10. Alun-alun

2121 Kata
Tiba di daerah kota Saka tidak langsung menuju Depot Tata. Ia lirik jam sudah tengah hari dan pastinya Depot tersebut akan ramai pengunjung ia jadi tidak leluasa bertemu dengan Tata, dan pastinya banyak orang yang akan makan siang seperti yang pernah Tata bilang padanya bagaimana keadaan tepat saat siang hari. Saka mampir sejenak ke rumah sakit Amira. Di sana ia bertemu dengan adik bapaknya Amira atau bisa dibilang omnya Amira. Karena belum mengenal Saka, jadilah Omnya tersebut agak canggung dan tidak begitu akrab dengan Saka. Tak masalah sebenarnya, Saka juga hanya ingin mampir dan melihat keadaan Amira. Siapa tahu ada keajaiban yang menghampiri dan Amira pun sudah sadar. Setelah dari rumah sakit, Saka mencoba berkeliling sejenak di kota tersebut. Kota berjuluk angin itu memang tidak begitu luas, jadi jalanan pun tidak akan memusingkan. Ada berapa jalur satu arah dan lainnya dua arah, tinggal melihat rambu lalu lintas aja Saka sudah bisa mengerti. Apalagi banyak palang petunjuk yang akan membantunya untuk alamat Depot Tata. Perempuan itu sudah membagikan lokasi depotnya, jadi Saka tidak akan kesulitan. Berkeliling sejenak ia mampir ke salah satu toko baju. Saka sebenarnya juga membutuhkan pakaian ganti, kadang cuciannya tidak kering dalam satu hari itu karena mendung, atau karena terlalu sore saat menjemurnya. Memasuki toko tersebut Saka melihat-lihat kaus lengan pendek dan juga kemeja. Ada beberapa celana juga yang ia taksir. Ia hanya mengambil satu potong yang ukurannya sesuai dengan pinggangnya. Melihat ke dalam, Saka menemukan ada celana dalam dan juga kaus. Ia pun juga membeli handuk dan celana kolor sebagai ganti. Saka tidak tahu akan berapa lama ia tinggal di desa tersebut. Bajunya juga hanya beberapa potong saja yang muat di tas ranselnya. Sudah dapat berapa potong kaus , kemeja, satu celana, satu pak celana dalam isi tiga, dua celana kolor pendek dan juga kaus dalam. Selesai membayar, ia segera keluar. Saka lirik jam di ponselnya sudah pukul tiga siang. Ternyata ia berkeliling kota dan juga membeli baju sudah makan banyak waktu. Benar-benar tak terasa. _Katanya kamu ke sini. Jadi nggak_ Tata sudah bisa mengirimnya pesan, berarti Tata sudah tidak sibuk lagi. Saka segera membalas pesan tersebut yang menandakan bahwa ia juga diharapkan datang oleh Tata. _Aku sudah di jalan dan sepertinya dekat dengan tempat kerjamu. Aku akan segera ke sana_ *** Rayan yang sedang duduk santai sambil meneguk es teh manisnya dihampiri oleh Tata. "Eh, Ta," kaget Rayan begitu Tata tiba-tiba saja duduk di sampingnya padahal Rayan sedang menekuri ponsel, berbalas pesan dengan seseorang yang terdengar serius. "Kaget banget, lagi wa-nan sama siapa?" tanya Tata yang kini juga sedang meneguk es teh manisnya. Jam istirahat karena pelanggan sudah mulai berkurang, sayuran juga sudah mulai habis, beberapa lauk tidak di stok lagi karena hari sudah sore. Karena pelanggan sepi, jadilah para pekerja lainnya juga sedang istirahat setelah digempur pelanggan yang datang makan siang membeli sayur, membeli kue, lauk. Baru lah sekarang bisa istirahat. Rayan menggeleng. "Ah, nggak kok, bukan siapa-siapa. Hanya tetangga kontrakan aku." Tata tak mau bertanya lebih jauh lagi. Ia juga tak butuh kepo dengan apa yang sedang dibahas Rayan dengan tetangganya tersebut. Keduanya asyik mengobrol sambil menikmati es teh manis hingga suara motor berhenti, membuat Tata langsung menoleh keluar. Ia memang sedang menunggu Saka tapi rupanya yang datang bukan orang yang ia harapkan, melainkan malah pembeli yang langsung dilayani oleh anak Bu Tiwi. Melihat gelagat Tata yang tak biasa dan selalu melihat ke arah luar, membuat Rayan jadi pengen tahu dan penasaran. Tak biasanha Tata diajak ngobrol celingak-celinguk. Biasanya cuma sibuk main game di ponselnya, sambil minum, atau langsung menanggapi apa yang Rayan katakan. "Kamu sedang cari siapa, apa lagi nunggu siapa?" tanya Rayan. Ia penasaran juga. "Oh aku sedang menunggu temanku. Katanya dia mau datang buat makan, tapi kulihat beberapa sayuran sudah habis. Entahlah nanti dia akan makan apa di sini." "Temanmu yang mana?" Teman Tata tak banyak. Ia kenal Tata sudah lama. Ia tahu semua teman Tata dan dikenalkan padanya. Amira, misalnya. "Ya teman, ya tetangga juga. Kamu belum kenal dia juga kayaknya. Nanti aku kenalin deh." Tak Berapa lama yang diharapkan Tata pun datang. Saka memarkirkan motor dan melepaskan helm. Celingak-celinguk ia pun mengirim pesan pada Tata mengabarkan bahwa ia sudah sampai di depan Depot. Belum sampai Saka mengirim pesan, Tata sudah menghambur ke arahnya. Perempuan itu menghampirinya di parkiran. "Aku kira kamu nyasar," sambut Tata begitu melihat Saka berhasil datang ke Depot tempatnya kerja. "Enggak lah, aku enggak sebuta itu. Kan kamu juga sudah kasih alamat ke aku. Aku tadi memang masih Keliling beli beberapa baju dan coba mampir ke rumah sakit dulu sebelum ke sini." "Oh. Ya udah ayo!" Ajak Tata. Saka mengikuti dari belakang untuk masuk. Rayan yang melihat dari jendela depot, tak mengira bahwa teman yang dimaksud Tata adalah laki-laki. Ia kira perempuan. Selama ia kenal Tata, teman Tata kebanyakan perempuan. Yang dekat bisa dihitung jari. Tata tak punya banyak teman akrab. "Udah banyak yang habis sih. Nggak lengkap kayak sebelumnya. Oh ya, kamu mau minum apa?" "Es teh saja," putus Saka. Ia toh, suka semua minuman. Es teh sepertinya cocok untuk teman makan siang. Tata pamit pergi menghampiri Rayan. Sementara Saka masih bingung melihat ia akan makan apa. Terlihat banyak yang sudah habis. Ada sisa hanya beberapa. Ia lirik panci sayur juga hanya ada dua. Seorang perempuan sedang membawa ke belakang, Saka pikir mungkin sayur tersebut sudah habis. "Makan, Mas?" "Iya." Perempuan anak Bu Tiwi itu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi yang lumayan banyak. "Sayurnya tinggal lodeh sama sop." "Lodeh saja." Sayur lodeh berisi terong, kacang panjang, tempe dengan kuah santan pedas. Lalu Saka memilih lele goreng, dadar jagung, perkedel kentang dan rempeyek. Setelahnya ia bawa piring tersebut ke meja yang di sana sudah ada Tata duduk menunggunya. "Ini minumnya." Es teh manis buatan Rayan siap di meja. Saka duduk dan mulai menyuapi dirinya dengan nasi. Tata menemani di samping. Rayan yang baru membuatkan es teh melihat kedekatan Tata dengan laki-laki yang katanya teman dan tetangganya. Tapi kelihatan mereka sudah akrab. Rayan pikir mungkin mereka berdua sudah berteman sejak sekolah. Tapi Tata tak pernah mengenalkan pada dirinya. Teman dekat Tata yang Rayan tahu hanya Amira saja. "Yan, sini." Rayan berjalan menghampiri kala Tata memanggilnya. Ia mendekat dan berdiri di dekat meja. "Ka, ini Rayan, temen kerjaku. Dia juga kenal sama Amira." Saka mengangguk. Ia angsurkan tangan yang disambut Rayan dengan uluran dan jabatan. "Dia saka, Yan. Temenku dari Jakarta. Dulu temen Amira di sana." "Saka." "Rayan." Tata tak memberitahu soal hubungan Amira dan Tata. Toh mereka sudah putus. Tak perlu diungkit sebagai bahan perkenalan. Cukup jadi wacana saja antara dirinya dan Saka juga Amira jika nanti sadar dan  berencana menceritakan padanya soal hubungannya dengan Saka. "Oh gitu. Ya udah aku tinggal dulu ya." Rayan pamit undur diri. Ia beralasan sibuk di belakang, padahal ia tak tahan saja melihat kedekatan mereka berdua. Ia yang usaha, tapi orang lain yang memetik hasilnya. Menjaga perasaannya sendiri, Rayan pura-pura sibuk saja agar tak terpikir macam-macam. *** Rayan terlihat tak suka dengan kedekatan Tata dan temannya. Padahal baru berkenalan beberapa hari saja tapk Tata terlihat akrab. Bahkan laki-laki bernama Saka itu menunggu Tata selesai bekerja dan hendak pulang bersama. Rasa cemburu menggerogoti Rayan. Ia yang sudah kenal lama dengan Tata saja butuh waktu lama untuk mendekati Tata. Namun laki-laki dari Jakarta tersebut cepat sekali mengambik hati Tata. Sudah jam pulang, Rayan pamit ke Tata bahwa ia pulang lebih dulu. Ia tak tahan melihat keduanya berjalan beriringan ke parkiran dan hendak pulang bersama. Dari pada ia makin sakit hati, lebih baik Rayan segera enyah dari tempat tersebut. Ia tak mau memikirkan apa yang akan keduanya lakukan setelah ini. "Hati-hati, Yan." Rayan mengangguk, lalu ia segera menaiki motornya dan berlalu pergi. Tata sendiri sudah naik ke motor dan memakai helm. "Udah?" tanya Saka. "Udah. Mau langsung pulang?" Saka menjawab, "Terserah kamu. Memangnya kamu mau ke mana?" "Ayo ke alun-alun." Saka hanya menjawab dengan anggukan. Ia mengikuti dari belakang motor Tata. Melewati jalan tikus, keduanya tembus ke jalan belakang masjid jami' yang letaknya di depan alun-alun. Memarkirkan motor, Tata mengajak Saka mampir ke penjual es oyen. "Mau?" tanyanya pada Saka. "Boleh." Tata mendekat ke penjual. "Dua ya, Mas." Tata duduk berhadapan dengan alas tikar, alias duduk bersila. Di meja mereka ada wadah berisi gorengan yang ditutup rapat. "Sepi ya," komentar Saka begitu memperhatikan sekeliling. Karena yang dilihat Saka memang bagian utara. Padahal kalau sisi selatan, ramai karena ujung persimpangan jalan. Yang jualan juga lebih ramai. "Alun-alun ini dulu ramai penjual di dalam. Jadi kayak pasar malam. Tapi karena bikin rusuh dan fungsi alun-alunnya jadi hilang." Saka mengangguk. "Sekarang penjualnya ke mana? Di sekitar nggak begitu banyak juga." "Mereka suruh pindah ke stadion. Tapi ya gitu, pada bandel. Orang di stadion sepi, siapa yang mau beli. Di sini juga dekat pusat kota. Orang capek habis belanja maunya mampir makan, minum. Orang pacaran di sini juga kan enak suasananya. Keluarga kalau punya anak kecil, bisa mainan juga. Sementara di stadion, cuma ada kolam renang sama lapangan. Remang, mau masuk renang juga bayar dan cuma buka sampai sore aja." Saka mengerti. "Iya sih. Enak juga di sini, banyak pohon rindang. Tapi, di kota ini nggak ada mal ya?" Saka agak penasaran juga. Mengelilingi kota ini tadi pagi, ia tak menemukan mal. Dan kota ini memang kecil. Tata menggeleng. "Ini kota kecil, nggak mol. Adanya swalayan. Gitu aja udah rame banget orang datang belanja. Kalau mau ke mol, ke kediri. Dari sini satu jam an lah. Mau ke sana?" "Jauh gitu." Tata menggeleng. "Nggak masalah. Sekalian aku juga pengen jalan. Udah lama nggak ke kediri." "Boleh. Kamu libur kapan?" "Minggu. Mau?" Saka mengangguk. Pesana keduanya pun datang. Melihat tampilan es yanh dipesan, mengungatkan Saka dengan es campur, es teler, semacam itu. Isi dari es oyen tersebut ada potongan nangka, alpukat, agar-agar yang dipotong dadu, serutan kelapa, mutiara, serutan es, s**u kental manis dan air gula. Tata mengambil pisang goreng di wadah depannya. Ia lahap pisang  goreng kemudian baru menyeruput es miliknya yang sudah ia aduk agar manisnya merata. Saka pun jadi tergoda ingin menikmati gorengan. Ia ambil bakwan dan mendoan. Ditemani cabe, terasa nikmat. Tak terasa sambil mengobrol, magrib datang. Saka berdiri guna membayar. Totalnya tak sampai lima belas ribu. Ia angsurkan uang dua puluh ribu. "Kenapa?" tanya Tata begitu melihat ekapresi Saka yang aneh sambil menatap dompetnya. "Kok murah. Memang harga es nya berapa? Orangnya nggak salah hitung? Es dua, gorengan empat." Tata terkikik. "Iya, murah kalah dibanding harga es teh di Jakarta. Es oyen harganya rata-rata lima ribu rupiah aja. Kalau gorengan ya lima ratus. Biasanya kalau pisang jadi seribu." Saka geleng-geleng kepala. Keduanya lekas naik motor dan pulang. *** Nana baru selesai mandi. Ia tadi habis jalan beli gorengan sambil numpang wifi di warung tersebut bersama Yulia, temannya. Kini Yulia mampir ke rumahnya sebelum pulang ke rumah. Ditinggal mandi, Yulia asyik berbaring sambil menonton tayanyan di saluran U tube. Ada video makan pedas yang ia sukai. "Yul, mandi nggak?" Melihat ada Nana masuk kamar dan terlihat segar, ia tergoda untuk mandi juga. Yulia pun mengangguk. "Iya. Enak, seger kayaknya habis mandi." Yulia segera keluar kamar Nana menuju kamar mandi. Begitu ia keluar, rupanya ada kakak Tata yang baru pulang. "Eh, Yul." Yulia menganggukkan kepala. "Ya, Mbak Ta. Maaf, numpang mandi." Ia meringis tak enak hati. "Oh, mandi aja. Kalian dari mana emang?" "Cari wifi gratis, Mbak. Modal beli gorengan sama es marimas udah cukup." "Oh, kirain ke mana. Kamu udah bilang kakakmu belum kalau masih di sini?" Yulia mengangguk. "Sudah kok, Mbak. Lagian Mbak Tina katanya lagi ke rumah temennya nitip bayar arisan panci yang kayak di TV-TV itu loh. Jadi pulang malem pasti. Gosipnya suka nggak tahu waktu." Tata ikut membenarkan. Begitulah perempuan, di mana-mana selalu suka bergosip. "Ya udah, mandi sana. Nginep sini sekalian juga nggak papa." Yulia hanya menanggapi dengan senyuman. Ia lantas pamit ke kamar mandi sementara Tata masuk ke kamarnya sendiri. Ia lelah dan ingin mandi. Tapi biar Yulia yang duluan. _Makasih buat hari ini_ Pesan dari Saka membuat Tata duduk dari rebahan dan membalas. _Sama2. Makasih juga udah ditraktir_ _Ok. Kamu udah mau tidur?_ _Belum. Mau mandi tapi masih antri_ _Antri? Memang ada berapa orang di rumah kamu_ _Ada temen adikq lagi main ke sini. Dia lagi mandi. Aku ngalah aja_ _Mandi di tempatku, nggak ada yang antri_ Saka kemudian menggapus pesan tersebut. Ia baca lagi jadi terkesan dirinya menggoda Tata saja. Ia ganti pesannya. _Nggak usah mandi_ _Bau lah. Seharian keringetan di depot_ _Pakek minyak wangi, aman_ Tata tersenyum sendiri berbalas pesan dengan Saka. Hingga suara pintu kamar mandi terbuka dan terdengar dari kamarnya, membuat Tata segera keluar. Ia kebelet kencing. Tak mau ada yang memakai kamar mandi. Ia butuh ke tempat itu sekarang. Meninggalkan pesan Saka yang belum ia jawab. Sementara Saka di sana juga sedang ke kamar mandi. Sambil membalas pesan dari ibunya dan Aji. _____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN