4. YS Tour & Travel

3676 Kata
Senin, pukul 11.00 siang. Tentang perjalanan hidup seorang lelaki, dari yang awalnya hanya seorang programmer amatir, mengutak-atik coding di layar monitor, kerja paruh waktu dan upah pun tak tentu hingga akhirnya ia bisa menjadi seperti sekarang. Dipercaya untuk terus mengembangkan web sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa pelayanan “tour and travel”. Tempat kerjanya ini masuk dalam deretan top travel agent. Abimana tetap bangga walau dia hanya berada di balik tampilan website dan aplikasi yang orang-orang gunakan. Proses itu tidak mudah, dua tahun lalu dia baru masuk dan menjadi pegawai junior yang tidak tahu apa-apa. Pengalaman sangat berharga. Pengalaman mengajarinya banyak hal.             Baru-baru ini dia dan rekan IT-nya berhasil meciptakan aplikasi androidnya YS Tour & Travel. Keberhasilannya membuat nama YS semakin maju dan mendapat banyak pelanggan. Mulai dari turis lokal maupun manca negara. Semangat dan kerja kerasnya cukup membuahkan hasil. Tidak ada usaha yang sia-sia, apalagi selalu disertai dengan doa dan sebuah harapan. Di ruangan bersuhu dingin inilah Divisi IT bekerja. Seluruh staffnya bekerja dengan piranti lunak dan keras. Software dan hardware. Jaringan, keamanan, backup data, informasi-informasi penting dan rahasia, pemeliharaan sistem semua ada di sini, lantai dua perusahaan.             Abi menatap rekannya sekilas lalu menuntun langkahnya kembali masuk ke area kerja yang bebas asap rokok, meninggalkan Rehan dan Doni di balkon samping. Di luar sana mereka bebas merokok sepuasnya. Asap mengepul dimana-mana. Sungguh godaan luar biasa bagi seorang programmer jika tidak candu pada rokok. Mereka bisa begadang sampai tengah malam. Sehari, dua hari, seminggu, hingga sebulan demi menyelesaikan program besar. Dua orang yang ditinggalkannya sudah menghabiskan setengah bungkus rokok dalam sehari. Abi memilih masuk karena tidak ingin menambah hisapan rokok untuk kedua kalinya. Ia sudah berjanji pada Ummi untuk tidak candu pada racun itu. Meskipun sulit ia tetap mencoba, demi seorang perempuan yang berani mempertaruhkan nyawanya dua puluh enam tahun lalu. Dia punya cerita masa lalu yang kelam. Dunia penuh kegelapan, rokok bukan apa-apa, dia bahkan biasa bermalam di diskotik saat masih berkuliah di Bandung. Dan masa lalu selalu menghantuinya sampai detik ini. “Tidak ada yang berhak menghakimi masa lalu seseorang. Itu urusan kamu dengan Allah. Melangkahlah, jadi manusia lebih baik dan menebar manfaat. Ingat pesan abimu waktu beliau belum meninggal, anak Abi dan Ummi harus tetap tangguh menghadapi badai sesulit apapun. Kokoh iman dan tidak mudah goyah.” Begitulah nasehat yang disampaikan perempuan berjilbab panjang pada anaknya, Muhammad Abimana Rayyan. “Ummi memberimu nama Muhammad agar kamu punya akhlak terpuji seperti Baginda Rasul. Kalau kamu masih belum benar tidak apa-apa. Manusia selalu berubah-ubah, kamu pasti bisa berubah.” Lanjut Ummi dengan tulus. Abi tersenyum mengingat perlakuan Ummi padanya. Seperih apapun luka, sepahit apapun duka yang telah tergores olehnya, perempuan itu masih bisa memaafkannya. Dulu, dia adalah pecandu obat-obat terlarang, dia mengoleksi botol-botol bir di dalam kamar kosnya. Ya, dia separah itu. Dua tahun kebelakang semua berubah setelah ia kembali ke Jakarta. Abinya meninggal, beliau adalah laki-laki penyayang dan sabar. Beliau hidup untuk ummat dan dakwah. Sayang, anak laki-laki yang ia harapkan tidak mau masuk pesantren. Dia terus menerus mendapat beasiswa di sekolah umum hingga beasiswa ke Bandung untuk lanjut program sarjana. Dengan berat hati Abinya merelakan kepergian anaknya untuk menimba ilmu dunia, dan disanalah rasa sesal muncul. Anak laki-lakinya menjadi nakal dan liar. Untunglah sebelum meninggal beliau sempat melihat anak kesayangannya berubah, sehingga dia pergi tidak dalam kondisi menyesal karena telah salah mendidik anak. Abimana masih bisa merasakan kehadiran ayahnya ketika dia mendengar suara adzan. Dulu saat dia masih kecil, ayahnya sering menggandengnya ke mushalla untuk shalat berjamaah. Kenangan itu selalu berhasil membuatnya bangga memiliki sosok ayah yang mengenalkannya pada Sang Pencipta sejak kecil. Ya, Dia Yang Maha Esa menamakan dirinya sebagai Tuhan untuk Seluruh Alam. “Bi. Woi! Abimana!” rekannya memanggil namanya. Sahutan itu sudah ketiga kalinya namun laki-laki yang dipanggil belum juga menoleh. Ia masih terhanyut dalam lamunan panjangnya. Akhirnya botol kosong melayang hingga mengenai pundaknya, barulah ia terkaget. “Di panggil Bu Mely di ruangannya. Kayaknya doi demen sama tampang lo!” Abi langsung bangkit tanpa merespon. Ada-ada saja ucapan Tio itu. Bagaimana mungkin manajernya itu tertarik pada bawahan yang usianya jauh lebih muda darinya. Kalaupun Mely masih muda, Abi tidak akan berpikir dua kali untuk menolak Mely sebagai kekasihnya, perempuan itu sungguh tempramen dan tidak bisa dibantah. Abi mengetuk pintu dua kali. Lalu ia masuk ke ruangan Mely. Perempuan itu sedang duduk dan menandatangani beberapa berkas penting. “Ya, duduklah. Saya ingin bicara soal…” Mely menatap Abi sekilas lalu tersenyum. Fokusnya kembali kepada tumpukan berkas yang menggunung. “Saya berencana mempromosikan kamu sebagai manajer IT di kantor cabang. Bagaimana?” Abi tertegun. Dua tahun berlalu. Apa secepat ini? “Kamu maukan pindah ke cabang?” “Saya sudah merasa cukup dengan posisi saya sekarang.” Jawaban Abi tegas. “Pikirkan baik-baik. Gaji kamu di sana bisa tiga kali lipat dari gaji kamu sekarang. Lagipula Bandung itu tempat yang bagus.” Mely kini fokus pada objek di depannya. Lelaki tampan dengan rambut agak gondrong dan cambang yang belum sempat dicukur. Lengan kemeja digulung sampai siku. Kalau saja Mely masih muda saat bertemu dengan lelaki ini, mungkin ada yang berubah dari kisah hidupnya—ya, dia tidak akan melajang sampai sekarang. “Maaf, Bu Mely. Bukan maksud saya tidak sopan. Tetapi saya sama sekali tidak tertarik atas tawaran itu.” Abi tidak mungkin menceritakan kehidupan kelamnya di sana. Bandung adalah tempat yang sangat menyakitkan untuk dikenang. Dia tidak suka oranglain mengungkit-ungkitnya. Dia harus mencari alasan lain untuk menolak karena Mely tidak akan puas dengan sebuah alasan sederhana. “Saya punya ibu di Jakarta. Saya harus menemaninya karena ayah saya sudah tiada. Beliau tinggal di rumah sendirian.” Jelas Abi, ia telah jujur. “Oh, baiklah.” Mely mengangguk. Perempuan ini tidak semenyeramkan biasanya, sedikit lunak. “Kalau kamu tetap di sini, kamu masih tetap di bawah Rehan sampai seterusnya. Dia tetap jadi senior dan atasan kamu.” “Ya, saya mengerti.” Percakapan pun selesai. Abi sudah bangkit dan hendak pergi meninggalkan ruangan Mely, yang menurut sebagian karyawan adalah ruangan terhorror di kantor ini. “Abi! Temui Bu Salwa hari rabu, adakan meeting dengannya. Dia akan membuka layanan travel baru. Programnya belum resmi tapi sudah serius, dia butuh ya… masukan mungkin. Untuk web travelnya itu.” Ucap Mely buru-buru, terlihat tanpa minat menjelaskan. Abi sudah memegang gagang pintu, lalu ia menoleh dan menahan gerakan tangannya. “Terpisah? Tidak disatukan dengan web YS?” “Dia buat layanan travel ibadah, saya rasa memang harusnya tidak disamakan.” “Apa masalahnya? Oh, baiklah. Hari rabu.” Abi hampir saja menolak perintah itu. Baginya membuat program web baru bukan masalah besar, tetapi yang jadi masalah adalah baik travel wisata maupun travel ibadah padahal sama-sama milik YS. Apa salahnya kalau digabung? IT bisa merombak sistem yang sudah ada dalam waktu singkat. *** Setelah keluar dari ruangan Mely gadis itu terlihat sangat kesal. Ia tidak terima dengan perlakuan Mely, tantenya itu masih menganggapnya seperti anak kecil yang tidak mengerti apa-apa soal perusahaan. Padahal Salwa bisa belajar dan akhirnya mengerti bahkan sangat paham seluk beluk perusahaan ini. Dia belajar dengan cepat. YS Tour & Travel. YS diambil dari dua nama; Yasmin Salwa. Perusahaan yang dibagun Hadid Prasetyo ini sudah berdiri sejak dua puluh tahun lalu. Awalnya sebuah kantor kecil di kompleks perumahan sederhana dan hanya menyewa ruko tiga lantai. Lalu karena kegigihan Hadid, kerja kerasnya membuahkan hasil yang memuaskan. Laki-laki itu tidak mudah menyerah sewaktu usaha yang ia rintis mengalami gangguan dan nyaris bangkrut karena terlilit hutang dan rugi besar. Salwa juga masih kesal dengan meeting pekan lalu, saat dirinya mengusulkan penambahan layanan baru yaitu semacam travel ibadah khusus ummat muslim; haji dan umroh. Hadid masih menimbang permintaan Salwa hingga hari ini Hadid menyetujuinya. Baginya ide Salwa cukup cemerlang, mengingat banyaknya jamaah muslim yang pergi ke tanah suci untuk umroh setiap tahun bahkan tiap bulan. Hal ini akan menguntungkan perusahaannya dan Salwa adalah orang yang tepat saat mengusulkan rencana ini, mengingat gadis itu adalah anaknya sendiri sekaligus pemeluk agama yang mengadakan ibadah umroh tersebut. Dan untuk urusan selanjutnya, Salwa harus berbicara pada Mely, dia adalah general manager sekaligus tangan kanan Papinya. Setiap keputusan yang dibuat perusahaan kadang harus melalui arahan, persetujuan dan pengawasan Mely. Jelas, Mely tidak terlalu setuju dengan ide Salwa. Mely lebih ingin menambah layanan dengan mengadakan perjalanan tour dengan cruise atau kapal pesiar. Di rapat itu Salwa menolak keinginan Mely, karena dia menganggap tidak semua orang mampu berjalan-jalan mewah seperti yang Mely impikan. Lebih baik jika mengadakan perjalanan yang menuai amalan seperti travel ibadah umroh sekaligus menapak tilas peradaban Islam pada masa ke-emasannya, seperti sejarah Islam di kota Makkah, Madinah, Mesir, Istanbul bahkan kalau memungkinkan bisa sampai Palestina. Mely balik membantah saran Salwa dengan lantang, di meeting itu dia satu-satunya orang yang menyuarakan keberatannya. Mereka berdua sempat bersi tatap dalam waktu yang lama. Berbantah-bantahan dengan sengit. Salwa sudah ingin menangis—kalau tidak mengingat dia sedang meeting dan disaksikan banyak orang. Ia yang pertama kali berlari keluar ruangan setelah meeting itu berhasil ditunda. Ditunda sampai pagi ini. Hadid tiba-tiba saja menemui Mely dan menyuruhnya membantu Salwa untuk membuat travel ibadah masuk dalam daftar layanan YS. Mely tidak begitu antusias mendengar kabar pagi ini. Walaupun setengah hati mengiyakan keputusan Hadid, pada akhirnya dia tetap harus mengarahkan Salwa. Dia tidak akan membiarkan Salwa berjalan sendirian. Tiba-tiba saja dia kesal dengan keponakan yang suka menghilang tidak jelas itu. Yang Mely tahu, Salwa pasti mewarisi sifat Anna, Maminya, yang suka menghambur-hamburkan harta hasil kerja keras kakaknya, Hadid. “Ibu dan anak sama saja!” gumam Mely di ruangannya. *** Benar, kalau saja Yasmin ada di sini, pastilah Salwa punya teman curhat. Teman yang bisa dia jadikan kawan untuk bertarung dengan tantenya sendiri. Untung saja pagi ini Papinya memberi kabar menyenangkan, persetujuan travel ibadah. Akhirnya ide pertamanya untuk kantor ini diterima. Yasmin sudah mendapat kabar ini, Salwa menceritakan pertarungan sengit antara dia dan Mely lewat telepon. Kini Salwa mondar-mandir sambil menempelkan ponsel ke telinga kanannya. “Iya. Kalau kamu liat muka Tante Mely, uh, udah pasti kamu ketawa. Tante kayak nggak terima gitu. Masih marah sama aku. Huh, aku juga kesel. Web dan appnya bakal dipisah segala. Papi belum tahu soal ini.” “Sal, ide kamu luar biasa. Kamu bisa ajak temen-temen bolak-balik kesana. Asyik banget. Nggak apa-apa, untuk sementara ikutin aturan Tante Mely dulu. Daripada dia makin gondok. Ah, nanti nggak ada yang bantuin kamu lagi. Dia punya pengalaman lebih banyak, Salwa.” Nasihat Yasmin. “Iya.” Salwa setuju dengan kalimat terakhir itu. Tantenya punya pengalaman lebih banyak darinya. Dia harus menurut pada Mely untuk sementara waktu. “Yas, kamu balik jam berapa? Bisa jemput aku? Males banget pulang sama si Agung.” “Itu masalah gampang. Jam makan siang aku ke kantor.” “Tumben. Ada apa?” “Azka nggak bilang? Katanya ada yang mau diomongin.” Salwa menelan ludah. Semoga dugaannya meleset, semoga bukan soal perjodohan yang Maminya rencanakan. Kalau sampai Maminya bilang ke Azka, Salwa bisa mati kutu. Mau ditaruh di mana mukanya? Gadis itu kembali duduk, gunungan berkas sudah makin meninggi. Banyak hal yang harus ia kerjakan sesegera mungkin mengingat pembukaan layanan baru harus segera diurus. Dia tidak ingin menunda-nunda lagi. Semua harus selesai sesuai target. Baru kali ini rasanya Salwa merasa lumayan betah di kantor. Ini berkat Papinya yang baik hati, memberinya kesempatan untuk mengembangkan ide cemerlang itu. Mely tiba-tiba mucul tanpa mengetuk pintu. Salwa tidak perlu heran lagi. Tantenya muncul dengan wajah yang tidak ramah sama sekali. “Ini berkas yang akan kamu perlukan, Salwa. Saya suruh beberapa staff membantu kamu nantinya. Oh ya, saya lupa bilang kalau programmernya saya ganti jadi Abimana, bukan Tio.” “Kenapa?” kening Salwa bekernyit heran. Perubahan ini terlalu mendadak. “Meskipun saya tidak terlalu suka dengan ide kamu. Saya tidak mau langkah pertama kamu gagal begitu saja. Ini dana perusahaan, hajat hidup orang banyak. Bukan punya Mas Hadid atau kamu. Jadi… ya, saya pilih orang-orang lebih kompeten.” Salwa akhirnya mengangguk patuh. Sedikit banyak ia merasa tertampar. Meskipun selama menjadi anak Prasetyo dia tidak pernah menghambur-hamburkan uang. Sedekah tiap bulan ke panti asuhan sakinah tidak termasuk menghamburkan uang kan. Lagipula semua itu atas persetujuan kedua orangtua Salwa juga, serta Yasmin. “Tente!” Salwa berjalan menghampiri Mely. “Terimakasih, saya harap Tante mau membimbing saja.” Mely melangkah pergi tanpa menjawab harapan Salwa. Dalam hati Mely tidak setega itu melihat keponakannya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Sejak dulu Salwa selalu lebih cengeng dari Yasmin. Gadis itu takut dengan darah, takut gelap, takut petir dan juga tidak menonton film horror. Itulah kenapa Mely masih menganggap Salwa layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.    *** Aku sengaja membiarkan Yasmin dan Azka berdua di kantin. Aku berharap mereka punya kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat dan Azka jadi tahu bahwa ada perasaan yang terpendam. Entah kapan Yasmin akan mengatakan sebuah kejujuran, tidak ada salahnya dia bilang suka pada Azka—daripada harus memendam rasa selama itu. Ya, sejak SMA, pertemuan pertama dengan Azka adalah salah satu hal indah yang Yasmin tulis dalam diarinya. Maaf, aku tidak sengaja membaca. Itu karena aku sering membajak dan mengacak-acak kamarnya hingga tidak berbentuk lagi. Yasmin tidak pernah marah atau membalas ulahku, dia kakak yang baik. Bahkan sangat baik. Aku akan membereskan urusanku, setelah itu akan menyusul mereka untuk makan siang. Tapi Azka rupanya tidak sabaran. Dia sudah menelepon belasan kali. “Ya?” kujawab lantang. “Kuahnya keburu dingin. Aku pesan tiga mangkuk soto. Turun Sal, atau aku yang ke ruanganmu!” ancamnya. Keras kepalanya susah hilang, pasti bawaan dari lahir. “Sabar. Tunggu lima menit lagi.” Aku segera memutuskan sambungan. Malas kena omelan Azka. Sejenak kutatap layar laptop, ada beberapa data yang belum aku dapatkan. Mungkin aku tidak akan pulang lebih awal seperti biasanya, ini sejarah baru karena akhirnya seorang Salwa bisa lembur di kantor. Aku berisap menuruni tangga, menuju kantin di lantai dasar. Dan ketika aku sampai meja Azka dan Yasmin… benar, sudah tersaji semangkuk soto untukku yang siap disantap. Aku menarik kursi di sebelah Yasmin. Sepertinya tidak ada obrolan apapun selama aku tidak ada. Mereka masih santai menyantap sotonya masing-masing. Keadaan sungguh hening. “Mau ngomong apa?” tanyaku langsung. “Soal Mami, Sal.” Yasmin menjawab. “Uhuk!” aku tersedak. Azka mendorong minumnya ke arahku. Tanpa menunggu, aku segera menyambarnya, menghabiskan setengahnya. Curangnya Azka yang tidak sekalian memesan minum untukku. “Pelan-pelan makannya.” Yasmin menepuk punggungku pelan. Ia menarik kepalaku dan membersihkan hidung serta mulutku dengan tisu. Aku merasa beberapa orang mengamati kami dengan saksama. Aku menarik diri dari tangan Yasmin, pastilah mereka membahas hal yang sering aku dengar—bahwa aku dan Yasmin tidak layak disebut kembar. Keajaiban dunia ke-delapan! Tidak masalah, toh, aku tetap anak Hadid Prasetyo. Eh, tunggu. Aku sempat berpikir bahwa mungkin antara aku dan Yasmin ada yang tertukar dengan bayi lain saat berada di rumah sakit. Tapi rasanya aneh jika aku menanyakan itu sekarang. “Mami kenapa?” aku tak melanjutkan pikiranku yang melantur. “Azka?” sejak tadi aku menatapnya, dia nampak kikuk. Semoga dugaanku tidak benar, sungguh ini memalukan. “Itu… aneh aja. Mami kalian kok mikirnya aku pacaran sama salah satu anaknya.” Giliran Yasmin yang tersedak. Aku gantian menepuk-nepuk punggungnya. Dia segera meminum air mineral dalam kemasan botolnya sampai tandas. Aku melirik Azka yang terus memandangi Yasmin penuh khawatir. “Mentang-mentang lahirnya di hari yang sama, tersedak aja pakai gantian.” Ucap Azka dengan wajah cemas. Ia menyodorkan sapu tangan kepada Yasmin, saat itu aku melihat wajah Yasmin yang pucat jadi merona seketika. Benar, dia masih menyukai Azka sampai detik ini. “Kalian nggak bakal suka sama orang yang sama, kan?” “Enggak.” Bantahku. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku janji. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan menyukai Azka sampai kapanpun. Aku senang jika Yasmin bisa bersamanya, aku akan ikut bahagia jika saudara kembarku bahagia. “Terus kamu bilang apa sama Mami?” kataku, kembali ketopik awal. Azka hanya tersenyum lebar. Kali ini aku tidak bisa mengelak kalau Azka terlihat menarik saat tersenyum seperti ini. Duh, cepat-cepat aku menunduk sebelum terhipnotis dengan karismanya. “Aku belum bilang apa-apa.” Azka menjawab tanpa beban. Ya, untuk sementara itulah jawaban paling aman. “Tapi…” Jantungku serasa berdetak tiga kali lebih cepat. Aku takut dia mengatakan hal yang sejak tadi aku pikirkan. “Tapi?” kening Yasmin bekernyit, dia bolak-balik menatap Azka dan meja di depannya. “Enggak, bukan apa-apa.” Dan Azka tersenyum lagi. Entah untuk keberapa kalinya dia berusaha membuat aku, Yasmin, serta seluruh pegawai perempuan di kantor ini terpesona padanya. Telingaku mendengar bisik-bisik tidak jelas. Sumber suaranya banyak. Kali ini obrolan mereka tentang Azka, lelaki tampan yang perlu diperhitungkan dalam daftar calon suami idaman. Itulah sebabnya Mami terus bertanya perkara hubunganku dengan dia. Bagi Mami, Azka adalah sosok pemuda ideal. Pas untuk dijadikan menantu. “Dasar! Sok misterius.” Aku bisa bicara seketus itu jika sudah mengenal lama lawan bicaraku. Dan Azka tidak akan tersinggung dengan serentetan makianku kepadanya, dia malah santai, kadang menanggapiku dengan tawa renyahnya. Sebal. “Uhm! Ada sesuatu yang Tante Anna bilang di telepon tadi.” “Apa? Mami telepon kamu? Tumben.” Yasmin sempat kaget. Aku sendiri tidak heran, jangankan Azka, si Albert itu pun sudah pasti di-terror Mami. Oh ya, Yasmin belum cerita apa-apa soal Albert itu, sepertinya hubungan perjodohan mereka tidak ada kemajuan sama sekali. Rencana Mami akan gagal dalam hitungan hari. “Ya. Tante Anna nyuruh aku dan Salwa nememin kencan kamu sama Darian...” Azka menatap Yasmin lembut. “Darian Albert itu?” “Ya.” Aku sudah ingin tertawa andai Yasmin bukan saudaraku. Wajahnya langsung panik, ia juga tidak selera melihat soto yang belum juga habis. Dia makan agak lambat, padahal aku yang terakhir duduk di meja ini sudah menghabiskan makanan sejak tadi. Tangan mulusnya menjauhkan mangkuk sotonya, dia meletakkan dua tangan di atas meja, gelisah. “Darian Albert. Dokter lulusan Amerika, aku tidak mengenalnya.” Yasmin mengangkat bahu. “Aku tidak berniat bertemu dengannya. Tidak penting, kan?” “Sebenarnya sejak semalam aku mendapat gangguan. Rasanya aneh saja tiba-tiba aku di telepon laki-laki hampir satu jam!” Azka tertawa sumbang. “Si Albert itu dapat nomorku dari mana coba?” Aku melotot keheranan, menahan tawa. “Pasti Mami.” Tebakanku pasti benar. “Yasmin. Dia telepon aku dan nanya-nanya soal kamu. Dikiranya aku tahu segalanya soal kamu dan dia duh… maksa banget. Terpaksa deh aku bilang kamu suka makan itu, minum ini, belanja, dan nge-gym. Oh ya, jenis film dan musik yang kamu suka masih sama kan? Aku juga kasih tahu soal itu ke dia.” Azka terlihat santai menjelaskannya. Tidak merasa berdosa karena sudah menyebarkan rahasia Yasmin pada lelaki asing. “Azka!” teriak Yasmin kejam. “Sori. Dia resek setengah mati.” Azka menahan tawa sekaligus geli. “Uh, kamu yang resek tahu nggak.” Yasmin kesal dan memukul lengan Azka yang kekar. Dia sendiri yang mengaduh kesakitan soalnya badan Azka isinya otot dan tulang semua, melihat itu aku ikut tertawa. Aku tidak menyangka bahwa Azka diam-diam tahu banyak soal Yasmin. Eh, tunggu… dia juga tahu lebih banyak tentang Salwa. Dia tahu makanan favoritku, minuman kesukaanku, tahu bahwa aku gemar mengoleksi barang-barang antik dan aneh, tahu kalau aku suka lukisan dan kaligrafi, bahkan dia tahu apa yang tidak aku suka. Aku sedang berpikir, seberapa banyak Azka tahu tentang aku dan Yasmin? “Ya, deh. Aku janji nggak akan bocorin rahasia kamu lagi. Tapi aku nggak bilang soal ini kok, kalau kamu nggak pernah pacaran seumur hidup. Hahaha…” tawa Azka memancing tatap mata orang-orang di kantin. Semua terpusat padanya. Dasar, laki-laki sadar pesona. Diantara kami bertiga, memang dia yang sudah pernah berpacaran. Dulu saat kuliah Azka punya pacar cukup cantik dan modis, masih modisan Yasmin dikit lah. Tapi perempuan itu berhasil merebut perhatian Azka dari kami. Entah kenapa aku merasa tidak suka dan Yasmin sepertinya juga cemburu, kami terang-terangan bilang ke Azka untuk segera putus dengannya. Hahaha… dengan tampang polos seolah tanpa dosa, Azka memutuskan pacarnya itu. Sampai saat ini aku belum pernah melihat dia punya hubungan khusus dengan perempuan manapun. Kadang aku merasa bersalah sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadinya. Azka menatap wajah Yasmin, “kamu nggak marahkan?” Yasmin tidak merespon lebih lanjut. Mendadak wajahnya tertekuk. Dia pasti kesal dengan kejahilan Azka. Tidak heran, laki-laki itu kadang manis, baik dan sok romantis, tapi terkadang berubah menjadi makhluk paling menyebalkan di seluruh dunia. Sepuluh menit yang lalu Yasmin kembali ke rumah sakit. Tersisa aku dan Azka yang berjalan menuju mushalla. Dia mengikuti langkahku dari belakang. Dan aku mendapati beberapa pasang mata menatap kami, dengan kikuk mereka tersenyum dan menegur. “Sal, kamu nggak mau ikut ke kencan pertamanya Yasmin?” Aku menggeleng. “Masa bertiga doang, Sal? Aku keki dong.” Kubalikkan tubuhku dan menatap Azka dengan sebal. Betapa tidak pekanya dia bahwa Yasmin diam-diam menyukainya sejak dulu. Apa harus kukatakan sekarang? Ah, itu bukan urusanku, namanya menyalahi aturan. Siapa tahu Yasmin hanya kagum seperti aku mengagumi Azka. Tapi kenapa buku diary Yasmin saat masih kuliah isinya tantang Azka dan Azka. Seingatku tidak ada Azka yang lain selain si anak konglomerat dari keluarga Baghaskoro. “Jelek bengat kalau lagi marah. Hati-hati cepet tua.” Azka berlalu, dia masuk ke area laki-laki dan meninggalkanku yang masih bingung dengan pertanyaan yang berkelebat di otakku. Mendadak lamunanku buyar ketika melihat seorang laki-laki dengan rambut gondrong dan janggut ditumbuhi brewok tipis berjalan menghampiriku. Aku masih bergeming menatapnya. Beberapa menit kemudia… Ah, aku mengira dia akan menghampiriku, ternyata hanya berjalan melewatiku dan mengambil sesuatu di balik punggungku. Di sebuah gantungan dia mengambil plastik berisi makanan yang sepertinya dia beli di luar kantor. Tunggu, dia karyawan Papi? Rasanya aku baru melihat dia sekarang. Enam bulan aku kerja di YS, memang belum mengenal semua karyawannya, terutama laki-laki. Hanya beberapa orang yang aku tahu;  selain sekuriti dan sopir kantor, ada bagian keuangan, marketing dan IT bernama Rehan yang membantuku membackup data tempo hari. “Sal, sampai kapan mau disana?” Azka tiba-tiba memukulku dengan sajadah yang ia pegang. Aku masih berdiri di tempat terakhir dia meninggalkanku. Saking penasaran dengan laki-laki gondrong tadi, mataku sampai mengekorinya hingga sosok itu hilang di balik dinding pembatas.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN