11. Aku (tidak) Terluka

1138 Kata
Kiana membuka laci, mengambil sebuah kotak perang berisikan obat-obatan penangan pertama. Sebagai seseorang yang memiliki kepribadian sangat detail dan terencana, sekaligus seorang dokter, ia selalu mempersiapkan segala kemungkinan. Dan kali ini agaknya peralatan tersebut cukup berguna. Kiana bergegas keluar kamar, lalu turun dengan cepat. Ia keluar dari paviliun. Berdiri sejenak di samping serambi, menatap dari jauh sebuah rumah berdesain kayu yang serupa. Suasana pada malam selepas hujan itu tampak sunyi. Hanya ada merdu suara serangga yang saling besahutan. Perempuan yang men-cepol rambutnya dalam balutan cardigan itu lantas melanjutkan langkah, menjejakki rerumputan jepang. Lalu mengetuk beberapa kali hingga seorang lelaki berambut acak itu membukanya—sepertinya dia baru saja membersihkan diri. Pria itu tampak tampan dengan kaus hitam polos dan celana pendek kotak-kotak hitam. Namun tatapan dinginnya membuat Kiana sempat membeku. “Kalau butuh sesuatu kamu cuma perlu w******p aja. Nggak usah ke sini,” kata Gian dengan nada datarnya. Kiana masih mendongak. “Aku kan nggak punya nomor kamu.” Gian mengusap ponsel bersamaan dengan dentingan yang berderu dari ponsel Kiana setelahnya. Perempuan itu kemudian memeriksanya, meraih benda tersebut dari sakunya. “Itu nomorku.” Kiana masih belum bisa mencerna situasi. Ia membuka mulut tapi tak tau harus merespons apa. Ia hanya bingung. “Dari mana kamu dapat… Ah…” Perempuan ayu itu baru saja tersadar jika sudah pasti Gian menyimpan nomor penyewa paviliunnya. Diam-diam napas Gian melena mengembus. “Kenapa datang malam-malam? Mau bikin ulah lagi?” “Ah…” Kiana menunjukkan pouch obat. “Nggak usah. Emangnya aku anak kecil?” Gian terkekeh. “Dah, sana balik! Udah malam banget ini.” “Tunggu!” Kiana mengulurukan tangannya, menahan pergerakan Gian. “Aku ini mau bertanggung jawab! Kamu jatuh karena aku.” Gian bersedekap. “Aku udah biasa terluka.” Kalimat itu membuat Kiana mengerjap. Hening dalam beberapa saat sembari ia menatap kaki jenjang pria itu yang membercak banyak sekali bekas luka dan memar, kemudian ia menimpali, “Terbiasa terluka bukan berarti kebal. Kamu hanya menahannya sampai nyaris gila!” “Aku juga terluka!” lanjutnya. Gian melebakan matanya. “Aku menahannya…” Kiana menertawai apa yang telah terjadi dalam hidupnya. “…tapi aku segera mengobatinya. Aku nggak mau gila.” “Kamu datang ke sini karena sedang mengobati diri sendiri?” “Uhm!” tegas Kiana. “Caraku mengobati luka dengan bertemu banyak orang yang membutuhkan kelebihanku. Saat mereka terbantu…” Ia membayangkan beberapa hal menyenangkan. “…aku merasa bisa menjadi manusia berharga alih-alih menggenggam luka.” “Maka dari itu… tolong izinkan aku obati kamu sebagai dokter,” lanjutnya. Pada akhirnya Gian pun tidak bisa meloloskan diri. Ia mengikuti segala interupsi perempuan tersebut. Duduk di atas lantai kayu. Ia hanya membiarkan dokter tersebut melakukan apa yang dimau. Seperti mengambil dua bantal kecil yang ada di kursi kayu teras. Meletakkan kaki Gian di atas tumpukan itu. Kiana juga sudah membawa es batu yang ia ambil di kulkas, membalutnya dengan handuk untuk mengompres bekas memar yang terlihat baru itu. Perempuan itu juga telaten sekali mengoles gel luka antiseptik pada beberapa titik. “Pekerjaanmu emang berat dan berbahaya, tapi kalau luka juga harus tetap diobati,” kata Kiana masih sambil melakukan aktivitasnya. Sementara Gian hanya tertegun dalam keheningan sembari memerhatikan segala pergerakan yang dilakukan perempuan itu dalam tatapan yang tak dapat ditafsirkan. Tatapan lembut tapi juga tampak datar. “Kamu sering berendam air es?” “Aku tau. Aku ini polisi hutan. Kamu nggak usah ngurusin aku.” “Aku tanya! Apa kamu sering berendam air es, bukan apa kamu tau apa enggak!” tegas Kiana tiba-tiba hingga membuat Gian terdiam. “Lihat! Kali ini aku bisa membaca pikiranmu yang suram itu.” “Lagi… aku ini dokter!” sambung Kiana. Sebagai seorang polisi hutan yang juga bekerja menggunakan banyak tenaga, Gian melakukan banyak sekali latihan dan penggunaan fisik. Biasanya selepas latihan dan olahraga, ia melakukan perendaman air es—tentu saja tidak setiap hari. Hanya beberapa kali dalam seminggu supaya mengurangi sakit pada otot hingga mendukung kekebalan tubuh. “Hei… membantu ranger mencari orang hilang adalah hal paling melelahkan. Jadi, kali ini aku emang capek banget,” ungkap Gian. “Aku tau.” Kiana lantas menatap Gian, kemudian tersenyum tipis. “Maka dari itu rawat dirimu sebaik mungkin supaya menjaga dan menyelamatkan hutan dan orang lain.” Ia meletakkan pirantinya sejenak. “Dan juga… kamu udah bekerja keras, Gian. Tanpa kamu dan tim, aku juga nggak bisa menyelamatkan pasienku.” Gian mengedipkan matanya pelan, hatinya berdesir. Ada kehangatan yang datang merengkuhnya, juga sebuah cahaya indah yang berkilau di mata perempuan yang ada di hadapannya. Gian juga bisa merasakan ketulusan perempuan itu. Sebab, banyak oknum dari berberapa profesi yang seharusnya menjunjung tinggi kemanusiaan, tapi seiring waktu lenyap termakan iming-iming cuan. “Udah!” Kiana mengemas barang. “Gini aja penanganan pertamanya karena aku tau kamu nggak akan sepeduli itu sama badanmu sendiri.” Ia kemudian menatap Gian. “Dan maaf udah bikin kamu makin sakit.” Gian mendongak, menatap Kiana yang sudah berdiri di rerumputan. “Kamu nggak bikin aku makin sakit.” “Uhm? Aku, kan, tendang kamu.” “Kamu obati aku, kan… itu udah impas,” celotehnya salah tingkah, merapikan rambutnya yang acak-acakan. “Ah… Kalau gitu aku masuk dulu.” “Bukannya aku tega ninggalin kamu di jalan gelap…” Kalimat itu lantas membuat Kiana mengerem langkah. Ia tertegun sembari menyimak kelanjutannya. “Aku tadi benar-benar kehabisan daya. Aku cuma mau istirahat setelah semua yang terjadi di gunung. Jadi, aku bahkan nggak peduli itu orang atau hantu sekalipun. Bahkan saat mati listrik, itu bukan apa-apa buat aku yang cuma pengen sampai ke rumah dengan cepat.” Kiana lantas berbalik, tersenyum dengan manis. “Itu masalah, sih. Tapi nggak apa-apa.” Kemudian entah dorongan dari mana yang membuat pria itu mendadak tersenyum. Semakin lama, semakin lebar. Tapi ia berusaha menutupinya dengan menoleh ke sana ke mari, menyembunyikannya. “Uhm? Kamu ketawa?” kaget Kiana. “Aku bener-bener belum pernah liat kamu ketawa, loh.” Ia semakin usil, mencoba membuat Gian semakin melebarkan tawanya. “Coba tunjukin!” “Apaan, sih?” Gian menutup mulutnya. “Masuk, sana!” Kiana tergelak. “Ngapain mulutnya ditutup? Matamu aja senyum, kok.” “Mana ada mata senyum!” “Ada! Itu!” Kiana menunjuk mata indah Gian yang juga serupa bulan sabit. Di balik candaan keduanya yang bersatu padu pada malam syahdu, ada seseorang di depan gerbang batu pavilun yang sedang menyaksikan kedekatan keduanya dengan hati yang patah. Seorang perempuan berambut pendek yang membawa tote bag—Hannah. Hannah menggigit bibir bawahnya menahan nyeri di d**a serta matanya tampak berair. Entah itu air mata atau udara yang semakin dingin. “Apa ini?” gerutunya dalam pedih. Kedua tangannya mengepal erat sebagai caranya menahan diri untuk tetap tegar. Padahal Hannah datang membawakan jamu-jamuan yang biasa ia berikan pada Gian setiap pria itu sedang melakukan tugas yang sangat berat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN