Hari ini aku ingin pergi ke rumah anak-anak, sudah ada janji dengan Hana. Temanku itu akan mencoba membujuk Akib yang tidak mau bersekolah. Semoga Hana berhasil membujuk anak itu agar mau bersekolah lagi. Dia masih terlalu dini untuk sibuk mencari uang kesana-kemari, sementara semua kebutuhan mereka akan aku diskusikan dengan Mami, Papi, dan aku juga bisa mensedekahkan sebagian penghasilanku untuk mereka.
Mami dan Papi harus tahu rencanaku. Mbok Ratih dulu selalu mengajariku untuk selalu berbagi, dari harta yang kita miliki ada sebagian hak oranglain. Dan menurutku tidak ada ruginya jika aku mengajak Mami, Papi, bakan Yasmin untuk turut membantu membiayai kebutuhan pokok anak-anak itu. Sekalian membuatkan usaha kecil-kecilan untuk Mbah, supaya Mbah tidak perlu lagi kerja di warung orang.
Ketika aku sampai di rumah Mbah Sati, di sana hanya ada beberapa anak yang sudah pulang ke pondok kecil itu. Sebagian ada yang masih mencari barang bekas, kardus bekas, bahkan ada yang mencari uang di bengkel kecil dekat jalan raya. Entahlah, berapa rupiah yang berhasil mereka terima, barangkali uang seribuan yang tidak ada harganya di mata oranglain—justru sangat berarti bagi mereka. Aku benar-benar sedih mendengarnya. Sebagian dari mereka kehilangan ibu-bapak, seperti Akib, Abay dan Tari. Ada pula yang ibunya menjadi TKW tetapi tidak pernah ada kabar hingga mereka tumbuh besar, seperti Putri, Ade dan Lala. Sebagian ada yang lari dari kejaran preman karena tidak mau di jadikan sebagai tambang uang, di paksa mengemis dan mencopet sampai ada yang di tangkap dan hampir di keroyok.
Hana sudah mendengar semua cerita itu, termasuk awal mula aku bisa sampai sini. Semua karena ketidaksengajaan Akib yang mencuri ponselku. Aku tahu mereka anak baik, mereka butuh dukungan, kasih sayang, dan mereka berhak mendapatkan masa depan yang cerah. Mereka butuh kesempatan. Kesempatan untuk meraih cita-cita yang tinggi. Dan kesempatan itu akan hadir bila ada sebagian orang yang peduli terhadap kehidupan mereka semua. Harus ada yang memulai, harus ada yang bergerak untuk membantu.
Andai di dunia ini ada lebih banyak manusia yang peduli, mungkin hidup mereka tidak akan tersisih seperti sekarang ini. Tidur di dekat perlintasan rel, banyak nyamuk, bau tidak sedap, berisik dan gempa kecil terjadi setiap ada kereta yang melintas. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup seperti mereka. Beruntunglah aku lahir sebagai Salwa Nabila yang hidup berkecukupan sejak masih dalam kandungan, mempunyai Mami-Papi yang lengkap dan menyanyangiku, saudara yang selalu men-supportku, aku di kelilingi banyak orang terkasih.
Aku sengaja menambah jatah makan Abay yang duduk tepat di depanku. Anak itu memang suka mencari perhatianku. Kali ini ia tersenyum ke arahku penuh maksud.
“Mubazir itu salah satu perbuatan syaiton! Habiskan, jangan di buang-buang makanan.” Kataku sedikit galak.
Abay lanjut melahap nasi kotaknya. Beberapa anak yang lain sibuk mendengarkan cerita tentang Nabi Ibrahim yang di bacakan oleh Hana. Aku juga tertarik, Hana seolah sumber ilmu di sini, dia sedang di perhatikan oleh banyak mata, telinga kami siap mendengar dan otak siap merekam.
“Iya, Nabi Ibrahim berani menghancurkan patung-patung itu. Beliau tidak mau orang-orang menyembah berhala, karena itu adalah perbuatan yang di benci Allah.”
Dan seterusnya, Abay ikut mendengarkan sambil mensuwir potongan paha ayam. Aku sedikit tega kepadanya, sebab memberikan porsi besar pada anak kecil itu. Ada sebabnya aku melakukan itu, aku melihat tubuhnya kurus sekali seperti anak kekurangan gizi.
***
Abi memarkirkan mogenya di dekat sebuah Jeep yang ia kenal. Ia tersenyum sekilas, menduga bahwa gadis itu sedang ada di dekat-dekat sini. Ia sudah biasa meninggalkan motornya di tepi ajlan besar area ini, orang-orang sudah lama mengenalnya. Ia bahkan menyapa seorang penjual es cendol yang sedang istirahat, juga menyapa Mang Oji, tukang permak levis yang selalu ramai.
Kakinya melangkah melewati lorong panjang, jebatan dan jalan di pinggir perlintasan rel kereta api. Ketika ia sampai di sebuah rumah teriplek yang ia tuju, tawa riang anak-anak mulai terdengar. Abi melongok ke dalam, ia mendapati beberapa orang anak dan dua perempuan berkerudung.
“Kak Abi!” tunjuk Lala ke arah pintu. Abi segera masuk dengan sedikit membungkuk, pintu ini kurang tinggi untuk ukuran tubuhnya. “Kakak lupa sesuatu!”
“Oh!” Abi tertawa. Ia lupa mengucapkan salam. Anak-anak memang pernah dia ajari untuk selalu mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah, dia bilang agar setan-setan jalanan tidak ikut-ikutan masuk. Ucapannya dipercaya anak-anak, terutama Lala yang merasa parno. Abi akhirnya mengucap salam setelah terlanjur masuk, seisi rumah kompak menjawab salam darinya. Mereka semua tersenyum menyambut kedatangannya.
“Bu Nabila?” Abi sedikit kaget dengan kehadiran Salwa, walaupun sebelumnya dia sudah menebak-nebak ketika melihat Jeep di depan tadi. “Ibu sedang apa disini?”
Salwa tersenyum lembut. “Jangan panggil saya, Bu. Kita lagi di luar kantor. Saya mau makan bareng anak-anak.”
“Tapi kita sudah selesai makan.” Sambung Ade. Anak itu nyengir kuda menunjukkan deretan gigi yang ompong.
“Kakak mau makan?” tanya Abay. “Mau sama Abay?” anak itu menawari Abi, padahal makanan di depannya tersisa sedikit lagi.
“Hahaha… nggak cukup buat Kak Abi. Abay ada-ada saja.” Sambar Ade yang duduk di sebelah Salwa.
“Kakak sudah makan. Terimakasih.” Abi tersenyum mengamati wajah ceria anak-anak, lalu sempat melirik Salwa sekilas. Melihat kedekatan anak-anak dan Salwa begitu akrab, Abi menduga gadis itu sering mampir kemari. Mungkin saja Salwa mampir saat dia sedang sibuk-sibuknya dan sudah lama juga dia tidak datang kemari, sehingga baru kali ini mereka bertemu.
Salwa mengenalkan Hana pada Abi. Mereka berdua saling mengangguk tanpa perlu berjabat tangan. Salwa diam-diam merasa kagum dengan sosok Abimana. Laki-laki itu punya prinsip dan rasa peduli terhadap anak-anak, ia juga yang telah membayar uang sekolah Putri dan beberapa anak. Memang tidak semua anak bisa bersekolah, hanya ada empat dari sepuluh anak. Tapi hampir semuanya mampu membaca dan menulis walau sedikit terbata, anak-anak yang bersekolah seperti Putri dan Lala sering mengajari adik-adiknya saat sedang kumpul di rumah.
“Ya Allah, Sal. Aku lupa, ada jadwal ngajar di tempat bimbel yang baru. Aku balik duluan ya?” Hana sudah mencipika-cipiki Salwa dengan gesit. “Aku sudah pesan ojeg. Aku buru-buru!” katanya sambil berjalan keluar.
“Hati-hati!” Salwa menyusul sampai depan, lalu kembali masuk ke dalam rumah sempit itu.
“Kakak kenal Kak Abi dimana?” tanya Lala saat Salwa sudah duduk kembali. Anak itu tersenyum melirik sosok Abi yang sedang membantu membenahi tumpukan buku.
“Kakak kerja bareng sama Kak Abi. Kita ketemu di tempat kerja, Sayang.” Tangan Salwa mengelus lembut kepala Lala. “Eh, jangan-jangan kamu suka ya sama Kakak itu…” Salwa sudah curiga, sejak tadi Lala melirik-lirik Abi. Malu-malu rupanya.
Abay mendengar itu dan segera ikut nimbrung. “Lala nggak cocok sama Kak Abi. Cocokan sama Mang Abdul! Hehehe…”
Mang Abdul adalah tukang bersih-bersih mushalla. Lala sering membantu Mang Abdul membersihkan mushalla sepulang mengaji.
Salwa melihat Lala menunduk, menyembunyikan wajah sedihnya.
“Eh, Abay enggak boleh gitu sama Lala. Lala kan saudara Abay.” Tegur Salwa pelan.
“Abay kan saudaranya Akib sama Tari.”
“Abay sama Lala itu saudara seiman, Sayang. Tahu apa artinya?”
“Tahu.” Jawab Abay di sertai anggukan.
“Anak pintar. Siapa yang ngajarin?” Salwa tersenyum menatap Abay yang polos.
“Ituh!” Telunjuk Abay menunjuk pada Abi. Laki-laki itu langsung menoleh, kemudian kembali lagi pada aktivitasnya. Salwa pun mengalihkan pandangannya karena sempat beberapa detik bersitatap dengan Abi, ada sesuatu yang aneh—yang mulai menjalar di dalam dadanya. Salwa sungguh tidak paham getaran apa yang baru saja hadir dalam dirinya.
“Kakak pasti di ajarin Mama-Papanya ya?” tanya Abay.
Salwa membalas dengan senyuman. Mana mungkin dia bercerita kalau dia sendiri berbeda keyakinan dengan Mami-Papinya, sehingga belajar agama sejak kecil bersama Mbok Ratih dan guru ngajinya.
“Kak Salwa udah punya pacar?” Lala bertanya tiba-tiba. “Kak Abi belum punya lho.”
Abi langsung melirik mereka berdua. Dia sempat tersenyum tipis, anak itu ada-ada saja omongannya. “Lala nanti cemburu kalau Kakak punya pacar. Nanti Lala nangis nggak?” ledek Abi akhirnya.
“Lala nggak cemburu kalau Kak Salwa yang jadi pacarnya Kak Abi.” Kata Lala cepat. Matanya sudah berbinar menatap Salwa dan Abi bergantian.
Salwa lagi-lagi mengalihkan pandangan. Anak-anak ini mempunyai bahan obrolan di luar dugaan. Salwa menarik napas dalam-dalam untuk mencoba mengusir rasa aneh—yang mulai menjar di benaknya.
“Emang Lala tahu “pacar” itu artinya apa? Eh… anak kecil dilarang pacaran, orang gede juga enggak baik pacar-pacaran.” Salwa menasehati anak-anak, juga pada dirinya sendiri.
“Pacar itu kayak cowok sama cewek, jalan berdua, mereka udah gede dan nanti nikah!” jelas Abay sok paham.
“Bukannn!” protes Lala.
“Iya! Kayak Kak Abi dan Kak Salwa, udah sama-sama gede tinggil nikah!”
Salwa merasa sudah salah bicara. Kini ia kebingungan sendiri menanggapi anak-anak di depannya.
“Ehm, buku-bukunya di baca ya. Jangan cuma di liatin sampulnya. Biar makin pinter terus jadi orang hebat.” Abi mengalihkan percakapan membuat hati Salwa sedikit lega. “Mbah belum pulang?”
“Belum. Mbah pulang nanti malam.”
Padahal Abi berniat menitipkan sejumlah uang kepada Mbah, agar bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Abi tidak tega melihat Mbak bekerja setiap hari dengan tubuh tua dan lelahnya.
***
Salwa pamit pulang duluan, tak lama Abi menyusul. Mereka beda lima menit. Tapi Abi melihat Salwa masih di luar kendarannya sendiri, ia sedang berdiri menyandar pada Jeepnya. Tangan kanannya sibuk mengutak-atik ponsel.
Penasaran, Abi pun bertanya. “Nabila, belum pulang?”
“Ban mobilnya bocor.” Salwa menunjuk ban depan.
“Buru-buru? Mau ikut saya?” tawar Abi hati-hati.
Salwa terlihat berpikir sebentar sebelum ia mengangguk ragu.
“Saya nggak pakai helm? Terus kalau ada polisi gimana?” tanya Salwa di atas boncengan. Moge itu sudah melaju ke jalan yang agak sempit. Kalau saja Mami tahu anaknya naik motor tanpa pengaman kepala, huh, bisa di gantung lelaki ini, desahnya.
“Insya Allah aman. Kita lewat jalan tikus.”
“Apa? Tikus?” suara Abi terbawa angin, Salwa tidak bisa mendengar sepenuhnya. Lagipula jalanan yang mereka lalui agak berisik dengan suara ibu-bapak saling berteriak memanggil sang anak.
“Jalan tikus.” Abi tersenyum mengulangi kata itu. “Aman, Nabila.” Dia melirik ke kaca spion dan mendapati wajah Salwa yang nampak heran.
Ya, gadis itu terheran kenapa Abi selalu memanggilnya dengan nama “Nabila” bukan “Salwa” seperti kebanyakan orang. Salwa hanya merasa aneh, selama ini telinganya terbiasa mendengar nama Salwa di banding Nabila, yang rasanya agak asing. Dan sejak awal pertemuan di kantor beberapa pekan lalu, laki-laki ini tetap konsisten memanggilnya dengan nama belakang.
“Kamu tahu jalan ke rumah saya?” Salwa agak memajukan wajahnya.
“Tahu.”
“Kamu baru sekali kesana!” teriak Salwa ketika mogenya agak cepat berjalan.
“Saya hapal jalanan di Jakarta.”
Hening. Salwa sibuk mengedarkan pandangan kesegala penjuru. Ia hampir tidak pernah berada di atas boncengan motor. Terakhir kali naik kendaraan roda dua adalah saat SMA, dia di antar pulang oleh Azka karena pulang terlalu sore setelah ikut ekskul bulu tangkis.
Itu sudah lama sekali. Salwa sudah hampir melupakan moment itu. Moment yang membuat seluruh kakak kelas dua belas, yang perempuan, cemburu padanya. Ia sampai di musuhi oleh kakak-kakak kelas genit itu, setiap ke kantin ia selalu di jeggal, setiap ke kamar mandi perempuan ia selalu di pelototi. Sebab utamanya adalah Azka, tetapi laki-laki itu diam saja, tidak perduli dengan anak-anak perempuan seangkatannya yang konon cemburu. Ia hanya peduli pada Salwa dan Yasmin.
***
Akhir-akhir ini aku sering heran, kenapa Yasmin lebih sering berada di kamarnya dan mengunci pintu. Saat kutanya sedang apa, dia hanya menjawab santai. “Sedang membaca.” Sekarang aku tidak bisa membajak kamarnya lagi.
“Salwa! Yasmin! Ayo turun, Sayang. Papi udah nunggu di meja makan.”
Teriak Mami dari ruang tengah. Aku segera mengetuk pintu kamar Yasmin, dia sepertinya tidak mendengar jeritan merdu Mami.
“Ya, sabar.” Sahutnya. Aku turun lebih dulu.
Perjodohan Yasmin sepertinya dibatalkan, Darian tiba-tiba menyatakan kemundurannya menjadi calon menantunya Mami. Yasmin terlihat sangat bahagia, ulahnya berhasil dan kini aku harus mengatur siasat seperti yang dilakukan Yasmin. Aku tidak mau di jodoh-jodohkan dengan lelaki manapun, aku bisa mencarinya sendiri dengan perantara hati. Hatiku masih hidup, masih bisa merasakan cinta. Hatiku juga tidak buta.
“Katanya kamu bilang ke Rian mau nikah umur 28 atau 29-an ya!” Mami menyendok udang di piringnya, memasukkan perlahan ke dalam mulut. “Yasmin, kamu mau nikah sama siapa kalau umurnya setua itu?” di sela-sela kunyahan Mami masih sempat mengomel. Itu artinya Mami sedang sangat kesal.
Yasmin masih bergeming. Sementara aku dan Papi sibuk menonton, kami hanya pendengar setia dari serial “perjodohan Mami.” Padahal aku juga termasuk korban, tunggu saja, setelah ini aku juga bakal kenal omel.
“Yamin mau ambil spesialis, Mi.”
Mendengar itu mataku membulat. Yasmin luar biasa.
“Kan bisa sambil berumah tangga. Apa suasahnya sih jalan sama Rian, dia itu dokter bedah lho, Yas. Lulusan Amrik! Dari keluarga terhormat dan…”
“Ya sudah, kalau gitu Mami aja yang nikah sama dia.” Sebelum seribu alasan itu muncul, Yasmin sudah mencegat. Membuat Mami sempat terbengong-bengong. Papi ikut menggelengkan kepada sambil melirik Mami dengan wajah datarnya. Papi benar-benar netral, ia tidak memihak istri ataupun anak.
“Yasmin sudah kenyang. Aku ke kamar dulu.” Yasmin meletakkan sendoknya, ia segera bangkit meninggalkan kami bertiga di meja makan. Dan benar, setelah Yasmin pergi kini Mami mulai mengintrogasiku.
Instingku memang tidak baik.
Kalau boleh, aku sudah ingin menertawakan perjodohan lucu ini. Ini semua kehendak Mami, bukan aku atau Yasmin.
“Kamu ke rumah Tante Bella, Sal? Sama Azka?” Mami terlihat antusias. Sementara aku hanya mengangguk malas. “Kalian sering banget jalan bareng, bener nggak ada apa-apa?”
Aku meraih gelas dan menghabiskan isinya.
“Mami kan cuma mau tahu perasaan kamu ke Azka kayak gimana. Kalian itu udah kayak perangko, lengket kemana-mana berdua aja. Mami kira kalian pacaran.”
“Pacaran? Yang benar saja, Mi. Aku, Azka dan Yasmin kan dari dulu temenan.” Jawabku santai. Dalam hati aku sudah gondok dan juga kesal. Tante Bella ngomong apa saja ke Mami ya?
“Tapi Mami lihat Azka seringnya ngajak kamu kalau kemana-mana. Dia suka sama kamu ya, Sal? Dia pernah bilang suka kamu nggak sih, Salwa?”
Aku nyaris tersedak. Duh… Mami pengen tahu banget masalah aku dan Azka sih! Tapi nggak mungkin aku cerita ke Mami soal Azka yang sudah jujur kalau dia punya niat mau ngelamar aku. Nggak, aku nggak akan bilang itu ke siapapun selain Mbok Ratih.
“Biarlah anak-anak mencari jodohnya sendiri, Mi. Mereka sudah besar. Nggak perlu di jodoh-jodohin seperti itu.” Papi tiba-tiba angkat suara, Mami langsung diam, sepertinya tak selera menghabiskan makan malamnya. “Sering jalan berdua bukan berarti pacaran kan, Mi?
Wah… kalau begini aku setuju sekali dengan Papi.
“Yang anter kamu pulang… itu karyawan Papi ya?” tanya Papi kepadaku, wajanya langsung menatapku. Aku juga melihat ekspresi Mami yang langsung berubah penasaran, mereka menunggu jawabanku. “Mobil kamu kemana, Salwa?” tambah Papi.
“Emmm…” Aku menelan ludah. Artinya tadi Papi sempat melihat membonceng motor tanpa helm dan mobilku… Ya Robbi, aku belum menyuruh si Agung mengambilnya di bengkel. “Iya. Dia karyawan Papi, dari Devisi IT dan temannya Rehan. Mobilku… di bawa ke bengkel. Bannya bocor, Pi.”
“Kok bisa. Kamu dari mana?” Mami setengah mendelik kepadaku. Aku jadi takut untuk berbohong.
“Dari… Mami jangan marah ya. Sebenarnya Salwa pergi ke pemukian agak kumuh. Di sana aku bertemu anak-anak, mereka tinggal di dekat perlintasan rel.” Kataku jujur. Cepat atau lampat Mami pasti tahu yang sebenarnya, dan aku tidak mau membuatnya lebih shock dengan mendengar cerita itu dari mulut oranglain. “Salwa niatnya mau bantu mereka mencari tempat yang lebih layak. Salwa pengen buat rumah singgah, Mi.”
Jeda panjang, suasana hening. Mami tiba-tiba meletakkan sendoknya, terlihat sekali nafsu makannya hilang seketika.
Sementara kulihat Papi masih santai melahap makanannya. “Ini baru rencana, kalau Mami dan Papi nggak setuju… Salwa akan mundur. Tapi, Salwa yakin, Mami tidak akan tega jika melihat anak Mami sendiri yang hidup di pemukinan sekumuh itu.” Aku mengiba dihadapan dua orang yang kusayang.
Aku menarik napas dalam-dalam. “Salwa kasian sama mereka, orangtua mereka sudah nggak ada, bahkan ada yang pergi tanpa merasa bertanggungjawab untuk mengurusi mereka. Mereka butuh sekolah dan berhak mendapatkan kehidupan lebih layak. Salwa mau minta ijin sama Papi dan Mami sebelumnya, Salwa mau menyewa rumah buat mereka tempati. Dalam hidup ini harus berbuat baik kan, Mi?”
Mami menatapku, matanya telihat menahan tangis. Entah sejak kapan aku punya Mami yang melankolis seperti ini, Mami sepertinya tersentuh. Beliau langsung memelukku dari belakang, mengelus puncak kepalaku. “Mami setuju kalau Papi juga setuju.”
Kini aku berharap sepenuhnya pada Papi, aku juga sudah menyandarkan harapanku pada Sang Maha Kuasa. Aku sudah berdoa padaNya agar meluluhkan hati kedua orangtuaku ini. Semoga saja Dia juga memberi cahaya iman dalam hati keluargaku tercinta. Aku sayang mereka, aku sangat-sangat mencintai mereka walau sejak duduk di bangku SMP kami tak pernah lagi beribadah bersama. Hari raya kami berbeda, tata cara ibadah kami pun berbeda, dan kitab suci kami juga tidak sama. Tapi semua perbedaan itu tidak harus menjadi benteng kasih sayang orangtua kepada anak atau sebaliknya. Kurasa, inilah toleransi yang sesungguhnya.
Aku masih menatap wajah Papi, berharap ia mau menyetujui permohonanku.
“Papi tergantung kamu.” Senyum mengembang di wajah Papi. “Kalau kamu lanjutkan proyek travel ibadahnya, Papi akan setujui rencanamu itu dan Papi mau jadi donatur pertamanya. Gimana?”
“Alhamdulillah.” Aku memeluk Mami. “Papi serius kan? Nggak lagi bohongin Salwa? Salwa nggak mimpi kan? Aaahhhh!” aku menjerit kegirangan. Aku lompat-lompat dan mereka melihatku tanpa bisa menahan tawa. Yahya, Neneng dan Mbok Ratih sampai tergopoh-gopoh meyusul kami di meja makan.
“Mbok! Mbok! Insya Allah aku bakal naikin Mbok Haji. Papi setuju sama rumah singgahnya dan malah suruh aku lanjutin proyek travelnya. Tahun ini, Mbok! Nggak jadi di tunda sampai tahun depan. Wow!” aku heboh sendiri. Kini tanganku sudah merangkul Mbok Ratih dengan erat. Yahya dan Neneng tersenyum melihatku.
Sebentar lagi mimpi dan cita-citaku akan terwujud. Ya, beberapa langkah lagi. Mulai besok aku akan sangat sibuk menyiapkan ini-itu di kantor, meeting berkali-kali, mengecek laporan dan segala persiapan dengan sangat detail dan lagi, aku akan mencari tempat yang layak untuk di jadikan rumah anak-anak dan Mbah Sati.
Aku segera berlari menuju kamar setelah menciumi pipi Mami dan Papi. Otakku sudah bekerja menyusun banyak rencana.
Di malam itu seharusnya aku terlelap tidur untuk persiapan besok. Nyatanya kepalaku penuh dengan rencana, ada benang kusut yang mulai terurai. Kutemukan satu persatu ujung-ujungnya. Kutarik dengan perlahan-lahan dan aku kumpulkan degan warna yang sama. Pokoknya aku sedang sangat bahagia.
Tetapi tiba-tiba kepalaku terbayang sosok pemuda yang bernama Abimana, dia yang sedang beridiri di depanku—saat aku sedang bersandar di Jeep. Dia terlihat... apa ya? Gagah, mungkin.
Aku tidak tahu apa maksud semua ini. Apa maksud dari bayangan dia yang mendadak muncul di kepalaku? Padahal aku tidak sedang memikirkannya. Sudahlah, itu tidak penting.