Jam di tangan ia lepaskan. Waktunya bekerja, Rayan memasukkan jam tangan dan ponsel. Dilihatnya Tata yang sedang membersihkan meja. Ia ingin tanya apakah ia kemarin langsung pulang atau jalan dulu dengan temannya dari kota itu? Semalaman ia tak tenang tidur, padahal biasanya ia mudah tidur. Apalagi seharian kemarin ia capek bekerja, menjelang malam ada temannya yang menginap. Ia akan mudah tidur juga saat ada teman menginap dan tidur lebih dulu.
"Ta?"
Merasa dipanggil, Tata menoleh. "Ya?"
"Nanti mau jajan, pulang kerja?"
Ah sial. Padahal Rayan ingin bertanya apa yang dilakukan mereka berdua setelah pulang kerja. Malah ia tanya yang lain.
"Ok. Mau beli apa?"
Tata mengiyakan. Ia tak masalah jajan dulu sebelum pulang. Biasanya juga begitu.
"Lihat nanti aja."
Tata mengacungkan jari jempol. Tanda setuju dan ia segera bergerak ke meja lain. Ada pembeli datang, ia gegas melayani. Tak lupa menanyai minuman apa yang dipesan, agar ia juga segera meminta Rayan membuatkannya.
Pagi menjelang siang itu pelanggan mulai berdatangan. Rayan, Tata dan pekerja lain sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sama halnya dengan laki-laki di dalam rumah kontrakan yang sedang menggambar serta menambahkan catatan pada kasus investigasi miliknya.
-Jam tangan
-Motor
-Tinggi pelaku
Saka memberi detail pada poin-poin yang sudah ia catat. Ia tinggal bertanya tentang siapa saja kenalan Amira yang Tata tahu. Kalau bisa, ia ingin berkenalan dengan semua teman Amira. Manurut Pak Abidin, Amira dan Tata memang dekat. Meski Amira punya teman, tak tak sedekat dan sampai diajak ke rumah oleh Amira. Palingan hanya teman kerjanya. Teman kerja Amira juga kebanyakan sudah berkeluarga. Guru SD tempat Amira mengajar belum Saka tahu. Sebaiknya ia merencanakan berkenalan juga dengan teman mengajar Amira. Tingga tunggu momen ia meminta tolong Tata.
Saka membuka pesan dari Tata pagi ini yang belum sempat ia buka.
Menyalakan data internet, pesan-pesan bermunculan memenuhi layar. Satu per satu Saka membuka pesan tersebut. Salah satunya dari mamanya yang mengabarkan bahwa mamanya sedang jalan dengan temannya karena kesepian di rumah. Pamit ke Saka ke rumah temannya yang baru mendapatkan cucu. Acara tasyakuran.
Cuma pamit, ia kira. Ujung-ujungnya pamer ke Saka kalau menikah dan punya anak itu menyenangkan. Halah, Saka sudah hafal soal desakan menikah itu. Tapi, ia belum punya gambaran masa depan. Pernah gagal, semoga kelak ia tak lagi mengalami hal sama.
Menggulir pesan satu per satu, bahkan pesan lama, Saka berhenti pada nomor Amira. Pesan-pesan Amira yang ia merasa ketakutan, kemudian membuat Saka berpikir satu hal.
Ponsel Amira.
Iya. Saka sepertinya harus meminjam ponsel Amira untuk melihat isinya. Siapa tahu ada informasi penting yang bisa menjadi petunjuk soal pelaku.
Saka pun pergi ke rumah Amira. Tiba di sana, ia melihat rumah Amira tutup. Artinya Pak Abidin sedang tidak di rumah. Ia kira istrinya akan di rumah saja seperti kemarin, nyatanya kali ini rumah tersebut kosong. Saka jadi urung bertamu. Padahal ia berencana hendak meminjam ponsel Amira.
Baiklah, ia ke rumah sakit saja. Sekalian menjenguk Amira. Motor Saka melaju, pulang ke rumah guna mengambil jaket dan mengambil helm.
***
Tata selesai kerja. Sesuai janjiannya dengan Rayan tadi, mereka akan pergi jalan hanya untuk makan atau bersantai sejenak selepas kerja
"Beli pecel yuk! Kok tiba-tiba aku pengen pecel di Gedung Juang."
"Pecel yang katanya pedas itu ya?" tanya Rayan.
"Iya yang belakang Gedung Juang. Nggak tahu masih ada apa nggak tuh, yang jualan nasi pecel. Kalau nggak ada ya, kita beli pentol aja di Gedung Juang sana."
Rayan mengangguk setuju. Ia tak masalah ingin membeli apa yang penting ia bisa bersama dengan Tata. Menghabiskan waktu selepas kerja, bersantai menikmati sore, asalkan bersama Tata.
Kedua motor itu melaju depan dan belakang. Rayan pergi duluan di depan sementara Tata mengikuti dari belakang. Berbelok ke arah Gedung Juang, tampak penjual berjejeran. Sehari-hari memang banyak penjual, pengunjung, yang datang ke sana. Ada banyak permainan dadakan, penjual di tempat ataupun yang yang datang dengan kendaraan. Semua ada.
Tempat yang cocok untuk berkumpul bersama keluarga, apalagi yang bawa anak kecil pasti suka. Bermain sepeda, bermain sekuter, mandi bola, arena bermain kecil-kecilan dan juga aneka jajanan yang pasti disukai banyak orang.
Melihat ada penjual sate kreco, membuat Tata melupakan keinginan untuk membeli nasi pecel. Ia pikir jika ia makan nasi pecel pasti akan kekenyangan jika ia ingin membeli jajanan lagi.
"Yan, ke sini aja yuk! Enggak usah beli nasi pecel. Aku lihat ada sate kreco, aku pengen."
Rayan melirik penjual yang di bilang oleh Tata. Lekas ia pun menuruti keinginan Tata. Keduanya menghentikan motor di penjual tersebut. Tata memesan dua porsi. Setelah itu keduanya mencari tempat duduk di dalam gedung. Duduk di area miniatur mobil tank.
Sementara Tata menunggu sambil memakan sate kreconya, Rayan membeli es jeruk peras di dekat mereka duduk sebagai peneman makan sate kreco.
"Aku udah lama nggak makan sate ini," kata Tata membuka obrolan. Keduanya sambil mengunyah sate kreco yang rasanya agak pedas dan gurih.
"Iya sama, sekarang yang jualan sate seperti ini sudah jarang."
Tata membenarkan. "Benar, dulu aku ingat saat kecil sering ke alun-alun untuk beli sate kreco yang orangnya rame terus penjualnya itu. Aku ke sana saat masih ada bapakku dan saat alun-alun dulu masih boleh penjual masuk ke dalam. Kalau sekarang nggak tahu penjualnya itu ada di mana sekarang. Semoga saja masih ramai Seperti dulu saat di alun-alun," harap Tata sambil mengingat masa lalunya.
"Kayaknya aku pengen beli pentol bakar juga deh. Kamu mau nggak?" tanya Tata pada Rayan.
"Kamu kalau mau beli, beli aja."
Tata mengangguk. Ia pun berdiri dan meletakkan satenya di dekat Rayan, sementara ia berjalan ke arah pentol bakar dan memesan lima tusuk dengan rasa pedas.
Tak hanya membeli pentol, bahkan Tata pun membawa pulang rujak kambang untuk diberikan kepada ibunya dan juga Nana di rumah. Menjelang magrib keduanya pun pulang. Rayan dan Tata satu arah tujuan pulang, hanya saja Rayan nanti akan berbelok ke kecamatan sebelah yang berdampingan dengan kecamatan rumah Tata.
Tiba di rumah, ia disambut Nana yang sedang asyik menonton televisi. Adiknya itu girang kala sang kakak membawakannya rujak kambang.
"Makasih, Mbak," kata Nana yang langsung membawa bungkusan rujak kambang itu ke belakang untuk memindahkannya ke dalam dua gelas. Masing-masing untuk dirinya dan ibunya.
"Hem," jawab Tata yang kemudian berlalu menuju kamarnya.
"Yulia udah pulang?" tanyanya pada Nana. "Nggak nginep lagi dia?"
"Udah lah, tadi pulang sekolah dia langsung pulang ke rumahnya. Masa nginep berhari-hari. Kapan-kapan ganti aku ya, yang nginep di sana." Lirik Nana pada ibunya yang juga bales melirik.
"Nginap apa nongkrong?" tanggap ibunya curiga yang membuat Nana jadi mengkerut.
"Hehehe, Ibu, itu kan dulu. Sekarang udah tobat kok. Kalau nggak percaya, nanti pas aku nginep di rumah Yulia aku video call Ibu deh, biar tahu kalau aku bener-beneran nginep di sana nggak nongkrong."
Ibunya tak menanggapi. Ia asyik menonton sinetron di televisi dan menyeruput rujak Kambang yang dibelikan anak sulungnya, sementara Tata sudah masuk kamar dan hanya geleng-geleng kepala dengan pertengkaran adik dan ibunya di ruang tengah.
Tata ingin berbaring segera setelah mandi. Hari ini ia lelah, tapi senangnya adalah besok ia libur. Jadi ia bisa bersantai dan begadang malam ini. Ngomong-ngomong ia ingin mengirim pesan pada Saka, menanyakan soal janji ke Kediri esok hari. Semoga saja Saka tidak membatalkan janji itu. Sudah lama iaa tidak ke Kediri. Meski hanya untuk jalan-jalan saja. Entah untuk membeli apa ia tidak kepikiran. Yang penting menyenangkan batin sendiri setelah seminggu bekerja. Refresing.
***
"Ponsel apa maksudmu, Nak?" tanya Pak Abidin pada Saka yang tiba-tiba bertanya tentang ponsel milik Amira.
"Saya ingin melihat konser Amira. Apa Om membawanya ke sin?" tanya Saka.
"Ponselnya di rumah. Ada di kamar Amira. Kemarin pas pulang, ibunya Amira yang beres-beres kamar Amira. Jadi pasti tahu di mana benda itu diletakkan. Emangnya ada apa sih, Nak?"
"Ah tidak apa-apa, hanya memastikan Kalau ponsel Amira baik-baik saja. Soalnya waktu Amira diculik itu di rumah tidak terlihat barang berharga yang diambil, tapi apa Om sudah mengecek kalau HP Amira tidak diambil. Mungkin saja orang itu tidak sempat membawa barang banyak karena sudah ketahuan oleh saya dan hanya mengambil barang berharga milik Amira. Ponsel misalnya," jelas Saka untuk mengurangi kecurigaan dan kecemasan Pak Abidin.
Pak Abidin pun jadi berpikir "Iya juga sih, sebentar tunggu ibunya dulu datang. Dia tadi masih beli makanan soalnya ibunya yang masuk kamar Amira."
Tak berapa lama istri Pak Abidin tersebut datang sambil membawa makanan dan minuman. Ia serahkan pada suaminya dan satu lagi untuk Saka
"Ini lho, Bu, Saka tanya hp-nya Amira di mana. Pas bersih-bersih kemarin lihat nggak di kamar Amira?"
"HP Amira?" ulang Bu Abidin sambil mengingat benda milik anaknya tersebut.
"Kayaknya ada di kamar, jatuh di lantai tapi sudah Ibu simpan di mejanya Amira, kalau nggak salah. Kenapa sih kok tanya HP Amira? Hp-nya di hubungi juga ndak bisa. Ibu lupa buat ngecas, sudah berhari-hari tidak dipakai pasti baterainya juga habis."
Pak Abidin menunjuk pada saka. "Katanya mau tanya HP Amira ada apa tidak, takutnya HP Amira itu ikut di ambil sama orang yang menculik Amira. Kan sudah ketahuan sama Saka waktu itu, makanya tidak sempat membawa barang berharga rumah kita. Siapa tahu HP Amira malah yang dibawa."
"Oh gitu. Ada kok hp-nya Ibu kemarin yang simpan. Ibu letakkan di meja biasa Amira taruh HP-nya itu."
"Apa saya boleh pinjam sebentar HP Amira? Kapan hari saya mengirim alamat di pesan Amira. Milik saya sudah terhapus, jadi satu-satunya cara melihat alamat itu hanya membuka pesan di Hp Amira dari saya," jelas Saka mencari alasan agar ia bisa memegang langsung ponsel tersebut dan mengeceknya sendiri.
"Hp-nya di rumah dan tidak ada orang di rumah. Besok pagi aja gimana? Soalnya Om sama Tante besok pagi pulang karena akan gantian dengan adik Om yang jaga Amira."
Saka mengangguk setuju. Saka senang harapannya akan segera terwujud.
Demi menghormati apa yang sudah diberikan oleh Bu Abidin, Saka pun menghabiskan minuman kemudian pamit pulang.
***
Laki-laki itu sedang merasa bahagia. Ada hal yang kini sudah aman dalam genggamannya. Saking bahagianya, bahkan ia rela menuruti Tina pergi jalan dan belanja. Lebih tepatnya Tina yang belanja dengan uangnya sendiri dan ia hanya menemani.
Setelah berputar-putar membeli beberapa baju, pakaian dalam, aneka bedak yang laki-laki itu tidak paham sama sekali, berakhir dengan makan malam sebelum pulang.
"Yang, habis ini jangan pulang dulu ya." Laki-laki itu paham apa artinya.
M"au di mana hari ini?" tanggap laki-laki itu yang sudah paham apa keinginan sang kekasih.
"Dimana ya enaknya. Cari yang agak jauh dari kota aja lah. Aku mau menikmati yang sepi."
"Terserah kamu, Sayang." Laki-laki itu tersenyum. Ia lirik jam tangan miliknya. sudah malam, pukul sepuluh malam.
"Adik kamu gimana?"
"Yulia lagi di rumah temannya. Dia memang kalau akhir pekan suka nginep gantian dan teman-temannya."
"Tapi biasanya nggak akhir pekan juga dia nginap."
"Iya kalau aku lagi sama kamu, jadi kadang aku alasan mau bayar arisan lah, bayar hutang gula lag. Dari pada di rumah nanti dia denger suara merduku. Mending aku suruh dia main ke rumah temennya. Aku bilang aja lagi bayar arisan, ke rumah temen, atau lagi nonton simetron Ikatan Rindu bareng sama teman-teman yang lain. Tu anak mudah banget dikibuli."
Laki-laki itu juga mengenal. Sekilas saja ia kenal dengan adik Agustina, anak SMA yang berapa kali berpapasan dengannya tapi ia tidak tahu bahwa dirinya dekat dengan kakaknya. Tak pernah mengobrol, juga tak pernah berkenalan secara langsung satu sama lain atau. Tina hanya menceritakan sosok adiknya. Sejak menikah ia membawa sekalian adiknya untuk tinggal bersama dengan sang suami.
Hitung-hitung juga sebagai teman karena suaminya sering keluar kota dan jarang pulang. Orang tua mereka sudah tidak ada, jadi hidup berdua dan saling menjaga, begitu harapan orang-orang pada mereka. Sayangnya keduanya jadi seperti mengurusi urusan masing-masing.
Asal Yulia tidak aneh-aneh, bagi Agustin itu sudah tenang. Pun dengan Agustina yang tidak ketahuan oleh yang sang adik dan suaminya karena selingkuh, hidup mereka pun sama-sama aman.
"Habis ini kita beli makanan lagi buat stok di hotel ya, Yang," kata Agustina mengingatkan sang kekasih.
Pertempuran keduanya tak pernah tidak melelahkan. Keduanya pasti butuh tenaga ekstra, dan makanan adalah sumber energi yang mereka butuhkan setiap pergumulan panas terjadi.
"Iya, habis ini kita belanja."
"Oh ya jangan lupa pengamannya kali ini aku yang pilih ya. Aku lagi pengen yang rasa strawberry. Nanti kapan-kapan kamu cobain yang bergerigi dong, Yang. Aku pernah sekali rasain dan sekarang pengen lagi," bisik Agustina di telinga laki-laki itu yang dakhiri dengan sedikit jilatan agar tak ketahuan karena mereka sedang makan di tempat umum.
Digoda seperti itu laki-laki jelas saja jadi gelisah. Ia sudah tak sabar ingin memporak-porandakan perempuan di sampingnya ini. Mumpung lagi bahagia hari ini dan ingin segera melampiaskan pada hal yang menurutnya juga akan membuatnya lebih bahagia, dengan Agustina yang pastinya akan sangat bahagia dengan servisnya kali ini. Laki-laki itu terlalu bersemangat.
"Tenang saja. Bahkan lain kali aku akan pakai imitasi untuk membuatmu keluar di depanku tanpa bantuan milikku sama sekali," balas laki-laki itu berbisik pada telinga Agustina.
Perempuan itu berkedip manja sambil mengelus paha laki-laki itu.
"Aku menantikan hari itu. Sekarang ayo kita cepat cari kamar. Aku sudah tak tahan."
Laki-laki itu lekas membayar dan keduanya meninggalkan tempat makan menuju minimarket 24 jam. Laki-laki itu membeli minuman sementara Tina berkeliling mencari camilan dan tak lupa benda elastis berbungkus kotak kecil di dekat kasir rasa strawberry, seperti yang ia inginkan, juga tak lupa ia ambil juga.
Tak Butuh waktu lama keduanya langsung meluncur ke salah satu Hotel nggak jauh dari kota. Sama-sama saling meluapkan rasa bahagia yang jelas, keduanya sama-sama tak sabar untuk saling menikmati satu sama lain.
_____