Travel ibadah itu akan dirancang sesuai rencana awal. Web dan aplikasinya tetap dibawah YS dan dalam pengawasan Mely. Suka tidak suka, Mely harus tetap membantu keponakannya. Dia akan bekerja seprofesional mungkin, tidak lagi menganggap Salwa sebagai beban perusahaan karena ide barunya yang di anggap main-main.
Mely sempat memberi penilaian buruk pada Salwa karena Salwa sering pergi saat jam kantor. Tetapi, pada akhirnya Salwa berhasil membuktikan banyak hal. Semua beban kerja yang ia timpakan pada gadis 23 tahun itu berhasil di selesaikan tepat waktu dan semua pekerjaan beres, pekerjaan Salwa tidak mengecewakan sama sekali.
“Selamat, Salwa. Semoga proyek ini berjalan dengan lancar.” Ujar Mely.
Salwa tersenyum menanggapi Tantenya yang menurutnya mendadak berubah—agak lebih baik. Tidak ada genderang permusuhan lagi di antara keduanya.
“Kalau kamu butuh apa-apa, Tante akan coba bantu. Jangan sungkan.” Sekilas Mely memperlihatkan senyumnya.
“Baik. Terimakasih, Bu Mely.” Jawab Salwa seformal mungkin. Dia tetap menganggap Tante Mely sebagai salah satu atasan sekaligus seniornya di kantor. “Salwa memang sangat membutuhkan bantuan Bu Mely untuk mengontrol proyek baru ini. Salwa belum sepenuhnya paham.” Katanya jujur.
Mely mengangguk. Baru kali ini Salwa merasa Mely adalah sosok yang baik, kesan judes dan galaknya lenyap seketika. Semoga saja tantenya itu tidak kembali menjadi sosok yang menyebalkan dan menakutkan, harap Salwa.
***
Saat jam makan siang aku segera melesat ke kantin. Menuruni tangga dari lantai empat ke lantai satu, liftnya terlau sibuk digunakan banyak orang. Hitung-hitung olahraga—aku memang lebih suka naik-turun tangga. Oh, sebenarnya aku ingin menemui seseorang, tanpa janji, sebab aku tidak tahu nomor teleponnya.
Aku berhenti ditangga saat akan menuruni lantai dua, sosok yang aku cari sedang berjalan menuruni tangga juga. Ya, dia Abimana. Pegawai kantor dari devisi IT.
“Abimana!” aku memanggilnya sekali dan ia langsung merespon. “Tunggu,” segera kususul langkahnya.
“Ada yang perlu saya urus?” tanyanya setelah aku berada dekat dengannya.
“Bukan. Bukan masalah kantor, tapi anak-anak.” Kataku semringah. Aku tak henti melepas senyum sejak sosoknya ada di depan mataku. “Kita ngobrol sambil makan, oke?” ajakku. Aku melangkah mengikutinya, dia memilih tempat yang agak ramai. Pilihannya kurang tepat untuk mengobrol sesius, tapi dia berusaha memilih tempat yang tidak mengundang gosip di kantor.
Beberapa pasang mata sempat mengawasi kami. Abi terlihat tidak nyaman, aku alihkan perhatiannya dengan menjelaskan maksudku mengajaknya bicara empat mata. Bola matanya ternyata berwarna agak kecokelatan, membuat fokusku agak hilang. Duh, setelah senyum Azka yang sulit ditepis pesonanya, kini mata indah Abi membuatku bingung mau bicara soal apa.
Aku segera menunduk. “Saya butuh bantuan kamu, Bi. Ehm, saya pengen pindahin anak-anak dari rumah di pinggir perlintasan rel itu, ya, ke tempat yang lebih layak. Saya nggak tahu di mana mereka bisa tinggal dengan layak. Apa kamu punya saran?”
“Kalau untuk tempat, saya bisa bantu carikan. Tapi apa ada dananya?”
“Ada donatur yang insya Allah siap membayar lunas tempat tinggalnya nanti, ini sudah pasti. Masalah biaya lain-lain mungkin saya bisa bantu sedikit, dan niatnya saya mau buat usaha kecil-kecilan buat Mbah supaya tidak kerja di warung orang lagi.” Aku menjelaskan dengan rinci, tapi belum kusebutkan siapa yang menjadi donaturnya dan siapa yang akan membayar tempatnya. Sebenarnya Papi menyuruhku mencari rumah di pinggir kota dan beliau akan menugaskan orang untuk mengurusnya. Aku menolak tawaran ini sebab aku ingin terjun langsung dan mengawasi anak-anak itu sendiri, hati nuraniku merasa lebih hidup saat bersama mereka. Akhirnya Papi hanya akan mengurus pemindahan sertifikat rumah yang akan aku ambil, sebagai bentuk hadiah karena aku sudah mengikuti kemauan Papi untuk bekerja di kantornya dan menjalankan proyek terbaru..
Tapi aku hanya akan mengambil rumah sederhana saja, yang penting halamannya luas dan tempatnya nyaman, karena aku berniat membukakan usaha untuk Mbah di depan rumah, dan nantinya anak-anak bisa membantu Mbah berjualan sepulang sekolah.
“Alhamdulillah, saya ikut senang. Anak-anak juga pasti senang. Tapi, Mbah sepertinya tidak mau pindah.” jelas Abi.
“Lho, kenapa?” keningku berkernyit. “Kalau Mbah tidak mau pindah, anak-anak pasti tidak mau pindah.”
“Iya, Mbah tetap mau tinggal di sana. Saya sudah pernah menawari anak-anak tinggal di rumah peninggalan Ayah saya, sederhana tapi asri, letaknya di pinggir kota.”
“Peninggalan?” aku malah tertarik dengan cerita dan latar belakangnya. Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin mendengar lebih banyak tentangnya.
“Benar. Ayah saya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Beliau punya rumah di daerah Tangerang. Dulu sebelum kami pindah ke rumah yang baru, kami sekeluarga tinggal di perumahan sederhana itu. Sekarang tidak ada yang menempati. Saya pernah mencoba membujuk Mbah untuk pindah ke sana saja, tapi hasilnya nihil.”
Aku mengangguk.
“Coba nanti saya akan bujuk Mbah lagi. Sementara itu, saya juga akan usahakan cari tempat yang sesuai rencana kamu tadi.”
Aku menikmati obrolan ini sampai lupa waktu. Sudah hampir pukul satu. Abi harus segera kembali ke ruangannya setelah shalat, sementara aku masih duduk menyesap minumanku. Sempat terlintas di kepalaku, berapa gaji Abimana sehingga dia mau menanggung biaya sekolah anak-anak? Jadi teringat ungkapan yang mengatakan bahwa, “memberi lebih banyak akan menerima lebih banyak.” Dan juga, “memberi bukan berarti mengurangi harta yang ada di tangan kita.”
Kalau memang benar, Abimana salah satu buktinya. Dia masih muda dan juga dermawan. Aku segera menepis lamunanku tentangnya, akhir-akhir ini aku memang sering memikirkan pemuda itu.
***
Azka mengantar ibunya ke sebuah rumah sakit. Dia tidak tahu apa yang dilakukan perempuan berparas ayu itu. Meskipun perempuan itu bukan ibu yang melahirkannya, ia tetap hormat dan bersikap lembut layaknya anak pada ibu kandungnya.
Setiap awal bulan November, ibu tirinya itu pasti mendatangi rumah sakit. Sekitar dua puluh tahun lebih, di bulan itu ada kecelakaan besar yang merenggut nyawa seseorang, suami ibu tirinya. Azka tidak mengerti kenapa bulan itu begitu penting bagi perempuan yang sudah sangat ia sayangi ini. Azka memang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia tidak pernah bertanya karena menjaga privasi ibunya. Hingga hari ini sepertinya Azka mulai tahu sebuah rahasia yang ibunya tutup rapat.
“Tidak ada. Tidak ada, Azka. Padahal Mama yakin, anak Mama masih ada, masih hidup, Azka.”
Azka memeluk ibunya dengan penuh kelembutan. Ia berusaha menenangkan ibunya yang mendadak sedih setelah mencari sesuatu yang terus mengusik pikirannya.
“Anak Mama masih hidup, Azka. Dia adik kamu. Masih hidup!” mata ibunya sudah basah oleh air mata.
“Iya, Mama tenang. Azka akan bantu mencarinya. Mama yang tenang ya.” Meskipun masih bingung, Azka berusaha mengerti kesedihan ibunya hari ini.
“Janji? Kamu akan cari adik kamu, Azka?”
Azka mengangguk. Dia bahkan tidak tahu apa jenis kelamin adiknya itu. Dan bagaimana mencarinya?
Dua puluh tahun lalu, ayahnya menikah lagi setelah ibu Azka meninggal karena sakit. Pernikahan itu di setujui Azka dan kakaknya. Ibu tirinya itu asli dari Manado, Maria Ratulangi, dia sendiri belum mendapat persetujuan untuk menikah dari orangtuanya. Sebabnya sama dengan pernikahan pertama; menikahi lelaki muslim. Azka lalu punya adik dari pernikahan ayah dan ibu tirinya itu, Davina, gadis itu masih duduk di bangku SMA.
Azka tidak tahu banyak tentang Maria, yang ia tahu perempuan yang akan dinikahi ayahnya adalah perempuan baik-baik. Ayahnya hanya bercerita kalau Maria pernah menikah dan suaminya meninggal karena kecelakaan. Maria juga ikut terluka karena saat itu mereka sama-sama berada di dalam mobil. Maria tidak cerita lebih banyak, kehilangan seseorang yang dia cintai adalah sesuatu yang paling menggores hatinya. Suaminya yang pertama adalah orang yang menjadi jembatan dia bisa mengenal indahnya Islam.
Setelah kecelakaan itu Maria syok berat. Ia tinggal bersama orangtuanya yang menentang keputusannya menjadi muallaf dan menikah dengan laki-laki muslim. Saat kecelakaan itu perut Maria yang sedang hamil besar mengalami benturan, dan ia tidak tahu lagi, apakah anak itu selamat atau tidak. Sampai detik ini orangtuanya tetap kekeh berkata bahwa bayinya meninggal. Maria tidak percaya, dia merasa yakin bahwa anaknya masih ada.
Azka akhirnya tahu alasan ibunya masih sering bolak-balik ke rumah sakit ini.
Dua pekan setelah mengantar ibunya ke rumah sakit, Azka kembali lagi, kali ini ia seorang diri. Mencari kebenaran yang sudah terkubur puluhan tahun tidak semudah yang Azka bayangkan. Dia harus mengorek lebih dalam dan mencari data serta sumber lebih banyak.
“Dokternya sudah pensiun?” Azka menerima catatan alamat dokter yang membantu persalinan ibunya. Semoga saja dokter itu masih hidup. Azka tidak tahu lagi harus pergi kemana. Ia merasa kasihan melihat ibunya terus menerus mengharapkan anaknya yang tidak jelas apakah masih hidup atau sudah pergi menyusul suaminya.
Rasa penasarannya tidak bisa dibiarkan. Tanpa sepengetahuan ibu dan ayahnya, Azka menyewa orang professional untuk mencari keberadaan anak yang mungkin masih hidup.
“20 November, 23 tahun lalu?”
“Benar. Kecelakaan itu merenggut nyawa suami Maria Ratulangi. Dan anak itu, tolong cari keberadaannya jika masih hidup.” Ujar Azka pada orang suruhannya.
Ini butuh waktu yang tidak singkat. Azka akan sabar menunggu.
Sedikit demi sedikit beban Azka berkurang ketika melihat ibunya kembali tenang ke kehidupannya yang sekarang, perempuan itu sedang bersama Davina di ruang tengah ketika Azka baru pulang dari kantor.
“Kamu baru pulang, Azka? Mama masakin nasi goreng spesial buat kamu.” Ucap Maria sambil menyambut kedatangan anak tirinya. Dia sama sekali tidak pernah membeda-bedakan antara Davina, yang anaknya sendiri, dengan dua anak laki-laki dari suaminya. “Papa juga belum pulang, katanya ada urusan penting. Kamu makan dulu ya.”
Azka mengangguk. Ia mencium tangan ibunya. Wajahnya terlihat sangat lelah, ia butuh istirahat. Bahkan sudah beberapa hari ini ia tidak pergi ke rumah Yasmin dan Salwa, ia merasa rindu itu datang lagi. Ia ingin kesana besok, melihat Salwanya tersenyum dan oh iya, dia baru ingat. Besok ulang tahun Salwa dan Yasmin. Azka akan memberi kejutan.
“Davina ikut, Kak! Davina kangen dua kakak cantik itu. Boleh kan?” Davina memohon dengan wajah polosnya. Azka tidak akan tega menolak permintaan adik perempuannya itu sehingga ia membolehkan Davina ikut. “Asyik! Kak Azka super deh!”
“Jadi siapa, Azka?” tanya ibunya tiba-tiba. “Siapa yang bakal kamu kenalin sebagai calon istri? Umur kamu sudah mau masuk 26! Mas kamu nikah seumuran kamu lho. Mama udah pengen liat kamu ada yang urus dan nggak sering pulang malem terus, Ka. Mama khawatir kamu kerja terus dan nggak sempet mikir buat nikah.”
“Hahaha…” Davina tertawa. Ekspresi wajah Azka langsung berubah, ya, agak sedikit panik dengan berondongan ibunya.
Azka sudah ingin mengenalkan perempuan pilihannya pada keluarga ini, sayangnya perempuan itu seolah menghindar. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
“Salwa kan? Kamu suka sama dia kan?” bisik Maria di telinga anaknya. Salwa adalah cinta pertama Azka saat SMA. Sampai saat ini Azka masih menyimpan foto Salwa yang memakai seragam putih abu-abu dengan wajah cemongnya. Ya, Azka tidak bisa mengelak lagi. Pernah ia berusaha melupakan perasaannya untuk Salwa, ia berpacaran dengan gadis lain, bukannya lupa—dia malah tertekan sendiri. Tanpa sebab yang jelas Salwa dan Yasmin marah-marah ketika Azka sibuk mengantar jemput pacarnya sendiri. Dan tak lama setelah itu, dua gadis itu memaksanya untuk putus dengan pacarnya. Lalu setelah itu di antara mereka bertiga tidak ada yang menjalin hubungan percintaan dengan oranglain.