7. Ungkapan Cinta

3799 Kata
Sudah dua hari aku tidak masuk kantor. Aku menyuruh Agung mengambil Jeep-ku yang kutinggal di parkiran kantor. Kurasa Tante Mely sedang berbahagia karena akhirnya aku mundur dari proyeku sendiri. Ralat, maksudnya aku menunda proyek itu. Aku mengabari Papi tentang keputusanku yang begitu menadadak. Papi memang setuju atas penundaan rencanaku, tapi rasanya aku masih sedikit kesal. Sebab kemenangan ada di pihak Tante Mely.             “Kalah atau memang itu bukan tujuan, Sal. Tapi lihat sisi baiknya, kamu bisa lebih banyak belajar. Jangan gegabah membuat rencana ini-itu tapi hasilnya nihil!?” kata-kata Yasmin sedikit-banyak bisa menyuntik kepercayaan diriku lagi.             Syukurlah aku punya saudara sebaik dia.             Aku kembali mengutak-atik laporan. Tidak masuk bukan berarti bebas dari tanggung jawab. Dua hari ini aku masih tetap bekerja, walau di dalam kamar. Laporan masuk tanpa henti memenuhi surelku. Berkas penting di kirim oleh kurir dan aku harus menandatangani bebepara hal terkait anggaran dan lain-lain. Meskipun di rumah, aku bahkan tidak bisa tidur siang. Sebentar-sebentar telepon berdering, lalu kurir datang, surel masuk, laporan yang masuk harus segera ditindaklanjuti. Begitulah aku, serepot itu.             Mbok Ratih sudah bolak-balik membawakan makanan, jus, cokelat hangat bahkan memijat pundakku yang terasa tegang. Otot-ototku kencang akibat mengecek laporan keuangan bulanan, Tante Mely seolah sengaja menyerahkan tugas sebanyak ini kepadaku sejak aku mengabari untuk menunda proyek. Kadang ada hal-hal yang tidak aku mengerti dan sejak tadi ponselku aktif tersambung pada Anggi, staff senior di devisi finance.             Aku jarang mengobrol dengannya, tapi kesan pertamaku kerja dengannya, selama dua hari ini—sungguh menyenangkan. Dia baik dan banyak membantu kebuntuanku tentang keluar-masuk dana dan pinjaman. Beres. Aku tidak butuh satu pekan untuk menyelesaikan pekerjaan ini.             “Makasih, Nggi. Aku hampir depresi melihat angka bermunculan di layar laptopku.”             “Sama-sama, Bu. Saya bisa bantu Ibu kapanpun. Insya Allah.” Katanya ramah.             Seingatku tidak banyak karyawan perempuan yang memakai hijab. Bisa di hitung dengan jari, ada tujuh dari tiga puluh staff perempuan. Anggi salah satunya, aku sering berpapasan dengannya di mushalla dan kantin.             Mataku kembali menatap laptop. Ah, internetnya tiba-tiba terputus. Ada masalah dengan sambungannya mungkin. “Nggi, emailnya belum masuk?”             “Belum ada, Bu. Ada masalah, Bu?”             “Iya. Jaringannya bermasalah. Suruh IT ke sini, oh, Mas Rehan aja yang udah tahu rumah Bapak.” Rehan memang pernah kemari untuk mengecek sambungan internet rumah, itu sekitar enam bulan lalu.             “Tapi, Mas Rehan lagi ke Bandung, Bu. Baru berangkat hari ini. Saya cari oranglain yang bisa segera kesana ya, Bu.”             “Oke. Saya tunggu.”             Sembari menunggu aku putuskan untuk mandi, sejak pagi aku memang belum menyentuh air kecuali untuk wudhu dan buang air kecil. Terlalu sibuk sampai membuat aku lupa rutinitas penting itu, kalau Mami sampai tahu dan menggeledah kamarku—mungkin serentetan kalimat negatif sudah aku dengar sejak tadi. Untunglah Mami sedang pergi keluar, rupanya hari ini Mami adalah jadwal arisannya. Entah ada kehebohan apalagi saat Mami pulang nanti.    *** Abimana mengendarai motor gedenya membelah jalan raya. Kecepatannya di atas rata-rata. Ia sudah tidak sabar ingin segera menepikan motor dan meneduh. Terik siang sangat menyiksa, bagaimana nanti kalau matahari berada sejengkal di atas kepala? Abi hanya sepintas bertanya dalam hati, kemarin Umminya memberikan kajian kecil di rumah. Kajian bulanan hari kamis malam jumat di komplek perumahan secara bergilir. Dan suatu kebetulan, malam tadi giliran rumahnya yang mendapat jadwal kunjungan ibu-ibu komplek.             Umminya memang pernah menjadi santriwati di daerah Jombang, sehingga Ummi sering di tunjuk menjadi pengisi materi kajian. Abi yang baru pulang dari kantor sempat mendengar ceramah Ummi dihadapan anggota penyajian itu, temanya tentang alam akhirat. Cerita Ummi sempat membuat Abi merinding, bagaimana tidak? Ummi menceritakan hari di padang masyar dengan penuh khidmat. Ia sampai membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan Tuhan yang akan mematikan dan menghidupkan manusia lagi. Ya, manusia akan di bangkitkan tanpa sehelai benang yang membelit tubuhnya. Laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu, iring-iringan, dari manusia pertama sampai manusia terakhir di dunia. Kecil, besar, tua, muda, kaya, miskin, utuh atau cacat, semua sama-sama menghadapi hari itu, hari perhitungan dan pembalasan.             Ya Robbi… lindungilah aku…             Peluh menetes dari keningnya, Abi mengusap dengan sapu tangan yang ia selipkan di kantong celana. Motor itu sudah memasuki area parkir sebuah rumah yang teramat besar dan mewah, pantas jika di sebut sebagai istana manusia di dunia. Entah berapa miliar harga jual rumah di hadapannya ini, matanya sempat menelusuri dari satu sudut ke sudut lain. Semakin melihat-lihat, ia semakin takjub sendiri. Abi merasa rumah itu sanggup menampung ratusan orang di luar sana saat ada acara besar.             Pak Hadid yang ia kenal terlihat biasa saja, memakai kemeja panjang dengan balutan tuksedo hitam dan dasi yang licin setiap hari. Pak Hadid terlihat ramah pada bawahannya, tidak terkesan sombong apalagi galak, dia cukup berwibawa dan tegas. Namun begitu melihat rumahnya yang memiliki lahan parkir sangat luas, Abi menggelengkan kepala. Halaman rumah itu bisa untuk kemah persami dua hari tiga malam. Ada empat mobil berjejer di garasi yang terbuka. Dari mobil Jeep, sedan sampai sport. Matanya memastikan sekali lagi, melihat Jeep yang sering terparkir di kantornya.             “Mas!” panggil seorang pembantu rumah tangga. Dia membuka pintu lebar. Namanya Neneng, usianya masih 20 tahunan. “Masuk, Mas. Non Salwa sudah nunggu dari tadi.”             Salwa? Kalau tidak salah menebak, Jeep itu yang sering di pakai Salwa ke kantor. Ia pernah melihat seorang perempuan mengemudikan mobil itu tanpa bisa memandang wajahnya. Ada rasa getir yang mendadak muncul di dalam hatinya, Abi segera menepis. Jauh sekali perbedaan dia dan Salwa. Seperti langit dan bumi, ah, tidak sejauh itu. Gadis itu masih berpijak di dunia yang sama dengannya.             Abi di antar oleh Neneng masuk ke kamar Salwa. Tanpa menunggu lama, ia segera mengecek sambungan dan kabel-kabel yang ada di kolong meja. Tidak hanya merancang program, Abi hampir bisa melakukan semuanya, itulah alasan Mely berniat mempromosikannya saat tahu kemampuan Abi luar biasa. Sayang, dia menolak karena sebuah alasan yang tidak bisa di ganggu gugat. Bandung selalu mengingatkan masa-masa kelamnya. Abimana tidak mau terjebak lagi dalam kehidupan penuh kesenangan tapi mendatangkan sengsara di akhirat. Perbutan buruknya itu akan di balas saat ia sudah tiada, begitu kata Ummi.             Dua puluh menit berlalu, Abi masih belum menemukan sosok Salwa. Neneng kembali dari arah dapur membawakan air dingin, padahal ia sudah membuatkan jus jeruk untuk tamu majikannya. Tapi minuman itu sudah tandas lima belas menit lalu. “Bu Salwa kemana?” tanya Abi pada akhirnya. Tangannya masih mengutak-atik sesuatu.             Neneng tersenyum melihat penampilan “Mas Gondrong” yang ada di hadapannya. Selama ini dia hanya bisa melihat si Agung dan Deta, dua sopir majikannya yang sering seliweran di dapur. Juga bosan melihat tukang kebun langganan dan dua sekuriti yang berjaga di depan. Kedatangan tamu laki-laki di rumah ini adalah hiburan tersendiri baginya. Neneng masih mesem-mesem.             Tidak sabar, Abi mengulangi pertanyaannya sambil melirik Neneng yang mesem sendiri layaknya orang kasmaran. “Maaf, saya tadi tanya. Bu Salwa ada dimana?”             Neneng terkaget. “Oh, ada di bawah. Lagi makan siang.”             Abi melirik jam tangannya. Pukul 02.30 dikatakan makan siang, terlalu jauh dari jam seharunya.             “Masnya nanti makan sekalian. Tadi Non Salwa sempat nawarin juga kok. Katanya nanti turun aja kalau sudah selesai.”             “Terimakasih.”             Neneng masih berdiri di dekat pintu memperhatikan Abi, laki-laki itu agaknya risih dilihat seperti seekor tikus yang akan di mangsa kucing. Abi mencoba mengabaikan Neneng dan kembali fokus. Dengan cepat ia menyelesaikan tugasnya.             Tanpa ia sadari sejak tadi aroma citrus menyerbak di ruangan besar ini, ia merasa mulai menyukai aroma ini sejak kali pertama masuk ruangan Salwa Nabila. Dengan cepat ia menepis bayangannya tentang wanita itu. Tidak seharusnya ia begini. Kini tanpa sengaja mata Abi melihat kaligrafi menggantung, tepat di atas meja kerja di depannya. Ia tertarik untuk menyapukan pandangan keberbagai penjuru kamar—tidak, ia urungkan niat itu karena Ummi tidak pernah mengajarinya begitu. Tidak sopan. “Sudah.” Katanya pada Neneng. “Ikut saya, Mas. Mari.” Jawab Neneng.             Dengan cepat ia keluar mengikuti langkah Neneng yang kini menuruni tangga menuju area belakang. Rumah itu memiliki ruang tengah yang sangat luas, bahkan bisa digunakan untuk bermain bulu tangkis.             “Duduk dulu, Mas.” Ujar Neneng dengan suara lembut. Ia menyuruh Abi menunggu di ruang makan, sebab tadi dia melihat majikan mudanya duduk di sini. Entah, kemana perginya Salwa. Dia cepat sekali menghilang. Seolah tidak betah berlama-lama di suatu tempat. Hobinya memang keluyuran dan membuat orang bingung mencarinya.             Neneng malah salah tingkah melihat kegagahan tamu itu. Bukannya mencari majikannya, ia justru menyiapkan piring dan sendok untuk Abi, padahal Abi sudah menolak tawaran makan siang saat di atas tadi. Dia bilang, “terimakasih, saya sudah makan.”             “Mas, namanya siapa ya? Tadi belum sempat nanya.” Neneng menyerahkan piring bening itu kepada Abi.             “Abimana.” Abi tidak menatap Neneng sama sekali, ia malah bingung kenapa di beri sebuah piring? Abi mendorong piring itu perlahan. “Tidak perlu.” Ia hanya mau bertemu Salwa dan menjelaskan sesuatu, tapi gadis itu tidak ada di dapur. Abi berdeham sekali, “Bu Salwa ada? Saya mau—“             “Mbak Salwa! Itu sepedaku jangan di pakai. Bannya bocor.” Suara itu terdengar dari arah belakang. Ada pintu yang menghubungkan ke paviliun belakang rumah. Tak lama Yahya masuk dengan seragam putih abu-abu, ia meringis melihat seseorang sedang duduk didepan meja makan, di sebelahnya ada Neneng yang masih berdiri mematung.             “Non Salwa ada dibelakang, Mas. Bentar saya panggilin dulu.” Neneng sadar, ia berlari kebelakang melewati Yahya begitu saja.             Belum sempat Abi bertanya siapa Yahya, anak itu sudah mengenalkan dirinya lebih dulu. “Yahya, Mas. Anak Mbok Ratih. Mas orang kantornya Bapak ya? Kenapa Mas ada disini?”             “Abimana.” Abi turut mengenalkan dirinya. “Iya, ada masalah dengan jaringannya tadi, tapi servernya tidak masalah sih.”             Yahya mengangguk. “Mas seumuran sama Mbak Salwa ya?”             “Tidak tahu. Kenapa?”             Bukannya menjawab Yahya malah tersenyum.             “Kamu kelas berapa?” Abi balik bertanya.             “Dua SMA, Mas. Ya sudah, Mas, saya pergi dulu.” Yahya berjalan menuju sebuah lemari pendingin untuk mengambil botol minumnya, ia ingin meminum air dingin itu untuk menyegarkan tenggorokannya. Tak lama setelah Yahya pergi, Salwa muncul dengan wajah cemong akibat membetulkan rantai sepeda Yahya yang rusak.             “Aduh! Non… sudah dibilang jangan pakai sepedanya Yahya. Sudah rusak dari kemarin.” Neneng membuntuti majikannya, ia mengulurkan tisu basah pada Salwa.             Abi yang menyaksikan pemandangan itu berusaha menahan tawa, walaupun ekspresi wajahnya nampak datar, ia segera itu mengalihkan pandangan ke arah lain.             “Pokoknya sore ini sepeda itu harus sudah beres. Suruh Agung bawa ke bengkel. Itu ban dan rantainya sudah harus di ganti, Neng. Nggak bilang dari kemarin sih, kasian Yahya harus jalan kaki dari depan komplek ke sini.”             “Iya, iya, Non. Itu… ada Mas…” Neneng menyadarkan Salwa bahwa dia sedang di tunggu oleh seseorang.             Melihat Abimana yang datang, Salwa sempat tersenyum. Sudah berapa kali mereka bertemu? Sering. Sejak Mely menyuruhnya meeting waktu itu, mereka tanpa sengaja malah sering bertemu. “Ya?” Salwa duduk berhadapan dengan Abi. Laki-laki itu menarik tubuhnya dari sandaran kursi. Duduknya tegap.             “Email yang tadi ter-pending sudah sekalian saya kirim ke Anggi. Dan servernya tidak masalah.” Kata Abi runtut. Lalu ia mulai menjelaskan duduk perkara yang menyebabkan sambungan internetnya mendadak putus. Belum selesai ia menjelaskan, Salwa sudah angkat tangan.             “Maaf, saya nggak paham yang kamu jelaskan. Ehm, tapi kalau semua sudah beres, baguslah. Terimakasih banyak, Bi.”             “Ya, Sama-sama.” Sudut mata Salwa melirik Neneng yang berdiri di dekat pantry, ia mesem-mesem saat mencuri-curi pandang pada tamu majikannya. Salwa berdeham, Neneng sontak kaget dan pergi keluar.             “Baik, kalau begitu saya pamit.”             Salwa mengantarkan Abi sampai depan rumah. Ia terlihat sangat santai hari ini, hanya mengenakan baju rumahan yang sederhana, masih dengan warna-warna lembut yang ia sukai.             Sebuah mobil putih memasuki area rumah. Anna keluar dari dalam mobil seletah Agung membukakan pintunya, ia sempat tersenyum mengangguk pada laki-laki yang sedang memakai helm. Anna memang terhitung jarang sekali datang ke kantor suaminya, tetapi dia tahu kalau laki-laki itu salah satu pegawai di YS, perusahaan milik suaminya.             “Yasmin udah pulang? Hari ini Mami mau ke Gereja, kamu ikut ya temenin Yasmin.” Ucap Anna pada Salwa yang masih menunggu Abi pergi.             Mendengar itu Abi sempat melirik wajah gadis yang di ajak bicara istri bosnya. Terlihat datar dan biasa saja. Sementara itu ada banyak pertanyaan yang mulai berkelebat di dalam kepalanya.             “Iya. Mami.” Salwa mencium tangan Anna, dan wanita dengan pakaian mewah itu sudah masuk ke dalam rumah di susul Agung yang membawa tas belanjaan, ada lebih dari lima kantong belanja.             Salwa mensedakapkan tangannya di depan d**a, ia belum beranjak sampai Abi keluar dari gerbang rumahnya. *** Aku menepati permohonan Mami untuk mengantar Yasmin ke Gereja. Kalau bukan aku yang mengantar, kata Mami Yasmin akan susah di ajak berdoa. Sementara Yasmin membantah ucapan Mami, dengan berkata, “Mi, berdoa itu tidak harus ke rumah Tuhan.” Dan serentetan perdebatan lainnya masih sering kudengar, Mami memang rajin sekali mendatangi Gereka. Tiap pekan tidak pernah absen, sementara Papi punya alasan lain, sibuk kerja.             Tentu aku tidak ikut masuk ke dalam Gereja, aku hanya duduk di dalam mobil Yasmin yang berada di area parkir. Belum sepuluh menit Yasmin ada dalam rombongan jemaah, gadis itu sudah keluar. Pasti kabur ketika Mami sedang tidak mengawasinya.             “Berdoa itu nggak perlu bertele-telekan?” katanya enteng. Dia menatapku penuh maksud. “Makan yuk!” ajaknya tanpa rasa berdosa karena telah membohongi Mami. Mendadak aku merasa tidak enak karena kabur dari Mami. Sepulang nanti pasti kami berdua tidak akan selamat dari amukan Mami. Aku berani jamin.             Yasmin baru menyalakan mesin mobil, Mami sudah menelepon. “Tuh kan, belum apa-apa udah ketahuan!” omelku pada Yasmin.             Yasmin memberi kode agar aku diam.             “Kamu mau kemana? Mami masih belum selesai. Si Agung udah pulang?” Mami pun memberondongi Yasmin dengan sejuta pertanyaan. Yasmin sengaja menyalakan speaker agar aku ikut mendengar. “Yasmin, jawab Mami. Kamu mau kabur kemana?”             “Yasmin laper, Mi. Mau makan sama Salwa di tempat biasa. Oh, Agung masih ada di depan. Mami tenang aja, dia setia nunggu Mami kok.” Jawab Yasmin tanpa panik. Sementara itu jantungku sudah naik-turun.             “Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Jangan pulang malam!” titah Mami yang segera memutus sambungan.             “Tumben.” Kataku sambil mengelus d**a. Yasmin tersenyum sembari mengangkat bahu. Matanya terlihat berbinar-binar. Tapi aku merasakan aroma keganjilan, pasti ada sesuatu yang sedang Mami rencanakan. *** Kami sampai di sebuah rumah makan favorit aku dan Yasmin sejak kelas dua SMA. Di kawasan Jakarta Selatan. Sebelum melangkah masuk ke dalam restoran, aku mendengar bunyi pesan masuk.             Pesan dari Mami. Mataku langsung mendelik, perasaanku jadi tidak enak. From Mami: Meja nomor 17! Aku dan Yasmin saling tatap. Dia juga mendapat pesan yang sama. Mendadak aku merasa ada hal buruk yang akan terjadi malam ini. Kuedarkan pandangan mencari meja yang dimaksud. Oh, tidak. Aku menemukan sosok laki-laki setengah bule sedang menatap Yasmin. Dia pasti Darian Albert—laki-laki yang akan di jodohkan dengan Yasmin. Dia ada di sana sedang duduk besama seseorang yang memunggungi kami. “Azka!” aku memekik. Mereka duduk di meja yang sama. Azka melambaikan tangan mendengar panggilanku. Mami sungguh luar biasa, mengatur ini semua setelah Yasmin bilang mau makan di tempat biasa. Mami tidak main-main dengan misi perjodohannya, langkahnya sudah sejauh ini. Aneh, kenapa Azka bisa senurut itu sama Mami, heran. “Yasmin, you’re so beautiful.” Tukas laki-laki berdarah Indo itu. Bola matanya berwarna agak biru, senyumnya lumayan menawan. Tapi sudah aku duga, Yasmin sejak awal tidak tertarik padanya. Gadis itu malah membuang muka saat mendapat pujian. Aku dan Azka sama-sama bergeming. Dia tersenyum kaku dan melirikku sesaat. “Kalian pesan apa?” Azka memecah kecanggungan. “Biasa.” Kataku pada Azka. Dia hapal menu andalanku dan Yasmin, nasi goreng seafood tidak terlalu pedas. “Ehm, Rian?” “Aku sudah makan. Thanks.” Katanya sopan. Aku memandang laki-laki bernama Darian cukup lama, sampai aku merasakan Azka menepuk lenganku dengan ponselnya. Ia mendekat ke telingaku dan berbisik, “heh, ada aku di sini.” Aku menggelengkan kepala dan mengabaikan ucapannya. Apa salahnya melihat Darian? aku hanya mau menilai pria macam apa dia sehingga Yasmin pun tidak tergoda. Padahal Darian cukup menawan, apalagi dia seorang dokter spesialis. Dia sangat keren, walaupun aku tidak suka pria berdarah campuran, dia tetap lumayan. “Mami menelponmu, Ka?” tanya Yasmin pada Azka. Ia malah menghindari obrolan dengan Darian. Azka tidak menjawab, ia mengangkat bahunya dan tersenyum jahil. Aku tidak sabar untuk segera mencubitnya. “Salwa!” Dia mengaduh kesakitan. “Bukannya kamu lagi sibuk banget, Ka? Nggak usah sok bisa bagi waktu deh kalo lagi banyak kerjaan. Pulang sana.” Usirku halus. Aku tahu dia sedang sangat sibuk, karena dia jarang sekali menghubungiku atau Yasmin akhir-akhir ini. Terakhir mampir ke rumah, ya saat mengantarku pulang waktu itu. Dua atau tiga hari lalu. Padahal biasanya tidak seharipun dia lupa mengechatku atau Yasmin. Entah bertanya kabar, memberi info lalu lintas Jakarta, info galeri baru dan tanggapan kliennya soal desain yang dia buat. Apapun itu, aku tidak pernah bosan menunggu info-info darinya. Makanan datang, aku siap melahap makanan favoritku sejak SMA. Rian hanya diam sejak kami bertiga sibuk menikmati hidangan. Sungguh kebiasaan sejak dulu jika kami makan bertiga, lalu salah satu diantara aku atau Yasmin sudah kenyang, maka sebagian makanan kami hibahkan kepada Azka tanpa menunggu persetujuannya. Aku sudah lebih dulu menyendokkan makanan ke piringnya. Dia menatapku dengan tampang sedikit kesal, kali ini Yasmin tidak melakukan hal yang sama. Ia benar-benar melahap habis makanannya seperti orang kepalaran. Tidak ada anggun-anggunnya sama sekali, tidak seperti biasanya. Aku dan Azka saling berpandangan, kami membaca tingkah Yasmin. Ia ingin membuat dokter Darian risih dengannya. Kami pun tergelak, Azka tertawa di sela-sela kunyahan. “Awas tersedak!” kataku. Kulihat Rian memasang mimik aneh. Tidak jelas apa maksudnya, mungkin Yasmin berhasil membuat laki-laki itu benar-benar heran padanya, sebab Yasmin makan banyak sekali. Yasmin pun terang-terangan menghindari Darian. Beberapa kali ia menjawab pertanyaan Darian dengan asal-asalan, membuat aku dan Azka saling melempar tawa. Acara dinner mereka berdua sudah gagal sejak awal. “Aku ke toilet sebentar.” Aku baru a bangkit dari kursiku. “Aku juga!” Azka berdiri lebih dulu. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menggiringku melewati meja yang penuh dengan pengunjung. Toiletnya agak antri. Aku harus menunggu dengan sabar. Setelah selesai, aku keluar siap menuju ke meja makan tadi. Tidak aku sangka ternyata Azka menungguku di depan pintu masuk toilet perempuan. Aku menatapnya geli. Dia bersandar pada dinding sambil menjejalkan tangannya ke saku celana. “Kenapa?” tanyaku. “Ada sesuatu yang ingin aku omongin.” Wajahnya terlihat serius, tampang jahilnya tidak nampak sama sekali. “Ya, bilang saja. Pake ijin segala kayak bawahan mau resign.” Aku berjalan santai. “Penting, Sal. Aku memang mau resign dari semua ini.” Azka kedengarannya serius. Aku berhenti melangkah untuk mendengar penjelasannya. “Aku mau berhenti jadi sahabat kamu dan aku mau melamar kamu, Salwa.” Aku harap telingaku lupa di korek. Aku salah dengar. Aku tiba-tiba bermimpi. Aku… “Salwa?” dia menarik napasnya dalam-dalam. “Jauh sebelum Mami kamu merencanakan semua ini, aku udah ada niat untuk ngomong serius sama kamu. Terus terang, aku sering bergantung sama kamu tentang banyak hal. Aku… butuh kamu, Sal.” Spontan mulutku terkatup rapat dan tubuhku tak berkutik sedikitpun. Aku bingung sendiri harus merasa senang, sedih atau tertawa karena menganggap semua ini adalah leluconnya Azka. Dia masih menatapku lekat. Dia dan dunia saat ini seolah sedang memutari diriku saja, hanya aku. “Aku nggak ngerti kamu ngomong apa. Ya, kita sahabatan, kan? Oh ya, aku juga banyak bergantung sama kamu, Azka. Hem…” “Aku suka sama kamu, Salwa!” katanya tegas. Detik itu aku ingin menjadi oranglain, bukan Salwa yang Azka kenal. Ah, kenapa semua ini harus terjadi. Kenapa dia harus menyukaiku? Aku diam dan tidak mampu berkata-kata sampai makan malam itu selesai, Azka pun sama. Keheningan ada di antara kami. Atmosfir di antara kami sedang tidak bagus.    *** Mbok Ratih, adalah orang pertama yang ingin aku temui ketika mobil Yasmin sampai di depan rumah. Aku menceritakan tentang kekagetanku terhadap Azka malam ini. Namun Mbok malah mengeluarkan pepatah Jawanya. “Witing tresno jalaran soko kulino.” Aku masih bisa paham artinya karena sering mendengar Yahya dan Mbok berdiskusi dengan bahasa aneh itu. Tapi mana mungkin aku menyukai Azka hanya karena terbiasa bersamanya? Aku menyangkal itu, walaupun benar dia adalah satu-satunya teman laki-laki yang dekat denganku. Mungkin aku memang terbiasa bersamanya, menemaninya ke galeri dan toko furniture, kadang merindukan kehadirannya—lagi-lagi hanya sebagai teman dekat. Apalagi aku sudah berjanji tidak akan pernah menyukai Azka. “Mas Azka itu orangnya baik, Non. Ganteng lagi!” Mbok Ratih tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya. “Insya Allah, saleh. Calon suami idaman pokoknya.” Tidak, bukan itu masalahnya. Selain aku tidak cinta, ada masalah yang lebih besar dari sekadar rasa suka, ada Yasmin. Kenapa dia harus menyukaiku sih, bukan Yasmin. Dia memang laki-laki yang bertanggung jawab, yang diidam-idamkan banyak perempuan di manapun. Di kantorku saja ada tiga orang yang menyukainya. Jika Azka datang, malah ada yang secara terang-terangan mencari perhatiannya, mengiriminya bunga dan cokelat. Kenapa harus seperti ini? Benar, susah sekali menjalin hubungan pertemanan antara laki-laki dan perempuan. Selalu ada konsekuensi berat. Aku paham sekarang, kenapa dia begitu mengkhawatirkanku saat aku pergi tanpa kabar, rela menjemputku malam-malam, dia paham semua tentangku, dia mencari perhatian dengan membuatku marah dan kesal, dan semua bentuk perhatiannya padaku selalu punya maksud. Dia menyukai Salwa, dia menyukai aku. Sekarang, apa yang harus aku lakukan. Apa kabar dengan Yasmin yang memendam rasa selama bertahun-tahun. Aku tidak mau melihat saudaraku satu-satunya itu bersedih. Mungkinkah akan ada cerita berbeda jika Yasmin juga memeluk agama yang sama seperti kami berdua? Aku ingat Azka pernah bercerita, bahwa orangtuanya tidak akan pernah merestuinya jika memiliki hubungan khusus atau menikah dengan seseorang yang berbeda keyakinan. Sebab itu cinta terlarang, katanya. Ah, aku pusing. Mbok Ratih malah mendukung Azka seratus persen, rupanya Mbok berada di pihak yang sama dengan Mami. Aku keluar dari kamar Mbok Ratih dan kulangkahkan kaki dengan lesu menuju kamar Yasmin. Pintunya tidak tertutup rapat, aku masuk begitu saja. “Salwa?!” Yasmin sepertinya terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Dia segera menutup sesuatu dengan selimutnya dan melangkah mendekatiku. Aku rasa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. “Kenapa?” tubuhnya sudah mencegatku agar tidak masuk. “Itu apa?” aku mengangkat dagu menunjuk sesuatu di balik selimut biru. “Apa, Yas?” “Bu—bukan apa-apa.” Senyum Yasmin terlihat aneh, dia jelas terganggu dengan kehadiranku. “Buku. Iya, cuma buku biasa.” Alisku berkerut. “Kamu nggak lagi bohongkan?” “Salwa, aku memang lagi baca. Udah sana masuk kamar. Aku lagi pengen sendiri.” Usirnya halus. Dia mendorong tubuhku sampai depan pintu kamar. Pintu kamar kami hanya berjarak tiga meter. Yasmin segera kembali dan menutup pintu kamarnya rapat. Ya Gusti… ada apa dengan semua orang hari ini? Kenapa semuanya aneh.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN