12. Minggu Berdua

2271 Kata
Remasan pada dua gundukan dari arah belakang itu sekekita membuat Tina mendongak. Bibirnya yang mendesah karena tusukan dari belakang, membuat laki-laki itu langsung menyambar bibir sensual di depan mata dari arah samping belakang. Masih dengan tusukan dengan berdiri dan mengangkat satu kaku dari arah belakang, Tina menikmati setiap benda milik sang kekasih menerobos masuk. Decapan karena lidah dan bibir mereka menyatu. Tina tak tahan lagi. Ia ingin keluar, apalagi laki-laki itu makin mempercepat gerakannya. "Sayang, aku keluar." Tina merasakan lelehan melewati pahanya. Sang kekasih mencabut miliknya lalu membaringkan Tina di kasur. Ia tak berhenti semudah itu hanya dengan Tina sudah keluar. Kakinya ia lebarkan, karena Tina akan ia buat terus keluar dengan apa yang ia miliki. "Yang, jangan," rengek Tina kala pucuk kecilnya yang menegang langsung dilahap laki-laki itu kala kedua paha Tina dilebarkan. Denyutan sehabis keluar barusan, langsung disambung dengan denyutan yang makin menggila rasanya kala kuluman itu makin menggoda. Tina melenguh, menjambak, resah, miliknya bengkak. Bibir dan lidah sang kekasih terlalu menggoda untuk dilewatkan. Ia memejamkan mata menikmati setiap lidah dan bibir kekasih gelapnya itu menikmati bagian inti miliknya. "Yang..." "Hem. Apa? Enak kan?" tanya laki-laki itu menggoda. "Jangan, nanti aku keluar lagi." Laki-laki itu tak peduli rengekan Tina. Memang tujuannya membuat Tina keluar lebih banyak, sebelum ia memuntahkan miliknya. "Lebih banyak, kamu akan lebih nikmat," kata laki-laki itu yang kemudian ia masukkan jarinya ke lubang milik Tina. Beegerak cepat menyentuh titik sensitif Tina. Yang membuat perempuan itu berteriak, menggelinjang, lalu mengeluarkan basah yang keluar seiring gerakan tangan laki-laki itu. "Sayang, sayang," lirih Tina lemas karena baru saja mengeluarkan titik bir4hinya. Tangan laki-laki itu dijilatkan ke Tina. Jari-jari itu dilahap sensual oleh Tina. Merasakan sendiri cairan miliknya yang dikuras sang kekasih. "Enak?" tanya laki-laki itu begitu jemarinya dijilat dan disesap rakus. "Keluarkan lebih banyak." Belum sempat Tina menjawab, tubuhnya sudah diterjang lagi dengan kaki ditekuk dan batang itu melesak masuk. Tina lantas mencengkeram spresi menahan tusukan laki-laki itu yang menjadi. Desah nikmatnya bertambah kala jari sang kekasih ikut menggoda pucuk kecilnya yang bengkak. Menggosok bijinya beriringan dengan hujaman di lubang miliknya. Tina sampai tak bisa berkata-kata dengan kenikmatan yang diberikan sang kekasih. Dengan begitu, ia makin cepat keluar. Laki-laki itu membiarkan Tina menarik napas lebih dulu, sebelum ia tarik berganti posisi duduk jongkok di atas laki-laki itu. Kali ini Tina yang jadi komando. Ia bergerak sendiri, dengan lumatan nikmat di dua puncak kembarnya. Laki-laki itu tak membiarkan begitu saja. Tina bergerak naik turun mencari puncak kenikmatannya, sementara sang kekasih mencucup puncak menggantung dengan tangan, lidah, mulut, membuat Tina kewalahan dan ambruk di atas tubuh sang kekasih kala gelombang itu datang dan meleleh hingga ke batang dan paha kekasihnya. Dengan napas memburu, ia berguling ke samping. Laki-laki itu membalikkan posisi. Kaki Tina bertumpu dengan lutus. Wajahnya menempel di bantal, kedua paha dibuka kebar, hingga bongkahan sekal menyapa. Lubang basah terlihat berkilat karena lelehan. Laki-laki itu menjilati sejenak, membuat Tina melenguh. Namun tak lama, ia menjerit kala tusukan itu menerobos masuk melewati lubang basahnya. Gerakan laki-laki itu cepat, karena ia juga ingin meraih kenikmatannya sendiri. Tina di bawah sana menjerit nikmat karena sang kekasih keras menusuknya. Dalam, cepat, sampai Tina tak bisa berkata. Ia hanya sanggup mengatur napas. Entah apa yang merasuki pacarnya itu, sampai bersemangat sekali malam ini. Hingga ledakan itu datang. Lelaki berpeluh mencabut miliknya, melepas karet pengaman dan Tina sigap mendatangi batang tersebut. Menjilat sisa di sana. Mengulum manja, menggoda, merasai cairan kental yang sesekali ingin merasakan disemburkan dalam rahimnya. Pasti akan terasa hangat kala lelehan itu menerjang lubangnya sampai meleleh. Keduanya berbaring. Sama-sama mengatur napas. "Lagi seneng apa kesel nih. Kok semangat amat?" komentar Tina. "Lagi seneng." Tina penasaran. "Ada apa memang?" "Aku berhasil mendapatkan gambar kita. Langsung aku hapus, agar masalah selesai." Tina menoleh karena terkejut. "Serius? Kok bisa sih. Amira bukannya masih belum sadar kan katanya." Laki-laki itu menggeleng. "Belum sadar. Tapi aku sudah berhasil menghapus gambar kita." Entah bagaimana cara kekasihnya menghapus foto tersebut, Tina tak mau kepo. Ia lega, bukti bahwa dirinya dan sang kekasih sedang berduaan dan tak sengaja tertangkap kamera Amira pun selesai. Ia bisa tenang sekarang. "Kita aman dong, Yang?" "Begitulah." Tina miring dan memeluk laki-laki yang baru saja membuatnya dehidrasi karena mengeluarkan banyak cairan akibat ulahnya. "Yang, kamu mau nggak, main bareng? Nggak cuma kita berdua maksudnya." Laki-laki yang meneguk minuman lalu tiduran lagi itu tampak mengernyit. "Maksudnya?" "Ada temenku, janda. Kasihan dia kesepian. Pas aku ceritain soal kita, eh dia pengen. Katanya dia nggak mau nikah lagi. Dulu suaminya suka mukulin dia. Tapi, dia kangen dibelai. Gimana? Kamu bisa nggak, mainin kita berdua?" Laki-laki itu tak menyangka akan ada ide gila dari Agustina. Bermain api dengan istri orang saja membuatnya sudah gila. Ini malah mau bermain dengan dua perempuan kesepian. "Kenapa harus aku? Cari aja orang lain, juga banyak yang mau." Tina membelai pucuk kecil milik laki-laki itu. Membuat lingkaran di sekitarnya. Merayu sang kekasih agar mau menuruti keinginannya. "Habisnya, salah aku sih, Yang. Aku pamerin kalau kamu itu nggak ada tandingan. Bikin enak terus sampai aku keluar berkali-kali. Makanya dia langsung pengen banget. Tenang, dia aman kok. Sejak lakinya cerai, dia nggak main sama siapa-siapa. Boleh ya, Yang." Laki-laki itu mendesah pasrah. "Ya sudah. Tapi aku nggak bisa adil gimana. Siapa tahu aku malah dominan ke kamu." Tina girang. "Asyik. Nanti aku kabari dia, Yang. Kalau soal itu, ah lihat aja nanti. Kamu bakalan suka dia juga kok. Tapi sekali ini aja loh ya. Biar dia nggak penasaran. Soalnya aku nggak mau berbagi kamu sama orang lain. Biar itu temen aku sendiri." Lelaki itu miring memghadap Tina. Mengecup bibirnya agar diam. "Baiklah, terserah kamu." Keduanya bangun untuk makan. Karena selanjutnya akan mereka mulai lagi di dalam kamar mandi. Malam minggu kelabu, kini jadi panas membara. Keduanya tak peduli apa pun. Bahkan Tina, yang bingung kenapa kakaknya tidak ada di rumah. Ia pikir sedang bergosip saja ke rumah teman, tapi hampir tengah malam belum pulang. Yulia mampir ke rumah karena tiba-tiba pulang mengambil ces ponsel. Yulia diantar temannya lekas pergi lagi sambil menelpon nomor kakaknya yang tak aktif. *** Sudah pukul delapan malam dan dua orang itu belum ada keinginan untuk pulang. Tata dan Saka tadi berangkat dari rumah ke Kota yang dikenal dengan penghasil tahu kuning ini sejak pagi. Perjalanan yang ditempuh dari rumah keduanya ke kota ini sekitar satu jam. Tujuan pertama yang ingin Tata tunjukkan pada Saka adalah ikon Kota Kediri, yakni Simpang Lima Gumul yang bangunannya mirip yang ada di Paris. Banyak orang yang berkumpul di sana. Baik di monumennya tersebut, atau di pasar kaget di bawah samping monumen. Menikmati nasi pecel alas daun pisang, cilok, telur gulung dan es dawet sampai kenyang. Tata bahkan sengaja membawa kameranya untuk mengambil gambar keramaian di taman, beberapa penjual di sana, pengunjung di Monumen, motor- motor yang melaju di sekitar Simpang Lima Gumul. Biasanya ia mengambil foto tanpa menghadap kamera, kali ini ia melakukannya. Saka mengambil foto dengan kamera miliknya dengan latar Monumen Simpang Lima Gumul. Bergantian, Saka pun juga mengabadikan momen ia datang ke tempat ini. Bahkan keduanya mengambil foto bersama. Pulang dari Simpang Lima Gumul, keduanya menuju daerah kota. Kota Kediri memang lebih besar dari Kota Nganjuk, namun pilihan mall-nya tidak sebanyak ibu kota tentunya. Namun hal itu pun juga cukup membuat Tata senang karena bisa jalan-jalan sambil cuci mata. Saka mengajak Tata menikmati permainan game di lantai paling atas. Layaknya orang yang sedang rehat dari rutinitas pekerjaan, keduanya sama-sama melampiaskan dengan permainan yang seru dan tawa membahana dari keduanya. Saka senang melihat tawa Tata yang begitu lepas. Ia jadi ingat dengan cerita Pak Abidin, bahwasanya Tata adalah tulang punggung keluarganya. Ia bekerja di Depot untuk membiayai adiknya sekolah, sementara ibu Tata bekerja menerima orang-orang yang yang membutuhkan jasanya memasak saat acara hajatan. Ngomong-ngomong, ibu Tta pintar masak. Jaadi kadangkala tenaganya dibutuhkan saat ada orang hajatan, ia dipanggil untuk memasak. Namun pekerjaan itu tidak datang setiap hari. Dia juga dibayar harian, kala datang membantu memasak. Meski begitu ibu Tata merasa ia bisa membantu Tata untuk mencari uang dan tidak menaruh beban sepenuhnya pada anak sulung tersebut. Saka pikir hal itulah alasan kenapa Tata selama ini terasa cuek, apalagi ketika ia pertama kali mengenalnya. Namun jika dekat dengan Tata, semua orang akan menemukan bahwa perempuan itu memang benar-benar teman yang baik. Pantas aja Amira berteman dekat dengan Tata. Meski dari luar terlihat garang, namun hati Tata baik. Saka jadi ingat dirinya sendiri. Ia juga yatim sejak lama. Ia hanya hidup bersama ibunya, itu pun juga mereka tidak tinggal satu rumah. Ia ingin tinggal dengan ibunya, namun sang ibu kadang melarangnya karena merasa ibu Saka ingin tenang di rumah sendiri menikmati sisa usianya dengan menyibukkan diri dengan tanaman, mengobrol dengan teman-temannya. Setiap akhir pekan Saka akan mengunjungi ibunya di rumah. Saka tinggal sendiri, bukan karena alasan ia ingin jauh dengan ibunya. Hal itu karena ia terlanjur membeli rumah tersebut yang dekat dengan tempat kerja. Awalnya ia hendak membangun rumah menjadi satu dengan ruko, namun jika dipikir-pikir ia akan kurang leluasa jika nanti menikah dan istri serta anaknya harus tinggal di ruko. "Kenapa kok malah bengong?" tanya Tata begitu mendapati Saka hanya melamun padahal keduanya sedang berlomba memasukkan bola basket dalam permainan ini. "Nggak papa." Saka menggeleng dan tersenyum. Ia lihat poinnya Tertinggal jauh dengan Tata namun kemenangan Tata membuatnya turut bahagia. "Habis ini main apa?" Tata melihat sekeliling yang sudah ia coba semuanya. "Beli minum dulu, kayaknya enak. Aku haus," jawab Saka yang memang dibenarkan juga oleh Tata. Keduanya sudah bermain sejak tadi. Hampir dua jam keduanya bermain, berteriak, tertawa dalam keseruan membuat tenaga mereka terkuras dan suara hampir habis. "Di depan sini ada swalayan. Di sana juga banyak makanan yang bisa kita makan di tempat. Mau ke sana nyoba? Tinggal nyebrang aja kok," tawar Tata pada saat keduanya naik lift dan kacanya tembus ke area jalan. "Boleh. Memang Ada makanan apa di sana? Jangan makanan berat dulu lah, nanti pulang saja baru makan berat." "Enggak hanya makan berat, banyak juga camilan. Udah, kita lihat aja ke sana. Kita juga bisa makan di sana tanpa repot dan bingung bawa pulang." Keduanya turun dari arena bermain dan berjalan menyeberang tepat di depan mall tersebut ada swalayan dan juga bioskop di lantai atas. "Eh ada bioskop juga di sini," kata Saka. "Iya, mau nonton?" "Boleh." "Beli jajanan dulu dan makan lalu nonton. Lagian jam tayang juga masih sejam an lagi. Cukuplah bagi kita jajan dulu." Keduanya memilih aneka kue basah. Saka mengambil kue lapis, kue lumpur, bakwan jagung, telur puyuh dibumbu kecap dan sempol daging. Saka terkejut melihat harga yang tertera ada nasi harga lkma ribu rupiah, padahal nasi tersebut berisi lauk sambal goreng, mie, juga suwiran ayam. Bahkan kata Tata jika sudah pukul tujuh malam harga semua makanan di sini diskon lkma puluh persen. Saka tak bisa bayangkan bagaimana ruginya penjual yang menitipkan perdagangan tersebut di sini. Sdah setengah harga pula. Tapi kalau tidak laku malah tidak dapat kembali modal. Kasihan juga. Sementara Tata memilih salad buah, lemper isi ayam, jagung jagung s**u keju dan sempol sama dengan pilihan Saka. Setelah membayar, keduanya membawa ke meja makan dan memesan dua es teh manis. Selesai menikmati sambil mengobrol ringan, Saka dan Tata naik menuju bioskop di lantai dua. Memilih film yang pilihannya hanya ada film horor yang tayang sore ini. Tak masalah, toh Tata juga penikmat segala genre film. Hanya saja ia Lama tidak menonton bioskop. Pulang dari bioskop, keduanya mampir dulu untuk makan malam. Nasi goreng menjadi pilihan Tata. Ia mengajak Saka ke salah satu nasi goreng chinese food langganannya. Begitu melihat porsinya, Saka menelan ludah. Ia hanya menoleh pada Tata dan bertanya, "Kenapa sebanyak ini porsinya? Aku tidak tahu akan sanggup menghabiskannya atau tidak." Tata hanya tertawa. "Makan saja. Enak kok, kamu tidak akan terasa kalau sudah menikmatinya pasti nambah terus. Sudah, coba aja." Saka menurut. Ia pun menikmati nasi goreng yang memang rasanya enak, pun dengan isian yang melimpah, daging ayam potongannya pun juga besar, telurnya banyak, membuat ia makin bernafsu makan. Bahkan Saka sampai tambah es jeruknya. Maklum makan nasi goreng pasti akan kering tenggorokannya. Pukul sepuluh malam keduanya tiba di rumah. Pertama ia menurunkan Tata di depan rumahnya, barulah ia menuju rumah kontrakannya. Sampai di kamar ia langsung mandi dan berganti baju. Bersiap untuk tidur. Meskipun lelah namun hari ini Saka senang. Bukan senang karena datang ke mall atau pergi menjelajah kota lain selain desa yang ia lihat setiap hari selama di sini, melainkan senang ia bisa menghabiskan waktu dengan Tata. Entahlah, setahun terakhir kehidupannya agak suram. Ia gila bekerja dan tak peduli dengan bahagianya sendiri. Namun setelah bertemu Tata, ia seolah menemukan sisi lain dari dirinya sendiri. Tata seolah cerminan dari dirinya, seseorang yang berusaha kuat menanggung beban namun berusaha baik-baik saja. Saka mengirimkan pesan pada Tata setelah ia mandi dan bersiap untuk tidur. _Terima kasih untuk hari ini_ _Aku juga makasih semuanya Kamu yang bayarin_ _Nggak papa kan setiap nggak tiap hari. Masa kamu yang bayar sementara aku masih mampu_ _Oke deh aku mau tidur ngantuk capek besok sudah kerja lagi_ _Baiklah tapi satu hal yang aku mau tanya. Karena hari ini aku lupa menanyakannya_ _Ya Soal apa_ _Selain kamu dan teman kerja kamu di Depot, Amira biasanya main dengan siapa_ _Aku kurang tahu. Kadang dia jalan-jalan dengan teman kerjanya. Biasa pulang sekolah teman ngajarnya berkumpul untuk makan-makan. Emang ada apa_ _Nggak apa-apa. Aku Hanya penasaran apa Amira punya teman selain kamu dan Rayan_ Saka tak mengatakan dulu bahwa ia sedang menyelidiki penculikan Amira ia ingin memastikan semua bukti itu ada tangannya dulu baru menceritakan pada Tata. Siapa tahu Tata menyimpan informasi lain. Ia harus bisa mendapatkan info lebih detail soal teman yanh sering jalan dengan Amira. Siapa tahu salah satu dari mereka. Entah apa masalahnya, tapi Saka patut mencurigai semuanya. ___________
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN