MEETING DI JAM TIDUR

1581 Kata
POV: RAINED Bagaimanapun gue harus tetap melakukan tes, gue nggak mau bohong sama bude, apalagi ke kak Jullien, kakak gue pasti minta hasil ceknya. Alhasil gue tes pagi-pagi sekali pas keliniknya baru buka, nggak ingin ketemu seseorang yang gue kenal. Malu tahu! Dan hasilnya nggak langsung keluar hari itu, aku harus menunggu sampai tiga hari. Hari ini, gue ada tiga meeting, meeting terakhir bersama Abang gue, konsultan pajak, Notaris dan Lawyer untuk pembelian salah satu aset di Bali, nggak lupa sumber dana kami Bu Sri harus diikutsertakan di setiap acara yang membicarakan masalah uang. Selain itu kami juga akan membicarakan masalah keuangan yang bocor di Bali. Andre orang yang gue percaya untuk mengelola aset di Bali sudah datang dari sore tadi, tapi Bang Lukman minta rapat diundur habis Isa. Memang pekerjaan seperti kami ini tidak bisa mengandalkan jam kantor manusia normal. Waktu melewati ruangan keuangan—kebetulan rapatnya di lantai lima lantai yang sama dengan kantor manajemen dan keuangan, aku mendengar suara cekikan kak Jullien. Gue berdiri di ambang pintu ruangan itu dan melihat kakak gue sedang bergosip sambil cicipin makanan di meja panjang ruangan itu. Lagian bang Lukman ngapain bawa bini sih? “Kak tunggu aja Abang di rumah, ngapain diikuti sih ke kantor. Suami kakak nggak akan selingkuh.” Senyumnya lenyap, mukanya gampang sekali berubah dari ramah jadi kejam ketika melihat gue. Kesannya yang memberikan aura negatif itu gue. “Memang suamiku nggak akan selingkuh!” Sambil ngunyah dia melanjutkan, “Aku ke sini buat ketemu kamu.” “Nah lo Pak Rained!” Bu Sri menghampiriku. Amanda dan Feri, dua asistennya bergantian berdiri dari duduknya. Bu Sri memutar bahuku dan mendorongku sambil bilang. “Mungkin perlu ada pendamping keuangan yang ikut mendampingi di sesi bersama kakak tercinta ini pak?” Kak Jullien berdecak dan ngedumel diiringi ketawa ibuk-ibuk keuangan. “Aku heran juga, kalian kok belum pulang sih?” “Tanggal tua pak. Panen kerjaan kita, bapak ini nambah-nambahin pula suruh rapat. Nanti kalo anak-anak nggak gajian kami semua kena donder pak.” Amanda si cerewet, yang jadi musuh satu kantor nyerocos nyusul kami di lorong menuju ruang rapat lima. “Ya maaf Manda, ini juga supaya besok-besok kamu masih punya proyek buat dikerjain.” Jawabku mulus. Bu Sri hanya bisa tertawa-tawa. Rapat nggak lama, karena kondisi kami sudah pada capek semua, rencananya akan lanjut besok pagi. Bang Lukman tipe bos yang nggak pernah memaksakan deadline sampai mempertaruhkan kesehatan para karyawan, kerja itu secukupnya saja, dia sering berkata seperti itu, tapi buktinya, kerjaan numpuk masak iya mau tambah ditumpuk? Kata-kata Abang itu bagiku seperti janji pejabat. Ngomongnya memotivasi buktinya, semua kerjaan diembat, meeting sana meeting sini dijabanin, habis meeting kerjaan di lempar ke aku, Bang Untung dan Romeo. Biar kata kakak sendiri tapi kalo sudah jadi bos suka seenaknya. Gue menghempaskan tubuh di kursi santai ruangan Bang Lukman. Menerawang malas pada penghargaan-penghargaan berkaitan dengan pembangunan ramah lingkungan, lalu artikel-artikel tentang kerja sama perusahaan kami dengan pemasok bahan bakar di indonesia, foto Romeo menjadi pembicara di sebuah forum bisnis, Lalu ada foto-foto gedung-gedung megah yang memiliki gaya arsitek khas di seluruh wilayah indonesia. Di rak-rak pajang ada foto keluarga besar kami, dan foto the bachtiar tentunya, dalam foto tersebut mereka saling merangkul, dan demi kecambah kering, di foto itu Sora masih kecil. Gue meringis, pantes aja nggak ada yang memberitahu gue kalo anak pertama Bang Lukman cantiknya minta ampun. Kak Jull masuk dengan piring berisi setumpuk cemilan, seorang OB menyusulnya dengan tiga cup kopi yang akhirnya semua itu dihidangkan di meja kami. Bang Lukman masuk ke ruangan paling belakang. Aku masih santai, leherku bersandar di punggung kursi, berusaha tidak terusik dengan mereka. “Gimana hasilnya Rained?” tanya Bang Lukman. Kak Jull segera memalingkan pandangan ke arah suaminya dan memberikan tatapan tajam. “Lo udah tes? Bude udah ngomong dong?” Sepertinya Bang Lukman belum ngabarin bininya. “Maaf sayang, Rained udah cerita ke aku karena aku sibuk nggak sempat cerita.” Dia mengedipkan mata ke bininya, sambil jalan mencuri satu kecupan di pipi, gue yakin kakak gue nggak akan mampu marah sama suaminya. Iya kan? Ini bapak-bapak paling bisa nutupin kesalahan. Mesti belajar gue! “Hasilnya tiga hari lagi. Lo sama bude kebanyakan denger yang jelek-jelek tentang gue, kak gue ini ada baiknya juga, gini-gini gue nggak sebego Bedun. Gue nggak begok pilih perempuan, gue tahu mana yang berdagang di klub mana yang butuh cinta.” “PD banget kayaknya lo sama hasilnya, kalo gue liat sepak terjang lo sih…” “Heeeeh.” Gue bersergah panjang karena muak. “Kak gue nggak se-b******n itu!” Kak Jull akhirnya diam. Merasakan ketegangan kami Bang Lukman duduk di sebelahku. Menarik tanganku dan memberikan aku cup kopi hangat yang kayaknya dibeli kak Jull di lantai dua. “Kamu udah dewasa Rained, Kamu memang sekolah lebih baik dari kami semua, tapi bukan berarti pendapatmu paling benar, di sanalah kamu harusnya membuka diri untuk menerima masukan orang lain, apalagi mereka orang yang menyayangimu.” Gue yakin kopi ini nggak akan seenak kelihatannya karena pikiran gue lagi mumet. “Bang gue harus bagaimana? nikah? nggak Bang, gue nggak bisa. Gue masih muda, kalo menurut kalian menikah adalah pencapain menurut gue nggak!” “Kenal aja dulu sama satu cewek, coba serius, coba itu aja dulu, kakak cuma mau kamu nyoba Rain.” Gue cuma diem, gue sadar betapa susahnya menjalani hidup dengan ekspektasi orang lain. Tapi gue sayang banget sama kakak gue, gue rasa bisa ngomong apa aja sama dia, sebab kak Jull perempuan yang akan menerima apapun sikap dan omongan jahat gue, dia manusia yang nggak akan pernah ninggalin gue. Oke, gue ngaku deh gue benci karena dia cerewet dan ribet, tapi dia segalanya buat gue, gue nggak suka bikin dia sedih. Gue tahu kalo gue terus membantah, gue akan menambah beban pikiran kakak gue, jadi gue memutuskan untuk diam dan mendengarkan aja. “Mila apakabar?” Tiba-tiba aja kak Jull nanyain Mila. “Baik kayaknya.” “Hubungan kamu sama dia tuh gimana?” Pertanyaan dengan nada santai tapi efeknya sama tajamnya dengan kecerewetan kakakku yang tadi-tadi. “Baik-baik aja, kita fine.” Kak Jullien duduk di kursi yang terpisah. “Kamu sama dia aja, ajak jalan gitu, ajak sirius. Toh udah saling kenal kan?” “Dia nggak akan mau kak, dia punya prinsip hidup kayak aku, dia juga nggak mau nikah.” Kak Jullien mengibaskan tangannya. “Kamu kan nggak pernah ngajakin dia serius, aku juga dulu gitu kok. Tapi karena mas Lukman nunjukin keseriusannya, aku jadinya yakin kalo sama dia aku bisa ngejalin rumah tangga.” Aku menoleh ke Bang Lukman, dia tidak bereaksi apa-apa, dia mengambil rokoknya, dan secepat itu pula mata kak Jull jadi seperti bilah pisau, kepalanya menggeleng pada suaminya. Bang Lukman memasukkan kembali rokoknya. “Semandiri-mandirinya lelaki, mereka semua butuh perempuan yang mengingatkan agar tidak melakukan hal berlebihan agar tidak merugikan diri kita sendiri. Lelaki itu selalu punya masalah dengan pengendalian diri, jadi kita butuh pendamping yang bisa membantu untuk mengingatkan bahwa sesuatu itu melampaui batas. Contohnya…” dia menunjukkan rokoknya. “Nggak enak dong dikendalikan.” “Yang bablas emang enak, tapi merugikan kan? Iya kalo yang dirugikan diri sendiri, kalau dampaknya ke orang-orang yang kita sayang? Misalnya kamu ONS terus amit-amit kena penyakit. Yang mati duluan bukan kamu Rain, tapi aku dan Bude karena serangan jantung.” Astaga. Kita bisa stop pembicaraan di sini nggak. Gue mulai gelisah, duduk gue kayak orang ambeien menahun. Dan satu-satunya cara untuk menghentikan obrolan yang menyudutkan gue ke dasar jurang curam gelap gulita ini adalah dengan mengiyakan. “Iya, setelah hasil tesnya keluar. Gue akan serius cari cewek.” Aku diam sebentar. “Tapi kalian semua nggak usa atur-atur tipe aku. Mau dia cewek tomboy, feminim, orang miskin, orang kaya, konglomerat, diplomat, pns,, rambutnya cepak, mulet, panjang, terserah aku, yang penting perempuan.” “Yang penting seiman dan sehat wal’afiat.” Kakak menambahkan, dengan senyuman lebar penuh kelegaan. Aku meringis ngeri melihat senyuman itu. Apa Bang Lukman bener-bener suka diatur-atur sama kak Jullien? Kalo gue punya istri yang tabiatnya kayak kakak gue, udah beneran gantung diri kali gue. Ngomong-ngomong soal seiman, gue jadi keinget keponakan. “Kemungkinan aku ke Bali.” tiba-tiba banting obrolan kayak gini, membuat kedua kakak gue itu jadi melongo kayak terkejut dikit, padahal harusnya biasa aja ya. “Aku nggak bisa sering rapat di Jakarta tau-tau balik ke Brussel, seenggak senangnya aku sama Bali, aku tetap harus ke sana, meninjau langsung. Sora mau ikut, katanya dia ada kegiatan sama temen-temennya.” Bang Lukman langsung menunduk memijat ujung hidung tempat biasa kacamatanya tersangga. Kak Jull kali ini tidak bersaura, dia diam, benar-benar menunggu reaksi suaminya. Kami sama sama menunggu beberapa detik Bang Lukman memberikan reaksi. “Ya udah, asal sama kamu, Abang sih yakin kamu bisa jaga Sora.” Ada yang aneh waktu dia melirik detik itu. Gue ngerasa lagi di serahin anak perempuan sama bapaknya. Gue tiba-tiba merinding anjirr. Beberapa detik gue mencerna, untuk detik detik krusial gue mengira Bang Lukman mau gue nikah sama Sora. Yang benar aja. Ya gue kan konslet, suka salah tanggap. Gue akhirnya tertawa garing. “Kayak apa aja Bang, gue kan emang omnya pasti gue jaga lah, gue nggak takut sama lo, gue takut sama ibuknya.” Gue pun bangkit berdiri. Mata kak Jull mengikuti setiap gerakan gue. “Kakak serius Rain, jangan main-main lagi, cari istri yang bener.” Gue tersenyum miring, “Gue tergantung titit aja sih kak.” Gue melihatnya menyambar bantal sofa, sedetik sebelum gue menutup pintu. Ah cuma bantal. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN