“Maaf... gue kebawa perasaan.” Ucapan datar itu dibarengi dengan tindakan Tristan melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Casey. Laki-laki itu menarik napas panjang dan membuang muka. Dia berusaha untuk tidak kembali memeluk Casey, ketika mendengar suara tangis Casey yang, meskipun sudah tidak sekeras tadi, tetapi masih terdengar memilukan. Tak lama, dia tidak mendengar isak tangis itu lagi. Tristan melirik Casey sekilas dan mendapati isteri tengilnya itu sedang menghapus air mata. Ah... isteri tengilnya. Sebentar lagi julukan itu akan berubah menjadi ‘mantan isteri tengil’. “Nggak apa-apa,” kata Casey setelah berhasil menghapus air matanya. “Gue juga sempat terbawa... suasana.” Tristan hanya mengangguk kaku dan menatap Casey

