Perisai Yang Retak

1305 Kata
Sabtu pagi di penthouse Brianna seharusnya menjadi sinonim untuk ketenangan. Tanpa spreadsheet yang memenuhi layar komputer dan tanpa dering telepon dari Baskara. Bagi Brie, akhir pekan adalah sakral-waktu untuk recharging. Ia biasanya memulai hari dengan rutinitas pagi di sport club eksklusif apartemennya; sedikit latihan beban di gym, beberapa putaran renang, lalu ditutup dengan relaksasi di jacuzzi yang hangat. Setelah menghabiskan dua jam untuk memanjakan fisik, Brie kembali ke penthouse dengan niat menikmati sarapan besar. Khusus akhir pekan, ia sengaja melonggarkan diet ketatnya. Namun, baru saja ia hendak menikmati full English Breakfast-nya, ketenangan itu hancur berantakan. Ponsel pribadinya bergetar di atas meja. Panggilan dari Baskara. Brie ragu sejenak. Ini di luar kebiasaan. Meski b******k, Brie tahu pria itu selalu menghargai waktu tenangnya. Akhirnya, ia mengangkat telepon itu. Baskara berbicara singkat, hanya lima menit, tapi cukup untuk mengacaukan pagi yang damai itu. Begitu sambungan terputus, ekspresi tenang di wajah Brie menguap seketika, digantikan ketegangan yang nyata. Ia membanting ponselnya pelan ke atas meja makan. "b******k," desisnya tajam. Baskara baru saja memberinya titah: ia harus menggantikan pria itu menemui seorang kepala daerah yang berniat 'mencuci' uang hasil korupsi lewat pembelian properti. Selama ini, Baskara selalu menjadi garda terdepan sementara Brie bertugas di balik layar. Tapi sekarang, Baskara memaksanya muncul ke permukaan dengan alasan klise: bentuk kepercayaan. Padahal Brie tahu itu omong kosong. Baskara hanya sedang main aman dari sorotan KPK setelah kasus salah satu menteri mencuat. Apalagi pria itu sedang sibuk menjilat ketua partai besar demi tiket dukungan di pemilihan kepala daerah nanti. Bagi Brie, ini adalah ancaman besar. Semakin sering ia terlihat bersama pejabat, semakin tinggi risiko identitas aslinya sebagai 'mesin cuci' terbongkar. Sebagai influencer dengan jutaan pengikut, setiap langkahnya di ruang publik adalah sasaran empuk kamera ponsel netizen. Sebuah email masuk ke ponsel Brie. Baskara mengirimkan brosur apartemen di pinggiran Jakarta sebagai 'sabun' untuk mencuci uang kotor itu. Skemanya gila: 20 miliar uang tunai akan disetor, tapi yang tercatat sebagai aset hanya apartemen seharga 5 miliar. Sementara sisa 15 miliarnya akan dibersihkan melalui perusahaan cangkang milik Baskara. Brie menggeleng-gelengkan kepalanya melihat angka itu. Ia lalu menekan nomor Bian. "Bian, nanti siang kamu ke sini. Ada kerjaan darurat." *** Sorenya, setelah meninjau apartemen di pinggiran Jakarta yang akan dibeli, Brie meluncur ke lokasi pertemuan. "Mbak, kata Pak Baskara lokasinya di private lounge Menteng. Keamanannya level tinggi, ada akses lift khusus juga. Nggak bakal ada yang lihat," ujar Bian dari balik kemudi, membaca pesan yang baru masuk ke ponselnya. Brie mendengus. "Akses khusus atau enggak, mukaku enggak bisa ditutupin. Sekali salah langkah, habis kita semua." Satu jam kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan klasik di kawasan Menteng. Tanpa harus melewati lobi utama, Brie langsung diarahkan menuju lift khusus yang membawanya ke lantai teratas. Brie menunggu di lounge yang sunyi itu. Aroma kayu cendana dan kopi mahal biasanya menenangkannya, tapi kali ini ia terus melirik Rolex di pergelangan tangannya dengan gelisah. Ia benci menunggu. Setengah jam kemudian, seorang pria setengah baya ber-polo shirt dan bertopi melangkah dengan santai. Sang Gubernur. Seorang gadis muda-mungkin baru awal dua puluhan-dengan outfit bermerek dari atas ke bawah yang logonya sangat mencolok, bergelayut manja di bahunya. Brie langsung merasa muak. "Dasar ani-ani norak!" desisnya dalam hati. "Maaf, Mbak Brie. Tadi ada urusan mendadak," ucap Pak Gubernur sambil menjabat tangan Brie singkat. "Kenalkan, ini Tissa" Si gadis langsung memekik kecil. "Ya ampun! Enggak nyangka ketemu Mbak Brie Anindita! Idola aku banget!" Matanya berbinar, menatap Brie dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia nyaris mengeluarkan ponsel untuk meminta foto, tapi Pak Gubernur langsung menahan tangannya dengan tegas. "Nanti saja, ya. Kita selesaikan dulu urusan apartemen kamu." Brie memasang senyum profesional, meski dalam hati ia sangat muak. Baru saja kemarin pagi Brie melihat berita pria itu berpose harmonis dengan istri dan anak-anaknya di acara bakti sosial. Dan sekarang, tanpa malu memamerkan simpanannya di depan mata Brie. Diskusi pun dimulai. "Semua sudah siap, Pak Gubernur. Unitnya siap huni bulan depan," ujar Brie sambil menyodorkan brosur apartemen yang diminta Tissa, lengkap dengan fasilitas yang sudah di-upgrade demi memuaskan simpanan sang pejabat. "Bagus, saya percaya kamu. Mengenai pembayarannya... saya tidak mau ada transfer. Terlalu berisiko. Malam ini, sekitar jam sepuluh, orang kepercayaan saya akan mengantarkan unitnya langsung ke apartemen Mbak Brie" Brie tersentak. "Ke apartemen saya, Pak? Bukan ke kantor?" "Di tempat Anda lebih aman, Mbak Brie. Tidak ada jejak yang bisa digeledah sewaktu-waktu. Saya mau uang ini pindah tangan secepat mungkin tanpa diketahui siapa pun." Brie terpaksa mengangguk. Namun otaknya berputar cepat memikirkan strategi lain. "Oke. Sekarang, silakan kalau mau foto," ujar Pak Gubernur pada Tissa yang sudah tidak sabar. Gadis itu langsung menghambur ke samping Brie. "Ayo Mbak, kita foto saranghaeyo!" Tissa membentuk simbol hati dengan jemari dan bibir yang dimanyunkan ke kamera. Sambil menahan mual, Brie memaksa bibirnya tersenyum. Begitu pertemuan selesai, Brie langsung menuju restroom. Ia mencuci tangannya dengan sabun berulang kali, seolah ingin menghilangkan jejak koruptor dan "mainan"-nya itu dari kulitnya. "Satu miliar, Bian," ucapnya tiba-tiba di tengah suara kucuran air. "Hah? Apa, Mbak?" "Mark-up harganya jadi dua puluh satu miliar di laporan Baskara. Anggap saja itu biaya risiko karena harus melayani ani-ani ingusan tadi." *** Pukul sepuluh malam, Brie dan Bian sudah standby di dalam Alphard hitam mereka di bahu jalan yang sepi, beberapa ratus meter sebelum gerbang utama apartemen. Logika Brie yang cermat akhirnya menemukan strategi untuk mengganti ide pengantaran uang yang lebih aman. Apartemennya bukan sekadar hunian mewah; itu adalah benteng dengan kamera keamanan di setiap sudut, sensor wajah, dan penjagaan berlapis yang mencatat setiap tamu asing. Menerima tiga koper besar dari orang asing tepat di depan pintu unitnya adalah cara tercepat untuk masuk radar PPATK atau KPK. Brie tidak ingin meninggalkan jejak sekecil apa pun. "Ingat, Bian. Begitu mereka datang, langsung pindahkan. Jangan banyak bicara," instruksi Brie, matanya tajam memperhatikan spion. Sebuah mobil boks polos berhenti tepat di samping mereka. Dua pria berbadan tegap turun dengan sigap. Tanpa banyak drama, mereka memindahkan enam kardus cokelat ke bagasi mobil Brie. "Semuanya pas, Mbak. Dua puluh miliar. Silakan dicek," ucap salah satu pria itu singkat. "Enggak perlu," jawab Brie dingin, meski jantungnya berdegup kencang. Begitu mobil boks itu menghilang di kegelapan malam, Brie segera bergerak. "Bian, buka kardusnya. Pindahin isinya sekarang." Di bawah lampu kabin mobil yang remang-remang, mereka bekerja cepat. Aroma kertas apek khas uang tunai langsung memenuhi kabin yang biasanya wangi parfum mahal. Brie merasa mual, namun ia harus memastikan semuanya rapi. Ia memindahkan tumpukan uang merah itu ke dalam empat koper Rimowa besar milik pribadinya. Strateginya sempurna. Sebagai pemilik unit dan influencer ternama, membawa koper-koper mahal masuk ke lobi adalah pemandangan biasa. Sekuriti hanya akan mengira Mbak Brie baru pulang dari perjalanan bisnis atau membawa perlengkapan syuting. Tidak akan ada yang curiga bahwa di dalam koper aluminium itu tersimpan uang rakyat yang cukup untuk meruntuhkan karier seorang Gubernur. "Bian, pasang muka capek. Jangan panik," bisik Brie saat mobil mereka memasuki gerbang apartemen. Di lobi, Brie turun dengan langkah anggun namun terburu-buru, memberikan kesan bahwa ia sangat lelah dan tak ingin diganggu. "Malam, Mbak Brie. Baru pulang?" sapa sekuriti lobi sambil membukakan pintu dengan sopan. "Iya, Pak. Habis syuting, ini bawa perlengkapan banyak banget," jawab Brie singkat sambil memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Begitu pintu penthouse terkunci rapat dari dalam, Brie langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Empat koper itu kini berdiri tegak di tengah lantai granit putihnya yang bersih. Bau uang itu kini memenuhi ruang tamunya yang estetik. Bian menyeka keringat dingin di pelipisnya, masih berusaha menetralkan napas. Sementara itu, Brie menatap koper-koper itu dengan tatapan benci sekaligus lapar. "Bian, ambil satu koper yang paling kecil. Isi dengan satu miliar... uang jajan kita." "Apa Baskara enggak akan curiga nantinya, Mbak?" tanya Bian ragu. "Itu urusan nanti. Kita bisa atur." Brie mengambil selembar uang seratus ribu dari koper, menatapnya di bawah lampu gantung kristal. Baskara sudah menempatkannya di tepi jurang. Bayarannya tidak cukup hanya dengan komisi. Ia harus mendapat lebih dari itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN