“Wah! Langit tiba-tiba gelap, padahal tadi masih baik-baik aja. Apa karena di pegunungan, ya, Dok?” tanya seorang pendaki yang sedang menunggu tanda tangan surat kesehatan dari Kiana. “Alamat nggak bisa naik sore ini.”
Kiana lantas tersenyum sembari menyelesaikan tugasnya pada selembar kertas tersebut. “Awan-awan akan berhenti ketika mencapai puncak troposfer, dana wan akan cepat terkondensasi ketika melewati puncak troposfer. Kurang lebih gitu.”
“Wow, dapet pelajaran baru ini saya,” decaknya kagum. “Emang selalu ada banyak hal menakjubkan di setiap pendakian. Kaya ketemu orang-orang hebat macem dokter ini.”
Mata Kiana membentuk bulan sabit yang indah dan bersinar saat sedang tersenyum luas. Kemudian dalam sekejap mata indah itu membelalak saat terdengar suara hujan.
“Hujan!” seru beberapa calon pendaki yang tersisa di dalam klinik. "Pendakian ditutup."
Kiana dan seluruh calon pendaki lain yang ada di sana tercengang. Ada apa gerangan? Tidak mungkin hanya karena hujan lantas ada penutupan.
"Ada yang hilang?"--asumsi itu membuat Kiana semakin tegang. Sebab, dia seperti baru merasakan sesuatu mengerikan terjadi, tepat di momen seperti ini. Semoga segalanya berjalan dengan baik, harapnya sembari menatap gunung dari jendela.
“Dok, gantian makan siang,”
Kiana menoleh arlojinya yang sepertinya sudah melewati jam makan siang. Tapi tidak masalah. Ia lantas bergantian. Namun, sempat Kiana menoleh ke belakang, melihat Bayu yang sedang meladeni pendaki yang berteduh itu. Mereka terlibat percakapan yang menyenangkan. Kebetulan beberapa hari belakangan memang tidak ada pasien serius. Hanya ada beberapa yang luka kecil. Permintaan surat kesehatan memang jauh lebih mendominasi.
Rasanya Kiana ingin memanggil Bayu yang ia tau memang tidak beranjak dari sana untuk makan. Tapi pada akhirnya Kiana pergi lebih dulu dan yakin jika dokter magang itu akan menyusul.
Kebetulan makan siang sudah disiapkan sejak tadi oleh katering yang secara rutin mengirim konsumsi. Makanannya sudah dibagi di dalam satu wadah makan.
“Ini namanya nasi balap,” jelas dokter yang juga menjadi pimpinan klinik—Bu Dyah.
Hidangan ini terdiri dari seporsi nasi putih yang disajikan dengan suwiran daging ayam bumbu pedas, kedelai goreng, dan sambal khas yang disajikan di atas daun pisang. Selain itu, kering kentang, oseng buncis, dan telur juga menjadi pelengkap masakan rumahan ini.
“Uhmmm…” Relawan satu tim Kiana itu memuji habis-habisan menu makan siang yang bersatu padu dengan hujan syahdu pada sore itu.
“Ayo, Dokter Kiana, dimakan!”
“Ah… iya.” Kiana merasa ada yang mengganjal. Ia tidak tenang. Terus-terusan melongok ke arah depan. “Dokter-dokter intern itu udah pada makan?”
“Mereka emang gitu. Gantian juga sama. Tadi juga udah ada yang makan.”
“Tapi kayanya Dokter Bayu belum, deh,” terka Kiana.
“Masa, sih? Dia biasanya paling semangat.”
“Saya panggil dulu, ya.” Kiana lantas berpamitan untuk pergi ke depan. Namun, tiba-tiba sosok pemuda itu sudah menghilang dan tak lagi ada di tempantnya.
Kiana mengais hipotesa. Sebab, pemuda itu terlihat menjadi semakin aneh. Padahal dia tampak sangat menyenangkan di awal. Lantas ia bertanya pada dokter magang lain kalau Bayu masuk ke ruangan. Diam-diam Kiana berdiri di depan pintu yang terbuka, menemukan Bayu sedang berbaring menatap langit-langit.
Lantas sebuah kilatan memantul di wajah Kiana beserta dengan gemuruhnya kemudian. Seketika Bayu menggelinding dari ranjang kecil itu sambil mengumpat saking terkejutnya. Pun Kiana sampai terpingkal-pingkal.
“Emangnya aku hantu?”
Bayu memejamkan mata sambil terduduk di lantai untuk menetralisir degup jantungnya yang berlebih. “Kaget, Dok.”
“Ayo, makan! Kamu belum makan, kan?”
“Duluan aja, Dok.”
“Duluan gimana? Ini udah lewat jam makan. Mau ditelatin sampai kapan? Hah?” hardik Kiana. “Semua nggak akan makan kalau kamu nggak makan.”
Ancaman itu akhirnya membuat Bayu luluh meski sebenarnya ia memang lapar. Hanya saja, ia merasa masih tidak enak dengan Kiana sehingga memilih untuk menjaga jarak, meski sebenarnya juga tidak ingin.
“Katanya kalau aku nggak makan, yang lain juga nggak makan, Dok?” tanya Bayu saat berada di ruang belakang bertepatan dengan tenaga kesehatan lain yang nyatanya sudah menghabiskan seluruh isi kotak makan mereka.
Kiana tertawa canggung sekaligus malu. “Iya, juga, ya.”
Pada akhirnya Kiana makan berdua bersama Bayu. Suasana makan itu hanya diiringi dengan suara hujan yang masih deras membumi, tanpa ada suara-suara lain.
Khmm… Kiana berdeham memecah sunyi. “Hei, kenapa kamu diam aja, sih?”
“Lagi makan, kan, nggak boleh ngomong,” jawab Bayu asal.
“Santai aja. Kamu hanya perlu menghargai dan menghormati aku. Tapi bukannya kamu nggak boleh bicara santai sama aku.”
Mulut bayu yang penuh itu tiba-tiba mengerucut, membuat Kiana bingung. “Dokter tau apa yang ada di kepala saya?”
Kiana menghela napasnya pelan. “Mukamu… mukamu udah bisa kebaca semuanya.”
“Aissh!” Bayu menopang keningnya. “Itu makanya aku nggak suka muka ini.”
Kiana lantas tertawa. “Apa maksudmu? Kenapa mukanya yang salah? Ini semua pemberian Allah. Nggak ada yang salah. Justru kamu harus bersyukur dikasih muka yang ganteng kaya gitu.”
Bayu lantas mengerjap. Ia yang semula mendunduk, kini kembali ke posisi semula dengan mata yang membulat. Hatinya berdesir—lagi-lagi semua orang bisa membaca isi hatinya.
“K-kenapa? Ada yang salah?” Kiana segera meneguk air mineral. “Maksudku… semua harus disyukuri. S-semua laki-laki itu ganteng.” Ia kemudian tertawa canggung. “Nggak ada yang cantik, kan? Cantik itu aku, Dokter Dyah dan semua perempuan. Ibu kamu misalnya.”
Suasana menjadi sekonyong-konyong hening dengan balutan nuansa canggung yang tiada akhir di antara keduanya. Bahkan Kiana harus menutup kotak makan dengan dalih ingin pergi ke kamar mandi, memecah situasi tak menyenangkan itu. Namun, satu informasi membuat suasana itu pecah.
“Balai taman nasional meminta kita bersiap,” kata suster bersamaan dengan suara petir yang menggelegar. “Polisi hutan dan ranger lagi mencari.”
“P-polisi hutan, naik?” Kiana menatap cuaca yang sangat tidak bersahabat ini. Setidaknya saat profesi terebut disebutkan, ada satu nama yang terlintas di pikirannya.
Kiana lantas menoleh ke belakang. Saling bertatapan dengan Bayu dalam ketegangan.
^^^
“Anak itu… masih hidup,” kata Pak Huda selaku ketua polisi hutan yang berjaga di markas. “Chatt bergambar yang mungkin diambil sore kemarin, baru terkirim sekarang. Kemungkinan dia pindah zona. Kami berusaha menghubungi tapi tidak ada jawaban. Mungkin baterainya habis. Meskipun masih hidup, tapi dia akan sakit jika tidak segera.”
“Kita ambil jalan pintas ini!” seru Gian yang sudah hapal betul jalur gunung pada rekannya. “Hati-hati, semuanya licin!”
Mereka lantas berpencar ke berbagai titik. Gian pun sendirian di tengah hutan gunung yang lebat sembari berusaha berpikir tentang keberadaan bocah itu. Kemungkinan masih hidup? Tapi dimana? Kemudian mengedarkan pandangan ke segala arah.
Mereka yang ingin hidup secara naluriah, pasti mencari tempat hangat di antara bebatuan besar.
Dengan logika sekaligus bantuan dari telinganya yang bisa menangkap suara yang jauh sekalipun itu, Gian berusaha menyaring suara-suara itu.
“Aakh!” Gian sempat menjerit tanpa suara karena terlalu banyak suara bising yang memekikkan tapi tak menghasilkan apa-apa terkait bocah hilang itu. “Dia pasti sudah pingsan.”
Ia lantas bergerak cepat menyisir tempat-tempat bebatuan yang berada di zona sinyal. Sempat melewatkan beberapa bebatuan, pada akhirnya Gian tercekat saat menyorot tempat gelap itu. Ia mendekati bocah yang terbaring di kolong bebatuan itu sambil memeriksa nadinya.
“Lapor, Tim Garuda menemukan pendaki hilang!” kata Gian dengan suara pelannya setelah terkuras habis pada malam itu.