"Mbak, semua sudah siap. Daftar pengirim DM sudah saya sortir. Ada sekitar sepuluh ribu alasan yang masuk, mulai dari bayar tunggakan kontrakan sampai biaya berobat kucing," lapor Bian sambil menunjukkan layar Ipad.
"Pilih yang paling dramatis buat aku sebut nanti. Tapi pastiin nomor rekeningnya valid. Kita nggak mau ada uang yang mental balik ke sistem," perintah Brie.
"Siap, Mbak. Saldo di rekening 'Marketing' udah saya isi dua ratus juta untuk sesi 'live'. Sisanya nanti buat bagi-bagi di jalan," tambah Bian.
Tepat pukul sepuluh, Brie sudah duduk manis di sofa Roche Bobois-nya. Ia mengenakan blous katun putih polos, riasan wajahnya dibuat lebih tipis agar terlihat lebih bersahabat dan "tulus". Di layar ponselnya, angka penonton Live i********: melonjak drastis dari 5.000 menjadi 45.000 hanya dalam hitungan detik.
"Halo semuanya! Selamat hari Jumat! Selamat datang di Jumat Berkah Brie Anindita," sapa Brie dengan suara yang sangat ceria, melambaikan tangan ke kamera.
Kolom komentar langsung melesat seperti peluru. Nama-nama akun berterbangan, disusul doa-doa panjang yang mengharapkan kedermawanannya.
"Wah, rame banget ya hari ini! Oke, aku nggak mau lama-lama karena aku tahu kalian sudah nggak sabar. Hari ini aku sudah siapkan dana ratusan juta rupiah buat kalian yang beruntung," ucap Brie sambil tersenyum manis. "Bian, tolong dibantu ya, mulai transfer sekarang. Aku akan dahulukan orang-orang yang alasannya paling bikin aku tersentuh."
Brie mulai membaca beberapa nama akun. "Ini ada akun @Santi_Rahayu, katanya buat bantu biaya sekolah adiknya. Oke, Santi, sudah ditransfer ya! Cek saldo kamu sekarang. Lalu ada @Budi_Kurniawan buat modal dagang gorengan, sudah ya Mas Budi!"
Setiap kali Brie menyebut nama, Bian dengan sigap menekan tombol 'Execute' di sistem dashboard-nya. Di balik layar ponsel yang menampilkan wajah cantik Brie, ribuan transaksi kecil mengalir keluar, menyusup ke dalam sistem perbankan nasional, memecah uang besar milik Baskara menjadi butiran debu yang tak terlacak.
"Aduh, maaf banget ya buat yang belum kebagian," ucap Brie dengan nada yang dibuat seolah-olah sangat menyesal. "Hari ini jatah ratusan jutanya sudah habis dalam sekejap. Buat kalian yang belum beruntung, jangan sedih ya, silakan coba lagi di Jumat berikutnya. Aku pasti bakal balik lagi buat kalian. Jangan lupa ajak teman kalian buat follow aku juga ya."
Brie memberikan ciuman jauh ke kamera sebelum mengakhiri Live-nya. Begitu tombol 'End' ditekan, ia langsung menyandarkan punggungnya dengan lemas.
"Sudah semua Bian?" tanyanya lelah.
"Sudah, Mbak. Seratus juta masuk ke rekening follower, sembilan ratus juta terdistribusi ke rekening fiktif. Jejak digitalnya bersih, masuk kategori dana hibah dan promosi," jawab Bian puas.
"Sekarang kita lanjut ke jalan," ucap Brie sambil menutup ponsel. "Uangnya sudah siap?"
"Siap, Mbak. Tapi sesuai permintaan Mbak, uangnya nggak saya masukkan amplop biar kelihatan di kamera nanti," lapor Bian sambil menunjukkan tas ransel hitam berisi gepokan uang tunai.
Brie mengangguk puas. "Bagus. Visual itu segalanya. Orang nggak akan percaya cuma dengan amplop putih, mereka mau lihat wujud aslinya."
Mereka turun ke basemen, menggunakan mobil yang lebih 'sederhana', sebuah SUV hitam yang tidak terlalu mencolok tapi tetap mahal. Brie duduk di kursi belakang, sementara Bian di depan bersama supir, menyiapkan kamera untuk merekam.
Target mereka adalah pinggiran Jakarta Pusat. Begitu melihat deretan gerobak pemulung dan pengemis di trotoar, Brie menyuruh supir menepi.
"Kamera siap?" bisik Brie, kembali memasang wajah "Ibu Peri" yang penuh empati.
"Ready, Mbak."
Brie turun dari mobil. Ia melangkah mendekati seorang kakek tua yang sedang duduk di samping gerobaknya. Dengan gerakan yang sangat terlatih, Brie berlutut di depan kakek itu, menyentuh lengannya dengan lembut, lalu mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu yang baru dan kaku dari tasnya.
"Kek, ini ada sedikit rezeki buat makan malam ya. Sehat-sehat terus ya, Kek," ucap Brie dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terekam jelas di microphone Bian.
Kakek itu gemetar, matanya berkaca-kaca menerima uang satu juta secara cuma-cuma. "Gusti... terima kasih, Neng. Terima kasih banyak."
Brie tersenyum manis ke arah kakek itu, tapi matanya sesekali melirik ke arah lensa kamera Bian, memastikan sudut pengambilan gambarnya sudah pas. Aksi itu berlanjut ke tukang parkir, pedagang asongan, hingga ojek online yang mangkal. Setiap kali uang seratus ribuan itu berpindah tangan, kamera Bian menangkap detail warnanya yang merah menyala di bawah lampu jalanan.
Bagi orang-orang di jalanan itu, Brie adalah malaikat yang turun dari langit. Tapi bagi Brie, setiap lembar uang yang ia bagikan adalah beban yang berkurang dari pundaknya. Menyalurkan uang tunai secara fisik begini adalah cara tercepat untuk menghabiskan "uang kembalian" dari transaksi gelap Baskara yang tidak masuk ke pembukuan digital.
"Dapet semua gambarnya?" tanya Brie dingin, begitu kembali ke mobil.
"Dapet, Mbak. POV-nya pas banget. Ini bakal viral lagi di t****k besok pagi," jawab Bian sambil memutar ulang rekaman singkat itu.
Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan Jakarta, suasana langsung berubah drastis. Begitu pintu tertutup, empati yang tadi terlihat di wajah Brie menguap tanpa sisa. Ia menatap tangannya yang tadi bersentuhan dengan tangan-tangan kasar orang jalanan. Ia merasa kotor, bukan karena tangan mereka, tapi karena ia tahu bahwa ia menggunakan orang-orang tak berdosa itu untuk menyelamatkan para perampok uang rakyat. Brie menarik napas panjang— paling tidak, meski sangat kecil ia telah mengembalikannya pada mereka, bisik hati Brie. Sebuah pembelaan yang terlalu naif.
"Langsung edit, Bian. Kasih backsound sedih tapi inspiratif. Kita harus jaga status 'Influencer Paling Dermawan' ini tetap hidup. Dan pastiin si kakek tadi jadi POV. Shot si kakek ambil uang sambil gemetaran itu dibuat slow, biar kelihatan dramatis," instruksi Brie sambil membenahi tatanan rambutnya di dalam mobil.
Bian mengangguk. "Tenang Mbak, angle-nya nanti aku zoom."
Brie tersenyum tipis, tapi penuh sinisme. Menghabiskan sepuluh juta rupiah adalah investasi termurah untuk sebuah konten yang bisa menghasilkan jutaan views. Di tangan editor handal, momen pemberian uang yang cuma berlangsung sepuluh detik itu bisa 'digoreng' menjadi video YouTube berdurasi tiga puluh menit.
Brie menatap ke luar jendela. Dia tahu penontonnya akan menangis haru, memuji kedermawanannya di kolom komentar, dan semakin percaya bahwa bisnis skincare-nya diberkati karena rajin sedekah. Padahal, durasi video yang panjang itu hanyalah cara untuk menyelipkan lebih banyak iklan dan membangun narasi empati.
"Bian, nanti pas edit di YouTube, tambahin narasi soal 'pentingnya berbagi di saat kita di atas'. Bikin orang ngerasa kalau aku itu bener-bener tersentuh," tambah Brie.
"Siap, Mbak. Mau ditambahin POV Mbak nangis dikit di dalam mobil setelah bagi-bagi?"
Brie terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Boleh. Ambil shot pas aku nunduk, tutup muka pakai tangan, seolah-olah nggak kuat lihat penderitaan mereka. Biar trending."
Bagi Brie, kemiskinan adalah komoditas. Dan malam ini, dia baru saja membeli simpati publik dengan harga yang sangat murah, demi menyembunyikan dosa perampok uang rakyat yang nilainya triliunan.
"Follower naik berapa, Bian?" tanyanya tanpa menoleh.
"Sudah nambah sepuluh ribu sejak Live 'Jumat Berkah' tadi berakhir, Mbak. Dan video pendek yang baru saya upload di t****k soal bagi-bagi uang tadi... sudah tembus dua ratus ribu views dalam lima belas menit," lapor Bian sambil terus memantau dashboard dari tabletnya.
Brie men-scroll kolom komentar. Matanya yang tajam menyaring mana komentar asli dan mana yang digerakkan oleh tim buzzer Baskara. Tangannya lalu berhenti bergerak, membaca sebuah komentar:
"Brie Anindita adalah bukti kalau masih ada orang kaya yang punya hati'."
Brie tertawa sinis. Ia melihat profilnya: 2,5 juta pengikut. Angka itu terus bergerak naik layaknya bursa saham yang sedang 'bullish'.
Bagi Brie, pengikut-pengikutnya ini adalah 'perisai'. Semakin banyak jumlah mereka, semakin kuat benteng yang melindungi bisnis gelapnya. Dia butuh pengikut organik yang militan untuk melindunginya jika sewaktu-waktu ada yang 'mengusik'nya.
Ia menyandarkan kepalanya, menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang sudah mati. Wajahnya tampak lelah oleh sandiwara gela yang tak pernah selesai.