Posesif

1716 Kata
Setelah sama-sama mengungkapkan perasaan satu sama lain, Lily pun menjadi canggung, kini ia pun terlihat lebih banyak diam. "Kenapa?" tanya Ken saat melihat raut wajah Lily yang berubah diam. Lily pun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak apa-apa Mas," jawab Lily lalu tersenyum. Ken yang merasa lelah pun mulai merebahkan kepalanya pada pangkuan kekasihnya itu. "Apa sebelumnya kamu sudah pernah menjalin kasih dengan seorang pria?" tanya Ken lalu mendongakkan kepalanya guna menatap wajah cantik Lily dari bawah. "Aku belum pernah pacaran, Mas." jawab Lily lirih, ia pun refleks menyusupkan jari jemari nya ke dalam rambut Ken dan mengusapnya pelan. Ken terlihat begitu menikmati perlakuan lembut tangan kekasihnya itu, ia pun memilih memejamkan matanya sejenak. "Berarti Mas yang pertama buat mu?" tanya Ken lalu membuka kembali matanya. kali ini pandangan keduanya pun bertemu. "Iya." jawab Lily singkat. "Sayangnya aku harus jatuh cinta pada suami orang." ucap Lily lalu mencebikan bibirnya kesal. ia pun bingung dengan perasaannya saat ini. mengapa ia harus mengalami jatuh cinta pertama kali pada suami orang? sungguh kalau bisa memilih Lily pun mau pria singel yang menjadi cinta pertamanya. Ken yang melihat sang kekasih kesal pun lalu mengambil jemari Lily dan mengecupnya pelan. "Percaya sama Mas, semua akan baik-baik saja." Ken kembali meyakinkan Lily bahwa hubungan yang akan mereka jalani ini akan baik-baik saja, karena memang mereka berdua pun sudah sama-sama saling mencintai. "Tapi, Mas--" Lily pun menggantungkan kalimatnya. "Don't worry sayang!" Ken mengarahkan tangan kanannya untuk mengusap pipi Lily dengan lembut. Ken tau apa yang ada di pikiran sang kekasih saat ini, pasti wanita cantik itu tengah memikirkan statusnya sebagai pria beristri. tapi Ken tak mau ambil pusing toh selama ini juga ia tak pernah mencintai sang istri sedikitpun. meski Luna sudah hadir di antara mereka tapi, kehadiran buah hatinya nyatanya tak membuat hati Ken menjadi luluh. Wajah Lily pun bersemu merah saat merasakan tangan kokoh sang kekasih mengusap pipinya lembut, alih-alih ingin menolak Lily malah justru menikmati momen ini. Ya, bersentuhan langsung dengan seorang pria nyatanya baru kali ini Lily rasakan, dan benar ucapan sahabatnya Selvy seperti ada aliran listrik yang menyengat kala tubuh kita bersentuhan satu sama lain dengan seseorang yang kita cinta. "Mas nanti aku--" ucapan Lily terputus saat ia mulai menundukan wajahnya dan mendapati pria yang baru saja menjadi kekasihnya itu tertidur pulas. Lily pun mengulas senyum manis di bibirnya, tangan kirinya pun refleks mengelus beberapa bulu halus yang tumbuh di sekitar rahang Ken. jemari lentik Lily terus memberikan sentuhan lembut itu mulai dari kening, mata, hidung dan terakhir bibir tebal Ken. Lily terus melakukan hal itu selama hampir sepuluh menit dan tanpa Lily sadari ternyata si empunya wajah pun terbangun. Ken merasa seseorang telah mengusik tidurnya, mata elang pria itu menatap dalam manik mata meneduhkan milik sang kekasih. Jantung keduanya bergemuruh hebat, saat kedua mata itu saling bertemu. baik Ken maupun Lily masih mendalami perasaan masing-masing. Ken masih tak habis pikir bagaimana bisa ia mencintai seorang wanita yang bahkan usianya tak jauh dari usia sang anak. sedangkan Lily jangan ditanya saat ini ia sudah mulai salah tingkah saat Ken terlihat tengah menarik tengkuk leher Lily agar semakin mendekat kearah wajahnya. "Maaf Mas, aku gang--" ucapan Lily pun terputus. Ken yang tidak tahan melihat bibir semerah delima milik sang kekasih pun langsung mendaratkan bibirnya pada bibir ranum itu, awalnya hanya kecupan lama-kelamaan Ken yang tidak tahan pun langsung memangut lembut bibir kekasihnya itu dan memainkannya dengan gerakan lembut, halus dan memuja. Ken terus melakukan hal itu memangut bibir semerah cherry itu pada bagian atas dan bawah secara bergantian. ketika merasakan tak ada pergerakan dari lawan mainnya Ken pun mulai melepaskan tautan bibir keduanya. "Apa kamu juga belum pernah berciuman sebelumnya?" tanya Ken lalu mengangkat sebelah alis matanya. Wajah Lily pun berubah merah bak kepiting rebus, ia lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Aku belum pernah ciuman, Mas." jelas Lily lirih, ia lalu memejamkan matanya menahan malu saat mendengar Ken melontarkan pertanyaan konyolnya itu. tentu saja Lily belum pernah berciuman, dekat dengan pria saja baru kali ini ia lakukan. Ken tersenyum puas saat mendengar jawaban kekasihnya itu, tak bisa di pungkiri ia merasa senang menjadi yang pertama untuk Lily. "Good girl!" ucap Ken, lalu mengelus lembut bibir tipis Lily yang masih basah itu akibat pergulatan lidah keduanya tadi. "Mas, aku mau pulang ya?" ucap Lily mengalihkan rasa canggung di hatinya. sungguh semakin lama berdekatan dengan pria ini debaran jantungnya semakin tidak terkontrol bahkan beberapa saat tadi Lily seperti mengalami kesulitan dalam bernafas, saat Ken mencium dan mengelus lembut bibirnya. Ken terlihat tidak suka saat kekasihnya itu meminta izin untuk pulang, ia pun langsung terbangun dari tidurnya. "Lily?" ucap Ken dengan nada lembut. ia lalu menarik dagu kekasihnya itu agar menatap dirinya. "Apa Mas?" Lily pun menoleh dan menatap pria yang baru saja mengambil first kiss nya itu. "Nanti Mas antar pulang, bagaimana kalau sekarang kita makan siang dulu?" saran Ken pada kekasihnya itu, ia lalu melirik jam mewah yang melingkar di tangan kirinya itu. pukul 11.30 bukankah itu tandanya sudah masuk waktu jam makan siang. Lily pun mengangguk, ia menyadari ternyata saat ini sudah memasuki waktu makan siang pantas cacing-cacing di perutnya berbunyi sedari tadi. "Mau makan dimana, Mas?" tanya Lily lalu mengikuti gerakan Ken yang beringsut dari duduknya. "Kita makan di restoran Mas, sekalian Mas mau mengecek keuangan hari ini." ucap Ken terdengar samar karena saat ini ia tengah melangkahkan kaki panjangnya itu menuju kamar. Lily pun masih setia menunggu Ken diruang tengah, ia memilih kembali duduk dan membenarkan riasannya yang sedikit berantakan tadi dengan mengoleskan sedikit pelembab pada wajahnya dan tak lupa ia pun memoleskan sedikit lipstik pada bibir seksinya itu. "Ayo Ly!" ajak Ken saat ia sudah keluar dari kamarnya. Lily mengangguk, ia lalu menaruh peralatan makeup nya kedalam tas. "Ayo Mas!" ucap Lily saat melihat Ken yang sedang menatap dirinya dengan pandangan tidak suka. "Kenapa Mas?" tanya Lily mengerutkan keningnya binggung, kala melihat Ken tengah menyilangkan kedua tangannya di d**a. "Kamu punya tisu basah?" tanya Ken kemudian mendekat kearah kekasihnya itu. Lily pun mengambil sekotak kecil tisu basah dari dalam tasnya. "Ini Mas," ujar Lily lalu mengulurkan tisu itu pada Ken. "Buat apa sih--" Dengan gerakan cepat Ken pun mengambil tisu itu dan mulai mengusap wajah sang kekasih hingga riasan di wajah cantik Lily sedikit memudar. "Nggak usah dandan!" titah Ken lalu mengelus puncak kepala sang kekasih dengan lembut. "Kamu hanya boleh dandan untuk Mas!" sambung Ken kemudian mengengam jemari Lily dan mengajaknya keluar penthouse mewahnya itu. Lily tercengang dengan perbuatan Ken barusan, ia tidak menyangka bahwa respon yang akan diberikan pria tampan itu akan seperti ini. Uwuu Mamas ganteng mulai posesif. gumam Lily tersenyum dalam hati. Alih-alih kesal justru Lily malah terlihat senang saat Ken mulai melarang dirinya agar tidak berdandan kecuali untuk dirinya. () () () Lima belas menit sudah mereka melakukan perjalanan, kini mereka sudah tiba di salah satu restoran mewah milik Ken. Sebenarnya Lily sedikit waspada saat memasuki restoran ini, ini restoran milik sang kekasih dan tak menutup kemungkinan para karyawan pun pasti mengetahui bahwa Ken pria beristri dan saat ini Ken malah terlihat santai menggenggam tangan Lily memasuki ruang pribadinya di lantai dua. tak tahukah Ken bahwa sedari tadi para karyawannya itu terus memandang mereka berdua dengan sorot mata penuh tanya. Pintu pun tertutup sempurna, Ken lalu menyuruh Lily untuk duduk di sofa berwarna gold itu, sementara Ken langsung berjalan menuju kursi kerjanya yang terletak tepat di sudut ruangan. pria tampan itu terlihat sangat fokus saat ini dengan menatap layar pada laptopnya tanpa berkedip dan Ken pun terlihat semakin tampan saat kacamata baca itu bertengger di hidung mancungnya. Lily memilih memainkan ponsel pintarnya itu, kini ia telah membaca beberapa pesan yang masuk satu diantara pesan yang membuat Lily tercengang adalah pesan dari Rey, rekan kerja Lily. Reyhan : Ly? nanti malam ada waktu? Lily : Gimana Rey? ada apa? Reyhan : Aku mau kenalin kamu sama orang tuaku. nanti malam aku jemput ya jam tujuh? Lily tidak menjawab, ia masih mencerna pesan yang baru saja ia baca. selama ini Lily tau bahwa Rey menaruh hati padanya, tapi Lily sengaja tidak menanggapi. di samping Lily tak mau merusak pertemanan di antara mereka, Lily pun tak mempunyai perasaan apapun pada Rey. namun kali ini sepertinya Rey ingin menunjukkan rasa cintanya dengan mengajak Lily bertemu orangtuanya secara langsung. Lily pun refleks menggigit bibir bawahnya yang sexy itu sambil berpikir, balasan apa yang harus di ketik untuk membalas ajakan Rey barusan, sebuah penolakan yang tentunya tidak membuat Rey sakit hati. Tanpa Lily sadari, sedari tadi Ken tengah menatap dirinya dengan sorot mata penuh tanya. tak tahan dengan rasa penasaran yang terus menggerogoti hatinya Ken pun memilih memanggil Lily untuk mendekat. "Lily?" panggil Ken lalu melambaikan tangannya, menyuruh Lily untuk mendekat. Lily yang merasa dipanggil pun menoleh, melihat Ken melambaikan tangannya Lily pun beringsut dari duduknya dan berjalan menuju kekasihnya itu. "Ada apa Mas?" tanya Lily saat sudah berada tepat di samping Ken. Tangan Ken tanpa permisi membawa tubuh Lily pada pangkuannya. pria itu lalu melingkarkan lengan kokohnya di perut ramping Lily. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ken lalu menarik dagu Lily agar menatapnya. "Hmmm … " Lily bergumam lirih, jantungnya kembali berdetak hebat saat posisi mereka kembali se intim ini. Ken yang melihat kegugupan Lily pun menjadi gemas, ia lalu mencolek pelan hidung mancung kekasihnya itu."Kenapa hmm?" tanya Ken sekali lagi. ia lalu mengambil ponsel di tangan Lily dan membaca pesan masuk itu. Rahang Ken mengeras saat membaca pesan itu, sebagai orang yang telah berpengalaman Ken pun tau maksud pria itu. tidak! Ken tak akan membiarkan seorang pun berniat memiliki kekasihnya itu. Lily hanya milik Ken seorang. "Kenapa Mas?" tanya Lily saat melihat raut wajah marah Ken, seketika ia pun menjadi takut. "Blokir nomor pria ini!" ucap Ken tegas, lalu tanpa izin sang kekasih Ken pun mulai memblokir nomor yang bernama Rey itu. Lily menghela nafasnya berat, ia tidak menjawab ucapan Ken. Lily memilih menyandarkan kepalanya pada bahu Ken. Apa seperti ini rasanya punya pacar? bahkan untuk berteman saja Lily dilarang seperti ini. "Mulai detik ini Mas nggak izinkan kamu berteman dengan pria manapun. kamu paham?" ucap Ken tegas, ia lalu mengusap lembut pipi sang kekasih dengan ibu jarinya. Entah ada magnet apa yang membuat Lily tak bisa menolak semua ucapan yang keluar dari bibir pria tampan itu. Lily pun menganggukan kepalanya tanda mengerti. sepertinya mulai saat ini Lily harus menuruti semua keinginan kekasihnya yang mulai posesif itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN