6. Menghilangkan Jejak

2126 Kata
Laki-laki itu berangkat kerja seperti biasa. Karena ia tinggal di desa dan kecamatan yang berbeda tapi tak begitu jauh juga dengan tempat ia kerja. Pukul tujuh pagi ia sudah tiba di tempat kerjanya. Laki-laki itu memarkirkan sepeda motornya  di tempat para pekerja di tempat itu meletakkan motor. Masuk, ia disambut seorang perempuan. Setelahnya, ia mulai sibuk dengan jati diri malaikatnya. Meninggalkan sosok pelaku penculikan, menggauli istri orang, dan mencintai seseorang dalam hati. Saatnya bekerja, karena inilah kedok baik yang ia lakukan untuk bertahan dalam segala situasi. Di tempat lain, Saka yang sudah mendapatkan motor bekas dengan harga murah, karena Tata mengajaknya membeli langsung pada seseorang. Bukan di dealer. Sore kemarin, Saka dan Tata menuju beberapa dealer. Tapi Tata tak cocok dengam harganya. Saka sih, cocok saja. Harganya di bawah sepulug juta semua. Hanya saja Tata yang ngeyel, karena merasa kasihan jika Saka harus mengeluarkan banyak uang. Ia pikir, Saka sudah jauh dari rumah asalnya, hidup sendirian di desa, belum lagi kebutuhan lain. Tata tak suka kebucinan Saka malah jadi membuat laki-laki itu bangkrut. Akhirnya Tata bertanya pada temannya lain. Rupanya, ada yang sedang butuh uang dan hendak menjual motor. Dengan harga lebih murah ketimbang di dealer tentunya. Saka harus mengakui kegigihan Tata. Sudah begitu Tata pintar menawar harga pula. Sampai malam keduanya jalan. Tata menemani Saka belanja kebutuhan di rumah. Tata mengajak Saka ke salah satu swalayan keluarga. Di sana Saka bisa membeli segala kebutuhannya. Naik motor masing-masing, agar Saka terbiasa dengab jalan kota. Untuk keperluannya selama di desa Amira, Saka membeli peralatn mandi, sprei dan bantal untuknya tidur, kebutuhan pribadi lain dan juga sapu untuk membersihkan rumah. Tak lupa beberapa camilan dan minuman sekadar menemaninya di kontrakan. Juga buku catatan dan alat tulis. Karena kerjaan sekarang ia serahkan pada pegawainya, ia akan tetap memantau dari sini. Misal, berapa jumlah orderan instansi tertentu yang sudah jadi langganan, menghubungi stok bahan baku, atau kadang membuat sketsa. Pagi ini ia sudah bisa mandi pakai sabun, sampo, cukuran kumis, dan handuk. Ia sisir rapi rambut belah tengahnya. Menatap diri pada pantulan cermin yang ditempelkan dengan isolasi putih ke dinding. Milik penghuni sebelumnya. Setelahnya ia bersiap pergi ke rumah sakit guna menggantikan orang tua Amira yang juga butuh istirahat. *** Pak Abidin dan Istri tampak senang dengan tawaran Saka pada mereka. Sejak Saka pulang rupanya dua orang di rumah sakit itu belum pulang sama sekali ke rumah secara bersama-sama. Kadang Pak Abidin saja yang pulang tapi langsung kembali, atau istrinya saja dan kembali lagi ke rumah sakit. Tak ada yang benar-benar jenak ri rumah. Pikiran mereka hanya tertuju pada sang anak yang masih lelap dalam mimpinya. "Om pulang saja dulu sama Tante. Biar saya yang jaga Amira di sini." Saka tak enak juga, membiarkan orang tua Amira yang kerepotan. Mereka hendak pulang, tapi tamu datang silih berganti. Selain pulang bergantian, kadang hanya meminta tolong Tata yang memang tetangga, teman serta tempat kerjanya dekat dengan rumah sakit untuk mengambilkan baju. Karena tak mau masuk kamar guna mengambil baju di lemari, Pak Abidin menyarankan Tata mengambil baju ganti mereka berdua di cucian kering. Tata pun setuju, padahal orang tua Amira sudah percaya saja sama Tata untuk masuk rumah dan kamar. Tata juga sering main ke rumah mereka. Tapi Tata takut terjadi apa-apa. Apalagi setelah ada insiden kerampokan yang sampai menculik Amira. Tata hanya mengambil baju di cucian keriang. Tak perlu masuk kamar, hanya di dekat kamar mandi ada kamar kecil yang digunakan menaruh cucian setelah diangkat dari jemuran. Biasa digunakan untuk melipat baju dan setrika sekalian. Kamar tanpa pintu, hanya tira saja yang menjadi penutup. Lewat pinti belakang lebih dekat. "Makasih, Nak Saka. Makasih banyak." Pak Abidin dan istri memakai motor Saka untuk pulang sejenak ke rumah. Mereka butuh mandi, segar dan Saka harap orang tau Amira itu bisa istirahat sejenak. Biar hari ini berjaga di rumah sakit. Sambil menjaga Amira yang entah kapan akan bangun, Saka menelpon pegawainya. Ia sudah memesankan barang yang habis. Ia juga minta laporan pendapatan. Biasanya soal uang ia akan dibantu ibunya di sana. Dan Saka memiliki satu orang kepercayaan yang ia percayai urusan uang. Segala pemasukan, pengeluaran selama ia tidak di tempat, dilaporkan setiap hari. Bahkan saat izin memakai uang untuk beli camikan sianh karena sedang terik dan pesanan sedang ramai pun, juga izin ke Saka. Setelahnya, ia coba mengirim pesan ke Tata. Baru semingguan mengenal gadis itu, Saka merasa cepat akrab. *** Laki-laki itu melewati jalanan di depan rumah Amira. Pulang kerja, lalu mampir sejenak untuk beli makan. Sore, saat ia hendak pulang, ia lewati dulu rumah Amira. Memastikan tak ada orang di sana. Namun sayang, harapan untuk masuk ke rumah tersebut untuk mengambil ponsel jadi harus batal. Laki-laki itu melihat motor dan pintu rumah terbuka. Tanda ada orang yang pulang. Apa Amira sudah sadar dan dibawa pulang? Apa akan ada investigasi? Apa keluarganya sudah tidak menjaga Amira lagi? Berbagai pertanyaan timbul tenggelam dalan benak laki-laki itu. Berbagai prasangka membuatnya panik dan ketakutan sendiri. Ia remas tangannya panik, sambil duduk di atas jok motor dan masih di depan pintu gerbang rumah Amira. Suara benda jatuh dari teras rumah Amira, membuat laki-laki itu terkejut dan menoleh. Ia toleh, rupanya ibu Amira sedang menyapu teras dan mejatuhkan kursi. Ia sudah ketakutan. Tak pikir panjang, laki-laki itu langsung tancap gas. Ibu Amira yang melihat, hendak memanggil. Ia mengenali laki-laki itu sebagai teman Amira. Ia pikir mungkin Amira sudah sadar dan pulang makanya ingin mampir. Padahal, ibu Amira ingat laki-laki itu kapan lalu datang ke rumah sakit menjenguk Amira. Ibu Amira ingin memanggil dan mempersilakan duduk, tapi karena sudah tancap gas, niat itu pun urung. Ia lanjutkan menyapu teras yang sudah tak karuan debunya. Rumah juga ia bersihkan. Barang-barang Amira ia tata ke tempatnya, menjauhkan dari kondisi yang nanti bisa mengingatkan Amira tentang kejadian hari itu. Pak  Abidin di belakang sana tengah berbaring di depan televisi. Tubuhnya belum pernah benar-benar lurus berbaring. Di rumah sakit hanya tidur beralas tikar dan tulang tuanya tak begitu akrab dengan hal tersebut. Sejenak ia ingin berbaring, sambil menunggu sang istri yang bersih-bersih. Setelahnya, sore atau nanti malam ia akan kembali ke rumah sakit menggantiak Saka. *** _Masih kerja, Ta?_ Pukul satu siang, jelas saja Tata sedang sibuk di depot. Ponselnya di tas. Maka dari itu, pesan Saka baru Tata bals sekitar jam setengah empat. Setelah semua beres, dan pengunjung sepi. Tinggal menyicil cucian. Sementara Tata sudah santai setelah menumpuk wadah anek kue basah yang masih dan sisa. Wadah kosong di mundurkan, yang sisa ia jadikan satu dengan kue lain agar tak makan tempat. _Baru selesai. Kenapa?_ Saka yang baru selesai menelpon ibunya, mengabarkan tentang keadaannya dan juga kondisi Amira pun segera membalas pesan Tata. _Oh, sory ganggu. Aku nggak tahu kamu sibuk banget. Btewe, kamu mau mampir ke rumah sakit? Aku di sana sekarang_ _Buat apa mampir_ _Kalau mau. Kalau nggak ya gak papa. Pak Abidin sama istri aku minta pulang_ Tata tak membalas, karena panggilan dari pemilik depot memintanya membungkus sayur. Ada orang beli. Saka di sana tak bisa berharap banyak. Padahal ia akan senang Tata mau mampir. Ia sendirian sejak pagi. Ada dua penjenguk, yang rupanya tetangga Amira. Menitipkan amplop untuk keluarga Amira. Kembali menekuri ponsel, mencari hiburan sendiri. Hingga perutnya merasa lapar. Hari hampir petang. Perawat masuk begitu Saka hendak keluar membeli makanan. Perawat mengganti infus, mengecek suhu, dan menanyakan beberapa keadaan pada Saka. Setelahnya, baru Saka hanya berdua dengan Amira saja. Baru hendak keluar, ia dapati Tata berjalan masuk. Saka tampak kaget tapi ia senang. "Tadi katanya sibuk." Tata hanya mengendikkan bahu. Ia mendekat ke ranjang Amira. Melihat sahabatnya yang entah sampai kapan ingin bangun. Kepalanya masih terliat diperban karena luka di bagian belakang. "Ta, kamu udah makan?" tanya Saka, membuyarkan lamunan Tata pada Amira yang masih tiduran. "Belum. Kenapa?" "Cari makan yuk! Aku juga sedang lapar. Dari tadi tidak enak makan sendirian," alasan Saka. Tata tampak berpikir sejenak kemudian ia mengangguk. "Ya sudah, mau makan di mana." "Di depan aja situ, nanti kita bawa ke sini. Makan di sini saja, soalnya nanti Amira tidak ada yang jaga." "Pak Lek mana?" tanya Tata yang celingukan melihat sekitar ruangan tidak ada tanda-tanda orang tua Amira. "Om sama Tante aku suruh pulang pakai motorku. Mereka butuh istirahat, benar-benar istirahat dan barusan juga aku telepon untuk tidak kembali ke sini. Biarlah mereka istirahat di rumah malam ini, kasihan mereka sudah semingguan tidur di rumah sakit terus." Dalam benak Tata, laki-laki ini benar-benar merasakan kebucinan Saka yang levelnya sudah tinggi. Meminjamkan motor kepada mantan mertua yang tidak jadi, dan menjaga mantan kekasih yang sedang terkapar. Bahkan ia rela kesakitan sendirian di rumah sakit ini. "Oke deh," jawab Tata. Keduanya pun melangkah menyusuri lorong Rumah Sakit menuju pintu keluar. Ada jajaran warung yang berjualan di dekat rumah sakit, karena posisi ruangan Amira ada di bagian belakang yang mana dekat dengan rumah penduduk. Jadilah banyak warung makan yang kata orang lebih murah dan juga lebih enak ketimbang jualan di area depan. Di area depan rumah sakit ini juga berjajar penjual menggunakan gerobak dan pertokoan seperti minimarket dan warung makan yang terbilang harganya lebih mahal. Tata sudah hafal soal itu karena ia juga bekerja di dekat Rumah Sakit. Alalagi area belakang rumah sakit itu dekat dengan kos-kosan anak kuliah yang jaraknya tidak sampai satu kilometer dari rumah sakit tersebut. Tentu harganya pun aman di kantong Tata. "Di warung itu aja yuk! Aku pernah beli di sana dan enak," promo Tata. Menurut, ia pun mengikuti Tata menuju warung yang emang agak ramai dengan anak-anak muda yang sepertinya anak kos-kosan. Setelah giliran Tata, ia memilih menu nasi, mie goreng, sambal goreng tahu, juga telur dadar dan sambal. Sementara Saka ia memilih nasi, tumis kangkung, ayam goreng, perkedel jagung dan juga sambal. Tak lupa keduanya juga membungkus es teh manis. Sayangnya es teh di situ menggunakan plastik yang memang awam bagi Saka. Keduanya kembali ke ruangan Amira. Membuka bungkus, keduanya makan sambil duduk bersila di atas tikar yang disediakan untuk para pengunjung atau untuk istirahat sejenak orang tua Amira. Tak ada sendok keduanya pun memakai tangan. Saka melihat Tata makan rasanya sangat lahap. Ia berpikir mungkin Tata sedang kelaparan karena pulang kerja. Setelah beberapa suapan, Tata menggigit ujung plastik es tehnya hingga menimbulkan lubang kecil. Di sana ia masukkan sedotan dan mulai menyedot es teh. Melihat cara Tata melakukannya, Saka pun terheran-heran namun ia juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Tata. Ia baru pertama kali ini minum es teh dengan cara di plastik, apalagi cara tata dengan menggigit lebih dulu ujungnya. Lubang kecil itu dibuat tempat sedotan. Agak ribet sepertinya karena ia biasanya membeli es teh sudah terbentuk kemasan gelas plastik. Melihat Saka yang agak kerepotan membuka es teh, Tata pun mengambil bungkusan itu. Menggigit ujungnya dan memasukkan sedotan seperti miliknya dan menyerahkan lagi kepada Saka. "Kamu belum pernah minum es dari plastik ini ya?" tanya Tata hati-hati karena ia takut menyinggung. Sak menggangguk. "Iya, aku baru pertama kali. Biasanya aku beli es dalam bentuk gelas plastik di depan sana." Mau tak mau dengan kepolosan Saka, Tata pun tertawa. Tawa pertama yang hadir dari perempuan cuek dan judes itu pada akhirnya Saka lihat. Setelah mengenal semingguan lebih, baru kali ini Saka melihat tawa di bibir Tata dan ia mulai merasa Tata terlihat cantik dengan senyuman itu. Karena bagaimanapun, selama mengenal dan dekat dengan Tata, tak pernah sekalipun Tata menunjukkan senyuman itu. Tata memang cuek padanya, tapi tetap saja Tata banyak membantunya. Tak pernah rewel, tak pernah kepo, dan memutuskan yang terbaik untuknya. Ia pun salut pada Tata. "Kenapa lihatin aku," tanya Tata bingung karena Saka bukannya langsung meminum es tanya malah memandanginya. "Baru kali ini aku lihat kamu senyum. Kemarin-kemarin kamu cuek banget sama aku, padahal aku nggak tahu salah apa sama kamu. Apa aku terlalu ngerepotin?" Tata mendengar laki-laki malah tertawa. "Astaga aku memang begini orangnya. Aku tidak gampang menunjukkan sikap manis pada orang tapi aku bisa menjadi teman yang baik. Apalagi kamu adalah teman Amira ah, lebih tepatnya kamu mantan Amira kan. Dan Amira itu temanku." Saka agak terkejut dengan informasi yang sudah diterima Tata padahal ia tidak memberitahu apa pun, dan bagaimana hubungannya dengan Amira. "Kok kamu tahu aku mantan Amira. Emangnya dia banyak cerita soal aku ke kamu?" tebak Saka. Tata menggeleng. "Nggak sih, dia nggak pernah cerita soal kamu sama aku. Mungkin karena dia sudah melupakan kamu jadi nggak penting-penting amat diingat apalagi diceritain," canda Tata yang membuat Saka pura-pura tersinggung. Melihat wajah Saka yang cemberut Tata pun tersenyum. "Ah biasa aja kenapa sih. Laki-laki selalu marah jika ia tidak dianggap penting." Saka menggeleng. "Bukan begitu maksudku, kamu tahu dari mana kalau memang Amir tidak pernah cerita tentang aku." "Dikasih tahu Paklek kalau kamu itu dulu pernah ada hubungan sama Amira tapi putus karena LDR." Keduanya pun semakin akrab, tawa membahana di ruangan Amira sehingga terasa malam menjelang. Amira masih lelap dalam tidurnya sementara dua orang yang menjaganya tengah bercerita satu sama lain. _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN