Pov: Rain
Melakukan kegiatan berbau pasutri gini bikin gue ngerasa keren. Apalagi saat jalan di bandara orang-orang pada liatin gue sama Sora. Dimana Sora nenteng tas kecil sementara gue bawa dua koper di tangan itu rasanya kayak jadi suami siaga. Apalagi Sora cantik kan, ngebayangin orang-orang pada iri ke gue, gue suka banget. Hidung gue langsung berasa berat.
Apa kayak gini ya, yang ada di khayalan laki-laki makanya mereka pada kebelet nikah? Ya, kalo khayalannya punya bini sexy kayak Sora, siapa sih nggak ingin menikah. Gue aja yang udah terlanjur buang ludah, pen gue jilat lagi bersih-bersih.
“Rained,” sapa seseorang.
Gue mengangkat senyum lebar ketika suara itu menyapa gue. Gue nggak lupa suara aslinya, meski yang selalu terngiang adalah erangannya. “Hai Mila.”
“Sayang aku tunggu di gate.” Seorang pria mengelus lehernya yang jenjang.
“Siapa?” tanya gue ketika pria itu berlalu.
Dia melihat ke arah belakang gue, dimana Sora berdiri membelakangi kami sedang menggunakan mesin cek-in. “Siapa?” Mila balik bertanya.
Gue yakin cowok tadi cowoknya, dan nggak ngefek sama hubungan kami. Sering sekali dia selingkuh sama gue meskipun lagi punya cowok lain. Kami itu cuma teman memang, tapi kemistri ranjang kami tidak bisa dibohongi.
Sementara pria tadi menjauh, gue mendekatinya, menggapai tempat dimana pria tadi membelainya. “Siap—”
Dia mundur kebelakang. “Calon suami gue.”
Berak!
Sebelum gue bisa mencerna informasi tersebut Sora menghampiri kami. Dia menepuk lenganku cengan ceria. “Om Sudah. Yuk…,” lalu dia terdiam, ketika menyadari gue sedang ada di tengah-tengah percakapan dengan seseorang. “Oh maaf. Maaf..” ragu-ragu dia bertanya, “Kak Mila?”
Alis gue terangkat setengah. Dia kenal Mila dari mana?
Mila menahan tawa. “Astaga Soraaaa..” Dengan ceria, teman sepemahaman di bidang per-ranjang-an itu mengulurkan sebelah tangannya dan dengan hangat memeluk keponakanku tersayang. “Kalo kamu ngga panggil Rained ‘om’ aku kira kamu tu calon mangsanya juga.” Dia tertawa renyah, ada intonasi lega dalam suaranya.
“Udah banyak banget kan kak, mangsanya. Mangkanya diancam pulang sama ibuk ku.”
“Salam sama ibuk-mu yang super baik itu ya.” Dia masih mengelus lengan Sora. “Eh aku sorry banget nih, aku buru-buru, pacarku sudah mau masuk gate.”
“Bye Rain, undangannya udah gue kirim ke lo. Pasti ketutup sama chat yang lain.” Dia mundur dan melambai. “Bae Guys…”
Gue melihat dia pergi ke pintu ruang tunggu. Gue masih diam di sana mencerna, baru aja kemarin Kak Jull suruh gue buat ngedeketin do’i, baru beberapa hari lalu kami cek in di hotel, gue teringat pandangan matanya malam itu ke gue, itu perpisahan.
Gue mengulur nafas berat.
Buk.Buk.Buk.
Punggung gue ditepuk-tepuk, gue menoleh kepada si penepuk. “Nah sekarang Om baru sadar kan, temen-temen om udah pada melangkah maju, om kapan?”
Gue meringis. Dia kembali mengerucutkan bibirnya, karena gemes gue cubit aja hidungnya. Udah interaksi gue fiks segini aja, nggak boleh lebih. “Ayok.”
“Ha?” Pipinya mendadak merah dan dia ngeblank.
“Ayok,” aku menahan senyuman, senang rasanya ngejailin dia.
“Apa sih om?”
“Ke Gate, ayok!”
Dia berdecak, berjalan lebih dulu daripada gue.
Gue berusaha mengabaikan perasaan hampa yang diam-diam menyelinap seperti kabut. Sampai gue sadar gue bener-bener terusik ketika kami ternyata satu pesawat yang sama menuju Bali. Mereka duduk empat kursi di depan kami. Sora tidak lagi indah detik itu, Bau vanilla Sora tidak tercium lagi.
Gue membuka pesan terakhir dari Mila. Beneran! Undangan digital pernikahannya di salah satu hotel di Bali satu minggu lagi. Dengan Samuel Alozio, pria ini kelihatan udah mapan banget, sudah berumur juga. .
Ketika gue mau mencari informasinya. Tangan cantik yang panjang berkuku warna kulit menyentuh tangan gue. “Om, dipelototin pramugari tuh.”
“H?” awalnya nggak ngeh, sampai gue dikasih senyuman ramah yang penuh peringatan. “Oh.” Gue seketika mematikan handphone.
Ketika pesawat sudah melayang di udara malam yang gelap, Sora mendekatkan wajahnya. agak syok gue, eh dia malah berbisik. “Om maaf ya, aku lancang, tapi dulu kalian pacaran ya?”
Dia seketika menarik tubuhnya dan kembali duduk menghadap ke depan. Sekali dia menoleh singkat. “Iya? aku tahu dari mata om.” Dia memegangi dadanya mengejek gue. Dia tertawa.
“Ejek aja gue, tunggu gilirannya gue ngejekin lo.”
Dia masih tertawa. “Ah pengen banget aku sapa deh, biar seru.”
Aku menjewer telinganya. “Jangan jail deh.”
“Om, ih.”
“Mangkanya ceritain dikit dong, om pacaran dari SMA kan sama kak Mila?”
Sekali lagi gue melihat ke depan di mana Mila dan tunangannya sedang duduk dan mengobrol. “Aku sama Mila nggak pernah pacaran, tapi hubungan kami lebih jauh dari sekedar orang pacaran.” Gue mengangkat sebelah alis, nggak mungkin kan anak umur dua puluh tahun enggak mengerti makna kata-kata gue tadi. “Aku kira kami punya pandangan yang sama tentang hubungan perempuan dan laki-laki, tapi ternyata nggak, dia akan nikah. Meninggalkan aku seorang diri dengan konsep hidup bebas kapitalis.”
Sora menatap gue dengan tatapan sendu. Berbunyi pemberitahuan sabuk pengaman bisa dilepaskan. “Ternyata apa yang ibuk bilang benar ya tentang om.”
Aku tersenyum miring, meragukan ucapan ibuknya.
“Om cowok b******k katanya.”
Senyumku makin miring, meremehkan pendapat kakak gue sendiri. “Bukan berati nggak bisa diubah dong? Justru cowok alim yang melakukan hal buruk itu terkesan lebih b******k tahu, kesan kealimannya jadi pencitraan doang. Kamu mending sama cowok b******k, mereka lebih gampang diatur.”
Sora menunjuk gue dengan telunjuknya yang panjang dan alisnya menukik ketika bertanya, “Kayak om gini?”
“Aku bisa jadi lebih baik Sora.”
“Ba–si,” Bibirnya sedikit terbuka ketika mengatanya, aku mencium aroma segar, bersih, alami seperti udara pagi yang tercium dari hembusan nafasnya, seakan-akan dia sepanjang detik meminum air pegunungan sehingga nafasnya tercium sangat segar dan bersih.
“Mau bukti?”
Aku tidak tahu darimana datangnya akal tidak sehatku ini. Apa dari hati yang hampa? atau rasa cemburu pada Mila, atau karena bibir plum Sora yang terlalu mempesona untuk ku abaikan ketika bicara. Atau karena bau nafasnya yang segar ketika bicara, aku mendekat, ingin mencium udara dari bibirnya tapi terlalu dekat samapai akhirnya aku menyentuh bibirnya dengan bibirku.
Empuk, kenyal dan manis kesan pertama yang gue rasakan diujung saraf di bibir gue. Lalu dia bernafas berat karena syok hembusannya seperti udara pagi, tapi justru semakin membuat gue ingin menelannya hidup-hidup. Sora mendorong gue, tapi ciuman ini menyenangkan, mendebarkan, gue nggak rela untuk menyudahinya.
Disaat yang sama seseorang dari belakang menendang bangku gue. “Tempat umum g****k,” desis seorang pria dari belakang kami.
Sora mendorong gue, kali ini nggak bisa gue tolak. Gue langsung bersandar seakan tidak melakukan apapun. Sementara wajah Sora merah, bibirnya dengan ciuman singkat seperti itu sudah kelihatan membengkak. Apa gue kebablasan?
Dia menutup Bibirnya dengan muka syok, matanya berkaca-kaca. Nggak sengaja pandangan gue melihat ke tempat Mila, dia sedang melihat kami, tapi cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
Sora berdiri, dia berjalan seperti zombie ke arah kamar mandi. Aku mengulur nafas memejamkan mata.
Berak sih emang, kotoran deh gue, ah septic tank gue, binatang emang. Apa beneran otak gue udah pindah ke titit ya? Gue memejamkan mata, yang terlihat adalah wajah horor kakak perempuan gue sedang bawa tombak buat nusuk gue dari belakang sampai ke otak, gue akan disate hidup-hidup. Abis udah gue…
****