3. Azka

3632 Kata
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit Yasmin sudah berangkat ke rumah sakit tempat dia melakukan koas. Gadis itu bermata agak sipit, rambut hitam legamnya dikuncir satu, kaki jenjang dibalut sepatu hak mahal, dan tangannya menjinjing tas puluhan juta. Dia sedikit mewarisi hobi belanja dari Maminya yang suka sekali dengan barang-barang mahal, sementara Papi dan adiknya lebih tertarik dengan benda-benda antik dan unik. Ada jiwa seniman di keduanya.             Dua kubu berbeda, hidup dalam satu istana yang sama.             Ponsel di dalam tas Hermes Yasmin bergetar sejak lima menit lalu. Padahal dia sedang menyetir, dia tahu Mami pasti lagi-lagi mengusilinya. Oh, persoalan jodoh. Menjadi anak dari keluarga yang punya perusahaan sukses di Indonesia tidak menjadi jaminan hidupnya bisa bebas, bahkan soal jodoh bukan Tuhan yang menentukan—tapi Mami.             Selesai memarkirkan mobilnya di area rumah sakit, Yasmin merogoh tas, ia balik menghubungi Maminya yang sudah pasti—dalam bayangannya—sedang menahan marah.             “Ya, halo, Mi. Yasmin baru sampai. Ini lagi masuk ke gedung rumah sakit. Kenapa?” tanya Yasmin buru-buru.             “Kamu ya, dari semalam Mami udah kasih nomor Dokter Rian. Coba hubungi dia, masa Mami yang harus bilang kalau kamu lagi sibuk. Kirim pesan sekali aja nggak bakal bikin kamu kena skors kan, Yas?”             Yasmin menghela napas. Ini beban. Dia tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan laki-laki saat masih sibuk kuliah atau koas, apalagi jika ternyata laki-laki itu bukan pilihannya. Dia ingin fokus agar tujuannya cepat terwujud. Di balik sisi borjuisnya, Yasmin adalah gadis penuh mimpi dan ambisi.             “Namanya Darian Albert kan? Oke, nanti Yasmin kirim alamat rumah sakit ini. Siapa tahu dia mau berobat.” Sahut Yasmin agak jutek.             Dari radius ratusan meter Maminya berteriak kesal. Tidak Yasmin, tidak Salwa, dua anak itu sama-sama membuatnya stress dan marah hampir setiap hari.             “Mami harus sabar dong. Ingat darah tingginya nanti kumat lho.” Sebenarnya Yasmin juga menahan tawa. Maminya mudah sekali meledak, untung saja Papi seseorang yang sabar, jika tidak mungkin perang sudah terjadi sejak lama di dalam rumah keluarga Prasetyo.             “Mami udah stress gara-gara ulah dua anak kembar. Tuhan… dosa apa aku ini!”             “Mi, aku masuk lift. Yasmin putus dulu teleponnya, ada dokter senior dan Yasmin rasanya nggak enak kalau masih terima telepon dari Mami. Bye, Mami sayang.” Yasmin memutus sambungan sebelum mendengar Maminya menjawab “ya”, sebab dia tahu, Mami belum mau menyudahi percakapan mengerikan ini.             Gadis itu menghela napas lagi, lalu tersenyum sangat manis ketika melihat seniornya satu lift dengannya. *** Aku melihat Mami sedang memijit-mijit keningnya. Berjalan mondar-mandir seperti setrikaan rusak, tangan kirinya memegang ponsel dengan lesu. Hihihi, aku dan Mbok Ratih saling melirik dan terkikik tanpa suara. Dan detik dimana saat si Agung melintas Mami mulai menjerit lagi, “eh kamu, sini!”             “Ada apa, Bu?” jawab Agung takut-takut.             “Kamu nanti jemput Salwa, antar kemanapun dia pergi. Mau keujung dunia sekalipun. Jangan mau disogok sama dia, sogokan saya lebih gede. Ngeti?”             Ya, aku tidak heran dengan sikap Mami hari ini. Jeepku akan disita sepekan ke depan. Rela tidak rela, aku menurut sajalah. Papi juga tidak bisa berbuat apa-apa, beliau ikut marah saat aku kena jambret. Untung Papi tidak bertindak lebih lanjut untuk melaporkan bocah itu ke kantor polisi.             “Ba—baik, Bu. Baik.” Agung menggut-manggut sambil melirikku. Semoga saja dia betah bekerja di sini. Kelihatannya sih dia tebal telinga meski rada ngeri kalau mendengar Mami berteriak. Rencana Mami kali ini terbilang berhasil. Aku berangkat dengan Papi, pulang dengan Agung. Dan susahnya pulang bareng sopir pribadi Mami ini, dia tidak tahu jalan ke rumah atau kantornya Azka, teman terbaikku. Padahal setiap aku kesal, aku sering kali pergi ke sana mencari hiburan. Azka adalah kakak kelas, teman, sahabat dan seorang abang yang sangat baik dan juga agak jahil. Aku dan Yasmin sama-sama mengenalnya saat MOS di SMA Nusantara 01 Jakarta, saat itu Azka anggota OSIS yang menjadi panitia MOS. Dia kusebut sebagai malaikat penyelamat, tanpanya aku akan dihukum karena lupa membawa papan nama yang wajib tergantung di depan d**a. Yasmin sudah ketar-ketir melihat adiknya akan diberi hukuman, saat itulah sang penyelamat datang. Dia menghampiri kami dan memberiku papan gantung serta spidol hitam. Azka mengenalkan namanya dan terheran mendengar pengakuan aku dan Yasmin. “Kembar?” Azka menatapku dan Yasmin bergantian. Lalu tertawa tidak jelas sambil menggaruk tengkuknya sendiri. “Mirip kok, dikit. Sama-sama mancung tapi sayang, Salwa nggak sesipit kamu, Yas.” Ungkapnya jujur. Ya, mataku memang bulat. Kalau aku tertawa mataku masih terlihat, sementara jika Yasmin tertawa maka matanya tinggal segaris saja. “Kembar nggak identik ya? lucu sih!” kata Azka takjub. Seperti sedang melihat keajaiban dunia ke-delapan saja. “Kami sendiri juga malas menyebut diri kami kembar, Ka! Nggak ada yang percaya!” kataku disertai cengiran. Kala itu Yasmin ikut tertawa setelah puas menepuk pundak kakak kelas itu. Ehm, itu kali pertama Yasmin jatuh cinta, kalau aku tidak salah duga. Mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa Yasmin malas berkencan dengan mahasiswa kedokteran bahkan sekelas dokter manapun. Hatinya tersangkut pada Azka. Hubungan kami bertiga sampai saat ini masih aman, aku tidak mau ada masalah yang melibatkan cinta segi tiga, tidak lucu. Kami sudah dewasa, kalau Yasmin suka Azka kenapa tidak pernah bicara? Dan kalau aku sendiri… sejujurnya Azka bukan tipeku. Dia memang pemuda yang tampan, tinggi semampai, putih dan laki-laki yang cerdas. Namun aku hanya kagum, rasanya aneh jika kagum aku golongkan kepada rasa suka, berlebihan sekali. Sementara Azka, sampai detik ini masih tetap menganggap kami adik kelasnya sekaligus sahabat dekat. Membayangkan si Azka Bhagaskoro membuatku tersenyum sendiri sampai si Agung kebingungan. Biarlah dia mengira aku tidak waras, aku lagi capek dan kesal karena harus menunjukkan dia jalan sejak keluar kantor. “Iya, lurus terus nanti pertigaan belok kiri. Masa jalan cempaka saja nggak tahu?” kataku dengan nada pelan tapi menyindir. Aku bukan Mami yang akan membentak pegawainya kalau lagi tidak mood. “Non, saya tunggu di sini atau balik ke kantor lagi?” tanya Agung ragu-ragu. Kami sudah sampai di depan kantor Azka. Aku harus sesabar ini dengan sopir Mami ya? “Pulang ke rumah aja. Antar kemanapun Mami pergi. Sampai ke ujung dunia sekalipun!” kataku memerintah. Aku mengikuti instruksi Mami tadi pagi pada Agung. Biarkan saja Agung mengadu. “Jangan bilang “tapi”. Yang bayar gajimu Papi bukan Mami, Gung.” Aku tahu dia ketakukan, tapi aku sendiri akan pergi bersama Azka, untuk apa bawa dua mobil kalau nambah macet Jakarta. “Saya ada urusan penting,” lanjutku sebelum membalikkan badan. “Salwa!” teriak laki-laki dengan kemeja biru gelap, ia melambaikan tangannya. “Heh, aku dengar, Ka.” Kulangkahkan kaki mendekat. “Hepi aja liat kamu dateng disopirin si… Agung ya? Tumben bener pake sopir segala. Eksekutif muda, ya ampun!” ledeknya semringah. “Aku bolos kerja.” “Bukan contoh yang baik, Sal.” Lagi, dia mirip dengan seseorang kalau sudah begini. Masalah kerja selalu nomor satu. Padahal dia tahu aku tidak betah berlama-lama di dalam kantor. Beruntung sekali aku anak bos, sehingga tidak harus mendapat teguran dari atasan biarpun cabut sebelum pukul lima. “Gusti Pangeran… kamu kok kayak Tante Mely sih? Bawel banget!” omelku. “Gusti Allah… kamu yang kayak Mbok Ratih, apa-apa istighfar, apa-apa duh Gusti!” Azka terkekeh dan aku tidak bisa menahan untuk tidak mencubit lengannya dengan ganas. “Aduh sakit, Sal!” dia mengaduh dan menjauhkan diri dariku. “Gampang, ada dokter Yasmin, kan?” “Gratis?” “Udah punya usaha sendiri masih mau gratisan! Bayarlah sebelum keringat mengering.” Aku tersenyum, “kata Mbok Ratih juga tuh.” Kami tertawa bersama. Dunia serasa milik kami berdua, padahal kami sedang di depan kantor baru Azka yang juga banyak karyawan sedang bekerja. Dia baru tiga bulan lalu mendirikan usaha ini dengan rekannya. Sebuah studio desain grafis, nama kantornya “Simply Design”. Rekannya menggarap desain kecil sampai menengah untuk berbagai macam produk mulai dari produk makanan, gambar kaos, sampul buku, logo segala barang, bahkan katalog. Sementara Azka fokus satu bidang yaitu desain grafis untuk hunian, mulai dari awal perancangan sampai interiornya. Akhir-akhir ini dia memang sering mendapat pelanggan yang minta di desain interior rumahnya. Beruntunglah aku, karena dia hampir tidak pernah absen untuk mengajakkan belanja furniture sampai benda-benda antik. Untuk satu hal ini, aku dan dia pasti nyambung. Seperti pekan lalu, Azka memintaku menemaninya mencari barang-barang antik seperti guci dan semacamnya sebagai hiasan rumah konsumennya. Aku memang sering jalan berdua dengan Azka tanpa Yasmin, kami tidak pernah kehilangan bahan obrolan. Dia suka sekali dengan banyak hal, ya olahraga, seni, fotografi, bahkan sensasi selebriti pun dia tahu, semua model Indonesia yang di kontrak di luar dia juga tahu! Gosip pengusaha dan artis yang baru-baru ini beredar pun dia update! Aku sering mengomelinya kalau sudah berbicara dunia dibalik layar itu, sama sekali tidak tertarik, biarlah itu menjadi urusan mereka dan aku tidak mau ambil bagian. *** “Yah lukisannya nggak menarik, Sal. Yang lebih… uhm…” Kening Azka sudah berkerut, ia sedang berpikir keras mencari sesuatu. Aku sudah ingin tertawa, sejak datang ke tempat ini belum ada satu lukisan pun yang menarik perhatiannya. “Ada ide?” “Klien kamu muslim?” aku balik bertanya. Azka mengangguk. “Kaligrafi aja. Bagus tuh.” Aku menunjuk ke dinding ujung kanan, ada kaligrafi tiga dimensi yang sangat indah. Sejak masuk ke Galeri ini aku sudah tertarik dengannya, sayang saja kamarku sudah penuh dengan teman-temannya yang lain—yang lebih dulu aku beli beberapa bulan lalu. “Mahal, tapi klienmu pasti suka. Cantik kok.” “Ah, semahal apapun kalau kata Salwa bagus ya aku ikut aja.” Ujar Azka enteng. “Kok gitu?” aku menoleh cepat. Kini Azka memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong. “Ini buat klien kamu, bukan aku, lho.” “Aku percaya sama Salwa.” Jawabnya yakin. “Heh, ini soal hidup mati karirmu, aku nggak ikutan!” aku berbalik beranjak pergi. Masa iya kalau ada klien minta didesain interior rumahnya malah konsultasi ke aku? Setiap ada kesempatan pasti begitu. “Aku jurusan ekonomi fokus ke akuntansi, bukan desain, Azka.” Kataku setelah mendengar langkahnya mengejar. “Tapi keputusanmu sampai detik ini nggak pernah salah. Wow, kemarin Bu Hilda malah nyuruh aku beliin guci baru yang mirip pilihanmu itu. Malah minta rumahnya yang ada di Bintaro di desain ulang interiornya sama aku. Keren kan?” Iya, dia memang sekeren itu, Yasmin juga keren. Hanya aku yang sepertinya tidak bersyukur kerja di kantor Papi. Kalau boleh jujur aku sebenarnya ingin menjadi tour guide, yang kerjanya banyak berkeliling, bicara panjang lebar, menceritakan banyak kisah dan sejarah. Mimpi itu harus terkubur karena sangat tidak mungkin Papi akan setuju. Itu sebabnya aku juga jarang ada di tempat kerja. Jangan salah, sekali aku datang ke kantor, meja kerjaku sudah penuh dengan tumpukan berkas yang harus aku cek dan tandatangani. Dulu sewaktu lulus SMA aku pernah meminta persetujuan Papi agar mau memberiku kerja di luar kantor, ya menjadi tour guide di salah satu layanan tournya. Jelas Papi tidak setuju dengan pilihan koyolku itu, dan Mami menangis histeris sampai harus dirawat di rumah sakit karena tekanan darah tingginya naik. Itu bagai hambatan bagiku mengejar mimpi, setelah kejadian itu aku tidak pernah lagi meminta hal-hal sekonyol itu. Lalu saat Yasmin ingin masuk kedokteran gantian Papi yang histeris. Sungguh, ini bukan drama. Papi ingin dua putri kembarnya manjadi pengurus YS Tour & Travel selanjutnya. Yasmin tidak sepertiku, dia memberontak dan tidak mau makan sama sekali sampai tiga hari berturut-turut. Berat badannya bahkan turun empat kilo tanpa perlu diet ketat. Papi akhirnya mengalah, sementara Mami berpikir bahwa selama pekerjaan itu tidak menjadi bahan tertawaan ibu-ibu arisan maka tidak masalah. Jadi menurut Mami cita-citaku sekonyol itu ya, sampai was-was akan ditertawai banyak orang kaya. Aku malah membahasnya lagi, intinya kantor bagiku seperti penjara. Aku tidak bisa melihat dunia seluas gambaran Tuhan di dalam kitab-Nya. *** Mami hampir saja mengomeliku kalau Azka tidak memaksa ikut masuk ke dalam rumah. Terkadang aku mensyukuri sikap keras kepalanya jika hasilnya bisa menyelamatkanku seperti malam ini. Aku sedikit berterimakasih padanya. “Azka, apa kabar? Duh udah sibuk dengan kantor sendiri ya? Semoga lancar usahamu.” Seloroh Mami setelah berhasil mencipika-cipiki berondong Azka. Reaksi Azka benar-benar kaget, pasalnya ia sering menjaga jarak dengan Mami karena alasan masih suci atau wudunya belum batal. Kali ini Azka tidak punya alasan untuk itu karena ini sudah pukul sempbilan malam, shalat isya kelewat jauh. “Iya, Tante.” “Makin glowing aja kamu, Azka.” Mami terlihat senang menyambut kedatangan Azka, selalu begitu. “Lho, bukannya Tante ya yang makin cantik? Awet muda banget lho!” balas Azka tak kalah heboh. Ya, begitulah percakapan Mami dengan Azka. Semoga tidak sampai tersasar ke percakapan yang ingin aku hidari. Gusti Allah… jangan biarkan Mamiku bertanya macam-macam, aku mohon, tolong— “Kamu udah kenalin Salwa ke orangtua kamu, kan?” Belum selesai doaku terucap dalam hati, Mami sudah mulai memberi kode. Duh! Azka terlihat bingung. Ya jelas, orangtuanya kan sudah kenal aku lama seali, sejak kami SMA. Mama dan Papanya bahkan sering kali menyuruhku dan Yasmin main kesana, bahkan adiknya yang lucu itu pernah memaksa kami menginap disana. Paksaan itu tidak berhasil, Mami tidak pernah mengizinkan anaknya kaluyuran sampai tengah malam apalagi menginap di rumah teman laki-laki. Untuk kemah pramuka saat SMA saja aku dan Yasmin harus memohon-mohon penuh air mata, barulah Mami mau ikhlas mengizinkan. “Azka, maksud Tante itu kamu udah kenalin Yasmin ke orangtua kamu sebagai­­—“ “Ka! Kamu dicariin Davina, nih dia misscall aku.” Kataku akhirnya, ini demi menyelamatkan diri di depan sahabat sendiri. Terpaksa aku harus berbohong lagi. Azka sama sekali tidak tahu kalau Mamiku mulai panikan sejak pulang dari arisan tempo hari itu, semua teman-teman anaknya merayakan pesta pertunangan, pernihakan, bahkan ada yang mengundang mama untuk tujuh bulanan kehamilan, menyambut kehadian sang cucu pertama. Mami mulai ketar-ketir ketika anak-anaknya belum ada tanda-tanda memiliki hubungan dengan lawan jenis. Aku tertarik dengan lawan jenis, sungguh! Hanya saja sedang tidak butuh. Apalagi Mbok Ratih bilang pacaran itu godaan terberat bagi muda-mudi, aku mundur kalau sudah begitu. Kan, Mbok Ratih juga guru spiritualku, aku manut saja. Azka akhirnya pulang cepat. Kebohonganku memang berhasil meskipun meninggalkan seribu tanda tanya di wajah Mami. Giliran aku yang akan di interogasi malam ini. Padahal aku sudah ingin merebahkan badan di atas ranjang setelah enam jam berkeliling dari satu galeri ke galeri lain. Tapi pikiranku kacau, aku masih bingung dengan keputusan Azka. Dia benar-benar mengambil kaligrafi indah itu seharga dua puluh juta. Azka seolah melahap habis semua pendapatku soal lukisan dan benda-benda antik. Aku heran. Heran seheran-herannya. Masalahnya dia kan sudah dewasa! Lamunanku buyar karena Mami masuk tanpa mengetuk pintu. “Salwa, Azka itu kurang apa lagi sih? Dia anak Bhagaskoro.” Ya, seperti aku, Azka memang tidak kekurangan satu hal pun kecuali wanita yang dia cintai dan akan dia nikahi! Karena sampai detik ini dia masih saja berstatus single. Jadi, persahabatan kami secara tidak langsung adalah persahabatan pada penyandang status single. Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan rutin Mami. Tak perlu tanggapan. “Kamu baru selesai mandi?” “Ya, Mi.” Mami menatapku dari atas sampai bawah. Aku masih mengenakan handuk dengan rambut yang juga digulung handuk putih. Mami mendekat dan mencium keningku, rasanya tubuhku seperti dialiri sesuatu; kekuatan batin. Mami juga merangkulku. Heran lagi, kenapa Mami seolah tidak mau kehilangan anaknya? Aku tidak akan pergi kemana-mana. “Azka itu baik, Sayang.” Bola mata Mami menatapku lekat. “Mami mau tanya serius sama kamu. Kamu suka sama dia?” Oh no! Mami sudah pasti melihat ekspresi terkejutku. “Ya sudah kalau kamu tidak mau jawab. Pakai bajumu, awas masuk angin.” Setelah itu Mami keluar dari kamarku dan menutup pintu rapat. Sepertinya rencana perjodohan ini tidak akan berhenti sampai di sini, Mami akan terus berjuang sendiri dan mengeluarkan jurus-jurusnya untuk memastikan rencananya berhasil. Ya, Mami berjuang sendiri karena menurutku Papi masih aman. Bagi Papi yang penting aku dan Yasmin pulang ke rumah, sehat dan segala sesuatunya tercukupi. Lebih dari cukup, aku merasa seperti tuan putri di rumah ini. Belum lama Mami keluar, Mbok Ratih datang dengan minyak pijetnya. Sepertinya badanku akan dimanja oleh Mbok tercintaku ini. “Yahya lagi ngapain, Mbok?” tanyaku pada Mbok yang sedang memijat kakiku. Betisku sangat pegal, bahkan tumitku ingin kulepas sementara karena tersiksa memakai heels sejak pagi. Bagaimana mungkin wanita rela memakai sepatu menyiksa itu hanya untuk tampil menawan. Hah, yang benar saja. Kalau bukan karena tuntutan kantor aku sudah akan memakai sepatu tali atau sneakers kesayangan. Lain kali saat aku pergi harus membawa dua sepatu sebagai cadangan! “Mbok, Mbok kok nggak jawab. Mbok ngantuk ya?” aku sedikit menoleh. “Enggak, Non. Mbok lagi mikir sesuatu.” “Apa? Kasih tahu Salwa dong.” Rayuku dengan suara lemah lembut. Jelas aku memang manja padanya, sejak dulu. Bahkan katanya sejak aku lahir sudah semanja itu padanya. “Ehm, anu, Non. Itu… Yahya mau kuliah, Mbok bingung biaya kuliah kan mahal. Tabungan cukup untuk kuliah biasa. Kalau kedokteran Mbok mana sanggup.” Suara Mbok Ratih terdengar cemas. Sepertinya beban Mbok sedang sangat berat. Baru kali ini aku mendengar Mbok sesedih itu suaranya. Aku menarik diri, pegalku rasanya meluruh mendengar curhatan Mbok tercintaku ini. Aku melihat guratan di wajah teduh Mbok Ratih. Ternyata Mbok memiliki paras ayu Jawa, pasti dulu salah satu primadona desa, sayangnya keluarga Mbok bukan golongan bangsawan, darah biru atau orang penting. Jadi, nasib mengantarkannya hanya sebagai pembantu di rumah ini. Andai oranglain bisa melihat hati manusia di depanku ini, pastilah Mbok sudah dipinang orang penting. “Mbok, Yahya itu pinter. Kimia, Fisika, Biologi apalagi. Aku aja kalah!” aku berusaha menghibur Mbok. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini sebagai balas budi karena lewat Mbok aku mendapat hidayah Allah. “Mbok tenang saja, nggak usah sedih gitu. Yahya biar saja kuliah kedokteran kayak Yasmin. Biar dia jadi dokter hebat. Masalah biaya nanti bisa aku bantu. Yahya kan sudah seperti adikku sendiri. Ya, meskipun dia itu menyebalkan.” “Waduh, Non. Mbok nggak mengharapkan itu. Non Salwa kan baru kerja enam bulan lalu. Masa sudah mau nanggung Yahya. Biar Mbok cari cara lain, atau siapa tahu Yahya mau ganti jurusan yang lebih murah.” Aku menggeleng. Tangan kananku merangkul Mbok Ratih. “Janji. Selama aku masih ada dan Allah merestui, aku akan bantu sekolah Yahya. Beneran, jangan nolak. Oke?” Kulihat mata Mbok sudah berkaca-kaca. Duh, aku juga ingin ikut menangis. Pandanganku mulai kabur, rasanya ada sesuatu yang tertahan di pelupuk mata. Aku gengsi saja nangis di depan Mbok Ratih, walaupun dia tahu aku gadis cengeng. Akhirnya kami berpelukan. Pegalku benar-benar hilang karena kisah haru malam ini. Kubiarkan Mbok keluar kamarku dengan sejuta harapan indah demi masa depan Yahya. Anak itu cepat sekali tumbuhnya, saat kelas tiga SMP tingginya sudah melebihi tinggi badanku dan Yasmin. Sekarang dia duduk di kelas dua SMA. Dia anak yang tekun, rajin dan cerdas. Yang pasti aku tidak main-main dengan keputusan ini. Berapa banyak orang di luar sana yang punya kemauan dan kemampuan berpikir bagus, tapi terhambat oleh biaya? Memikirkannya aku merasa iba. *** Yasmin masih ada di dalam mobil yang terparkir di halaman rumahnya, kacanya setengah terbuka. Ia ingin memejamkan mata sesaat dan menghirup udara malam yang bebas. “Hei…” Suara itu bagai mimpi. Lembut menyapa, menyejukkan, menyanjung jiwa. Yasmin tersenyum tanpa membuka mata. “Yas, ini aku.” Tuhan… beneran, ini bukan mimpi. Yasmin terlonjak kaget ketika melihat wajah Azka, pemuda itu sedang bersandar di pintu mobilnya dengan tangan melambai. Ia benar-benar tidak tahu kalau Azka ada di rumahnya. “Iya, Ka. Kamu lagi ngapain?” tanya Yasmin masih agak terkejut. “Main, bentar. Nganterin Nona muda balik.” Jawab Azka santai. Senyumnya masih megembang, ia menelusuri jejak lelah di wajah Yasmin. Ia juga memikirkan kata “kembar” yang berulang kali terasa janggal. Sejak dulu hingga sekarang, dua makhluk cantik yang ia kenal tidak memiliki kemiripan sama sekali. Seperti keajaiban dunia ke-delapan! Kembar tapi tak sama. Entahlah, dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Mana mungkin dia menyarankan Yasmin dan Salwa melakukan tes DNA demi menjawab rasa penasarannya itu. “Kamu sendiri ngapain, kok belum masuk?” Yasmin tersenyum. Ia keluar dari dalam mobilnya. “Lelah banget pasti. Sama, aku juga nih. Kapan-kapan jalan yuk.” Ajak Azka. Ia menunggu jawaban Yasmin, tetapi gadis itu malah menatapnya dengan sedikit terkejut. “Bertiga.” Tambahnya. “Oh, ehm.. oke.” Terpaksa Yasmin mengangguk. Sampai detik ini entah kenapa Azka tidak pernah peka terhadap perasaannya. Atau mungkin karena mereka berbeda? Ah, sudahlah. Mereka mamang hanya berteman. “Kalian dari mana aja. Se—seharian?” “Nggak. Dari sore kok. Nyari lukisan, eh dapetnya kaligrafi. Keren, bagus banget malah. Pilihan Salwa oke juga. Nggak sia-sia ngajak adik kamu, Yas.” Mereka menatap langit yang sama, gelap namun ada kerlipan bintang yang nampak jauh di sana. “Dia memang jago kan kalau milih barang antik dan lukisan.” Yasmin sungguh memuji adiknya. Ia tahu kaligrafi dan bentuknya, dinding kamar Salwa dipenuhi gambar-gambar seperti itu. Dan menurutnya tulisan itu aneh apalagi dia tidak mengerti maksud dan cara membacanya. Kesimpulan yang Yasmin tangkap, kaligrafi itu memang indah. Dia jatuh cinta sejak lama, namun aneh rasanya jika ia ikut memasang kaligrafi di dinding kamarnya sendiri. Apa yang akan dikatakan Mami? “Oh ya, kalau tidak sibuk kabari aku. Kita bisa makan-makan di luar.” Azka menjejalkan dua tangan ke sakunya. “Kamu kelihatan cepek banget, Yas. Banyak makan, minum vitamin dan istirahat yang cukup. Aku pulang dulu.” Yasmin ingin menahan langkah Azka agar tetap di sampingnya sampai dia bosan. Namun tidak mungkin. Lelaki itu hanya menganggapnya sebagai teman biasa, tidak lebih. Dan seribu perhatian Azka kepadanya adalah perhatian teman terhadap sahabatnya. Ya, setidaknya kata sahabat lebih intim dari pada teman biasa. “Sahabat.” Yasmin mengguman. Tubuh Azka sudah berada di balik kemudi, ia melambaikan tangan pada Azka. “Hati-hati, Ka.” Katanya lantang. Hati-hati di jalan sampai ketemu lagi.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN