Dunia Memang Sempit

1061 Kata
Chika tiba di kediaman kedua orang tuanya tak berhentinya dia tersenyum karena sudah sangat-sangat merindukan tempat ini apa lagi dua orang paruh baya di dalamnya siapa lagi kalau bukan mama papa nya . "Assalamualaikum mama papa anak kesayangan kalian datang ." dengan tersenyum langsung memeluk kedua orang tuanya secara bergantian . matanya langsung tertuju pada orang yang duduk di depan nya . " Wah kak Reza ada di sini juga " ujar Chika. Chika langsung menyalami bunda dan Reza . Bunda sangat terkejut dengan kedatangan sang wanita ini . Bagaimana bisa ini terjadi kenapa selama ini aku tidak tau jika yang pernah dulu di jodohkan dengan Reza adalah Chika anak sahabatku waktu SMP . Lain halnya dengan Irvan yang awalnya senang sekarang berubah menjadi marah tapi iya tahan karena di depan mertuanya . " Ya Allah jeng jadi wanita cantik yang sempat akan kita jodohkan itu ternyata Chika , mereka sudah sangat mengenal jeng karena satu university di new York dulu " ujar bunda . " Serius bunda ... hahahah mama gak pernah cerita sama aku " ujar Chika dia tidak tau bagaiman hati suaminya saat ini mendengar dia berkata seperti itu . " Hehehe maaf ya sayang mama berfikir nanti kalau kalian menikah pasti kalian akan menetap di sana dan jarang balik ke Indonesia mama gak mau , karena Reza sudah memiliki bisnis banyak di sana pasti akan sulit mengatur waktu untuk kamu itu dalam pikiran Tante Reza maaf ya " mama tidak enak hati mengatakan sejujurnya . Reza tersenyum dan mengangguk padahal hatinya sangat terluka "kenapa mama tidak bilang dari dulu ya kalau aku dijodohkan dengan Chika pasti aku terima dengan lapang d**a aku tidak tau wanita itu dia cinta pertama ku " . " Tidak masalah Tan , mungkin memang bukan jodoh sekarang Chika sudah mendapatkan pendamping yang sempurna setia dan sayang padanya aku sangat bersyukur , akhirnya Chika bahagia dengan pilihannya. Memang dulu aku pernah suka lebih dari adek tapi memang sulit untuk ku gapai. " ujar Reza menunduk dan menitipkan air matanya . Susana jadi canggung Akhirnya papa memecahkan keheningan ini " ayo semua kita makan siang dulu yuk , sudah di siapkan oleh istri tercintaku masakannya sangat enak loh " .. "Ah papa bisa saja mama jadi malu tau ." ujar mama tersipu . Kami menuju ke meja makan Alif sudah aku letakan di depan televisi berdekatan dengan meja makan jadi bisa memantau juga . Jangan ditanya bagaimana hati Irvan sekarang wajah yang tidak bersahabat lagi papa melihatnya tidak enak hati telah membahas perjodohan tadi . Mama kenapa harus di bahas sih kasihan kan mantu kita . Papa memaklumi Irvan sekarang karena memang salah telah membahas perjodohan di depan suami anak nya sendiri . Itu kan masa lalu kenapa harus di bahas lagi coba . **** " Nak Irvan gimana kerjaan nya di Kalimantan apa sudah selesai semua nak ...??? " ujar papa . Mereka bertiga duduk di balkon sambil menikmati kopi . Reza tengah menyimak pembicaraan kedua lelaki itu . " Alhamdulillah pa , Irvan melakukan semuanya dengan baik memang masih ada sedikit lagi tapi bisa di handle oleh orang kepercayaan aku di sana pa . Kapan-kapan kami akan ke sana pa . Doain ya pa semoga lancar tidak ada kendala perusahaan kita disana ". ujar Irvan . " Pasti dong kamu mencari nafkah untuk anak dan cucu papa jadi lebih giat lah bekerja ." ujar papa sambil menepuk bahu Irvan . " Kalau kamu reza bagaimana dengan perusahaan kamu yang sekarang , apa betah berada di sini.? " Papa bertanya . " Iya om aku betah , aku cukup belajar banyak dari om juga berkat kerja sama kita om ." ujar Reza . Ya memang mereka bekerja sama semenjak Reza pindah kesini entah bagaimana , papa tidak pernah menyangka klien nya ternyata anak dari sahabat istri nya sendiri . Mereka menikmati obrolan cukup lama hingga sore hari pukul lima . Akhirnya Reza dan bundanya berpamitan kepada mama papa dan juga Chika Irvan. **** Irvan merasa lega karena sudah tidak melihat batang hidung Reza lagi . Dia sangat susah mengendalikan emosi kalau menyangkut soal cinta . Padahal Reza tidak pernah menyinggung perasaan nya tapi entahlah yang nama nya laki-laki pasti dianggap serius apapun itu . Chika memaklumi sang suami terlebih dia mengetahui perasaan Reza yang sebenarnya yang telah iya simpan selama itu . " Mas kamu belum mandi .? " ujar Chika . Irvan tampak terkejut karena pertanyaan dari sang istri . " Eh sayang iya ni mas mau mandi. " " Kenapa melamun .? Hhhmmm.... " Chika bertanya.. Irvan terdiam dan menunduk " mungkin kalau kamu tau di jodohkan dengan Reza pasti kamu terima kan dulu , Bagaimanapun mas seorang duda . Pasti kamu mencari yang masih lajang seperti Reza contohnya." ujar Irvan dia tidak tahan lagi menyimpan pertanyaan yang ada di kepalanya saat tadi . Chika mendekat dan memeluk suaminya " Mas tenang aja , aku sangat mencintai suamiku ini . Tidak mungkin kan aku terima perjodohan kita kalau aku gak sayang . Lagian kak Reza aku sudah anggap Abang sendiri karena memang aku anak tunggal tidak memiliki saudara , aku juga baru tau perasaan nya sekarang padahal dulu kami memang saling bersama tapi tidak ada yang mencintai satu sama lain. " " Tapi kamu kan baru tahu sekarang, pasti kamu menyesal ya mas nikahin .?" ujar Irvan . Chika mengecup bibir suaminya yang menurut dia sangat cerewet itu . " Kamu lucu kalau lagi cemburu sayang " Chika terkekeh geli melihat wajah sang suami . Irvan Langsung membungkam bibir sang istri enak aja ngeledekin suami sendiri dosa tau . Mereka saling mengecap satu sama lain saling bertukar salivah disana , awalnya penuh dengan kelembutan tapi sekarang Irvan menjadi ganas dan menciumi leher sang istri dengan beringas. Tak lupa meninggalkan jejak di sana . Chika sangat menikmati permainan panas mereka . Entah kapan mereka membuka pakaian yang jelas tidak ada dari mereka yang memakai penutup apapun sekarang. Membuat nafsu Irvan semakin menjadi ingin mencumbui sang istri . Chika sangat terlihat seksi sekarang d**a yang penuh menggantung di depan mata , p****t yang sangat padat dan berisi menambah kesan keseksian seorang wanita . Entah berapa lama mereka bercinta yang jelas sudah pukul tiga pagi mereka belum berhenti juga . Tak henti-hentinya Irvan berterima kasih pada Chika dan terus mengecup keningnya setelah permainan mereka berdua . Yang jelas sekarang wajah Irvan sangat senang .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN