Rabu, pagi pukul sembilan.
Setelah sekali mengetuk pintu, Abi segera membukanya. Ruangan itu masih kosong namun tirai jendela sudah tersibak, ternyata jendela itu pun terbuka lebar, angin pagi masuk tanpa izin. Dan kini hidungnya membaui sesuatu yang segar, aroma yang terhirup sampai menusuk ujung kepalanya. Ini kali pertamanya berada di ruangan ini, letaknya di lantai empat tidak jauh dari ruangan Mely.
“Pagi, Mas Abi.” Seorang petugas kebersihan masuk dengan membawa peralatan perangnya. Ruangan itu baru mau di bersihkan. “Walah, Bu Salwa ini nggak pernah pulang pukul lima, sekalinya lembur malah lupa tutup jendela.”
“Bau apa ini?” Tanya Abimana.
“Biasa, Mas. Bu Salwa pakai wewangian citrus. Katanya biar tenang di kantor, soalnya suka kesel sama Bu Mely.” Petugas itu terkikik sendiri.
Abi masih mengamati petugas kebersihan yang sedang mengelap meja yang sudah nampak mengkilap.
“Mas, Bu Salwa belum datang. Mungkin nanti siang atau sore.”
Abi mengangguk, ia hendak melangkah pergi tapi pandangannya bertumpu pada kaligrafi indah di dinding dekat pintu. Tertarik, ia kini mengedarkan pandangan untuk mengitari ruangan yang penuh dengan lukisan, kaligrafi dan foto. Menurut Abi, ruangan ini pantas dijadikan sebagai galeri mini foto dan lukisan. Ia semakin tertarik menelusuri dinding itu hingga kini matanya lekat mengamati sebuah foto—yang berbingkai putih polos, ada di dekat lemari besar.
“Itu Bu Salwa waktu masih kuliah, Mas. Cantik ya?” petugas kebersihan itu memberi informasi yang berusaha Abi tebak sejak tadi. Ternyata Bu Salwa itu adalah Salwa Nabila.
Ya, Salwa di foto itu ternyata gadis yang Abi temui di mushalla, juga mahasiswa yang magang di tempat ini sekitar dua tahun lalu. Abi hanya mengingat nama belakangnya ketika membaca nametage yang menggantung di leher gadis itu.
Nabila. Begitu ia mengingatnya.
Abi bersyukur, dia bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Pertemuan singkat mereka dua tahun lalu telah membuat perasaannya aneh. Wajah gadis itu terbayang hingga berhari-hari, sampai akhirnya Abi tidak pernah bertemu lagi. Dan kemarin akhirnya dia bertemu dengan sosok Salwa dengan balutan hijab warna pastel, tatapan mata lembut dan sebuah senyum manis, gadis itu penuh kesederhanaan.
Abi sudah ingin mengajak gadis itu berkenalan, namun niat itu ia urungkan tanpa sebab yang jelas. Dari puluhan karyawan perempuan yang Abi temui di kantor ini, hanya wajah Salwa yang berhasil dia rekam. Benar, dia hanya ingin mengingat jelas wajah Salwa, sehingga ia melupakan bayangan lain yang tidak penting.
Dia tidak tahu siapa Salwa Nabila, dia hanya sedikit terkejut ketika mantan anak magang itu mendadak menjadi salah satu atasannya. Seorang manajer muda. Ya, terlalu muda untuk memulai karir sebagai manajer di perusahaan ini. Telinganya sempat mendengar bahwa ada hubungan khusus antara Salwa, Mely dan Hadid, pendiri perusahaan ini. Awalnya dia tidak peduli dengan kabar itu, tapi kini ia mulai tertarik dengan semua berita tentang Salwa Nabila.
Abi teringat obrolan Rehan dan Tio tempo hari.
“Ya ampun, Yo! Sekali aja lo masuk ruangan Salwa, betah lama-lama. Adem ruangannya, adem orangnya.” Rehan menepuk punggung Tio yang sedang serius menatap layar monitor.
“Ah, elo Bang. Main kesana nggak ngajak-ngajak. Susah nemuin Bu Salwa di kantor. Sukanya keluyuran.”
“Namanya juga anak muda.”
Saat itu Abi mendengar tapi tidak peduli. Siapapun Salwa, sepenting apapun dia, saat itu Abi tidak mau tahu. Sekarang dunia sedang mempermainkan pikirannya dan perasaannya. Ia tidak sabar bertemu dengan gadis itu. Namun sampai pukul dua siang Salwa belum ada kabar.
***
Hari ini hukumanku berakhir, Jeepku sudah kembali. Aku bisa bebas pergi kemanapun aku mau tanpa di monitori Mami dan Agung. Sejak pagi sampai siang aku mengajak Mbok Ratih belanja kebutuhan anak-anak yang sudah tercatat di dalam kepalaku. Awalanya aku serahkan tugas ini kepadanya, tapi aku ingin merasakan repotnya memilih barang di pasar grosiran. Alhasil aku mengikuti Mbok Ratih, sampai rela mengangkut belanjaan masuk ke dalam Jeep.
Punggungku sudah mau copot, badanku rasanya rontok, keringat bercucuran—tapi membayangkan wajah anak-anak yang tersenyum semringah dan ceria, rasa pegal-pegalku sedikit terbayar. Aku masih harus beranjak dari kasur dan terpaksa mandi di siang bolong. Lima menit lalu Tante Mely meneleponku, dia masih menjadwalkan meeting itu, padahal aku sudah mendapat izin dari Papi untuk tidak masuk kantor hari ini.
Tante… kenapa kamu senang sekali membuat aku kesal padamu! Sepertinya perang memang akan di mulai. Dan aba-abanya sudah Tante Mely berikan sejak kemarin.
***
Ada untungnya berangkat kerja pukul tiga sore, jalanan Jakarta sangat lengang. Aku bisa sedikit mengebut. Saat ada lampu merah, aku membaca beberapa berkas, menyusun kalimat apa yang akan aku sampaikan pada orang yang katanya sedang menungguku di kantor. Mulutku sudah berkomat-kamit sejak keluar dari rumah, sampai-sampai Mami mengira aku ini masih terbawa euforia pasar Tanah Abang atau kesambet setan pasar, terserahlah.
Sebelum pukul empat, Jeepku sudah terparkir manis di depan kantor. Jeepku menghalangi jalan, aku menyuruh sekuriti memindahkannya karena aku sedang di buru waktu. Orang itu katanya sudah ada di ruanganku, dan tentunya Tante yang memaksanya masuk tanpa izin dariku.
Aku sampai. Aku masuk tanpa perlu mengetuk pintu sebab ini ruanganku sendiri. Aku mulai melangkah masuk dan mataku melihat seseorang yang segera bangkit dari duduknya, ia sudah dalam posisi berdiri ketika langkahku sudah dekat. Dia membalikkan badannya dan ya… sedikit mengejutkan. Laki-laki yang kutemui ini adalah laki-laki yang tempo hari ada di depan mushalla.
Aku cuek sajalah. Pura-pura tidak ingat kejadian itu, malu rasanya.
Dia mengenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangan. “Abimana.”
Baguslah, akhirnya aku bisa bertemu dengan orang yang sepaham denganku. Laki-laki dan perempuan haram bersentuhan kalau mereka bukan mahrom, Mbok Ratih yang selalu menceramahiku soal ini. Katanya sekalian mengingatkan aku dan Azka agar tidak jalan sambil gandeng tangan. Boro-boro gandengan tangan, Azka tidak membuat aku kesal saja sudah luar biasa ajaib.
“Saya di tugaskan Bu Mely untuk membantu Bu Salwa.”
Aku sudah duduk dikursiku sendiri, kupersilakan agar dia juga duduk.
“Iya, Bu Mely sudah menjelaskannya.” Kataku santai.
“Saya masuk ke ruangan anda tadi pagi. Saya pikir anda sudah datang.”
Aku hanya tersenyum. Dia salah satu orang yang belum tahu kenakalanku sebagai karyawan—keluyuran sesuka hati jika sedang bosan, tapi hari ini aku punya tujuan yang jelas. Dan yang pasti bermanfaat.
Tanpa menunggu lama, aku sudah membuka berkas yang sudah aku siapkan sejak semalam. Ya, aku lembur sampai pukul 10.00 malam dan itu sebuah rekor. Sebelumnya aku tidak pernah segila itu mengerjakan pekerjaan kantor. Mungkin karena ini adalah proyekku sendiri, sehingga aku mati-matian menyiapkan segala sesuatu dengan sangat teliti.
Aku sudah me-list negara dan kota mana saja yang akan kujadikan tempat untuk menapak tilas sejarah dan peradaban Islam di masa lalu. Kota-kota di Eropa masuk dalam urutan pertama. Aku begitu antusias menjelaskan rencana program ini, kujabarkan dengan gamblang agar Abimana ini bisa merancang web dan aplikasinya sesuai keinginanku dan tentunya sejalan dengan kebutuhan konsumen.
Setengah jam aku bercerita. Dia nampaknya tidak lelah mendengar celotehanku, padahal mulutku sudah hampir berbusa. Dia lebih banyak diam dan tentunya memperhatikan dengan jeli. Kini giliran aku yang meminta pendapatnya.
“Travel ibadah ini juga bagian dari YS kan? Kalau memang mau tetap di lanjutkan pembuatan web dan aplikasinya, saya tidak masalah. Tapi…” Dia nampak bingung, seolah sedang mencari kata yang tepat.
Aku menangkap maksudnya. “Jadi saya akan melakukan permborosan waktu, biaya dan tenaga karena harus membuat web sekaligus aplikasi hanya untuk travel ibadah? harusnya memang jadi satu dengan YS saja kan? Maksudmu begitu?” tanyaku langsung ke inti masalah.
Aku menangkap sedikit kekagetan di wajahnya. Tapi aku terus bicara, “ini proyek pertamaku. YS butuh travel ini untuk meningkatkan pendapatannya. Dan sejujurnya saya juga ingin web dan aplikasinya tidak terpisah dari YS. Jika tetap di pisah saya merasa… seolah proyek ini adalah anak tiri atau tak layak hadir di tengah-tengah YS. Jadi bagaimana, apa tetap aku lanjutkan saja? O ya, saya butuh jawaban jujur kamu, Abimana.” Kataku tegas.
Dia diam sejenak. Wajahnya nampak tenang menghadapi sikapku yang setengah memaksakan diri dan kehendak. “Sebaiknya anda dan Ibu Mely diskusikan dulu bagaimana kelanjutannya.”
Diskusi katanya? Masuk ke ruangannya saja rasanya sudah horror. Aku malas menghadap tenteku sendiri. Wajahnya tidak pernah ramah, anehnya orang seperti Abimana bisa betah bekerja di sini. Kudengar potensinya cukup bagus, katanya ada tawaran lebih baik untuknya, tapi dengar-dengar juga dia menolak karena suatu sebab. Entahlah.
Aku melamun, kembali kepada masalahku sendiri. Kepalaku sudah pusing dengan semua argumen yang tercerai berai. Aku sudah puluhan kali beradu pendapat dengan Tante Mely dan ujung-ujungnya aku selalu kalah. Dia sering kali mengandalkan senioritas, sebab itulah Tante selalu menang dan tidak terbantahkan.
Lalu, siapakah aku yang anak bawang? Anak kemarin sore yang baru terjun ke dunia bisnis. Belum apa-apa aku sudah ingin menyerah. Tidak, aku tidak kalah. Aku hanya ingin mencari jalan lain sambil tetap membangun impian merancang travel ibadah yang resmi.
Jujur saja, aku tidak mungkin melakukan langkah nekat seperti; memaksakan diri membangun proyek travel baru tanpa restu general manager. Kalau tidak berhasil aku bisa di gantung, alias tidak di akui sebagai karwayan yang becus kerja.
“Sepertinya kita bisa cukupkan sampai sini dulu. Bu Nabila mulai tidak fokus.”
“Maksudnya?” keningku berkernyit.
“Anda sejak tadi melamun.”
Aku berhenti bertanya kenapa? Sebab aku memang melamun dan membiarkan Abimana diam menungguku selama bermenit-menit.
Lebih baik meeting memang dihentikan saja. Masalahnya bukan pada aku dan dia, tapi pada aku dan Tante Mely.
Tidak lama setelah itu, dia keluar ruangan sementara aku menutup wajahku dengan dua telapak tangan. Lima menit cukup untuk memejamkan mata. Kini aku melangkah mendekati jendela, manarik napas dalam-dalam dan menikmati aroma citrus yang menenangkan.
Jadi, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?
Aku sedih bila mengingat kembali kesibukanku beberapa waktu lalu, saat aku sibuk mengawasi staff yang mulai di tugaskan untuk travel baru ini. Apa kerja keras kami akan sia-sia saja? Robbi… aku sungguh membutuhkan petunjuk-Mu.
Aku masih bingung di tempat. Otakku berhenti berpikir, rasanya berat sekali menyangga kepala sendiri. Entahlah… aku merasa putus asa.
Pukul 05.15 sore.
Aku tidak pulang saat semua karyawan kantor menghambur keluar. Aku masih pusing dengan akhir keputusanku sendiri. Sampai pukul sembilan malam aku masih duduk di kursi ruangan ini, memandangi rembulan yang nampak bulat. Sinarnya terang menghangatkan perasaanku yang kelam. Entah berapa lama lagi aku duduk disini, lama-lama aku merasakan kantuk yang sangat berat. Mataku terpejam di detik berikutnya.
***
Dering ponsel membangunkanku. Aku melirik jam di pergelangan tangan, pukul 11.00 malam, mataku membulat.
Dengan cepat aku mengangkat panggilan itu tanpa membaca siapa penelponnya.
“Sal, kamu dimana? Mamimu khawatir nyariin. Katanya teleponnya nggak di angkat. Kamu nggak apa-apa kan?” terdengar suara Azka yang nampak khawatir.
“Kantor.” Jawabku santai, bebanku seketika meluruh. Aku sudah dapat keputusan final untuk proyek travelku ini.
Aku merasa Robbi telah memberiku petunjuk saat aku terlelap tadi. Aku tersenyum-senyum sendiri. Ya, aku putuskan akan menunda rencana layanan travel ibadahnya sampai tahun depan. Sekaligus menunggu agar hati Tante Mely bisa berpihak padaku. Jadi aku mengalah nih? dengan sangat terpaksa dan tidak benar-benar rela—aku memang harus mengalah.
“Salwa, ini sudah malam. Kamu ngapain masih di sana? Tunggu. Aku jemput kamu, jangan maksain diri untuk nyetir.”
“Tapi, Azka—“ belum selesai kalimatku dia sudah memutus sambungannya.
Aku keluar kantor dan memilih menunggu Azka di lobby depan. Tidak ada oranglain di sana kecuali aku dan seorang sekuriti yang sibuk menonton bola di layar televisi. Dia sudah menguap lebar, tapi matanya terus awas mengamati benda bulat itu menggelinding di atas rumput hijau.
Aku terkejut saat Azka membunyikan klakson mobilnya. Dengan wajah tertekuk aku melangkah memasuki sedannya.
“Aku lapar, Sal. Temenin makan ya.” Rengeknya tiba-tiba.
Tahu begini lebih baik aku pulang dengan taksi. Lagipula sudah hampir tengah malam, apa katanya? Makan. Dasar Azka!
Aku tidak merespon. Kuperjamkan mata lelahku dan tidur. Entah kemana perginya sedan mahal ini, aku tak peduli. Walaupun Azka meninggalkanku di dalam mobil sementara dia pergi makan, aku juga tidak peduli. Tapi rasanya tidak, aku setengah sadar dan masih merasakan keberadaan Azka di sampingku saat sedan ini berhenti. Lumayan lama, sampai akhirnya dia memercikkan air ke wajahku.
Dingin.
“Bagun. Sudah sampai,” katanya.
Sampai mana? padanganku agak kabur.
“Rumah?” tanyaku bigung. Bukankah dia bilang lapar? Pasti dia juga baru pulang dari kantor ketika akan menjemputku, atau mungkin Mami yang sengaja menyuruhya untuk mencari keberadaanku.
“Mau aku gendong ke dalam?” Azka melirikku jahil. “Mbok Ratih udah tidur kayaknya.” Godanya lagi. “Kalo Mami, kayaknya nggak bakal marah.”
“Azka, diam!” aku setengah berteriak. Sejak pertemuan pertamaku dengannya, dia tidak pernah berubah. Tetap menjadi kakak kelas yang jahil dan ya… aku akui kalau dia masih seperhatian itu kepadaku.
Dia membukakan pintu untukku sambil tersenyum, entah apa maksud senyum itu—selama ini aku tidak pernah paham. “Besok aku yang antar kamu ke kantor. Jeepmu masih di sana gara-gara aku jemput kan? Mau masuk jam berapa?”
Ah, ya, dia tahu aku punya jam kerja yang tidak jelas. Tapi gaji tetap masuk ke rekeningku hingga angkanya membengkak.
“Aku kabari besok.”
“Siap Nona!” Azka memberi salam hormat kepadaku, aku tidak mungkin diam saja. Aku sudah menepuk pundaknya dan terbahak-bahak. “Jangan terlalu stress.” Katanya mengakhiri pertemuan kami hari ini.
Aku memang sedang sangat stress.