5. Kehidupan Luar

1730 Kata
Selasa siang pukul dua. Hari ini matahari seperti di atas ubun-ubun. Panasnya membakar tubuh, aku sampai mandi keringat, bajuku basah dan yang jelas ketiakku juga tidak dalam keadaan aman. Aku butuh berendam sepulang dari tempat sekumuh ini.             Bau genangan air sungai yang tidak mengalir, bau sampah yang terbawa angin, dan bau mesin tua dari ketera lokomotif yang baru saja lewat. Besi-besi karatnya menusuk hidungku.             Lima menit yang lalu mobil Mami menurunkan aku di pemukiman bantaran sungai. Masih lumayan dekat dengan daerah kampusku, uhm, dekat sebuah apartemen besar dan mall mewah. Aku mengancam Agung supaya tidak bilang ke Mami kalau aku seharian ini akan menghabiskan waktu di luar kantor dan main ke pemukiman kumuh seperti ini.             Mami memang tidak melarang aku sering bolak-balik ke panti asuhan dan rumah sakit, hanya untuk menyalurkan bantuan setelah menggalang dana dari bakti sosial. Semasa kuliah aku dan teman-temanku memang rutin ke dua tempat itu, tapi tidak pernah sekalipun aku berdiri di tempat sekumuh ini. Sudah pasti Mami akan menjerit histeris—jika Agung berani melaporkan kegiatanku hari ini. Oh, anggap saja aku sedang melakukan inspeksi.             Aku ingin menemui bocah kecil yang pernah mencopet ponselku. Aku orang yang agak penasaran. Penasaran saja kenapa dia sudah berani melakukan hal itu padahal usianya masih sangat muda. Aku kira anak itu harusnya bersekolah, duduk di bangku kelas empat atau lima SD.             Dari ciri-ciri yang masih kuingat, aku bertanya pada beberapa orang yang ada di pinggir perlintasan rel. Tidak sulit ternyata menemukan bocah itu, kudengar namanya Akib. Ya, dia tinggal di salah satu rumah kumuh ini. Kakiku sudah berdiri di depan rumah—ah, tidak layak disebut sebagai rumah. Ini terlihat seperti gubuk, bagunannya yang dari papan tipis dan dus sudah reyot, atapnya dari seng, beberapa papannya malah sudah lapuk, ditambal kardus bekas disana-sini. Aku merasa sedih melihatnya, sungguh miris sekali. Ternyata masih ada manusia yang tinggal di tempat seperti ini, yang kalau hujan sudah pasti bocor dan kedinginan.             Ya Gusti Allah… melihat anak-anak di panti tanpa ayah-ibu saja aku sudah merinding, kini aku membayangkan Akib dan beberapa anak tinggal di gubuk reyot seperti ini di sebuah kota besar. Rasanya dunia tidak adil untuk mereka.             “Tutup pintunya. TUTUP!” aku mendengar seorang anak berteriak dari dalam. Lalu seorang anak lebih kecil dari Akib mendorong tubuhku hingga mundur beberapa langkah kebelakang. Dia segera menutup pintu yang baru saja kudekati.             “Assalamu’alaikum. Akib?” aku menggedor pintunya lagi, tentu dengan telapak tangan, dan aku merasakan debu berpindah ke tanganku seketika. Sungguh kotor dan kumuh. Aku masih menggedor pintu itu pelan, aku yakin yang teriak itu Akib. Kuucapkan salam berkali-kali hingga seorang anak kecil menarik ujung bajuku. Ah, rupanya anak kecil perempuan. Aku berjongok agar setara dengannya. Kutebak usianya sekitar tiga atau empat tahun.             Belum sempat aku bertanya siapa dia, tindakannya sudah mengejutkanku. Dia menarik bros kerudungku sambil berkata, “men… men.. emen!”             Mataku panas, aku menahan tangis yang datang tanpa sebab. Hatiku bergetar dan tubuhku kaku sesaat. “Kamu siapa, hei?”             “Tali… aku Tali, Kakak.”             Dia masih cadel di usia yang seharusnya sudah bisa dimasukkan ke TK atau Paud.             “Aku mau emen..”             “Permen?” kataku mencoba menebak. “Tali mau permen?”             Anak itu mengangguk malu-malu. Ia masih berusaha mencopot brosku. Aku membiarkannya dan kini tanganku merogoh tas, aku memang punya kebiasaan membawa sesuatu dalam tasku ini, semacam makanan kecil atau cokelat hanya untuk menghilangkan kantuk jika sedang menyetir sendiri. Aku memberikan sebatang cokelat kecil padanya. Ia segera mengambil dan mengemutnya.             “Bukan begitu. Sini Kakak bantuin buka.” Aku membukakan bungkusnya tanpa merasa jijik, aku sudah terbiasa dengan anak-anak panti yang tingkahnya tidak terduga. Kadang tiba-tiba saja aku dipipisi anak bayi jika penjaganya lupa mengenakan pempers. “Tali, cokelatnya enak kan? Tali mau lagi? Nanti Kakak bawa yang banyak buat kamu dan…” aku melirik pintu, masih tertutup rapat.             “Namanya Tari, bukan Tali!” seorang anak keluar dari balik pintu teriplek itu. “Dia adikku, aku Abay. Aku mau coklat itu.” Dia menunjuk mulut adiknya.             Aku hanya bisa tersenyum memandangnya penuh takjub. Apa dia suka meminta seperti ini pada oranglain, orang yang baru dia kenal sepertiku. Baiklah, pendidikan akhlak, tata krama, dan sopan santun memang jauh dari dunianya saat ini, tapi kalau mereka terus begini sampai besar maka akan jadi masalah untuk mereka sendiri. Aku merasa iba luar biasa, tanpa terasa air mataku sudah merebak lagi. Lalu kulihat Akib ikut keluar dari dalam rumah. Dia menarik Tari dan memeluknya.             “Aku mau minta maaf. Aku nggak sengaja buat—“             “Kakak maafin.” Potongku segera. Aku tidak mau mendengar pengakuannya. Aku sudah tahu kenapa hatiku ingin sekali kembali lagi kesini, aku memang harus melihat semua ini, kehidupan yang jauh dari bayanganku. Kehidupanku di rumah Papi ribuan kali lebih baik, semua serba ada dan mewah. Aku marasa ditampar oleh kehidupan yang melalaikan. Aku sangat sedih. “Tunggu disini, nanti Kakak kembali bawa makanan!” kataku pada Akib yang masih menunduk, dia sepertinya benar-benar menyesal.             Aku melangkah ke jalan kecil dekat perlintasan rel, dekat juga dengan tumpukan sampah botol plastik dan kardus yang menggunung. Kutebak lagi, mata pencaharian mereka sebenarnya adalah pemulung. Benar.             “Di rumahmu ada berapa orang?” tanyaku pada Akib.             “Empat! Tapi sebentar lagi pada pulang, jadi sebelas.”             Aku mengangguk dan segera pergi menuju mobil Mami yang terparkir lumayan jauh dari sini. Untunglah aku sempat mengganti sepatuku dengan jenis kets, sehingga tidak menyulitkan langkahku untuk berlari. Aku ingin membeli makanan dan beberapa kebutuhan lain, hatiku tidak tenang kalau belum melakukan apa-apa. Tubuh mereka kurus dan menghitam, dekil di sana-sini seakan tidak mandi berhari-hari. Aku belum menemukan kamar mandi, mungkin ada di dalam rumah. Atau persediaan airnya tidak ada? Aku mencemaskan banyak hal, aku juga mengira bahwa mereka kekurangan gizi.             Di bantu Agung akhirnya aku berhasil membawa sebelas bungkus nasi dengan lauk ayam dan ikan. Satu dus air minum dan dua kresek jajanan, tak ketinggalan aku membelikan cokelat untuk dua anak kecil itu, Abay dan Tari.             Aku belum menjawab kebingungan Agung karena mendadak aku bisa menemukan tempat seperti ini. Akan aku jelaskan nanti di dalam mobil sekaligus mengancamnya agar tidak bicara macam-macam pada Mami. Berbagi itu menyenangkan, aku merasa sangat bahagia saat melihat ekspresi tawa dan senyum ceria mereka. Aku merasa terobati, aku yang butuh mereka bukan mereka yang membutuhkan aku. Saat melihat anak-anak itu menyambut baik pemberianku yang sederhana itu, aku merasa sangat beryukur sekaligus beruntung, Allah Mahakuasa masih mencukupkan kehidupanku. Masih mengamanahiku banyak harta benda lewat kesuksesan Papi.             Sepuluh orang sudah duduk melingkar, aku duduk di dekat Tari yang memaksa makan sendiri dan tidak mau disuapi. Aku hanya memberinya nasi, sayur dan ayam, kalau ikan aku khawatir durinya bisa tertelan. Aku tak henti menatap wajah-wajah bahagia mereka.             “Wuih… kapan-kapan mampir lagi ya, Kak. Bawa ayam digambar ini!” anak bernama Ade menunjukkan gambar makanan dengan merk ternama. Aku balas mengangguk.             “Jangan ngelunjak! Ini sudah luar biasa…”             “Alhamdulillah.” Akib ikut bersuara, dia masih melirikku dengan cara sembunyi-sembunyi. Aku tahu dia pasti anak baik-baik. Lingkungan dan keadaanlah yang membuat dia dan teman-temannya menjadi seperti itu.             “Makasih Kak. Kakak cantik namanya siapa?” tanya seorang anak yang bernama Putri, anak yang lebih besar dari Akib.             “Salwa.”             “Kakak mampir lagi ya, aku mau kayak Kak Salwa yang bisa naik mobil bagus itu.” Jujur Putri. “Aku mau sekolah tinggi kayak Kakak cantik.”             Pilu hatiku mendengarnya. Aku ingin menangis lagi. Eh, ada Agung, aku tidak boleh secengeng itu di depannya. Agung duduk di depan pintu sambil membagi-bagikan botol minuman kepada anak-anak.             “Putri, Insya Allah Kakak akan datang lagi. Kalian butuh apa? Alat tulis?”             Akib menggeleng. “Aku nggak sekolah.”             “Putri mau ujian sebentar lagi. Tapi uangnya belum ke kumpul.” Ucap Putri sedih.             “Tali bakal cekolah kayak Kak Wawa!” Tari ikut menimpali.             Aku menarik napas dalam-dalam. Sepertinya aku harus memberi tahu masalah ini kepada teman-temanku, Hana orang pertama yang akan aku hubungi.             Adzan ashar berkumandang, suara itu dari ponsel Agung yang sudah di-setting. Aku tersenyum, sopir Mami ternyata rajin ibadah. Agung izin sebentar ke mushalla terdekat, aku akan menyusul nanti dengan Putri dan beberapa anak perempuan lain.             “Putri belajar yang rajin ya, sayang. Insya Allah nanti ada bantuan buat bayaran sekolah kamu. Ehm, Akib tidak lanjut kenapa?”             “Makasih, Kak Salwa. Sebenarnya Putri udah dibantu sama Kak Abi. Dia baik banget sama kita. Dia udah lama bantu kita di sini, tapi Kak Abi lagi sibuk sama kerjaannya, jadi nggak kesini lagi udah lama.” Kata Putri sambil memberekan bekas makan teman-temannya. “Kalo Akib itu… dia sedih karena ibunya baru meninggal, jadi dia nggak mau sekolah lagi. Dia mau jagain Tari sama Abay sampe gede. Dia itu kadang dapet uang entah dari mana, aku heran dia kerja apa. Duitnya suka banyak, warna merah!” Mataku melotot. Kaget.             Ya Allah, jangan sampai Akib melakukan hal yang sama seperti yang pernah dia lakukan kepadaku. Aku benar-benar sangat khawatir. Anak itu tidak boleh dibiarkan, bagaimana kalau nanti ketangkap polisi? Dia masih di bawah umur, masih sangat kecil dan butuh perlindungan.             “Ini rumah siapa?” aku tidak mungkin mengatakan tempat ini mirip gubug. “Satu makanan lagi buat siapa, Putri?”             “Punya Mbah, dia yang jagain kita dan nampung kita selama ini. Mbah balik dari warung malam hari. Mbah kerja di warung orang, kalau pulang bawa sisa makanan dan bisa kita makan ramai-ramai.” Jelas Putri membuatku lebih trenyuh lagi. Makanan sisa di makan sebelas orang, bagaimana mungkin.             “Tali mau beldoa supaya Mbah bawa makanannya yang banyak telus Tali bisa makan kenyang lagi, hehehe…”             Aku mengelus lembut pipi Tari. “Shalat yuk.” Ajakku pada Putri selesai ia menyapu karpet butut yang aku duduki.             “Kakak dulu aja, mukenahnya cuma ada satu di mushalla. Maaf, Kak, belum sempat dicuci. Kayaknya agak bau.” Jawab Putri tidak enak hati. *** Aku tidak bisa memejamkan mata setelah hari ini melakukan inspeksi ke pemukiman kumuh itu. Mbah yang sudah sangat tua masih mau menampung anak-anak yang dia anggap sebagai cucunya sendiri, membuat aku sadar diri bahwa jiwaku terlalu banyak mengeluh. Dan mukenah itu! Oh, Ya Robb… besok aku harus memberi tugas tambahan untuk Mbok Ratih, membeli lima setel mukenah dewasa untuk mushalla dan lima setel lagi untuk Putri, Mbah dan adik-adik. Untuk Akib dan teman-temannya aku hadiahkan sarung sajalah, mereka bilang banyak nyamuk saat tidur di gubuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN