Pukul delapan malam akhirnya Amira putuskan untuk pulang. Diantar Saka di pintu masuk belakang, Tata melajukan motornya. Setelah hilang dari pandangan, Saka kembali ke kamar. Ia membereskan sampah makanan yang berserakan. Tadi ia dan Tata sempat banyak ngobrol, maka dari itu mereka memutuskan untuk membeli camilan di toko depan. Ada beberapa minuman dan juga snack ringan.
Saka baru tahu bahwa Tata bekerja di sebuah tempat makanan yang mana setiap siangnya selalu tak bisa berbuat apa-apa selain pekerjaan, bahkan memegang ponselnya. Ia terlalu sibuk dengan pelanggan yang datang. Makanya ia tak bisa membalas pesan Saka cepat-cepat saat siang ia menghubungi.
Saka juga bercerita bahwa ia dan Amira dulu sempat ingin menikah, tapi karena keadaan membuat mereka terpisah. Hubungan LDR memang tidak pernah mudah. Namun sekarang hubungan mereka layaknya sahabat atau kakak dan adik. Jadi ia juga santai, tidak terlalu berharap pada hubungan keduanya. Ia hanya ingin balas budi dan memperlakukan Amira sebagai keluarganya sendiri yang sedang kesusahan.
Saat di Jakarta dulu, ia juga sering dibantu oleh orang tua Amira. Kedua keluarga juga saling hubungan baik. Saka juga sudah dianggap keluarga sendiri, anak sendiri Oleh Pak Abidin. Bagaimanapun juga Amira adalah anak tunggal yang tidak memiliki saudara sehingga baik kedua orang tua pun sudah saling menganggap anak masing-masing. Meskipun pada akhirnya hubungan mereka tidak berjalan mulus untuk menjadi pasangan kekasih, tetap saja hubungan mereka masih bertahan layaknya saudara yang akan saling menyayangi dan menjaga.
Setelah selesai membersihkan sampah, Saka berbaring di tikar yang tadi ia gunakan untuk makan bersama Tata. Ia buka ponsel dan membalas pesan dari karyawannya mengabarkan bahwa sudah mengirimkan desain laporan pemesan barang yang sudah diterima. Rincian, kekurangan, dan biaya. Sejauh ini keadaan aman. Semua karyawannya bisa meng-handel kerjaan di bagian masing-masing.
***
Pak Abidin dan istrinya mengenakan helm milik Saka. Keduanya siap berangkat kembali ke rumah sakit. Tak lupa ia membawakan bekal untuk Saka. Bensin juga sudah ia isi tadi pagi di tetangga. Motor milik Saka tak bisa ia biarkan kehilangan bensin karena dirinya.
"Bu, baju ganti Amira sudah dibawa sekalian?" tanya Pak Abidin pada sang istri yang mengunci pintu.
"Sudah."
Sang istri naik ke motor. Dengan membawa tas berisi baju ganti, makanan dan juga selimut. Andai tidak mengembalikan motor Saka, Pak Abidin ingin naik mobil saja ke rumah sakit. Ia kasihan dengan sang istri yang kesulitan membawa barang di tengah.
Motor pun melaju, meninggalkan rumah mereka yang sudah bersih. Tak ada barang yang berserakan, terutama di kamar Amira. Tak ada lagi jejak pernah ada kisah menegangkan di sana.
Setelah kepergian Pak Abidin, laki-laki yang dalam perjalanan berangkat kerja itu tampak mengawasi rumah Amira. Ia melihat penghuni rumah sudah tidak ada. Ia hendak beraksi, namun lalu-lalang orang berangkat kerja, ke sawah, anak-anak sekolah yang membuat jalanan ramai, membuat ia urung.
Tak jadi melancarkan aksinya, laki-laki itu melanjutkan perjalanan.
Tiba di tempat kerjanya, laki-laki itu meletakkan tas. Baru juga tas diletakkan, ponselnya berbunyi. Dari Agustina. Senyumnya tertarik keluar. Sudah berapa hari perempuan itu tak mengabari dirinya. Biasanya memang saat suaminya pulang, Agustina tak akan menghubunginya sama sekali. Kalau sang suami sudah kembali, barulag perempuan itu menghubungi.
Namun, jika dihitung-hitung, belum ada satu minggu. Padahal Tina, panggilan akrabnya di sekitar, mengatakan bahwa suaminya akan pulang selama seminggu. Tumben saja.
"Hei?" sapa laki-laki itu.
"Yang, temeni aku dong. Gabut nih!" curhat Tina.
"Kan ada suami kamu, Sayang."
Di seberang sana Tina merajuk. "Uh, dia pulang sebentar, kelon juga sebentar, sudah ke mana-mana. Aku dianggurin, Yang. Nggak mau angetin aku? Dingin nih," manja Tina.
Laki-laki itu mendesah resah. Ia ingin sekali menerjang perempuan sintal itu sekarang juga. Tapi, ia sedang di tempat kerjanya. Bagaimana bisa ia izin sejenak untuk menggauli kekasihnya itu lalu balik lagi? Sekarang sudah jam kerjanya. Mau tak mau ia harus menahan hingga sore.
"Sayang, aku lagi kerja. Nanti malam ya. Kita jalan dan aku janji nggak bakal biarin kamu kedingingan."
Tina merajuk lagi. "Ih, sini aku bilang sama atasanmu. Dia kan juga perempuan, masa nggak ngerti sih kebutuhan sesama perempuan. Butuh perhatian, sentuhan, belaian."
Laki-laki itu menggeleng. "Jangan. Nanti ya, sore aku pulang kerja langsung ke tempat kamu."
Laki-laki itu menenangkan. Dengan bujuk rayu, akhirnya Tina menyerah. Panggilan berakhir dan laki-laki itu keluar dari persembunyiannya. Ia tak mau terdengar mesra sedang teleponan dengan Tina.
***
"Loh, udah dateng, Yan."
Tata menyapa Rayan yang terlihat sudah datang dan keluar dari gang samping depot. Samping parkiran depot ada gang setapak yang menuju ke pekarangan pemilik depot. Pemilik tempat kerja Tata ini dulu punyq sawah dan dikerjakan sendiri. Karena sudah membuka depot, tetap saja menyisakan pekarangan untuk menanam sayuran. Ada banyak pohon rindang di sana. Tak jarang kebutuhan masak depot juga mengambil di sana. Terutama daun-daunan seperti daun salam, jeruk, aneka rempah seperti kunyit, jahe, kencur, kunci, temulawak. Ada juga pohon nangka yang buahnya masih muda dimasak sayur tewel, pohon jambu, jeruk pecel, belimbing, pisang, dan lain.
Rayan yang sambil membalas pesan di ponsel segera memasukkan ke kantong.
"Iya. Barusan juga kok."
Tata mengangguk. Keduanya segera masuk. Tata meletakkan tas dan segera ia bersiap. Mengukat rambut agak tinggi, dan mulai membersihkan meja serta menata aneka lauk yang sudah matang lebih dulu. Aneka sayur datant setelahnya. Beberapa orang datang mengantar titipan kue, lauk dan beberapa makanan yang akan dijual di depot tersebut.
"Ta, catatan Mbak Sih ambilkan."
Bu Tiwi, pemilik depot sekaligus atasan Tata itu menunjuk etalase di mana tempat catatan disimpan. Setelah mengambilkan, Tata kembali pada kesibukannya. Kali ini ia mengangkat sayur dari dapur ke tempat dagangan bersama ibu-ibu tukang masak.
Sementara Rayan, ia sudah mulai memukuli ea batu. Menyiapkan keranjang berisi jeruk peras, air mendidih untuk menyeduh teh satu panci besar, dan beberapa minuman sachet yang ia rentangkan.
Pukul delapan depot sudah buka namun menu yang tersedia belum lengkap. Meski begitu, penjual sudah berdatangan. Sayur yang ada saja sudah diburu, apalagi saat siang. Biasanya pagi begini orang banyak membeli nasi bungkus untuk dibawa pulang sarapan. Atau biasanya dibawa ke sawah untuk para pekerja.
Pagi yang mulai sibuk, bahkan Tata tak sempat juga melihat isi ponselnya yang ada kiriman pesan dari Saka. Ajakan untuk jalan nanti sore jika Tata pulang kerja.
***
"Aku kira kamu nggak mau," kata Saka begitu melihat Tata datang ke rumahnya.
Tata mengendikkan bahu. "Sebenarnya sih, nggak pengen. Tapi aku mau ke suatu tempat dulu. Nggak masalah kan, kalau kita mampir ke sana dulu?"
Tata kemudian mengeluarkan kameranya. Seketika itu Saka langsung terkejut dan berbinar. Namun ia menyembunyikan rasa senangnya. Kamera itu, benda yang ia incar kini di depan mata. Ia semakin dekat dengan bukti penyerangan pada Amira.
"Ini apa?" tanya Saka dengan tenang. Ia menyembunyikan rasa senangnya dengan baik.
"Kamera, peninggalan bapakku. Model lama sih, mungkin gambarnya nggak setajem kamera sekarang."
"Oh. Terus, kenapa bawa kamera segala?"
Pikir Saka, mereka kan cuma jalan. Paling juga makan. Masa sampaia harus bawa kamera segala? Dan jika melihat tipe Tata, ia bukan perempuan yang gemar mengambil gambar dirinya.
"Nanti juga tahu. Ayo, berangkat!" ajak Tata.
Saka pun menurut saja. Bahkan saat Tata memboncengnya dengan motor, setelah perdebatan panjang siapa yang membonceng. Saka tak tahu arah, dan ia kurang suka dibonceng perempuan. Harga dirinya sedikit terkoyak. Sementara Tata yang lebih tahu jalan, tak mau jika nantinya ia jadi lama sampai karena harus menuntun arah ke Saka.
Baiklah, Saka mengalah. Ia tutup wajahnya dengan helm agar tak dikenali. Ah, lupa. Memangnya siapa yang bakal mengenalinya sih.
Setelah magrib keduanya berangkat. Melewati sawah-sawah untuk keluar dari desa menuj7 kecamatan. Di sana, dekat balai desa, sedang ada pasar malam.
Memarkirkan motor, Tata mengajak Saka masuk ke lapangan balai desa yang sudah disulap menjadi arena pasar malam. Banyak penjual dan pengunjung yang datang. Pun dengan beragan permainan khas pasar malam.
"Ini ... pasar malam?"
Tata mengangguk. "Iya. Dan aku mau ambil foto di sini."
Saka menoleh. "Orang-orang di sini?"
Mengangguk. "Iya. Aktivitas mereka. Aku suka mengambil foto random. Orang-orang, kegiatan, atau komedi putar yang lampunya warna-warni itu. Bagus dan estetik."
Saka tak mengerti. Tapi ia pernah tahu hobi seseorang yanh suka memotret obyek random seperti Tata.
"Kamu mau minum? Aku mau beli es nih."
Saka tak menjawab, tapi ia mengikuti langkah Tata ke salah satu penjual es serbuk dengan aneka rasa.
"Red velevet satu." Lalu Tata melirik Saka. "Kamu?"
"Capucino."
Pesanan mereka sedang diracik. Sambil menunggu, Tata mengeluarkan kameranya. Ia mulai memotret obyek lalu-lalang pengunjung, orang tua yang menempel di pagar sememtara anak-anak mereka sedang naik kuda-kudaan, penjual gelembung yang ditiup, tawa anak kecil kala naik kereta, dan ia putat ke samping ... memotret Saka yang tengah menatap ponsel.
Tata tersenyum melihat hasilnya. Suara penjual membuat Tata memasukkan kamera lalu menerima pesanan tersebut. Saka di sampingnya mengeluarkan uang untuk membayar minuman keduanya.
"Ke mana habis ini?" tanya Saka.
"Naik itu yuk!" ajak Tata sambil menunjuk komedi putar berbentuk keranjang yang bergerak naik turun memutar.
Melihatnya, Saka hanya bisa menelan ludah. Pasalnya ia tidak pernah menaiki wahana itu. Jika disuruh memilih, ia lebih memilih menaiki permainan yang lebih mudah seperti naik kuda, naik kereta, namun ia sadar diri bahwa permainan itu bukan ditujukan untuk orang dewasa melainkan hanya untuk anak kecil. Bagian tubuhnya juga tidak akan lolos seleksi oleh pemilik permainan. Bisa-bisa ia malah merusak benda-benda tersebut saat menaikinya.
"Kenapa nggak mau sih? Kan asik, seru itu, cobalah sekali-kali biar kamu tahu rasanya. Jangan-jangan kamu emang nggak pernah naik komedi putar ya."
Saka mengangguk. "Iya sih, aku memang belum pernah naik itu. Bahkan di Dufan saja aku tidak memilih naik itu. Yang penting aku senang basah, air lebih seru dan baik bagiku."
Tat bercak. "Ah dasar. Ayo!" Tanpa sadar Tata pun menggandeng tangan Saka. Laki-laki itu awalnya kaget dan ia masih melihat tangannya yang digandeng Tata. Ada senyum yang tertelan setelahnya, begitu Tata melepaskan begitu saja ketika tiba di depan loket.
"Dua ya, Pak," kata Tata saat membeli tiket untuk mereka berdua. Dua tiket pun sudah di tangan, saatnya Tata membawa ke petugas yang menjaga dan menerima tiket tersebut sebelum masuk ke salah satu keranjang.
Tata dan Saka masuk dengan perlahan. Saka agak ngeri begitu Tata masuk duluan dan keranjang itu bergerak, membuat Saka langsung berpegangan pada Tata dan tangan satunya masih berpegangan pada besi.
"Tenang aja, nggak apa-apa kok, aman. Paling kalau jatuh ya bunyi gitu," canda Tata yang makin membuat Saka ketakutan.
Saka melotot terkejut dengan candaan Tata yang menurutnya tidak tepat di saat seperti ini.
Setelah keduanya duduk, petugas tersebut mengunci kerranjang dan keranjang pun berputar naik ke atas dengan perlahan. Suara mesin diesel sedikit memekakkan telinga, sehingga jika keduanya ngobrol tidak akan jelas kalau tidak sambil berteriak.
Di dalam keranjang itu Tata mengeluarkan kameranya. Ia melihat hasil foto yang diambil hari ini. Saka penasaran dan ia ingin tahu seperti apa sih hasil foto dari Tata. Ia pinjam kamera tersebut, perlahan Saka membuka satu per satu foto tersebut hingga sampailah pada bidikan di hari di mana Amira di Serang. Tujuan Saka mendekati dan meminjam kamera Tata.
Terlihat tubuh Amira yang disekap dengan kain. Di belakang Amira, ada sosok laki-laki yang juga memakai penutup kepala sehingga Saka tidak bisa mengidentifikasi siapa sebenarnya. Apalagi letak posisi kamera dan Amira tidak dekat, sehingga foto tersebut terlihat kurang fokus.
Namun foto itu menunjukkan satu hal yang bisa Saka perkirakan, yaitu di mana Amira dipukul bagian kepalanya, lalu laki-laki yang menyerang Amira tersebut terlihat memakai jam tangan. Pelaku itu seperti sudah biasa memakai jam. Seperti halnya orang yang sudah terbiasa memakai jam, dalam keadaan apa pun orang tersebut pasti akan memakai jamnya. Bahkan saat orang tersebut menyerang Amira. Ia tidak meninggalkan kebiasaannya untuk memakai jam tangan.
"Kamu lihat apa?" tanya Tata karena Saka melihat kameranya diperbesar dan terlalu dekat dengan mata Saka.
Bertanya seperti itu Saka lekas mengembalikan pada resolusi semula dan menyerahkan kamera tersebut kepada Tata.
"Ah nggak papa. Hasil bidikan kamu bagus, tapi kenapa ada fotoku di sana. Emangnya aku ini obyek yang random juga?" tanya Saka mengalihkan perhatian Tata soal foto yang tadi ia lihat.
"Soalnya kamu dekat denganku tadi, jadi apa yang ada di dekatku asal saja aku ambil. Kalau kamu tidak mau, hapus aja fotonya. Aku takutnya kamu malah meminta bayaran karena memotretmu tanpa izin dengan kameraku."
"Tidak tidak, aku hanya bercanda. Tapi, aku boleh pinjam memorinya? Sepertinya fotoku terlihat tampan di sana. Aku ingin menyimpannya di ponsel."
Tata mengangguk. "Ambil aja di rumah aku besok, sekalian ada card reader."
Mendengar jawaban Tata, Saka pun senang. Ia jadi lebih leluasa mengamati lebih lama juga mencari pelaku penyerangan Amira. Jika polisi tidak bisa dan tidak akan mengurus kasus ini, maka ia sendiri yang akan menjadi orang tersebut. Memastikan bahwa keselamatan Amira setelah ia sadar dan dirinya kembali ke Jakarta nanti akan aman. Karena pastinya pelaku itu akan datang kembali karena kegagalannya dipergoki.
Hanya beberapa putaran dan komedi putar itu pun berhenti. Waktunya Tata dan Saka keluar. Berdua mereka menyusuri dan menghabiskan malam di pasar malam tersebut.
Tak hanya keduanya, bahkan Tina dan laki-laki itu juga tengah menikmati pasar malam. Keduanya asyik b******u di atas motor di area persawahan yang gelap menjauh dari kerumunan. Sedikit icip-icip sebelum keduanya memulai malam panas yang panjang setelah rasa rindu dan dingin yang menggerogoti. Agustina yang merindukan suami, tapi tidak sebesar ia merindukan laki-laki itu.
_______