TIKET KE BALI

2508 Kata
Pov: Rained Grup alumni SMA Garuda Luhur, ribut bengat. Gue left grup itu karena obrolan mereka terlalu ramai mengganggu kerjaan gue. Ya, sebut aja gue sombong! Gue orang sibuk soalnya. Setiap pulang gue mengingat kembali virus j*****m itu, kayaknya memang gue perlu mulai shalat lagi deh, tapi GR banget mau mulai shalat di rumah, terus minta tolong Austin buat ngajarin, diliatin Bude dan Pakde lagi, ih, nggak mungkin, dimana harga diri gue. Semenjak perdebatan beberapa malam lalu Bude diemin gue. Sakit banget deh, siapa sih yang harus gue beritahu bahwa gini-gini gue butuh pelukan juga. Dikira gue nggak khawatir sama hidup gue sendiri, ya gue khawatir! Orang kayak gue gini dinial aja. Ke Bali nanti gue sama Sora, gue coba lihat tiket dan pesan sendiri, males minta orang kantor belikan tiket, nggak mau juga gue ganggu waktu istirahat mereka. Tiket yang masih available hanya ada di penerbangan terakhir. Pas mau cek out pembelian gue lupa nggak ada kartu identitas Sora. Ini sudah jam 2 malam, tapi kalau nggak dipesan sekarang takutnya habis. Masa bodohlah, gue telpon aja. “Ashalamualai–kum.” Suaranya beneran berat sekali, serak dan manja. “Wa'alaikum sayang.” Ada jeda sejenak, gue yakin dia sedang memastikan siapa yang menelponnya hampir pagi begini. Mungkin dia pikir cowoknya. Benar saja reaksinya kayak orang habis kaget langsung kecewa. “Eh ommmm,” panggilnya. “Ngapain sih om nelpon jam segini, nggak bisa besok aja, besok aku jawab deh, aku ladenin deh, ini ngantuuuuk om, aku habis dimarahi ayah, aku mau tidur,” rengeknya kayak dulu pas kami masih anak-anak, dia suka merengek begini. Aku senyum-senyum aneh. “Aku udah bicara sama Abang, dia ngijinin asal sama aku, aku sekalian ada kerjaan. Kirimin foto kartu identitas mu, aku pesankan tiketnya.” “Oh.” suaranya menggantung. “Tapi om, aku sudah ada tiket besok pagi jam 6.” “Ya ijin aja sana sama ayahmu, pasti nggak diijinin,” tantangku. Dia diam, beberapa detik. “Terus hotelnya gimana? Aku udah pesen hotel juga.” Dan gue belum beritahu ini sama Bang Lukman, gue nggak pesen hotel, gue rencananya mau nginep di rumah Bali, lagian gue rasa dia nggak akan repot menanyakan gue mau tinggal di mana, gue pemilik hotel dan villa di Ubud Payangan, terserah gue mau nginep di mana suka-suka gue. Rumah lama kami punya banyak kenangan, Sora juga pernah beberapa kali menginap di sana ketika kecil dulu. Tapi Sora mungkin nggak punya kenangan yang sama seperti gue di rumah itu. Sejujurnya gue nggak sanggup pergi ke sana sendirian, gue pasti melo. Gue butuh pengalih, gue butuh orang untuk nemenin dan mengalihkan gue dari semua kenangan di sana. Ah, seharusnya gue nggak berharap banyak, Sora cuma bocah 20 tahun yang ingin pacaran di Bali. Dan gue ke bali buat berdamai sama semua kenangan tentang mama papa yang masih tertinggal di sana. Gue akan biarkan dia pergi sama pacarnya, asal nggak sampe hamil, terserah aja dia mau ngapain juga. “Kita tinggal di rumah Bali, nggak berdua, ada Putu, Sueb dan Bli Bagus.” Dia nggak menanggapi. Kayaknya sih doi kecewa banget. Lalu tiba-tiba gue mendengar suara tangis. “Om sama aja ternyata sama ayah, ngasihnya pilihan-pilihan yang nggak bisa aku pilih,” isaknya. “Aku nggak minta kamu milih, itu satu-satunya cara kamu bisa ke Bali, cuma tempat tinggal dan jadwal pesawat aja yang beda. Sisanya kamu boleh main sama temen-temen kamu sepanjang hari. Aku bukan ayahmu Sora, kamu juga udah dewasa kan, buat apa aku atur-atur, aku juga bukan suamimu.” Sesenggukannya berlahan memelan. “Ya udah aku kirimin KTPku.” Seperti biasa, dia menutup telepon dengan nada tit yang menggantung. Aku cuma bisa menghela nafas. Sora… **** Meeting yang semalam belum kelar, kami babat habis sampai sore hari. Gue butuh jeda, kepala gue panas banget di ruang meeting tadi. Gue beli kopi, duduk tenang nyeruput kopi sembari liat media sosial Romeo yang lagi kasmaran sama mbak-mbak dagu lancip. Tiba-tiba dapet notif dari klinik tempat gue test. Nggak pake ba-bi-bu tangan gue langsung klik hasilnya. Alhamdulillah…. Alhamdulillah… ya Allah terimakasih masih kau sisipkan kebaikan untukku. Nggak pernah gue selega ini, sampai berkaca-kaca. Pas wisuda dulu gue juga nggak sebegini rasa leganya. Ya Allah jauhkan hamba dari virus j*****m itu. Gue segera mengabarkan Kak Jull dan Bude supaya mereka lega, ngapain gue jauh-jauh sekolah kalo masalah hal simpel se-biologis itu gue nggak tau cara ngakalinnya. Gue nggak bisa lah disamain sama Bedun dalam mencari cewek. Gue selektif banget anaknya, dan gue nggak bisa dijebak, menjebak cewek sekalipun gue pilih-pilih yang clean anjirlah, masak iya seorang gue kena penyakit menular. Kak Jull mengirimkan video dirinya sedang syujud syukur. “Alhamdulillah ya Allah.” Memang seneng ribet kakak gue. Lalu Bude mengirimkan Voicemail yang gue yakin itu bikinnya dibantuin Austin atau Bias, yang sedang main ke rumah. –”Alhamdulillah, terimakasih ya Allah atas rizki sehat yang engkau berikan kepada anak-anakku. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, berikanlah anak-anakku kesehatan yang sempurna, jasmani dan rohani. Lindungilah mereka dari segala penyakit yang berbahaya, dari musibah, dan dari hal-hal yang dapat membahayakan hidup mereka. Ya Allah, jagalah hati dan akhlak anak-anakku. Jauhkanlah mereka dari pergaulan yang buruk, dari lingkungan yang dapat menyesatkan, dan dari segala perbuatan yang Engkau murkai. Lindungilah mereka dari fitnah dunia yang dapat menjerumuskan ke dalam dosa dan kebinasaan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin” Dah gue dorong udah kopi gue. Nggak pengen ngopi lagi gue, sepet-sepet dah ni mulut. Semua orang rumah isinya memojokkan gue aja. Perasaan inilah yang gue nggak suka, perasaan jadi satu-satunya anak penuh dosa di keluarga gue. Kadang-kadang ingin rasanya bablas sekalian, supaya satu rumah kalang-kabut, kalo aja gue nggak ingat Bude dan Kakak gue punya riwayat darah tinggi yang sama. Dibawah videonya kak Jullien mengingatkan, —Mulai cari jodoh ya, jadi anak baik. Gue memukul jidat sendiri. Kenapa gue bisa lupa soal yang satu itu. Alhamdulillah nya gue nggak kena penyakit, yang ambyarnya gue harus nyari jodoh! Selama ini gue mendeteksi perempuan dari fisik aja, gue bener-bener buta kalau disuruh liat perempuan dari perangainya, gue ampun deh nggak tahu gue, buat gue kalo dia atraktif ayok kita ngamar, udah gitu aja. Gimana caranya cari cewek yang bisa jadi istri, yang siap menemani seumur hidup, perempuan yang gimana yang mesti gue cari? Yang baik? Oke, baik itu bisa spesifik, yang cocok sama gue, lah gue suka ke club masak iya gue cari calon istri yang juga suka ke klub? Buta gue masalah mencari calon ini! Derrrttttt….drrtttt…. Ada ketukan aneh di hati gue, ada perasaan kayak cessss yang nggak kedengeran, tapi ngerti kan kayak kesetrum tiba-tiba liat yang nelpon itu Sora. “Assalamualaikum,” duuuuh, enaknya mendengar salam ini ditelinga gue. Bisa video call nggak ya? Gue alihkan panggilan telepon ke vc, eh ditolak sama dia. Dia kembali menelpon lalu gue angkat aja. “Om jangan video video deh, aku sedang beres-beres. Ini om mau jemput jam berapa ya?” Judes banget sih. Aku menghela nafas. Penerbangan kami 21.30. “Habis magrib aja.” Suara bete karena vc ditolak kentara banget. Gue coba berdaham menenangkan diri, gue kayak ditolak cewek anjir. “Menghindari macet kan.” “Om ini di mana?” “Tadi nggak mau video call.” “Ih, gimana om, aku lagi siap-siap nggak enak diliatnya.” Gue kan jadi bertanya tanya, dia lagi pakai apa emangnya? Tengtop ama Cd doang, mantep itu. “Aku lagi ngopi ini udah mau pulang, packing bentar terus berangkat ke kamu.” “Oke aku tunggu.” Tit, mati. Begitulah Sora, kalau urusan udah selesai dimatikan itu telpon. Sora selalu membuka obrolan dengan salam dan menutup obrolan seenak. **** Gue terselamatkan karena nggak ada orang di rumah, kata Anti yang bantu-bantu di rumah Bude,Pakda sedang ke rumah Handi, sedangkan Austin pergi ke pondok. Gue cepetan aja mandinya, cepetan beres-beresnya. Tepat jam tujuh gue udah sampai di rumah nomor 225 yang sudah jauh berbeda dari yang gue ingat. "Assalamualaikum," Akhirnya gue kembali menginjakkan kaki yang lelah berkelana ini ke rumah nomor 225. Rumah itu nggak nambah gede, tapi berubah dari konsep minimalis jadi open tropis, rimbun, hijau, bercorak cream kekayuan. Tipikal rumah yang nyaman aja dipandang mata, dengan tata ruang yang rapi, terlihat terbuka dan bersih. Masuk ke dalam dikit ada area foye, melangkah lebih ke dalam konsep berubah jadi little forest. Biasanya foye-foye umumnya yang gue liat dihiasi marmer mahal, vas bunga besar tapi voye rumah ini kiri dan kanan ada air terjun yang mengalir seperti rintik hujan yang merembes ke tembok, lalu dinding dinding kayu yang ditumbuhi tanaman merambat, bukan vertikal garden biasa, ini beneran tanaman menjalar. Berapa budget dan perawatan tanaman seperti ini? Sebuah dinding dibuat seakan sebuah pohon keluar dari dalam tembok, pohon itu bukan cuma ornamen tapi juga rak buku, rak piala dan piagam Bias. Rumah ini open space memang, terbuka, dan kelihatan moderen dari luar tapi ketika masuk nuansanya jadi berbeda, jadi lebih hangat, penuh tumbuhan, cahaya yang masuk nggak tanggung-tanggung memenuhi ruang tamu sampai area dekat tangga dengan bordes yang rendah. Nggak heran gue rumah ini cuma pake kipas angin antik, Bang Lukman memang selalu teguh dengan konsepnya ramah lingkungannya. Dia anti banget pake AC, orang yang nggak kenal-kenal banget sama Abang gue pasti berpendapat dia pelit. Sejujurnya rumah ini cukup simpel tapi banyak yang bisa dilihat, kayak semua isinya tuh karya seni. Di dinding pemisah ruangan yang dijadikan ambient lighting ada lukisan keluarga mereka. The Bachtiar. Lukisan tersebut hanya arsiran pensil, tapi dibuat 1,2 x 1,5 m, Sora di gambar itu kira-kira masih smp lah, masih pakai kawat gigi di lukisan itu dia tersenyum lebar, lalu Meyda masih sangat kecil dari kuncirannya gue menerka usianya sembilan tahun, di usia itu dia masih bisa dikendalikan kakak gue. Bias selalu statis dengan kriwil-kriwilnya, dan yang mengecewakan kakakku terlihat paling cantik di gambar itu, soalnya yang gambar Bang Lukman, dia kan dari dulu emang udah dipelet sama kakak gue. "RAIN…RAIN…" Gue terlonjak kaget di depan lukisan the Bachtiar. Mundur dikit gue untuk bisa melihat siapa yang seenaknya teriak itu. Ternyata Neneng. Hebat, wanita ini masih bisa lari ke gue untuk kasi pelukan. Ah, baunya, bau bawang dan gorengan, tapi memang inilah Neneng. Semua yang berbaur di tubuhnya adalah wewangian seorang perempuan hangat penuh cinta, yang kalau nggak ada dia, rumah 225 ini akan terasa berbeda. Bang Lukman dan kak Jull sudah menganggapnya keluarga sendiri. Dia mengasuh Sora, Bias dan Andromeda sejak kecil. Aku tidak bisa menahan senyuman lebar. Neneng ini dari dulu sampai sekarang tuanya nggak berubah. Dia punya tipe wajah yang dari muda sudah tua, jadi pas tua mukanya nggak ngagetin. Neneng mundur satu langkah setelah memelukku, tangannya masih mengusap punggungku. “Pantes aja, Kakak bilang om Rained tambah ganteng.” “Neneng kapan sih aku bilang gitu?” Sora berlari, sambil menaikkan roknya ketika menuruni tangga. “Om,” panggilnya penuh senyuman dengan pipi merona. Awwwwh… tiada yang indah selain Soraya Bachtiar. “Hai,” kaku gue, nggak bisa ngomong, mendadak gagu. Gue mending ngomong di telpon lah kalo hadap-hadapan depan Sora gini gue grogi. Rambutnya bervolume di cat coklat, bergelombang, wajahnya fluppy dan bibirnya, wah…., kissable kalo menurut gue. Lipstiknya berwarna lebih gelap menampilkan kesan hangat di wajahnya, tapi jangan lupa bibir itu selalu plumphy. Dia menggunakan kaos putih, rok warna tanah. “Aku pamit ke ibuk ayah dulu ya.” Di tangga Bias menyeret koper besar kakaknya. “Om, lo lah yang bawa ini. capek, lagian kakak bawa apa sih?” Si keriting ngedumel sendiri. “Itung-itung Exercise.” Gue melempar kunci mobil, dia menangkap dengan kelimpungan. “Om!” panggilnya kaget, tapi berhasil juga ditangkap kuncinya. “Bahaya Rain, ayo ikut, kita makan dulu.” Neneng berjalan mendahuluiku, sementara Sora sudah melintasi ruangan di belakang lukisan the Bachtiar. menuju ruangan kecil dengan bebatuan alam disekitarnya, itu Mushola keluarga mereka. Ada kolam ikan yang dibuat seperti parit mengelilingi area dapur, tempat makan, ruang terbuka dekat kolam renang dan juga mushola. Ada-ada aja kan ide arsitek? Dan ada rahasia apa dibalik bapak-bapak yang suka ikan koi? Kak Jull baru aja bangkit dari duduk masih pakai mukena, Sora nyamperin kedua orang tuanya untuk salaman. Dia salaman sama Kak Jull, sementara Bang Lukman nunjuk ke luar ketika anaknya mau masuk area mushola. Maksudnya nanti aja pamitan, ngobrol-ngobrol dulu. “Makan dulu yuk.” “Ibuk nanti telat,” rengek Sora. “Sebentar kok, ibuk tinggal siapin aja, lauknya udah jadi.” Sora menggeleng, dia memperlihatkan tiket pesawat yang sudah gue kirimkan. “Tinggal sejam lagi take off. Belum nanti kalo macet.” “Udah Yang, nanti aja biar makan di bandara juga kan nggak apa-apa.” Bang Lukman nyusul keluar, melewati beton penutup parit ikan koi, menuju area dapur. “Udah cek di hotel ada kamar kosong?” Dia mengira kami akan menginap di hotel keluarga. Aku menggeleng, “Rencananya mau tinggal di Canggu, Ada Bli Bagus, Putu, Sueb.” Aku memandangi kakaku menunggu reaksinya. Dia bereaksi tenang, hanya mengangguk sekali, lebih fokus pada anaknya. Tangannya masih di pergelangan tangan Sora. “Tapi makan ya kak, kamu dari tadi siang itu udah sibuk banget, ibuk sudah bilang jangan buka toko hari ini kamunya kekeh.” “Iya buk nanti makan.” “Obat maag udah dibawa?” Rempong emak-emak satu ini, Sora sudah dua puluh tahun, dia sudah dewasa, di tempatku tinggal sanah, anak umur se-Sora udah tinggal sama om-om berduit, sudah dibelikan jet pribadi dan nggak akan maag seumur hidupnya. Sora mengangguk malas, ibuknya rempong. Bang Lukman mengulurkan tangan memeluk dan mencium pelipis Sora. “Jaga diri, ingat shalat.” Sora menyalami ayahnya. “Iya ayah.” Kami diantar sampai ke depan. Cuma Meyda yang nggak turun, udah kayak mau perpisahan kemana aja, mau ke bali doang, satu jam juga nyampek. Sora pastinya sudah sering keluar negeri juga. Mereka kaya banget padahal, tapi masih norak aja. Kak Jull menahan tangan gue ketika mau pergi. Dia mengusap ujung Hudson Varsity Jacket gue, berbisik ke d**a gue. “Willow dan Keni sudah punya banyak anak-anak, semoga mereka ingat kamu.” Lalu senyum mengembang lebar sekali padaku. “Aku bangga kamu mau pulang, sampaikan salamku ke Putu.” Nafas terhembus keras tanpa gue sadari. Gue tidak memikirkan mereka setelah papa dan mama pergi. Austin bahkan Romeo tidak pernah lagi pulang ke sana. Dan gue anak mama satu-satunya yang kembali pulang menemui kucing-kucingnya. Heran, umur mereka jauh lebih lama daripada yang gue kira. Ketika di dalam mobil, sudah di perjalanan, gue bertanya ke Sora. “Kamu sering nginep di Canggu?” Dia mengangguk, masih rempong sama tas bawaannya. “Willow gemuk banget sampai nggak bisa bangun, kucing pemalas, kulit tebal, Kalo Keni tinggi bulu putihnya halus makin lebat bulunya, mereka dirawat baik. Anak-anaknya ada tujuh, mereka sekarang seukuran sama kayak anak-anaknya, beberapa anaknya ada juga yang mati. Karena nggak mau mereka nambah banyak, empat tahun atau tiga tahun lalu pas tahun baruan di Canggu, ibuk ide buat steril kucing-kucing Nency. Nggak buruk juga kok nginep di rumah Canggu, aku bisa main sama mereka. Jangan terima telepon dari Mayda dia pasti minta video-video kucing-kucing.” Dia mengerutkan hidung. “Malas kan mau liburan.” Nency adalah sebutan Sora untuk Nenek Reci Centil, mamaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN