalas-malasan setiap saat. Apa-apa disiapkan, bahkan handuk mandi saja sudah disiapkan, rasanya memalukan. Aku masih punya tangan dan kaki. Aku bisa melakukannya sendiri.             “Nih, Non. Cokelatnya anget dan kental. Khusus buat Non Salwa sing ayu.” Dan begitulah terus, Mbok Ratih selalu menujiku seolah aku adalah anaknya. Aku tidak pernah keberatan sedikitpun kalau Mbok sedang menganggapku seperti anak sendiri, malah aku balik menganggap Yahya sebagai adik angkatku. Yahya diasuh Mbok saat usia tujuh tahun karena orangtuanya tidak mampu membiayai sekolahnya di Jawa. Dan Mbok kadang bicara dengan logat Jawa saat mengobrol dengan Yahya, aku tidak pernah mengerti sampai Yahya mau mengajariku sedikit demi sedikit. Mbok Ratih adalah orang yang juga berjasa buatku, dia adalah guruku. Hehehe… aku belajar mengaji pertama kali waktu usia enam tahun dengan Mbok ini, dia telaten mengajariku mengaji. Kami tidak sembunyi-sembunyi, justru Papi yang menyuruhku untuk belajar apapun saat itu.             Sejak dulu Papi dan Mami tidak keberatan tentang hubunganku dengan Mbok Ratih dan Yahya yang terbilang intim. Bahkan Papi tidak pernah melarang aku untuk ikut shalat di Hari Raya Muslim sedunia saat usia sepuluh tahun. Tak heran bila orangtuaku menganggap Mbok Ratih seperti keluarganya sendiri, soalnya beliau adalah orang terlama yang ikut kedua orangtuaku.             Entahlah, semua memang terasa janggal kalau dirasa-rasa. Tetapi buktinya mengalir begitu saja kan?             Cokelat buatan Mbok Ratih selalu enak. Aku kadang kangen cokelatnya saat stress di kantor. Kenapa Mbok nggak buka warung aja di kantin kantor Papi? Hehehe, Mami bisa naik darah ya?             “Mbok, Mami ngecat rambut lagi kayaknya. Mami ke salon ya? Berapa jam perginya?” tanyaku akhirnya, aku masih penasaran dengan aktivitas Mami seharian. Padahal isinya sama saja. Seputar arisan dengan ibu-ibu sosialita, kelas yoga, salon, jalan-jalan ke mall, ibadah ke Gereja, kalau di rumah ya ngurus taman bunga bareng Mang Torik, tukang kebun langganan yang datang sepekan tiga kali.             “Duh Gusti Allah… piye Non iki. Mbok mana tahu Nyonya besar pergi kemana? Tanya Agung saja, Non.”             “Yah, Mbok nggak ngasih aku informasi nih. Bocoran apa gitu lho.”             “Oh ada, Non!” Mbok Ratih terlihat sedang mengingat sesuatu. “Tadi Nyonya ada tamu, namanya… Albert.”             Aku hampir tersedak. “Cowok?” mataku sudah membulat. Keningku terlipat.             “Iya, Non. Cakep banget, Non. Kalau Non liat pasti mesem-mesem. Tapi jangan deh, nggak baik suka sama Mas Albert itu. Dia kayaknya mau dijodohin sama Non Yasmin.”             “Mbok! Uhuk-uhuk.” Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mbok Ratih segera menepuk-nepuk punggungku pelan. Setelah aku sadar dia mencari lap untuk membersihkan meja bening di depanku. “Albert siapa? Albert Einstein?”             “Hahaha… Mbak Salwa ini ada-ada saja. Bukan itu Mbak, tapi namanya Darian Albert.” Tiba-tiba Yahya muncul dari pintu belakang. Kini dia duduk di sampingku. Anak itu memang sudah kuanggap seperti adik sendiri, makanya di depanku saja dia kadang seenak sendiri meskipun Mbok Ratih berkali-kali memarahinya. “Ganteng memang. Tapi nggak cocok sama Mbak Salwa.”             “Makasih, denger namanya aja udah males.” Aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi. Mataku menatap cokelat yang tersisa sedikit. “Jangan-jangan makan malamnya mau ngobrolin si Albert?”             “Nggih, Non. Mami mau ngomongin itu tapi… Non Salwa bikin ulah.” Mbok Ratih lanjut terkikik, geli.             Aku pun cemberut. Mbok Ratih kadang kelewat jujur, dia juga tidak segan-segan ikut memarahiku kalau sekiranya aku sudah kelewat batas badungnya. Bahkan Mbok Ratihlah yang mengajari aku memakai jilbab seperti sekarang. Dulu beliau pernah bilang begini, “Cah ayu, kalau sudah baligh, perempuan wajib sekali menutup auratnya. Kan Quran-nya kita baca setiap hari. Nanti dicari ayatnya ya.” Dan itu menjadi PR untukku. Aku benar-benar disuruh menemukan ayat itu. Alhamdulillah aku menemukan ayat itu setelah mencari sekian lama, di dalam kitab suci Al-Quran yaitu surah An-nur ayat 31. Besoknya aku langsung minta Mami membelikan kerudung, dan royalnya Mami saat itu langsung memborong kerudung dibanyak toko dengan bermacam-macam model. Katanya meskipun aku pakai hijab, tapi aku harus tetap cantik dan modis.             Kusebut itu adalah hidayah Ilahi yang datang melalui Mbok Ratih. Makanya kubilang dia adalah seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Aku menemukan kedamaian di sini, namun anehnya mengapa sampai detik ini hanya aku yang mengislamkan diri? Mami, Papi dan Yasmin masih seperti dulu. Mereka ke Gereja setiap pekan, eh, kadang Yasmin bolos juga. Dia pura-pura sakit atau beralasan bakal ada ujian mendadak di kampus, kadang bolos tanpa kejelasan. Dia tidak suka pergi ke Gereja lagi sejak aku belajar banyak tentang Islam.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN