8. Janji

1952 Kata
Laki-laki gondrong itu menuruni mogenya, ia membawa kantong dua plastik besar yang berisi makanan dan beberapa buku. Anak-anak harus sering-sering membaca supaya mereka punya pengetahuan luas dan mengurangi tindakan kriminalnya. Dia tidak suka anak-anak masih mengamen dari angkutan satu ke angkutan yang lain, lalu dengan cara yang lihai mereka berhasil mendapatkan sebuah dompet atau ponsel canggil untuk di jual.             Akib, anak itu harus di didik dengan benar. Sudah belasan kali Abimana memergoki Akib melakukan hal buruk seperti itu. Mencuri, mencopet, dia terlatih oleh lingkungan dan keadaan sebagai jambret cilik yang cukup lihai. Pertemuan mereka juga karena Akib berniat mengambil dompet Abi saat sedang makan di warung pinggir jalan. Akib yang membawa botol bekas yang di isi kerikil kecil-kecil terlihat seperti bocah polos pada umumnya, namun matanya tidak henti mengamati kantong celana Abi. Laki-laki dewasa itu memancing, ingin melihat aksi mencurigakan anak kecil tanpa alas kaki itu.             Ternyata dugaanya benar, pancingan itu berhasil. Bocah kecil itu langsung berlari ke jalan memanjang yang sangat sempit, mirip seperti jalan rahasia. Abi mengejarnya sampai berhasil menarik ujung kaos anak itu. Penampilannya sangat dekil dan kumal. Abi menduga bocah itu mencuri karena keadaannya sedang kepepet, ia mendesak untuk di ajak ke tempat tinggal Akib. Sebuah perkenalan terjadi, Abi sejak setahun lalu akhirnya menjadi kakak asuh Akib dan teman-temannya. Abi bahkan membiayai perawatan orangtua Akib yang akhirnya meninggal karena sakit paru-paru.             Jika punya banyak waktu, laki-laki itu akan sering datang ke pondok kecil itu. Sudah hampir tiga pekan—Abi baru bisa datang berkunjung. “Assalamu’alaikum!” lelaki jangkung itu berdiri membungkuk di depan pintu yang terbuka lebar. Hawa dingin masuk dengan paksa.             Anak-anak menjawab salam kompak, mereka sedang duduk menunggu kedatangannya di  rumah kecil dari teriplek yang dihuni sebelas orang itu. Abi segera masuk dan di sambut riang oleh anak-anak. Dia segera menyalami tangan Mbah Sati yang usianya sudah senja. Sebenarnya dia sudah menawarkan tempat tinggal yang lebih layak untuk Mbah dan adik-adik asuhnya, tetapi Mbah Sati menolak karena merasa nyaman berada di dekat perlintasan rel. Beliau bisa tidur dengan nyanyak di tempat sesempit ini, berbeda dengan Abi yang malah akan terganggu.             Anak-anak itu sudah membongkar dua kantung keresek yang dibawa Abi. Mereka berebut dan saling menjerit karena ada banyak jajanan yang sangat enak. Ada s**u kaleng, roti, biskuit, cokelat, dan beberapa ice-cream. Wajah anak-anak nampak bahagia dan matanya berbinar terang. Abi mengelus puncak kepala si kecil Tari, anak itu sudah cemong dengan permen cokelatnya. Sesekali Abi menyenangkan hati anak-anak dengan makanan manis, terkadang buah-buahan agar lebih sehat.             “Makasih Kak Abi. Buku-bukunya juga makasih, Ade jadi bisa bacain cerita buat Tari sebelum tidur.” Ade sudah memeluk dua buku sekaligus. Buku tentang kisah nabi-nabi yang sangat ringkas dan buku tuntunan ibadah anak-anak. Buku itu sebenarnya Ummi yang membelikan, Abi tinggal membawa saja. Karena dia kebingungan saat belanja buku anak-anak, sementara umminya lebih paham—jadi Ummi yang selalu membelanjakan buku untuk Abi bawa kemari.             “Assalamu’alaikum! Wahhh… ada Kak Abi. Kapan datang, Kak?” Putri mencium tangan Abi. Dia baru pulang dari mushalla setelah mengaji bersama teman-teman lain. Abi menjawab salam Putri. Ia sempat heran melihat Putri mengenakan mukena baru, dan Akib dengan sarung yang juga baru. “Kak Abi pasti mau tanya ini dari mana ya?” Akib sudah menunjuk sarungnya sendiri. Ia juga mengenakan peci yang masih tercium harumnya, perpaduan antara pewangi pakaian dan citrus. Hidung Abi dapat membauinya sedikit, pikirannya menuju ke perempuan penyuka aroma itu. “Ada yang kasih kalian hadiah? Siapa?” tanyanya penasaran. “Ada, Kakak cantik, namanya Wawa.” Jawaban Tari mengundang tawa.             “Sawa.” Kata Lala. Dia tidak terlalu ingat nama Kakak itu tapi jika bertemu dengan Kakak yang di maksud dia masih bisa mengenali wajahnya. “Hahaha…” tawa anak-anak membahana lagi. Abi masih serius mendengar. “Kak Salwa, namanya. Dia naik mobil bagus banget!” Putri akhirnya memecah rasa penasaran Abi. Entah berapa kejutan lagi yang akan Tuhan hadirkan kepadanya. Akhir-akhir ini nama gadis itu sering ada dalam sesi kehidupannya. Abi menganggap ini adalah takdir, takdirnya bertemu dengan Salwa. Sampai kedepan gadis itu akan menjadi bagian dari sesi perjalanan hidupnya, sebagai atasan, sebagai rekan dan sebagai orang yang sama-sama peduli terhadap anak-anak ini. “Kak Salwa pacarnya Kak Abi ya? Wah, pacarnya Kak Abi kok cantik?” tanya salah satu anak. “Memangnya Kakak nggak genteng ya?” balas Abi iseng. Putri dan Lala tersenyum, mereka saling tatap lalu dengan kompak menggeleng bersamaan. “Kak Abi gantengan kalo nggak ada brewoknya!” Lala tersenyum malu. “Lala suka Kak Abi. Cie… cie… suit, suit!” Abay ikut menimpali. “Jangan berisik, Mbah sudah mau istirahat.” Abi meletakkan telunjuknya ke depan bibir. “Kalian selesai makan langsung cuci tangan, kaki, gosok gigi dan tidur. Jangan lupa berdoa.” “Siap, Kak!” Putri memberi salam hormat. Dia yang membantu Akib mengajari adik-adik kecilnya. “Kakak kenal Kak Salwa?” Abi mengangguk ragu mengingat mereka baru beberapa kali bertemu. “Kakak sama Kak Salwa temenan ya?” Akib ikut bertanya. Dia merasa bersalah pada Salwa dan Abi karena sama-sama ketemu saat sedang aksi menjambret dan akhirnya tertangkap. “Aku waktu itu ambil HP-nya Kak Salwa, aku nggak mau nakal lagi. Kakak itu bilang aku nggak boleh memberi contoh yang jelek ke Tari sama Abay.” Abi bersyukur pada niat baik Akib, anak itu berkata sungguh-sungguh. Semoga anak itu benar-benar berubah. Ia tidak menyangka bahwa atasannya yang hidup sangat berada, ternyata masih bisa berbuat baik kepada anak-anak ini. Ada rasa peduli yang besar padahal umumnya orang-orang atas tidak begitu tertarik dengan dunia liar dan kumuh seperti ini. Kepribadian Salwa benar-benar mengusik kehidupan Abi, dan rasa penasarannya semakin bertambah. *** Aku menutup laptopku setelah mengecek laporan dan merevisi beberapa isinya. Jauh sebelum hari ini aku sudah berjanji menemani Azka membeli furniture untuk klien yang rumahnya bergaya klasik. Laki-laki itu sudah ada di bawah, aku harus segera menemuinya, hanya saja aku masih bingung jika dia masih membahas masalah yang kemarin. Setelah percakapan waktu itu, aku dan dia tidak saling menghubungi untuk sementara, hingga akhirnya hari ini kami harus bertemu.             “Azka!” panggilku ketika melihat sosoknya berdiri memunggungiku.             Dia menoleh dengan senyum yang sama. Senyum yang mampu membuat perempuan manapun terpesona, tapi tidak denganku. Menurutku aku perempuan tidak normal yang sampai detik ini tidak merasa terpikat oleh karisma Azka. Aku berdeham menyadarkannya. “Yuk!”             Dia berjalan menuju sedan hitamnya dan membukakan pintu untukku. Tindakannya membuatku semakin canggung, padahal aku sudah berusaha bersikap senetral mungkin. Tidak hanya itu, belum lama mobil berjalan, dia menyalakan mp3 dan memutar musik instrumen milik Yiruma. Sebisa mungkin aku tidak terlihat gugup, aku menoleh ke sisi jendela sepanjang perjalanan, sampai aku merasa leherku keseleo. Azka sepertinya menghindari percakapan tempo hari. Baguslah, aku tidak perlu repot-repot beralasan ini-itu kalau dia bertanya lagi. Aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Aku lebih nyaman menjadi sahabatnya ketimbang menjadi seseorang yang dia suka. Mobil berhenti di rumah furniture terlengkap di daerah Kemang, aku turun segera sebelum Azka membukakan pintunya untukku. Aku juga berjalan mendahului Azka, dia benar-benar mengekori langkahku seperti anak ayam kehilangan induknya. Entah berapa lama aku sibuk sendiri, memilah dan memilih barang-barang yang sudah ter-list di dalam kepalaku. Rak buku kayu, kaca dinding, gorden warna abu-abu dengan corak unik. Azka menyetujui semua pilihanku. Mataku berhenti menyapu benda-benda antik itu ketika aku melihat jajaran ornamen-ornamen unik yang tersususn di sebuah lemari kaca besar. Ada lampu hias yang bentuknya lucu dan pernak-pernik meja lainnya. Tahu-tahu Azka sudah berdiri dekat denganku. Kalau saja dia tidak bicara soal perasaanya malam itu, mungkin aku tidak akan secanggung ini. “Maafkan aku, Sal. Aku nggak bermaksud membuat kamu tidak nyaman.” Katanya datar. Tidak ada orang di sekeliling kami, dia lanjut bicara. “Anggap saja aku tidak pernah mengataknnya jika kamu merasa tidak nyaman. Aku butuh kamu, Sal. Sebagai teman, sahabat dan partner.” Aku mengangguk tanpa menatap wajahnya. “Oh ya, setelah ini aku mau ngajak kamu ke rumah klien yang waktu itu. Bu Bella suka banget sama kaligrafi yang kamu pilih. Dia mau ketemu kamu.” Aku menoleh, sementara Azka hanya mengangkat bahu. *** Rumah klien Azka masih di kawasan Jakarta Selatan. Kami baru saja sampai dan aku langsung menyukai taman depan rumah itu. Hijau-hijauan daun dan warna-warni bunganya menyegarkan mata, membuat rumah ini terlihat lebih hidup. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan rumah minimalis ini, tidak terlalu besar, cukup untuk keluarga yang memiliki tiga orang anak. Bu Bella sudah menyambut kedatangan kami. Dia terlihat ramah dan murah senyum. Aku mengenalkan diri dengan sopan, dia sempat menatapku aneh, mengamatiku dengan seksama seolah kami pernah bertemu. “Salwa? Kamu anaknya Anna kan?” “Ibu kenal Mami saya?” “Jangan panggil Ibu, panggil Tante saja ya. Kenal dong, saya kan teman arisan Mami kamu, Salwa. Kamu nggak inget sama Tante ya? Beberapa waktu lalu Tante sempat mampir ke rumah kamu, nganterin kue pesenan Mamimu. Tente kan suka bikin kue kering gitu, Sal.” Tante Bella terlihat ramah sekali padaku. Aku sempat melongo beberapa detik. Dunia sesempit itu ya? Sampai-sampai aku bisa bertemu dengan Tante Bella. Aku sudah lupa wajahnya. Hampir satu jam lamanya aku hanya bisa tersenyum kikuk melihatnya mengobrol dengan Azka. Kulangkahkan kaki menuju ruang tengah yang sedang di pulas warna terang. Beberapa tukang menyapa dan tersenyum ramah, aku mengangguk membalasnya. “Salwa, makasih ya… katanya kamu yang pilihin kaligrafinya ya... Tante suka banget. Kok kamu pinter banget sih, nggak kayak Mami kamu. Nggak demen sama seni dan lukisan, oh, apalagi kaligrafi. Kamu nggak sekalian ajak Yasmin kesini? Dia sibuk apa sekarang?” “Makasih atas pujiannya, Tante. Saya masih belajar.” Aku menarik napas lembut sebelum lanjut menjawab. “Yasmin lagi coas, Tante.” Aku pikir Tante Bella orang yang terlalu ramah sekaligus bawel. Belum seharian aku di sini, sudah banyak pertanyaan yang harus segera kujawab. Lebih mudah mengerjakan soal ujian daripada menjawab serentetan pertanyaan Tante Bella. Aku jadi was-was, semoga dia tidak bertanya macam-macam. “Terus siapa yang bakal duluan nyebar undangannya? Tante tunggu lho undangan kamu dan Yasmin.” Tante Bella menarik napas, sementara aku melanjutkan minum. Tenggorokkanku rasanya kering mendadak. “Azka ini calon suami kamu kan, Sal? Jadi kapan nikahnya?” “Uhuk!” aku tersedak. Hidungku rasanya perih dan sakit. Azka mengeluarkan sapu tangannya untukku. “Duh, pelan-pelan sayang.” Ujar Tante Bella. Tidak ada yang tahu asalan aku tersedak kecuali orang yang kini wajahnya nampak khawatir. “Nggak apa-apa kok Tante. Oh ya, Salwa masih ada kerjaan, sepertinya harus segera balik ke kantor.” Kataku beralasan, aku memberi kode pada Azka dengan mengedipkan sebelah mata. Dia paham maksudku. “Ya sudah kalau kalian buru-buru. Jangan lupa nanti kabarin Tante ya kalau kalian udah siap resepsinya.” “Mending akadnya dulu Tante.” Tiba-tiba Azka ikut bersuara, tapi senyumnya terlihat jahil. “Permisi, kami pamit dulu. Besok saya kesini lagi buat ngecek kamar Miko.” “Iya, Tante tunggu kamu, Azka.” Tante Bella mengantar kami sampai depan rumahnya. Aku segara masuk ke mobil dan memejamkan mata. Saat di jalan, aku dan Azka hanya diam-diaman tidak jelas. Aku sedang bingung, dia juga lebih bingung dengan sikapku yang dingin. Aku menyuruhnya mengantarku kembali ke kantor untuk mengambil Jeepku sendiri. Dan Mami, apa saja yang sudah Mami katakan pada teman-teman arisannya itu, sampa-sampai Tante Bella mengira Azka adalah calon suamiku. Malu sekaligus kesal rasanya bercampur menjadi satu. Aku turun dari mobil Azka tanpa mengucap sepatah katapun. Aku segera menuju area parkir, mencari Jeep milikku. Tiba-tiba saja Azka muncul di depanku dengan tatapan memohon. “Salwa… kamu nggak lagi marahkan sama aku?” tanyanya dengan suara sepelan mungkin. “Salwa, maafin Azka dong!” Secepat itu aku tertawa. Aku memang tidak sanggup berlama-lama marah atau mendiamkannya. Azka adalah hiburan bagiku, dia adalah sahabat terbaik setelah saudaraku, Yasmin. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN