12. Diam-diam Cinta

1264 Kata
Hannah datang ke paviliun lebih pagi. Entah semakin bersemangat atau ingin tau sesuatu. Yang jelas ia memang membuka pintu-pintu utama dan juga kafe. Lalu langkah kakinya menapaki anak tangga menuju lantai atas yang dihuni oleh beberapa wisatawan bersamaan dengan keluarnya seorang perempuan yang sedang bergegas sembari mengikat rambutnya. Hannah sempat berlagak canggung, kemudian ia mendekat, membantunya membawa tas jinjin yang ukurannya cukup besar. “Sini saya bantu, Dok.” “Ah… Makasih banyak, ya,” kata Kiana. “Mau berangkat ke klinik?” tanya Hannah sangat ramah. “Iya.” “Nggak sarapan dulu?” “Nanti aja. Udah biasa sarapan agak siang.” “Ey…” Hannah menggeleng. “Dokter juga harus ngisi tenaga. Nggak boleh sakit.” “Aku makan, kok. Nanti tapi.” Kiana menengok arlojinya. “Mungkin nanti jam 9.” “Ya, udah. Di sekitar sini banyak warung, kok. Jangan khawatir,” celoteh Hannah sambil berjalan di samping Kiana menuju tangga bersama. “Kapan-kapan… kita sarapan bareng, yuk!” Kiana menoleh, menghentikan langkahnya saat sudah berada di tengah-tengah tangga. “Dipikir-pikir kita belum kenalan.” Senyum Kiana terukir indah. “Oke. Emangnya kamu tinggal di mana? Jauh dari sini?” Hannah dengan reflex mengulurukan tangannya seolah sedang menunjukkan sesuatu. “Nggak juga. Aku di perempatan jalan utama. Di samping kios-kios.” “Jadi, ke sini naik motor?” “Kiana!” Belum sempat Hannah menjawab, suara seorang pria yang terdengar lembut tapi lantang itu memenuhi telinga. Kedua perempuan itu menoleh kompak ke arah sumber suara. Senyum Kiana semakin merekah, sementara Hannah membeku menatap Gian di pintu. “Ayo, berangkat!” lanjut Gian yang tampak santai dengan kaus dan celana pendek, namun tetap terlihat rapi dan menawan. “Ah… aku berangkat dulu, ya.” Kiana berpamitan, mengambil tas dari tangan Hannah. “Makasih udah dibantuin.” Ia lantas menuruni tangga lebih dulu, menghampiri Gian. “Kamu, kan, nggak kerja, Gian.” Kiana dan Gian kompak menoleh bersamaan dengan Hannah yang mendekati mereka sembari merapatkan cardigan rajutnya. “Biasanya kalau kamu habis ikut evakuasi, besokannya kamu istirahat,” lanjut Hannah. “Mulai sekarang dia menyewa jasaku.” Gian mengarahkan dagunya ke perempuan mungil di sisinya. “Ah… aku minta antar ke klinik. Kalau jalan sebenarnya bisa, cuma karena ini buat kerja dan kadang saya buru-buru, jadi minta diantar aja. Apalagi tempat kerja Gian juga searah,” jelas Kiana lantas menyenggol lengan Gian. “Harusnya kamu bilang kalau hari ini libur!” Gian menatap Kiana yang lebih pendek darinya dengan tatapan datar. “Kan, kamu memeasan jasaku dan aku dibayar. Jadi kalau kamu butuh… aku harus siap, dong.” Kiana mengernyit sambil tertawa canggung. “Ah… bayar.” Kemudian tertawa. “Iya. Aku bayar jasanya Gian.” “Ayo, aku juga ada perlu ke kantor.” Gian melenggang lebih dulu tanpa berpamitan dengan Hannah. Namun Kiana tetap mengutamakan sopan-santunnya dengan menunduk sambil melambaikan tangan pada perempuan penjaga paviliun yang hanya membalasnya dengan senyum. Pun Hannah juga tak bisa berbuat apa-apa selain hanya memaku di tempat dengan berbagai pikiran yang berkemelut. “Gian bukan cowok yang gampang dekat sama cewek, apalagi cewek asing. Jadi, cinta pada pandangan pertama sangat tidak mungkin.” Hannah berasumsi sambil bersedekap menatap udara kosong di pagi hari yang masih agak berkabut itu. “Tapi kenapa Gian mau antar-antar cewek asing? Gian juga nggak mata duitan.” “Nggak ada yang bisa membaca hati Gian,” lanjutnya menghempaskan napasnya kasar. Embun yang dihasilkan menggambarkan betapa abstrak pikirannya saat ini. “Tapi aku nggak suka mereka dekat. Aku nggak suka lihat Gian dekat dengan siapapun.” Terlanjur kesal, Hannah lantas naik ke lantai atas. Ia berhenti di depan paviliun paling ujung yang ditinggali Kiana. Ia menatap pintu kamar itu dalam-dalam sembari mengupas memori lima belas tahun lalu saat Hannah dan Gian berusia 20 tahun. Hannah yang sedang kuliah semester tiga di Bali itu mendapatkan musibah kebakaran hutan rinjani yang menewaskan orang tua serta adiknya. Ia sebatang kara dan Gian mengulurkan tangannya. Pria yang juga telah ditinggalkan kedua orang tuanya juga sekaligus kawan SMA Hannah itu mengajaknya untuk bekerja mengelola penginapan. Beruntung Gian diwarisi banyak tanah dan harta benda lainnya. Dan Gian memanfaatkannya dengan benar. Sejak saat itu, perasaan Hannah semakin besar pada pria dingin itu. Ralat, Gian remaja tidak sedingin itu. Setelah tumbuh sendiri, ia perlahan menjadi sosok yang tertutup, apalagi setelah kakak perempuannya menyusul menjadi korban letusan rinjani, delapan tahun silam. Diam-diam napas Hannah melena mengembus. “Aku sudah terlalu lama menanti. Aku nggak mau penantian ini sia-sia.” ^^^ “Allahu Akbar!” sentak seorang wanita yang rambut panjangnya dibuat sanggul jedai ketika melihat seorang pemuda berambut acak, wajah bantal dan kaus terang benderang berwarna hijau neon yang menyilaukannya saat sedang mengeringkan rambut klien salonnya. Kebetulan salon dan rumahnya menjadi satu tempat, hanya dibataskan satu ruang tak berpintu yang didepannya terdapat meja laci panjang yang pendek. “Ngagetin aja, Bayu!” lanjutnya menyemprot. Bayu yang bangun tidur itu menggaruk-garuk kepalanya yang gatal. Dia benar-benar tak berbentuk, kemudian menguap lebar sekali hingga sebuah botol spray rambut melayang nyaris menyerempet mulutnya. “Ibu!” pekik Bayu setelah berhasil menghindar. “Kalau nguap itu ditutup!” “Iya… iya. Nggak sadar.” Ibu menatap jam dinding sambil tetap mengeringkan rambut tetangganya itu. “Kamu biasanya bangun jam 11 kalau habis jaga malam. Ini masih jam 9, kenapa udah bangun?” “Nggak tau. Nggak bisa bener-bener tidur.” Bayu mengulet sejenak. “Laper, Bu.” “Ibu belum siapin. Biasanya kamu bangun siang. Sana bikin telur sendiri.” Ibu lantas tertawa di hadapan cermin yang memantulkan rupa dirinya bersama dengan kliennya. “Ampurayan.” Klien itu tertawa. “Dia udah jadi dokter masih kaya gitu?” “Eyy… Bayu kalau di klinik profesional, tapi kalau di rumah…” Ibu menggeleng heran. “…nggak ada bedanya sama anak-anak TK.” “Haduh-haduh. Makanya bersyukur banget dia magang di klinik kampung. Walaupun di kampung, tapi paling enggak dekat sama inak[1]nya,” lanjutnya. “Waktu kuliah, koas… setiap hari telepon terus. Minta pulang, nggak betah, lah, ini, lah.” Ibu tampak lelah membayangkan apa yang telah ia lalui. “Daweq[2] bilang yang sabar. Ini namanya perjuangan. Alhamdulillah dia bertahan.” “Alhamdulillah, ya.” “Iya.” Sementara di meja makan, sembari melakukan aktifitas sarapan, Bayu melanjutkan misi yang semalam sempat ia lakukan. Yakni mencari tau seluruh sosial media Kiana yang lama tak aktif. Masih tampak kedekatan dengan seorang lelaki yang Bayu yakini adalah mantan tunangannya yang manipulatif. Semalam pula, Bayu baru tau jika Kiana sempat mendapatkan musibah sebelum datang ke Lombok. Dan itu membuat Bayu kepikiran sampai tak bisa benar-benar tidur dengan baik. “Kasihan banget,” gumamnya. “Aku harus ajak Kak Kiana healing. Tapi gimana?” Bayu mengacak-acak rambutnya. “Ajak seniorku jalan?” Ia menertawakan dirinya sendiri. “Apa itu mungkin?” “Walaupun dia nggak keberatan… ah… masa, iya?” lanjutnya Bayu masih bimbang. “Ngomong sama siapa dari tadi?” Tiba-tiba Ibu datang. Wanita itu mendekati kulkas, lalu mengambil sekotak s**u cair, mengambil gelas dan menuangkan s**u itu di sana. Meletakkan di hadapan sang putra. “Ngomong sama angin?” “Iya!” seru Bayu lalu menyuap nasi telur ke dalam mulut. “Kamu lagi naksir sama cewek?” Mata Bayu membelalak. “Kok ibu…” “Semua orang juga bisa baca perasaanmu!” Bayu berdecak kesal. Menyesali wajahnya yang mudah terbaca, namun seketika matanya berbinar. “Tapi, Bu… gini-gini ada yang bilang Bayu ganteng, loh.” Ibu terdiam sejenak. Senyum yang terpatri membuat Bayu curiga. “Nyeremin banget, sih!” keluh Bayu. “Bawa cewek itu ke sini. Ibu rapikan rambutnya,” sambung Ibu santai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN