Perlahan tapi pasti, suasana rumah agak membaik, maksudku lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Azka datang membawakan bingkisan spesial untuk Yasmin, isinya aku tidak tahu. Mereka berdua kompak menyembunyikannya dariku. Awas saja nanti. Mereka sengaja membuat aku penasaran setengah mati. Tapi, kami bertiga tetap tertawa bersama, berkumpul di beranda rumah dan menghabiskan makanan yang di buatkan oleh Mboh Ratih. Tidak lupa, ada tiga mug cokelat hangat spesial buatan Mbok Ratih. Setelah Azka pergi aku ke kamar Yasmin, malam ini aku ingin tidur dengannya dan memeluknya. Dia satu-satunya saudara di rumah ini yang aku miliki. Namun niatku berganti saat melihat Yasmin sudah terlelap di atas ranjangnya dengan tangan memeluk sebuah Al-Qur’an, kitab suci kami. Rasanya… aku seperti ditampar keti

