ORANG YANG SALAH

759 Kata
Pov : Rained Sora berjalan lebih dulu. Mila sempat memanggil gue ketika kami keluar, tapi gue harus mengejar Sora, gue harus menjelaskan apa yang terjadi sama otak gue ketika menciumnya, gue harus mengejar dia sebelum hilang di Bali. Gue rada-rada juga, kemana dia akan pergi tanpa kopernya. Dia nungguin koper keluar dari bagasi. Tangannya terlipat, sesekali dia menghapus air mata. Alisnya menyatu dan sedikit turun, tatapan mata tajam menusuk, seolah menahan emosi yang ingin keluar, bibirnya mengatup rapat, dengan rahang yang kaku. Sejujurnya gue takut mendekatinya, gue takut dia meledak dan jadi pusat perhatian. Gue berdiri di sebelahnya, menatap ke arah conveyor belt yang berjalan. “Sorry.” Gue berbisik, mental masih ciut untuk melihat matanya yang berkaca-kaca. “Itu ciuman pertamaku.” Heh? Lo pacaran dari SD kagak pernah ciuman itu gimana ceritanya Sora? Kayaknya cowoknya belok sih menurut gue, cewek secantik Sora, bibir selembut itu, kulit terang cantik, ah udahlah, gue kayak kayak om om nggak beres ngomong gini. Tapi serius kenapa ada cewek umur dua puluh belum ciuman itu gimana? “Ayah bilang nggak boleh sentuhan sama laki-laki, nggak boleh ciuman apalagi melakukan hal yang lebih dari itu.” “Ayah mu nggak memberitahu kalo ciuman itu nggak bikin hamil, itu cuma ciuman aja, di luar negeri itu nggak ada artinya Sora. ciumanku pertamaku dulu kakak kelas yang aku lupa namanya siapa.” Ternyata semua ini doktrin patriarki bapaknya. Menurutku Bang Lukman terlalu keras sih ke anak-anaknya. Dia menatap tajam. “Tapi itu berarti banget buat aku om!” Lalu dia ninggalin gue. Nggak tahu dari mana asal kekuatannya, dia ambil sendiri koper besar warna ungu itu, dan menyeret bersamanya pergi. Gue udah pasrah dia hilang kemana kek, gue salah banget. Gue nggak tahu kalo itu ciuman pertamanya. Gue nggak tahu harus benci atau merasa bangga sama diri gue sendiri. Ada perasaan euforia aneh yang gue rasakan di d**a karena gue ternyata orang pertama yang menyentuh bibir indah itu, gue orang pertama yang melihat ekspresi kaget dengan mata membelalak, gue merasakan nafasnya di tenggorokan gue. Dan gue akan sangat benci sama pria yang akan mendapatkan hal itu, cowok Sora siapa namanya? Gue sudah merasakan bibit dendam ke pria itu sebelum gue bertemu dengannya. Ternyata dia masih berdiri menunggu gue, gue liatin sekelilingnya cowok-cowok pada ngeliatin dia. Ampun Sora itu cantiknya kebangetan, gue beritahu aja lo semua kebangetan! “Mobilnya di parkiran.” “Aku mau ke hotel aja, nggak mau tinggal sama om.” balasnya masih marah dengan rahang keras, sambil sesekali mendengus. Bibirnya yang habis gue cium, sekarang terkatup. “Itu cuma ciuman nggak penting Sora, aku minta maaf, aku khilaf.” Dia meringis, alisnya terjal menekuk ke arah tengah. “Bagi om iya, bagi ku nggak om. Om bukan orang yang aku harapkan mendapatkan itu dariku.” Dia bergumam kecil. “Om mencurinya, dari seseorang yang seharusnya.” “Kamu tu kayak orang yang baru dikeluarin dari kandang tahu? Itulah hidup, ya hidup memang nggak pernah memberikan apa yang kita harapkan. Aku juga kalo mau berharap orang tuaku hidup seratus tahun tapi mereka mati, ya gimana? Hidup itu bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi untuk survive dari setiap kejadian.” Sora makin marah, bibirnya mengerucut menahan tangis, seperti bayi yang habis dikagetin. Aku mengabaikannya, aku cukup emosi sama kalimat terakhir tadi. Enak aja, kayak gue cowok jelek dekil keluar dari sumur. Seenggak pantes itukah? “Kalo mau ikut ayok, kalo mau diem tunggu pacar juga terserah.” Biar gitu aku menyeret kopernya bersamaku. “Aku nggak mau ikut!” Dia setengah berteriak. Aku segera menyesali kata-kataku yang minta dia dijemput pacar, terus nanti nginap dimana dia? Dia hotel bareng pacarnya? Bagaimana dia tiba-tiba nekat habis aku cium dia akan memberikan ciuman yang lebih panas pada pacarnya, bagaimana kalo pacarnya lagi birahi terus menuntunnya keranjang, terus Sora hamil. Bagaimana gue? bagaimana kakak gue? Bagaimana Abang? Bagaimana Bude dan Pade? Gue biarin koper kami di tempat gue berdiri, dan gue kembali menghampirinya. Setelah ciuman itu, kali ini mata kami kembali saling terpaut, coklat memikat dan berkaca-kaca, masih tersisa percikan amarah di sana. “Pulang ke canggu ikut aku! Kalo nggak aku yang bakal kasi tahu ke orang tuamu kalo aku udah cium putri mereka, dan aku sekalian aja minta dinikahin sama kamu, supaya hidupmu berakhir menderita sama aku. Gimana?” “Gila!” Dia mendorong bahuku keras. Bilang aja gue gila, iya gue emang dari dulu nggak waras. Yang penting lo pulang sama gue. Lagian ngapain gue minta dinikahin sama Sora cuma karena cium dia sekali doang. Kalo boleh mah gue ajak tidur. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN