11. Menyimpan Kemuliaan

1056 Kata
Davina memeluk Salwa erat. “Selamat hari lahir Kakak cantik!”             “Makasih, Sayang.” Salwa mencium pipi Davina yang mulus. Ia juga membelai ramput indah Davina yang tergerai bebas. “Kadonya mana?”             Davina melirik Azka. Gadis itu nyengir kuda sehingga matanya terlihat lebih sipit. “Kadonya sama Kak Azka.”             Azka sudah membopong dua bingkisan besar, meletakkannya di ruang tengah.             “Nggak ada cincin?” Mami yang baru pulang dari acara kondangan langsung nimbrung, ia sempat melirik Azka penuh arti.             Melihat Salwa menggeleng, Azka segera menjawab santai. “Karena perkiraannya masih lama. Jadi, Azka belum sempat beli, Tante.”             Salwa tersenyum lega.             Anna segera menghampiri anaknya dan memeluknya. “Barakallah ya, Salwa. Kamu sibuk banget sekarang, Mami susah sekali nemuin anak sendiri. Yasmin juga, pergi pagi pulang malam. Kalian kayak nggak betah ada di rumah.” Anna melepas pelukannya pada Salwa. “Sekali lagi Barakallah ya anak shaliha.” Mami menyontek kalimat yang di ucapkan Mbok Ratih pada Salwa. Ia sampai mencatatnya di sebuah kertas dan mengejanya berulang kali. “Semoga Tuhan selalu membimbingmu, Mami doakan selalu.”             “Makasih, Mi.” Salwa membalas senyum tulus Maminya. Mata wanita itu sudah berkaca-kaca melihat anaknya sudah tumbuh dewasa, ia segera masuk ke kamarnya sendiri di susul Papi.             “Urusan anak muda ya? Om masuk dulu.” Papi tersenyum menepuk pundak Azka.             Mbok Ratih, Neneng dan Bi Sani sibuk menyiapkan makan malam. Menunya banyak sekali, padahal mereka hanya akan makan malam biasa. Dua gadis itu sudah terlalu besar untuk mengadakan perta ulang tahun, sementara Salwa lebih memilih menyebutnya syukuran. Karena seharusnya ia merenung sebab jatah usianya semakin berkurang di dunia.             Gadis itu melamun.             Azka menghampirinya, “cantik-cantik nggak boleh banyak ngelamun.”             Hubungan mereka sudah mulai cair seperti semula. Salwa tidak merasa canggung lagi. “Makasih kadonya.” Salwa memandang dua bingkisan besar yang di bawa oleh Azka. Kado untuk dia dan Yasmin.             “Sama-sama. Oh, Yasmin kemana?” tanya Azka, sebelumnya ia sudah mengirimi stiker kue tart lewat aplikasi chat pada gadis itu.             “Di kamar. Dia aneh, pintu kamarnya selalu terkunci. Padahal cuma baca buku.”             “Panasaran.”             Salwa mengangkat bahu dan kemudian melirik Azka. Berharap Azka membantunya menemukan sesuatu. Yasmin pasti sedang menyembunyikan sesuatu, hal penting mungkin. *** Azka mengetuk pintu kamar Yasmin. Tidak ada sahutan, akhirnya ia menarik kenop pintu. Kamar itu kosong. Ia melangkah masuk tanpa izin penghuninya. Dulu sewaktu SMA, Yasmin dan Salwa sering sekali keluar masuk kamarnya, tapi Azka di larang melakukan hal yang sama. Salwa yang melarang, katanya kamar perempuan berbahaya di masuki laki-laki asing.             Sekali saja ia melanggar, rasanya tidak masalah. Pikirnya saat ini.             Azka duduk di kursi dekat jendela dan sebuah rak buku, matanya menatap deretan buku. Koleksi buku Yasmin macam-macam. Buku kesehatan, psikologi, ada Alkitab dan juga buku sejarah, buku-buku inspiratif dan disebelahnya… Azka hampir meraih buku itu, tapi kemudian pintu kamar mandi terbuka.             Yasmin keluar, ia memakai dress putih selutut dengan lengan pendek. Rambutnya yang basah sedang di gulung dengan handuk. Bulir-bulir air bening masih menetes di wajah dan lehernya. Gadis itu terkaget melihat keberadaan Azka di kamarnya, laki-laki itu sedang duduk menatapnya kikuk.             “Sorry! Tadi aku ketuk pintu dan… ya, masuk.” Tenggorokan Azka kering mendadak. Ia mengalihkan pandangan ke pintu kamar. Ia teringat Darian Albert saat di restoran waktu itu. Beberapa kali laki-laki Indo itu memuji Yasmin, mamang benar, gadis itu sangat cantik—apalagi dengan wajah bersih polosnya.             “Davina ikut?” tanya Yasmin memecah keheningan. Dia duduk di sisi ranjang namun pandangannya menunduk.             “Iya. Ada di bawah.” Azka sudah bangkit, ia lupa tujuan utamanya datang kemari. Entahlah, ia ingin segera keluar dari kamar Yasmin, ia merasa gerah dan atmosfernya tidak bagus. Tapi matanya kembali terpaku pada sebuah buku yang covernya merah hati dengan tulisan Arab. Letaknya agak tersembunyi, seakan sengaja disembunyikan agar tidak ada yang melihat.             “Yas, itu Al-Qur'an?” tunjuk Azka pada buku yang sempat mencuri perhatiannya.             Yasmin terkaget, gadis itu berdiri menutupi deretan buku di depan Azka. “Ini… ini punya Salwa. Mungkin ketinggalan.” Katanya bingung.             Jarak mereka terlalu dekat, Azka sendiri tak biasa menatap Yasmin sedekat ini. Ia mundur satu langkah ke belakang.             “Iya, Salwa sering baca kitab sucinya di sini.” Lanjut Yasmin. Azka mengangguk percaya. “Ya sudah, ayo kita turun. Salwa dan Vina pasti lagi nunggu.”             “Iya, aku menyusul.”             Azka tersenyum menatap Yasmin sekali lagi, ia segera keluar kamar itu. Sementara Yasmin mengembuskan napasnya perlahan. Ia menatap buku merah hati itu lamat-lamat sebelum melangkah keluar.             Benda itu bukan milik Salwa, tapi miliknya sejak beberapa bulan lalu. *** Makan malam hari ini diramaikan tujuh orang, Tante Mely tiba-tiba datang. Dia menghadiahi aku dan Yasmin gaun dengan model berbeda. Tentu, untukku longdress dan berlengan panjang. Tante memesan dari desainer andalannya, hasilnya lumayan bagus.             “Azka, kapan-kapan rumahku mau di desain ulang dong. Aku nggak suka kamar kerjaku jadi lebih sempit, nggak rapi!” omel Tante Mely.             “Oh iya, Tante. Siap.”             Tante memang sudah kenal Azka sejak lama, mereka terlihat akrab. Sama seperti Mami, Tante mengira aku dan Azka punya hubungan khusus. Tapi kali ini Tante tidak membahasnya, baguslah.             “Mas, kamu waktu itu ke gedung Muallaf Center ya?”             Aku melongo. Azka dan Davina pun sama terkejutnya.             Papi malah tertawa. “Kamu ada-ada saja. Kapan aku kesana?” suara Papi terlihat santai.             “Lho, aku lihat sedan kamu di sana kok. Pas kebetulan aku lagi lewat sana. Plat nomornya sama. Aku nggak salah liat.” Tante Mely kekeh.             Aku melirik ke arah Yasmin. Dia terlihat gugup dan tangannya sedikit gemetar saat menenggak minumnya sampai tandas.             “Yang sering pakai mobil itu kan Papi sama Yasmin.” Mami melirik Papi, “ada apa ini?” kening Mami berkerut-kerut, curiga.             “Oh, itu… Yasmin lagi antar teman. Kami coas di rumah sakit yang sama. Dia ada perlu di sana.” Yasmin menjelaskan, tapi matanya tidak menatap siapapun. Aku tahu, dia sedang berbohong.             “Aku pikir Mas Hadid yang ada di sana.”             Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Yasmin menundukkan wajahnya sampai aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya sekarang. Saat acara makan malam selesai, aku berniat untuk bertanya padanya. Namun dia segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Aneh! Akhir-akhir ini dia bertingkah mencurigakan. Pasti benar, ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.             Tapi apa? Ah, ya sudahlah, lambat laun dia pasti akan cerita.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN