Jacob dan Jeje sudah berada di salah satu restoran ternama yang ada di kota ini. Jeje tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat mewahnya restoran yang dikunjunginya itu. Di luar masih turun hujan. Jadi Jeje masih menggunakan jaket milik suaminya. Tubuh kecilnya nampak tenggelam dan terlihat sangat lucu di mata Jacob. Jacob mencoba menahan tawanya. Ia memasang wajah dinginnya. Tidak ingin memperlihatkan jika dirinya tertarik dengan tingkah istrinya yang terlihat sangat menggemaskan. “Kamu mau pesan apa?” “Terserah kamu saja, aku juga tidak tahu. Yang penting pakai nasi ya.” Jacob menggelengkan kepalanya. Tapi memang kehidupan mereka itu berbeda. Membuat Jeje belum terbiasa dengan hal baru yang ada di sini. Sepertinya Jacob harus bersabar agar bisa melihat bagaimana istrinya berubah

