8. Kisah Pendaki dan Stella Jeruk

1215 Kata
“Sok dekat. Sok kenal. Sok asik…” “Emang kamu kaya gitu, kan, anaknya.” “…sama salting juga masalahnya, Kak. Kamu tau, kan, aku ini nggak bisa banget menyembunyikan perasaanku, aku nggak bisa bohong. Pasti kelihatan di muka. Nggak bisa poker face kaya kamu.” Obrolan acaknya semalam dengan Bayu masih terngiang sampai pagi ini. Gian mengendarai mobil dauble-cabin itu sambil diiringi rasa-rasa yang dia sendiri tidak bisa mendefinisikannya. “Itu artinya dia suka banget sama Kiana,” gumam Gian tanpa menampilkan ekspresi yang berarti. Kemudian mata tajamnya lantas menyipit untuk memastikan seorang perempuan yang sedang berlari dalam keadaan sulit. Kaki kirinya sedikit pincang. Gian membunyikan klakson dan menurunkan kaca mobilnya lebih banyak. Ia sudah bisa memastikan siapa gerangan. “Naik!” serunya. Kiana menoleh canggung, kemudian menyilakan rambut panjangnya yang tergerai cantik itu. “Nggak usah.” “Kamu pikir bisa lari kaya gitu sampai klinik?” sindir Gian bersamaan dengan Kiana yang dengan refleks menatap kakinya. “Lebih baik mencegah dari hal yang nggak diinginkan, kamu belum mendaki sampai ke Danau Segara Anak.” Kiana menoleh, menatap Gian dengan mata yang membelalak seolah tertampar sesuatu. Kemudian ia mengerucutkan bibirnya sembari mengangguk-angguk. “Iya. Kamu benar.” Gian lantas memundurkan wajahnya saat tiba-tiba Kiana mendekatkan wajahnya di kaca jendela yang terbuka lebar itu dengan wajah memelas. Ralat, mungkin lebih tepatnya wajah menyebalkan yang sok imut. “Karena Bapak Gian Rimba Cakrawala menawari, jadi, saya langsung naik, ya.” Ia mengedipkan sebelah mata. “Buruan naik!” semprot Gian sinis. Pun perempuan yang menenteng sneli-nya itu segera masuk ke mobil. Ia duduk di sisi Gian dengan penuh semangat. Sampai-sampai Gian merasa heran lantaran semalam, perempuan itu terlihat marah sekali. Perubahan suasana hatinya cukup cepat untuk ukuran seorang wanita. Kiana mendengus. “Bau kopi. Pake pewangi kopi, ya.” “Uhm!” Gian menunjukkan sebuah bungkusan yang tergantung cantik di dalam sebuah tempat pewangi mobil. “Itu pakai biji kopi asli.” “Inovasi bagus. Tapi dengan suasana menyegarkan desa ini, kayanya lebih cocok kalau pakai stella jeruk, deh.” “Apa?!” sentak Gian memekikkan telinga. “Aissh! Nggak usah nyolot!” Gian memicing. “Orang gila mana yang suka stella jeruk?” Kiana membelalak. “Eh… eh… siapa yang gila? Stella jeruk diciptakan dengan riset panjang. Pasti banyak yang suka aromanya juga.” Gian menggeleng tegas sambil tetap fokus mengemudi. “Nggak bisa. Nggak bisa. Kita emang nggak cocok. Benar kata kamu.” “Dih?” Kiana bersedekap sambil mengenyit. Kemudian ia memilih untuk bertengger di tepi kaca sambil menikmati perjalanan yang semakin menanjak itu dengan memejam, menghirup udara segara dan segala aura positifnya. Sesekali Gian menoleh, memerhatikan dengan sekilas. “Gimana kalau setiap hari aku nebeng?” tanya Kiana tiba-tiba. “Yang bener aja.” “Kalau jalan agak jauh. Lagian kenapa aku beda, sih? Kenapa nggak ikutan sama teman-teman yang lain?” keluh Kiana. “Dokter lain pada tidur di paviliun yang dekat klinik. Rumah sakit juga udah menghubungi pusat Balai Taman Nasional untuk segala persiapan akomodasi kita, trus mentang-mentang aku datang belakangan, dikasih tempat sendiri, gitu?” “Emangnya yang ngurusin aku?” “Mungkin aja.” Gian memicing. “Enak aja! Tugasku melindungi hutan.” “Tapi kamu punya bisnis ini. Karena tempatmu nggak laku, makanya…” Kiana lantas mengulum bibirnya rapat saat mendapatkan tatapan belati dari pria itu. “Semuanya ramai, penuh. Bahkan paviliun-ku juga penuh kalau kamu tau!” hardik Gian. “Tapi aku berusaha gimana caranya kasih tempat buat kamu.” Kiana menatap kaca dan segala bentangan alamnya. “Ya, ya… makasih.” “Turun!” Kiana membuka pintu dan berterima kasih lagi padanya dengan senyum manis yang menggemaskan. Namun senyum itu tak berarti apa-apa untuk pria dingin sepertinya. Gian menurunkan kaca jendela lagi saat Kiana sudah menjejakki pekarangan klinik. “Nanti biayanya aku masukin tagihan bulanan!” Kiana mengedipkan matanya berulang kali untuk mencerna kalimat Gian tersebut bersamaan dengan pria itu yang sudah berlalu menuju tempat kerjanya. Tangan Kiana mengepal, giginya menggertak, lalu ia tertawa kesal setelah mendapatkan inti dari ucapan sarkas itu. “Wah! Hampir aja gue tersentuh, ternyata dia beneran mata duitan. Dasar manusia kutub!” ^^^ Suasana klinik diramaikan oleh calon pendaki, baik dari daerah setempat, luar daerah, luar pulau, hingga luar negeri dan luar benua. Gunung Rinjani seolah sudah memikat banyak pasang mata di seluruh belahan semesta. Keelokan yang tersembunyi di dalamnya, tak boleh dilewatkan. Ibaratnya, siapapun harus merasakan pendakian fantastis di gunung ini. Tapi sebelum mendaki, seluruh pendaki diwajibkan untuk membuat surat keterangan sehat dari dokter. Ini juga merupakan pengalaman seru untuk Kiana. Rasanya tidak pernah ia berkontribusi di desa terpencil, namun punya jangkauan pelanggan yang sangat luas. “Everyone must queue according to the serial number that the nurse has distributed, OK? Code A, straight to my place and then other sideways!” seru Bayu dengan lantang, namun tetap ramah kepada para pendaki yang banyak sekali wisatawan asing. “Antri semuanya, ya. Dari A di tempat saya, dan selanjutnya menyamping!” lanjutnya kembali dengan Bahasa Indonesia. Kiana tersenyum bangga pada sosok Bayu yang terlihat sangat berbakat dalam pendekatan terhadap pasien. Lantas dokter perempuan itu memasangkan manset pada lengan pendaki untuk dilakukan pengecekan tekanan darah pada calon pendaki. “Uhmm… gimana kalau hari ini mas-nya istirahat sambil minum jus semangka untuk menstabilkan tekanan darah? Kayanya ini nggak bagus kalau berangkat sekarang,” jelas Kiana. “Yah… tapi rombongan saya berangkat sekarang juga, Dok.” “Nanti kalau ada hal yang nggak bagus di tengah jalan, gimana? Perjalanan sekitar empat hari, loh. Nanti rombongannya juga yang kerepotan.” Kiana berusaha menjelaskan dengan baik saat pasien gelisah. “Mas-nya sendirian aja buat join rombongan?” “Enggak. Sama teman saya satu lagi.” “Saya bicarakan sama leader-nya,” kata Kiana. Pun diam-diam, Bayu sesekali mencuri-curi perhatian pada seniornya itu. Meski berusaha untuk tak peduli, nyatanya suara-suara lembut Kiana seolah membisik hangat pendengarannya. Merdu sekali. ^^^ “Hampir 24 jam dan kami masih belum bisa menemukan anak itu. Pos Elang butuh bantuan.” Kabar dari atas gunung sana membuat seluruh polisi hutan yang ada di pos Balai Taman Nasional Gunung Rinjani segera mengambil langkah dengan cepat, membawa seluruh peralatan di carrier mereka. “Cepat, naik!” seru Gian menggunakan walkie talkie intercom. Kemudian ia juga menyetir dengan cepat dan gesit menuju jalur. “Kepada seluruh anggota… Pendaki yang hilang, Adrian Muhammad, usia 15 tahun. Waktu masuk 15.30 kemarin melalui jalur sembalun. Baju seragam pramuka…” Gian dan tim segera berlari setelah sampai menuju titik terakhir pendaki berada untuk membantu pencarian dari tim lain yang sudah diturunkan setelah subuh tadi. Bahkan kepala Taman Nasional juga mengerahkan ranger dari yayasan swasta untuk turut serta membantu pencarian tersebut. Dengan kaki mereka yang kuat, para polisi hutan serta ranger itu mendaki dengan cepat. “Awas, hati-hati!” seru Gian dengan napas tersengal, memperingatkan anggotanya saat ada batu yang terjatuh. Mereka terus melakukan pencarian, tapi sayang, langit mulai abu. Angin juga menyapu dengan sangat kencang sekali. “Hujan?” seru Erik, lantas terdengar suara gemuruh dari langit. “Aissh!” keluh Gian berdecak kesal bersamaan dengan hujan yang tiba-tiba semakin deras pada sore itu dan korban hilang sudah lebih dari 24 jam. “Trus gimana, Kak?” “Gimana lagi? Kita lanjutin!” teriak Gian memerangi suara hujan. “Pakai jas hujannya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN