9. Motor

2125 Kata
Saka menggambar jam tangan pelaku di buku catatannya. Ia suka mendesain, jadi menggambar jam tangan saja ia tak kesulitan. Sebagai penanda, ia memotretnya. Agar sewaktu-waktu bisa ia lihat tanpa dicurigai. Asyik menggambar, ponselnya berdering. Qonita, Mama Saka menelepon. "Nak," sapa Qonita di seberang sana. "Ya, Ma. Mama udah bangun?" balsa Saka. "Sudah dong. Kan sudah jam delapan ini. Memamgnya Mama anak perawan, sampai bangun kesiangan. Gimana kabar kamu, kabar Amira juga?" Saka menutup buku sketsanya. Ia pindah duduk ke kasur. "Amira belum sadar, dan kabarku baik selalu, Ma." "Mama cuma berharap Amira bisa segera sadar. Kabar orang tua Amira gimana? Mereka sehat kan?" "Iya, Ma. Tante sama Om baik-baik saja. Kadang aku tengok ke rumah sakit dan menggantikan mereka pulang." "Ya sudah kalau gitu. Mama lanjut siram bunga dulu." "Sehat-sehat ya, Ma. Makasih sudah mau handle laporan dari Aji." Qonita menutup panggilan. Saka senang ibunya sehat di sana. Meski beliau harus membantu bisnis Saka selama ia tinggal ke Nganjuk, Qonita tak keberatan datang dan menerima laporan dari Aji, tangan kanan Saka. Salah satu pegawai terlama yang ikut dirinya. Saat toko masih kontrak dan kecil, sampai bisa beli dan sekarang punya sembilan karyawan. Melirik jam, Saka putuskan mandi dan ia akan ke rumah Amira. Ada saudara Pak Abidin yang gantian menjaga, jadi tadi pagi ia diminta Pak Abidin—yang sekarang pulang ke rumah bersama istrinya—untuk mampir ke rumah. Selesai mandi, ia dapati pesan dari Tata, yang menanyakan soal memory kameranya. Saka mencari memory tersebut, dan memasukkannya ke dalam dompet agar tak lupa menyerahkannya ke Tata. Siang ini berencana datang ke tempat kerja Tata. Mencoba makan siang di depot yang kata Tata selalu ramai. Namun begitu ia hendak memasukkan dompet ke saku, Saka jadi penasaran dengan isi memory selain foto di pasar malam dan kebun. Selebihnya ia tak menelusuri. Saka duduk, dan mencolokkan memory ke OTG miliknya dan disambungkan ke memory card. Yang ia butuhkan sudah ia simpan di flash disk semalam. "Dia suka foto dirinya juga selain ambil foto random. Tapi kenapa nggak ada yang lihat kamera?" komentar Saka begitu menelusuri hasil tangkapan kameran Tata. Tak hanya foto random soal pemandangan, lokasi, subyek random, tapi ada jutga foto Tata. Sayang, semua foto dirinya tak ada yang menghadap kamera. *** "Yan, mana pecelku!" Tata datang-datang langsung memberondong Rayang yang juga baru datang hampir masuk depot. Rayan mengangsurkan sebungkus nasi pecel tumpang pesanan Tata. Ia suma sekali sambal tumpang. Meski dibuat dari tempw busuk, rasanya khas dan gurih. Sayang depot tempatnya kerja tak ada sambal tumpang. Tapi, sambal tumpang di warung dekat rumah Rayan memang juara. Penjualnya sudah nenek-nenek. Kalau melayani pelan sekali. Tubuhnya sudah mulai bungkuk. Meski begitu, pelanggan tetap sabar menunggu. Masakan khas memang tak bisa diturunkan pada anak keturunannya di mana sayang sama persis maka dari itu meskipun sudah tua nenek bumbu halus ulang tahun tetap enggak punya yang merasa bumbu sedangkan untuk membuat minuman ada anak yang membantunya. "Nih." Tata mengeluarkan uang sebagai ganti membeli pecel dengan meletakkannya di meja, lalu segera melesat pergi meninggalkan Rayan yang memanggilnya. Tata melakukan seperti itu, ketimbang uangnya tidak diterima Rayan. Temannya itu selalu tak mau dibayar saat ia titip nasi pecel. Makanya Tata langsung melesag pergi. Rayan hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia terpaksa mengambil uang dari Tata. Memasukkannya ke saku. Ia lirik jarum jam di tangannya. Lalu melepas dan memasukkannya ke tas. Pekerjaannya setiap hari harus memukuli es batu gelondongan. Lebih aman, agar tak rusak. Meski jam miliknya anti air, tapi bukan berarti anti pukulan. Ia masuk dan bergabung bersama pekerja lainnya yang satu per satu datang. Es belum datang, jadi Rayan menyiapkan teh, stok gula dan jeruk yang ia angkat dari box belakang. Bari dibeli dari pasar dan digeletakkan begitu saja oleh tukang becak yang bertugas mengantar belanjaan tiap hari. Rayan harus mencari jeruk sendiri di antara belanjaan lain dan menyiapkan di tempat membuat es. Tata membuka nasi pecelnya. Ia menikmati sarapan dengan nikmat, tapi agak terburu-buru. Ia tahu diri, bahwa ia harus segera bekerja. Tapi, jika pekera sarapan dulu juga tak masalah sebenarnya. Bu Tiwi malah meminya pekerjanya tak lupa sarapan agar kuat menjalani hari untuk bekerja. Nasi pecel tumpang selalu menjadi favorit Tata. Bahkan tak hanya sambal tumpang, asal pakai bahan tempe busuk ia juka suka. Ibunya sering memasak sayur lodeh dengan tempe busuk sebegai penyedapnya. Nikmat, kesukaan Tata. Sayang, tak semua warung pecel menyediakan sambal tumpang. Asyik menikmati sarapan, Rayan datang membawakannya minuman. "Nih, biar nggak keselek." Tata mengacungkan jempol. "Sip. Makasih, Yan." Rayan duduk di samping Tata. Ia perhatikan Tata yang sedang makan dengan lahap. "Kok suka sih, sambel tumpang. Aku nggak begitu suka." "Enak, gurih." "Kan tempe busuk itu." "Biarin. Tahu busuk di Cina aja katanya favorit buat mereka. Aku cinta produk sendiri lah. Tempe busuk." Rayan tertawa menanggapi. "Eh, udah tahu belum ada pasar malam?" Tata menoleh. "Iya, tahu. Kamu udah ke sana?" Rayan mengangguk. "Semalam aku lihat ke sana." Tata tampak terkejut. Pasalnya semalam ia juga ke pasar malam dengan Saka. "Masa? Kok nggak ketemu ya. Semalam aku ke pasar malam juga sama tetanggaku." Rayang juga terkejut. "Wah, coba janjian. Kita bisa ketemu. Aku juga sama temen dateng ke sana. Lihat aja, rame mana sama tahun lalu." Panggilan Bu Tiwi untuk Rayan karena es balok gelondongan sudah datang, membuat ia segera ke belakang. Tata juga sudah habis makannya. Ia bersiap beberea meja, dan membantu menata sayur serta lauk yang sudah matang ke wadah-wadah berjejer. _share loc_ Pesan dari Saka segera ia balas. Pagi tadi sebelum berangkat Saka mengiriminya pesan, bahwa ia minta alamat depot tempat kerja Tata. Saka bilang ingin makak siang di tempag kerja Tata, yang katanya rekomended dan ramai selalu pengunjungnya. Saka jadi penasaran dan ingin merasakan. Tata tak masalah, tapi ia kasihan saja Saka harus jauh-jauh dari rumahnya ke tempat kerja Tata hanya untuk makan siang. Ah sudahlah, yang penting Saka suka saja. Setelah membagikan lokasi, Tata memasukkan ponsel dan lanjut bekerja. Sebelum ia tak sempat membalas pesan dari Saka. Wara-wiri Tata dari depan ke belakang. Mempersiapkan jualan. Beberaap pelanggan datang satu per satu. Tata sigap melayani. Ia sudah tahu apa tugasnya. Semua orang di depot bekerja di tempatnya masing-masing. *** Saka tiba di rumah Amira. Ia disambut oleh Bu Abidin yang membukakan pintu dan mempersilahkan Saka masuk ke ruang tamu. "Duduk, Nak Saka," kata istri Pak Abidin tersebut. Saka masuk dan sebelum duduk ia iya mengangsurkan bingkisan di atas meja. Tak enak jika ia datang tanpa membawa apa-apa, jadilah Saka tadi sebelum datang ia mampir dulu ke salah satu warung terdekat membeli gula, minyak, dan beberapa kue kering. "Walah, kenapa jadi report segala, Nak Saka. Ibu cuma pengen Nak Saka datang buat sarapan di rumah sesekali, biar merasakan lagi masakan Tante. Kan, sudah lama kamu tidak merasakan masakan dan makan bareng kami, kata Bu Abidin. "Ini bukan apa-apa kok, Tante. Kebetulan tadi mampir saja dan sepertinya juga tidak terlalu banyak saya bawa. Tolong diterima ya, Tan," kata Saka. Pak Abidin yang baru selesai mandi pun datang dari arah belakang. Saka berdiri lalu menyalami bapak yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri. "Gimana kabar kamu, Saka? Kapan kamu balik lagi ke Jakarta?" Ditanya seperti itu sebenarnya Saka juga bingung. Ia masih tinggal di sini karena ingin menyelidiki pelaku yang membuat Amira sampai tak sadarkan diri. Namun jika ia ungkapkan kepada orang tua Amira, pasti hal tersebut tidak akan diizinkan. Kedua orang tua Amira juga menyayangi Saka, sehingga mereka pasti tidak mau Saka mengalami sesuatu yang buruk jika melanjutkan ingin menyelidiki kasus Amira. Orang tua Mira sendiri juga sudah menutup kasus tersebut dan berharap bahwa pelakunya tidak mengganggu Amira lagi. "Belum tahu, saya ternyata lebih suka tinggal di desa ketimbang di kota," alasan Saka. "Iya, tapi kalau di sini sepi, tidak seperti di Jakarta yang ramai," jelas Pak Abidin. Saka tertawa. "Iya juga sih, Om, tetapi kadang ramai di kota sudah membuat saya bosan. Sejenak ingin menikmati suasana pedesaan yang sepi." Pak Abidin mengangguk. "Bener itu. Makanya Om setuju pindah di sini dan Amira pun juga mudah beradaptasi di desa ini. Lingkungan di sini juga sangat mendukung, menyambut kami sebagai orang baru. Lalu himana kabarnya mamamu? Sehat-sehat aja kan, dan kerjaanmu di Jakarta bagaimana kalau kamu tinggal ke sini?"  Pak Abidin sedikit khawatir. "Mama alhamdulillah sehat, Om, dan pekerjaan bisa saya handle dari sini. Toh saya punya karyawan yang sudah bisa jalan sendiri. Untuk beberapa hal Mama akan membantu di sana." Pak Abidin menganggukkan kepala. "Sesekali Coba ajak mamamu ke sini. Dia kan belum pernah merasakan kehidupan desa, ajaklah menginap. Kita kan keluarga, kamu bisa tinggal di sini. Oh ya, bagaimana soal rumah kontrakan yang kamu tinggali sekarang? Apa ada yang bocor atau mungkin dindingnya retak?" "Tidak ada, Pak, semua aman dan Tata pun juga banyak membantu  selama saya di sana." "Tata, dia memang anak yang rajin. Dia memang terlihat cuek, tapi sebenarnya dia sangat baik. Dia sahabat pertama saat Amira di sini. Dia sudah jadi tulang punggung keluarganya sejak ayahnya meninggal." Saka baru tahu bahwa ayah Tata sudah meninggal karena ia tak menaruh curiga kala datang ke rumahnya dan hanya ada ibunya saja yang menyambut dirinya kapan hari. "Iya, sudah lama meninggal. Bapaknya dulu seorang tukang foto panggilan di sekolah, kalau anak-anak mau rapotan. Kadang juga dipanggil acara nikahan, sunatan seperti itu. Tapi tidak ada yang mewarisi bakat bapaknya. Tata sendiri juga sudah bekerja di Depot makanan tak jauh dari rumah sakit tempat Amira dirawat." "Iya saya juga sudah tahu saat kemarin tanya." "Ya sudah, ayo kita sarapan bareng. Om minta kamu datang buat sarapan bareng, kasihan kamu tinggal sendiri sarapan juga pasti sendiri. Mumpung kami lagi ada di rumah dan Amira ada yang jaga di rumah sakit." Saka pun ikut berdiri dan mengikuti langkah Pak Abidin ke belakang. Di dalam sana sudah ada Bu Abidin yang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Menu sarapan yang disiapkan oleh Bu Abidin memang sangat dirinduka oleh Saka. Dulu saat ia masih berhubungan dengan Amira, ia juga tidak jarang ikut makan di rumah Amira. Jujur ia merindukan masakan ibunya Amira tersebut. Ada tumis kacang dan tempe, sambel trasi, tempe goreng, bakwan jagung, telur dadar yang di dalamnya ada irisan bawang merah, bawang putih, daun bawang dan juga cabe. Ada juga kerupuk dan teh hangat. "Makan," kata Bu Abidin mempersilakan. Saka menunggu giliran setelah Pak Abidin mengambil nasi lebih dulu, dilanjutkan dengan istrinya. Saka memilih yang terakhir dan ia menolak diambilkan oleh tuan rumah karena ia merasa tak enak karena dirinya lebih muda. Saka mengisi piringnya dengan dua contoh nasi, tumis tempe dan kacang, sambel terasi kemudian telur. "Dadar jagungnya cobain. Jagungnya manis, hasil panenan dari warga sekitar," promo Bu Abidin. Saka pun mengambil satu potong dadar jagung yang enak. Tidak hanya tampilannya, ia memang sudah menyukai masakan ibunya Amira sejak di Jakarta dulu. Meskipun saat di Jakarta dulu keluarga Amira memiliki asisten rumah tangga, tetap saja ibunya akan ikut andil dalam urusan masak. Makanya saat tinggal di desa ini dan ia lihat keluarga Amira tidak memiliki asisten rumah tangga, istri Pak Abidin itu tetap bisa memasak untuk keluarganya. Sambal terasi buatan ibunya Amira sangat pedas, membuat Saka lekas menuangkan teh dari teko ke dalam gelasnya. Teh hangat itu segera meluncur di tenggorokan, menghapus rasa pedas yang sempat mengganggunya. Mamun meskipun pedas, itu sangat nikmat. "Kenapa, pedes ya?" tanya ibunya Amira yang dibalas anggukan Saka setelah meneguk teh. "Maklum, di sini cabe murah makanya kalau bikin sambal pasti selalu pedas." "Ngomong-ngomong Om sama Tante akan kembali ke rumah sakit Kapan?" tanya Saka. "Sore nanti Om ke sana, tapi sendirian. Tante biar di rumah, karena adik Om ingin menginap di sini gantian." Sarapan ketiganya berlangsung hangat. Tak terasa hari semakin siang dan Saka pamit pulang. Sampai di rumah, Saka membersihkan rumahnya dengan sapu yang sudah ia beli, mencuci bajunya karena di desa tempat ia tinggal ini tidak ada laundry terdekat. Meskipun ada, jaraknya lumayan jauh. Jadi ia terpaksa mencuci bajunya sendiri baju yang memang sudah ia bawa dari dalam ranselnya tidak banyak. Selesai menjemur, Saka bersiap menemui Tata. Ia menutup pintu, menguncinya dan bergerak menggunakan sepeda motor miliknya. Melewati gapura masuk desa Amira, Saka berhenti sejenak karena teleponnya berbunyi. Ia duduk di jok motornya sambil mengangkat telepon dari Aji. Asyik menelepon, ada seseorang yang juga sedang berhenti di dekatnya. Bukan untuk menelepon tapi untuk memarkirkan sepeda motor sementara pengendara itu turun dan menuju sawah sambil membawa pisau. Melihat motor yang terparkir di sampingnya, Saka jadi mengingat sesuatu. Warna motor itu mengingatkannya pada pengendara yang menculik Amira, sayangnya Saka tidak mengingat berapa nomor polisi motor tersebut. Yang ia ingat hanyalah jenis motornya dan juga warna. Saka melirik pada pengendara yang kini sedang jongkok memangkas rumput. Saka malah menggelengkan kepala. "Masa Bapak itu, tapi tidak mungkin." Bapak itu terlihat agak tua, tubuhnya lebih kurus, dan posturnya tidak setinggi pelaku yang ia lihat. Mengenyahkan pikirannya, Saka melanjutkan obrolan dengan Aji. Setelah selesai ia melanjutkan perjalanan menuju Depot tempat Tata bekerja. _______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN