Manusia- manusia menikmati malam mereka di tempat tersebut dengan riang gembira. Keluarga dengan anak-anak yang tertawa kala bisa menikmati aneka permainan dan wahana, meski bagi orang tua mereka hanya bisa menunggu anak-anak mereka selesai dengan salah satu wahana.
Hiburan rakyat yang murah meriah membuat suasana malam itu semakin ceria, ditambah dengan aneka penjual jajanan dan peralatan rumah tangga yang membuat ibu-ibu semakin girang, terlebih harga diskon yang mereka tawarkan.
Sementara bapak-bapak hanya bisa mengikuti ke mana arah dan keinginan istri serta anak sambil menyiapkan uang dalam dompet.
Selesai membeli minuman dan menaiki komedi putar, Tata mengajak Saka mampir ke salah satu penjual bakso dan mie ayam.
"Makan dulu ya," kata Tata. "Aku lapar. Dari pulang tadi belum sempat makan." Saka pun mengiakan. Ia memesan mie ayam sementara Tata memesan bakso.
Sambil menunggu pesanan, keduanya asyik mengobrol sambil melihat lalu-lalang pengunjung pasar malam tersebut.
"Pasar malam seperti ini setiap hari ya?" tanya Saka.
"Tidak, setahun sekali dan biasanya berlangsung saat musim panen tiba. Mereka berpindah tempat dari satu wilayah ke wilayah lain. Tiba giliran kami biasanya di bulan seperti ini. Mereka di sini hanya satunminggu sampai dua mingguan saja," jelas Tata.
Saka menganggukkan kepala yang memang tidak pernah melihat pasar malam di area perumahannya.
Bakso Tata datang lebih dulu. Ia segera menuangkan saus, kecap dan sambal ke dalam mangkoknya. Mengaduk dan menyicip kuah. Dirasa kurang pas, ia tambahkan potongan jeruk nipis. Diaduk lagiz baru ia icip. Sudah pas.
"Aku makan duluan."
Saka mengangguk. Sambil menunggu pesanan datang, Saka hanya bisa melihat Tata makan dengan lahap. Terlihat jelas jika ia memang sedang kelaparan.
"Kenapa tidak makan nasi saja? Lebih kenyang. Aku lihat tadi ada yang jual nasi pecel." tanya Saka.
"Udah malem, makan nasi malah kekenyanyan. Habis ini pulang kan tidur. Begah biasanya perutku kalau kekenyangan malam."
Mi pesanan Saka datang. Ia hanya mencampur kecap san sambal saja. Mengaduknya, lalu siap mencicipi.
Es teh keduanya baru datang. Seteleha mengucapkan terima kasih pada penjual, keduanya aayik menikmati makan malam mereka.
***
Pulang ke rumah, Tata meminta Saka menunggunya di teras depan. Ia masuk sejenak meletakkan tas dan kamera. Dari kamera tersebut ia mengambil memory di dalamnya.
"Ini, memory-nya."
Tata menyerahkan memory ke Saka. Laki-laki itu menerimanya. "Aku pinjam sebentar ya. OTG ku di rumah, selesai aku pindah langsung aku kembalikan. Besok paling."
Tata mengibaskan tangan."Santai aja."
Saka pamit. Ia berjalan menuju rumah. Segera setelah masuk, ia menuju kamar. Mengambil OTG dan flash disk ponselnya. Langsung memindahkan file di kebun dan foto dirinya malam ini. Selesai memindah file, barulah Saka merasa sedikit lega.
Ia lantas bebersih sejenak di kamar mandi baru berbaring di kasurnya. Ia lihat lagi, sosok pelaku yang tengah tertangkap kamera sedang memukul Amira. Jam tangan di pergelangan itu ia perhatikan. Tipe jam tangan anti air. Pemiliknya sudah terbiasa memakai. Tak bisa melepaskan karena memang sudah biasa. Atau mungkin akan dilepas di saat tertentu saja. Misal pekerjaan yang membutuhkan tenaga tangan.
Lama memandangi jam tangan dan memikirkanbapa motiv pelaku, membuat Saka mengantuk. Ia lelah dan kenyang. Jadilah perladuan mesra untuk membuatnya segera terlelap.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Saka terlelap, sementara Tata si kamarnya tengah mengirim pesan pada Rayan, agar esok membelikannya nasi pecel tumpanh dekat kontrakan teman kerjanya itu.
Di dekat tempat kontrakan Rayan, yang beda kecamatan dengan rumah Tata, ada penjual nasi pecel tumpang yang ramai. Tata pernah mampir, karena memang daerah tempat tinggal Tata dan Rayan satu arah, hanya beda kecamatan. Rasanya enak. Murah pula. Khas anak kos seperti Rayan yang memang ia bukan warga asli Nganjuk. Rayan dari luar kota. Karena pekerjaan, ia tinggal di daerah sini. Mengadu nasib, mencari rupiah. Meski begitu, Rayan tak semata hanya kerja di depot. Kata Rayan pada Tata, saat malam ia juga punya pekerjaan lain dan uangnya lumayan.
_Besok titip nasi pecel tumpang Mbah Rah, Yan_
Tak dijawab, apalagi dibaca. Tata tak masalah. Palingan besok pagi juga Rayan akan membacanya.
Ia lantas pergi tidur. Lelah kerja, masih ke pasar malam pula. Ditambah perutnya kenyang. Habis makan bakso tadi ia masih beli sempol dalam perjalanan mau pulang. Jajanan yang pertama kali dirasakan Saka.
Baru memejamkan mata, pintu kamarnya digedor. Nana, adiknya masuk.
"Mbak."
Tata kesal, istirahatnya jadi terganggu dengan sang adik yang biasanya tak bisa tidur dan akan mengganggu di kamar kakanya.
"Apa sih, Na. Malem, buruan tidur. Mbak ngantuk nih."
Nana malah ikut berbaring di kasur Tata. Makin jengkel saja Tata.
"Mbak, aku besok nginep di rumah Yulia ya."
"Nginep ya nginep aja sana. Biasanya gimana."
"Tapi bilangin Ibuk ya. Ibu curigaan mesti kalau aku bilang nginep ke rumah temen."
Tata mau tak mau membuka matanya lagi. "Salahmu sendiri bohong."
Nana manyun. "Ih, cuma sekali kok. Apes aja pas itu ketahuan Ibu."
Nana pernah ketahuan lagi nongkrong di cafe, padahal tadi pamitnya belajar kelompok dan ngineo ke rumah temannya. Ibu menhizinkan kala itu, karena kadang dan tak jarang teman-teman Nana sering main dan menginap di rumah mereka. Ibu senang saja, rumahnya jadi ramai, anaknya diam di rumah tak keluyuran. Nana yang masih anak SMA memang masih punya jiwa kepo, bebas, dan tak bisa dikekang.
Namun apes kala itu. Setelah Nana izin menginap ke rumah temannya, Ibu jadi kesepian. Tata pun mengajak ibunya jalan sekadar berkeliling. Tak sengaja saat mampir makan nasi goreng, di seberang jalan penjual nasi goreng ada kafe. Ibu mendapati anak bungsunya nongkrong di sana. Meski tak sampai merokok atau bermesraan dengan laki-laki, tetap saja Ibu merasa kesal karena dibohongi.
Dicegah Tata, agar Ibu tak memarahi Nana di tempat. Tata tak bisa membiarkan adik dan ibunya membuat kegaduhan. Diam-diam Tata mengambil gambar Nana. Kemudian mengajak Ibu yang sudah tenang, pulang.
Tiba di rumah esok pagi, Nana baru diceramahi tujuh jam, tujuh hari, tujuh dalil oleh ibunya.
Nana menangis tersedu-sedu. Tata sampai tak tega. Maka dari itu, sejak kejadian kebohongan yang terungkap tersebut, Ibu tak memberi izin Nana menginap di rumah temannya.
"Ada acara apa di rumah Yulia?" tanya Tata memancing.
"Ih, nggak ada acara apa-apa. Mau kumpul aja. Udah lama aku nggak pernah ikut. Nggak enak sama mereka."
"Bilang Ibu sendiri. Mbak mau tidur."
Nana melempar bantal ke Tata. Percuma saja ia merajuk ke kakaknya.
***
Tina meremas sprei, lalu beralih pada rambut sang kekasih di bawah sana. Selangkangannya berdenyut, basah, dan terasa geli. Lidah laki-laki itu bermain di sana. Menjilat, menerobos masuk, menyesap, lalu mengulum pucuk menegang beserta daging di sekitarnya.
Desahan Tina lolos begitu saja. Ia tak bisa jika harus menahan suara nikmatnya. Ia buth pelampiasan dengan jerit nikmat karena ulah sang kekasih.
Suaminya hanya pulang seminggu, tapi rasa dua hari. Tak puas digauli, karena suami Tina lebih banyak keluar ke tempat temannya untuk nongkrong. Tina sudah rindu, tapi diabaikan. Untung ada kekasih brondongnya. Ah, tidak brondong juga. Usai mereka tak terpaut jauh.
"Yang, aku keluar."
Isapan laki-laki itu makin menjadi. Ia akan membuat kekasih sint4lnya itu berteriak nikmat dan keluar dengan kepuasn. Baru permulaan, toh ia akan terus membuat perempuan berambut panjang dan berbibir merah muda itu terus memohon untuk kenikmatan seperti ini.
Tak berapa lama, Tina benar-benar berteriak sambil mengeluarkan cairan basahnya. Sambil terengah, ia menarik tubuh laki-laki itu hingga sejajar bertindihan. Ia kecup rakus bibir tanpa nikotin itu. Melahap, melumat, keduanya berguling. Kini Tina berada di atas, mengambil kendali.
Tangannya bergerak ke bawah, pada batang panjang yang tegak berdiri. Agustina melepas ciuamannya. Ia sapukan kecupan di sepanjang leher, d**a, perut hingga ke batang kesukaannya.
"Auh!" lenguh laki-laki itu begitu miliknya dilapah mulut Tina.
Perempuan itu menunduk, memasuk keluarkan batang milik sang kekasih sambil menggerakkan kepalanya. Rambut panjangnya yang mengganggu, ditarik sang kekasih agar memudahkan Tina bergerak leluasa.
Sang kekasih menggeram, kala pucuk batangnya dihisap kuat, seirama dengan gerakan tangan Tina meremas, bergerak, menggoda urat yang menonjol.
Laki-laki itu tak tahan. Ia bisa keluar jika tak dihentikan. Ia pun bangun dan menjauhkan kepala Tina.
"Sayang, sudah."
Tina ikut berdiri. "Padahal aku ingin kamu keluar."
"Nanti, aku belum puas membuatmu keluar lebih banyak," balas laki-laki itu berbisik.
Tina girang. Bahkan ia sudah melemparkan diri ke ranjang milik laki-laki itu. Usai pulang dari pasar malam, keduanya mampir sejenak untuk membeli minuman dan makanan serta pengaman. Rumah kontrakan laki-laki itu menjadi sasaran. Karena Yulia, adik Tina sedang di rumah dengan teman-temannya.
Begitu Tina memancing, laki-laki itu melemparkan diri di atas ranjang. Menindih tubuh tanpa busana, meremas dua gundukan, melumat bibir manja dan nakal milik Tina.
Kaki Tina dilebarkan. Laki-laki memasang pengaman lalu menggoda sejenak dengan menggesekkan batang di mulut pusat tubuh Tina. Basah, dan siap menerimanya.
Satu dorongan masuk sempurna. Tina menahan napas baru kemudian melenguh nikmat kala milik laki-laki itu melesak masuk menembus miliknya. Sesak, keras, dan penuh.
Laki-laki itu bergerak, sambil menekuk kedua paha Tina. Gerakannya makin cepat, menggoda puncak gundukan dengan remasan. Menarik pucuknya, meremas, mengecupi, hingga menyatukan dua gundukan ke tengah.
"Cepat, Sayang."
Tina ingin keluar, tapi Laki-laki itu tak membiarkan begitu saja. Ia malah melepas miliknya dan menyelipkan di antara dua gundukan yang ia remas menyatu tadi. Menggesekkan batangnya ke lipatan tersebut. Ujungnya bahkan menyentuh mulut Tina yang terbuka.
Puas bermain di sana, laki-laki itu meminta Tina berdiri. Ia angkat kaki kanan Tina, dan laki-laki itu memasukkan miliknya dari depan. Begitu masuk sempurna, kaki kiri Tina diangkat juga. Jadilah Tina merangkul leher sang kekasih agat tak jatuh.
Batang itu bergerak, menusuk, memberi sensasi indah pada Tina yang melenguh, mendesah, bahkan sampai ia keluar, miliknya masih ditusuk. Cairan miliknya meleleh ke paha, kaki. Tina lemas dibuatnya.
Laki-laki itu membiarkan Tina merebahkan diri. Mengatur napas sejenak, sebelum laki-laki itu menghujaminya dengan keras, cepat, sambil berteriak minta ampun. Tina sampai berkeringat deras kala hantaman itu menyerangnya bertubi-tubi.
Kekasih mudanya tak membiarkan dirinya hanya puas dengan satu pelepasan saja. Sampai Tina minta sendiri untuk berhenti, ia akan berhenti.
"Sayang, ah, sayang. Aku haus."
Tina mengatur napas sejenak. Laki-laki itu memosisikan miliknya di mulut Tina.
"Kamu tidak akan haus lagi, Yang."
Benda panjang itu masuk memenuhi mulut Tina, setelah sebelumnya lapisan bening ia lepas. Bergerak masuk, cepat, hingga cairan itu meledak di dalam mulut Tina. Kental, sampai meluber karena mulut Tina tak sanggup menampung seluruhnya.
Setelahnya, keduanya berbaring sambil mengatur napas. Tina minum dan membersihkan wajahnya karena lelehan yang tumpah.
"Mau nginap? Katanya adik kamu bawa temannya nginap?"
Tina duduk sambil mengikat rambutnya. "Pulang aja."
Laki-laki itu mengangguk. "Mau aku anter?"
"Nggak usah. Aku tadi kan bawa motor."
"Tapi ini sudah malam. Aku takut kamu kenapa-kenapa," khawatir laki-laki itu.
"Jalanan di desa, aman."
"Kapan kamu nginap sini lagi. Sudah lama kamu nggak nginap."
Tina memutar tubuh kala kekasihnya menggerayangi pinggangnya. "Maunya sih, selamanya. Tapi, aku nggak bisa. Coba aku nikahnya sama kamu ya, bukan sama suamiku sekarang. Aku nggak rela deh, kamu nikah nanti. Pasti aku bakal kamu tinggalin."
Tina merajuk sedih. Laki-laki itu ikut bangun dan duduk lalu menempelkan kepala Tina ke pundaknya. "Aku belum berencana menikah. Pacar saja aku tidak punya."
Tina memukul manja paha kekasihnya. "Ah, gombal. Masa kamu yang jago bikin aku teriak ini belum punya pacar. Terus, siapa yang pertama kamu ajakin?"
Laki-laki itu menggeleng. "Aku belum pernah punya pacar. Dan soal itu, kamu yang pertama."
Lagi, Tina memukul bahkan mencubit paha lelaki yang ia cintai ini. "Ih, bohong. Cowok ya, di mana-mana sama aja. Udah ah, aku mau siap-siap pulang."
Meski berat, laki-laki itu melepas kepergian Tina untuk pulang. Ia lirik jam, sudah hampir tengah malam.
Tina memakai kembali bajunya Setelah membersihkan diri di kamar mandi milik laki-laki itu membawa tas kemudian memakai helm ia bergerak meninggalkan kontrakan sang kekasih jalanan desa terlihat sepi tak banyak lampu yang menerangi jalanan yang kanan dan kirinya sawah Tina berkendara dengan santai toh ya tidak pertama kali melakukan perjalanan malam seperti ini.
Masakan rumahnya Tina sudah merasa lega Ia lirik sekitar masih ada ada beberapa orang yang yang Lalang dengan sepeda motor entah penduduk desa itu atau bukan yang jelas-jelas itu tuh malam pun masih ada pengendara motor yang lewat jadi dia merasa hal tersebut tidak terlalu menakutkan seperti yang dikhawatirkan oleh kekasihnya.
Masuk rumah dia dapati teman-teman Lilia yang ketiduran di depan ruang tamu lampu sudah diganti dengan anne-marie kuning dan semuanya pun juga Sudah terlelap hati-hati di lalu masukkan motornya kemudian Mengunci pintu Iya bergerak ke kamar ar-razi baju dan membersihkan diri mandi setelahnya iya tidur. Badannya terasa remuk dihantam Sahira dan kenikmatan dari Makasih ya.
Sementara sang kekasih di rumahnya juga sedang mandi mengganti baju dan dan membersihkan sebentar sampah yang ada di kamarnya sebelum tidur Iya meletakkan jam tangan kesayangannya yang terjatuh saat mencuci baju hendak bertempur dengan tema jam tangan kesayangannya yang tak pernah lupa ya pakai namun akan ia lepas pada saat-saat tertentu Iya ambil dan meletakkannya di atas meja dekat lampu setelah kamar bersih laki-laki yang esok hari harus bekerja dan berangkat pagi itu pun segera membaringkan tubuh seperti hari Biasanya esok ia akan bekerja Ia akan menjadi laki-laki baik yang dikenal oleh teman-teman kerjanya.
Karena di mata teman kerjanya ya adalah laki-laki pendiam yang tak banyak bicara dan gigih dalam bekerja tanpa mereka tahu seperti Ada sosok lain di dalam diri laki-laki itu.
______