IBU PERI BUAT RAINED

1229 Kata
Pov : Sora Om mana yang tega ngelakuin hal semacam itu keponakannya? kalau bukan om yang bergelar MBA tapi kepalanya sudah rusak. Setelah sampai di rumah canggu, dia meminta Bli Bagus untuk menurunkan koper-koper kami, lalu dia pergi begitu saja. Gila kan? Nggak ngotak kan? Itu ciuman pertamaku, orang yang paling berhak mendapatkannya adalah orang yang benar-benar aku cinta. Mbok Putu membantu menata pakaian ke lemari, membuatkan makanan. Aku yang tadinya terguncang dengan sikap Rained membaik karena bebek betutu buatannya yang sangat enak. Tapi mbok nggak tinggal di sini, jam kerjanya hanya sampai sore saja. Khusus hari ini dia sengaja lebih lama untuk menyambut kami, tapi Rained malah langsung cabut. Jahat dia nggak menghargai orang. Kucing-kucing masih sama jumlahnya delapan, bertebaran dimana-mana, tidur suka-suka mereka di rumah ini. Aku mengajak salah satu dari mereka bobok nemenin aku. Keni, kucing putiH yang paling aku sayang. Kucing-kucing itu peninggalan Nency, beranak pinak hingga jadi 8, dan sekarang ke delapannya sudah kami steril agar kami lebih mudah menjaga dan merawat. Keni menggulung diri di atas kursi rias, sementara aku mericall kejadian di pesawat itu lagi. Jemariku bergerak menyentuh bibirku, mimpi apa aku dicium dia? Aku menggigit bibir, masih terasa tekstur bibirnya diatas bibirku. Nafasnya keras, terdengar gelisah ketika beradu dengan nafasku. Ada bagian di pipiku yang tertekan oleh hidungnya yang mancung. Sorot matanya menurutku, itu sorot mata yang bisa mencabik-cabik manusia, dalam, berhasrat, berambisi, menik matanya jernih, menari-nari terkena cahaya ketika dia menatapku sedetik sebelum menciumku. Aku merebahkan diri menatap langit-langit. Aku sudah tidak menangis lagi, yang terbayang kini sepenuhnya sorot mata Rained. Aku memejamkan mata, aku pernah tergila-gila padanya. Tapi itu dulu…. **** Selesai shalat subuh, aku langsung naik ke atas ke area kebugaran, ada space yang enak buat menggelar karpet yoga. Dari kejauhan terdengar suara sapu lidi yang menyapu rumput. Sueb dan Bli Bagus sudah bangun dan bekerja, tapi untuk bagian di dalam rumah, itu bagian Mbok Putu, mereka jarang banget membersihkan bagian dalam kecuali Mbok minta bantuan. Jadi di dalam area bangunan utama, hanya ada aku. Kamarku ada di lantai satu, ketika naik ke lantai dua, aku melihat satu kamar terbuka. Posisiku masih di anak tangga, aku mendekati lorong. Dulu sekali aku pernah diberitahu kamar yang mana yang sering digunakan tuan muda Rained. Kamar itu tepat berhadapan dengan tangga. Kamarnya terbuka. Kebetulan ranjang Rained menghadap ke pintu. Terlihat kaki yang masih lengkap dengan sepatu, celana yang sama yang masih dia pakai. Botol minuman jatuh dan tertumpah di lantai. Dia terbaring telungkup. Aku khawatir, aku mendekat sampai di ambang pintu kamarnya, aku mencium bau bergamot dan alkohol yang kuat, lalu terdengar suara dengkuran lembut. Aku lega, dia cuma mabuk, sedang tidur. Aku kembali mundur. Rained kenapa sih? Kenapa jadi kayak gini dia. Kemana dia Rained yang aku kagumi dulu, yang sempurna itu, yang pintar dan selalu menjagaku, yang lembut dan baik? Aku sudah tidak kenal lagi pemabuk yang terkapar itu. Aku berlari cepat ke lantai dua. Dua jam kira-kira aku melakukan yoga sambil mendengarkan musik dan bersantai membalas chat dari teman-teman yang ngajak ngumpul di hotel mereka jam 9 nanti. Sampai aku turun sekalipun, Rained masih di posisinya yang sama. **** Sebelum aku tidak bisa dihubungi karena asik bareng sahabat-sahabat. Aku harus buat laporan dulu sama ibunda ratu berambut merah, yang aku sayangi itu. Tit… tit… nyaring terdengar sebelum akhirnya buk Jullien Bachtiar mengangkat teleponnya. “Ibuk,” panggilku dengan nada tinggi, terlalu bersemangat. “Assalamualaikum kakak!” Ibuk mengingatkan. “Gimana liburannya? etenderrary kemana nih hari ini, boleh dong ibuk dispell spell sedikit.” Rained harus mendapatkan setidaknya teguran dari ibuk. Rasanya aku ingin menghukumnya atas ciuman di pesawat itu, aku ingin membalas dengan hal yang kejam tapi jujur tidak punya ide. Yang terlintas olehku hanya melaporkan kejadian tadi pagi ke ibuk. Aku tahu ibuk nggak suka dengan hobi haram adiknya itu. “Ibuk Om Rained nggak pulang semalam, dia cuma drop aku aja terus gitu pergi, nggak ada yang tahu dia pulang jam berapa. Sampai tadi nih aku berangkat barusan dia belum bangun, dia tidur telungkup botol minumannya di lantai. Buk… males ah nginep sama om.” Ibuk terdiam, nafasnya berat terulur dan dilepaskan ke udara. “Ibuk?” Ibuk terlalu lama diam di dalam telpon. “Ibuk masih dengar kakak ngomong kan?” “Kakak, kamu tahu nggak kenapa Austin dan Romeo nggak mau ikut kita setiap liburan ke Bali?” “Mereka kan sibuk buk setiap tahun baru, ada aja agenda pekerjaan.” Beberapa tahun terakhir ini kami sering menghabiskan tahun baru di Bali, biasanya kami selalu tinggal di rumah canggu. “Apalagi Austin mana mau ke Bali untuk tahun baruan, dia kan tahun baruan murajah hafalannya.” Polos banget aku ngomong apa adanya, mungkin karena masih ada etensi kesal dengan Rained, dan tanggapan ibuk biasa aja. Dia nggak terdengar emosi sama sekali. “Bukan kak, bukan itu alasan mereka.” Ibuk diam sebentar, kok aku merasa ini sedikit sentimentil ya? “Terlalu banyak kenangan soal Nency dan kakek di rumah itu. Om Rained pernah bilang dia nggak mau sendiri disana, mangkanya dia ingin ke Bali sama kakak dan tinggal di rumah lama mereka.” Suara ibuk jadi aneh, semoga itu bukan karena dia menangisi Rained. “Sulit buat mereka berdamai dengan masa lalu Sora. Bagaimanapun mereka tumbuh dicintai oleh kedua orang tua mereka di tempat itu, tempat yang mereka anggap rumah sejak kecil. Memori yang indah tercipta disana. Mereka masih hancur karena kehilangan orang tua secara bersamaan. Waktu itu Rained baru 16 tahun, kakak ingat kan seperti apa dia waktu itu?” Aku meletakkan handphone di tangan sejenak menjauh dari suara ibuk. Aku tidak mau diingatkan kembali waktu itu. Bukan cuma Rained semua orang hancur waktu itu. Aku memang bukan cucu kandung mereka, tapi Nency dan Kakek sudah seperti keluarga kandungku, merekalah kakek dan nenek yang paling dekat denganku. Ketika mereka masih hidup aku merasa ada dua matahari di rumah, kami hidup hangat tanpa kekurangan karena mereka. Aku merasakan disayangi kakek dan Nenek karena ada mereka. Dan meski aku hanya bocah kelas lima SD aku ingat Rained berlari memeluk peti jenazah Nency berteriak sampai berhari-hari tidak bisa bicara karena dia berteriak. Rained hari itu seperti guguran gerimis di tanah kuburan, dia seperti awan, kabut dan nisan. Aku menggeleng mengusir kenangan paling menegrikan itu. Aku kembali meletakkan handphone di telingaku. “Halo?” Ibuk sudah memanggil-manggil. “Maaf buk, aku sedang di dalam mobil, sinyalnya kadang jelek,” aku berbohong, dan ayah tidak suka anak yang berbohong, tapi aku tidak setiap saat jadi anak baiknya ayah. Aku sering sekali berbohong. “Kak, temenin om Rained ya, ajak bicara, tanyakan keadaannya setiap saat, tanyakan dia butuh sesuatu atau tidak. Kalau dia lagi butuh teman cerita dengerin aja, meskipun kakak nggak ngerti soal pekerjaannya kakak duduk aja dengerin pura-pura ngerti. Saat ini Rained lagi butuh banget temen. Dia kayak anak kecil yang dilepas di hutan yang menyeramkan, kakak ibu perinya saat ini.” Aku tidak suka jadi ibu peri buat Rained, seharusnya ibuk lebih tahu cara menghadapi cowok playboy kaya Rained, dia itu nggak butuh ibu peri, kirim saja dia ke klub atau pijat plus-plus, itu akan lebih cepat menyembuhkannya. “Iya buk.” Aku tidak pernah mau membuat ibuk kecewa. “Tolong jagain om ya kak.” Ya Allah malah aku yang harus menjaganya. Bukannya kata ayah dia yang akan menjagaku di sini, kata ibuk kok beda. Dua orang itu apa sudah tidak saling komunikasi ya? ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN