Setelah makan siang di restoran itu, Ken pun menepati janjinya untuk mengantarkan Lily pulang kerumah, tapi sebelumnya Ken mengajak Lily untuk singgah di salah satu cabang restoran miliknya yang lain. Mobil mewah Ken pun terparkir sempurna tepat di persimpangan gerbang komplek perumahan Lily, sebenarnya tadi Ken ingin mengantar kekasihnya itu sampai kedalam rumah, namun Lily menolak mentah-mentah keinginan kekasih tampannya itu. alasannya Lily tak mau sang Ibu mengetahui hubungan mereka berdua untuk saat ini.
baiklah sepertinya Ken memang harus mengalah toh dia sendiri juga yang berjanji akan merahasiakan hubungan ini dari siapapun.
"Mas? aku pulang dulu ya?" ucap Lily lalu mengambil tas di jok penumpang dan memakainya.
"Iya." jawab Ken singkat. "Besok pulang kerja jangan lupa mampir ke apartemen Mas ya?" titah pria itu lalu melepaskan seatbelt pada tubuhnya.
Lily pun menangguk mendengar titah kekasihnya barusan. ia lalu mengulurkan tangan kanannya pada Ken. "Salim dulu Mas!" ucap Lily lirih sambil menggigit bibir bawahnya menahan malu.
ini diluar kendali Lily, kenapa ia malah melakukan hal itu. sungguh Lily merasa malu setengah mati saat ini.
Ken pun tersenyum menyeringai lalu mengangkat sebelah alis matanya. "Salim?" tanya Ken memastikan sekali lagi.
"Iya Salim?" ucap Lily sekali lagi, wanita lalu mengambil tangan sang kekasih dan mengecup punggung tangannya layaknya berpamitan pada seorang suami. tak lama saat Lily ingin melepaskan tautan tangan mereka, tangan kanan Ken justru tengah menggenggam jari jemari Lily dengan erat, Ken rengkuh wanita cantik itu kedalam pelukannya.
"Terimakasih sudah menghormati, Mas," gumam Ken sangat lirih tepat di telinga sang kekasih, dan walau begitu Lily masih bisa mendengarnya.
meski sebatas hal kecil yang Lily lakukan namun perbuatan itu membuat Ken senang. sesuatu hal yang bahkan istrinya sendiri tidak pernah melakukannya.
Lily mengerutkan keningnya bingung, kenapa harus berucap terima kasih? bukankah hal ini lumrah dilakukan oleh pasangan suami-istri? dan Lily pun tadi hanya karena refleks saja melakukannya. Lily pun mengangguk sebagai bentuk jawaban atas ucapan kekasihnya barusan.
"Aku turun dulu ya Mas?" ucap Lily ia lalu melepaskan seatbelt pada tubuhnya.
Saat Lily akan membuka pintu mobil lengan kokoh pria itu kembali membawa tubuh ramping Lily pada dekapannya dan di menit berikutnya Ken kembali memangut bibir tipis kekasihnya itu, kali ini pria tampan itu memberikan gigitan-gigitan kecil di sana memaksa si empunya untuk membalas ciuman nya kali ini tapi, sepertinya wanita ini masih begitu polos dan gerakan Lily pun masih kaku seperti tadi.
karena merasa pasokan oksigen di tubuhnya berkurang Lily pun menjadi orang pertama yang memutuskan tautan bibir keduanya.
Nafas Lily pun terengah, ia lalu mengambil tisu di depan dasbor dan mengelap bibirnya yang basah akibat kecupan sang kekasih tadi. "Mas ih nyosor mulu ah!" renggek Lily kesal. baru satu hari menjadi kekasih Ken Lily sudah tiga kali mendapatkan ciuman panas pria itu.
Ken pun tertawa saat melihat wajah kesal kekasihnya itu. "Setiap liat bibirmu Mas nggak tahan, sepertinya bibir ini akan menjadi candu!" ucap Ken dengan seduktif dan kini ibu jari Ken tengah mengusap bibir Lily secara perlahan. entah ada magnet apa dalam bibir tipis kekasih cantiknya ini yang membuat Ken ingin selalu terus menyesapnya.
Tak boleh! ia tak boleh larut dalam buaian Ken. ingatan Lily masih waras mereka kini tengah berada di tempat umum Lily pun tak mau kalau sampai security memergoki aksi mereka berdua di dalam mobil.
Akhirnya Lily pun pamit pada kekasihnya itu, dan seperti biasa Ken tak akan pergi sebelum memastikan Lily selamat masuk kedalam rumahnya. Tak lama terdengar ponsel Ken pun berdering satu panggilan masuk dari kontak yang ia beri nama "Kaluna"
"Halo sayang? ada apa?" tanya Ken lembut di balik sambungan telepon.
"Papi? kapan pulang kerumah? aku sendirian pi dirumah!" renggek Luna manja pada sang papi. "Sudah satu minggu mami belum juga pulang!" sambungnya kemudian, dari nada bicaranya sepertinya gadis itu tengah kesal sekarang.
"Sekarang papi pulang, kamu tunggu ya dirumah!" ucap Ken sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Tanpa menunggu lama Ken lalu menyalakan mobilnya dan melajukan kembali kendaraannya menuju kediamannya di salah satu perumahan elit di daerah Jakarta Selatan.
() () ()
Tiba dirumah Lily langsung disambut oleh sang Ibu.
Ya, Bu Endang memang sengaja belum tidur dan lebih memilih menunggu anak sulungnya itu pulang.
"Lama banget sih kak, pergi dari pagi gini hari baru pulang!" Omel Bu Endang saat sang anak tengah mencium punggung tangannya.
Lily pun menyengir menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih. "Maafin ya Bu, keasyikan main sih!" ucap Lily lalu bergelayut manja di lengan sang Ibu.
Lily tahu yang dilakukan ibunya ini hanya sebatas menegur bukan marah betulan.
"Kamu udah makan kak?" tanya Bu Endang penuh perhatian, beliau lalu mengajak sang anak untuk duduk di kursi makan.
Lily pun menggelengkan kepalanya cepat. "Belum Bu," jawab Lily jujur, dan menang benar ia hanya makan siang bersama Ken tadi dan mengingat waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam sepertinya perut Lily pun sudah lapar kembali.
Bu Endang mengangguk, beliau lalu mengambil mangkuk yang ada di dalam rak piring. "Tadi ibu bikin lontong sayur buat kamu." ucap Bu Endang lalu memotong kecil-kecil lontong itu dan menyiramnya dengan kuah kari yang beliau buat tadi.
setelah siap Bu Endang lalu memberikan semangkuk lontong sayur itu pada sang anak.
"Makasih ya Bu." ucap Lily tersenyum senang, ia lalu melahap lontong sayur itu dengan lahap. "Nino kemana Bu?" tanya Lily pada sang Ibu.
"Main kerumah Ridho." jawab Bu Endah singkat.
Ya, Ridho ini adalah sahabat Nino dari kecil jarak rumah mereka bahkan hanya beda beberapa blok saja.
keluarga Ridho begitu baik sudah menganggap keluarga Bu Endang layaknya saudara dekat, begitupun sebaliknya.
Lily mengangguk paham, ia lalu meneruskan makan malamnya dengan nikmat di samping sang Ibu yang masih setia menemaninya makan hingga Lily menyelesaikan kegiatan makannya.
Setelah mencuci piring dan membersihkan meja makan, Lily pun pamit pada sang Ibu untuk masuk kedalam kamar begitupun Bu Endang sepertinya beliau juga sudah mengantuk saat ini.
Di dalam kamarnya setelah selesai membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya, Lily kini tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia gulingkan tubuhnya ke kanan dan kiri menikmati waktu liburnya yang tersisa, tanpa terasa besok sudah hari senin itu artinya Lily akan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
Kini Lily tengah memandang langit-langit pada kamarnya, pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu saat ia baru saja merasakan ciuman pertamanya itu.
dadanya kembali berdesir saat mengingat hal itu bagaimana cara Ken mempermainkan lembut bibirnya, memangut dan menciumnya dengan mesra. Meski ini yang pertama bagi Lily tapi ia tahu bahwa Ken melakukan hal itu dengan gerakan yang lembut dan memuja. baru begitu saja darah di dalam tubuh Lily sudah berdesir hebat bagaimana jika Ken melakukan hal lebih, oh seketika otak kotor Lily pun menjadi traveling.
Bego m***m banget sih gue!" gumam Lily lalu menutup tubuhnya dengan selimut.
Daripada terus memikirkan kekasih tampannya itu lebih baik Lily tidur saja karena besok pagi pun ia harus bangun lebih awal, satu kegiatan yang sebelumnya tak pernah Lily lakukan.
() () ()
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi Ken lalu berjalan masuk kedalam rumahnya tujuan utamanya kali ini adalah kamar anak semata wayangnya itu. Dengan cepat pria itu langsung membuka pintu kamar sang anak yang tidak di kunci. Ken pun melangkahkan kakinya ke arah sang anak yang tengah tertidur pulas, ia lalu mengelus puncak kepala anaknya itu dengan sayang.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya Luna pun terbangun. "Papi?" sapa Luna dengan suara seraknya, perlahan Luna lalu membuka kedua bola matanya itu.
Ken lalu mendudukkan dirinya di samping sang anak. "Apa Papi ganggu kamu?" tanya Ken lalu mengelus pipi sang anak dengan lembut.
Luna menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak Pi! aku seneng papi pulang." ucap Luna lalu menyenderkan kepalanya pada ranjang. "Pi? aku kangen sama mami." Sambung Luna kemudian, ia lalu merebahkan kepalanya pada pundak kokoh sang papi.
Selalu seperti ini, istrinya itu selalu tak tahu waktu jika sudah berkumpul dengan teman-temannya, bahkan anak kandungnya sendiri pun sampai diabaikan seperti ini. sejak kelahiran Luna hingga sekarang bisa terhitung dengan jari berapa kali istrinya itu mengurus buah hati mereka.
"Mami ada urusan, sabar ya nanti juga pulang." hibur Ken pada sang anak, ia lalu mengelus puncak kepala anak semata wayangnya itu dengan sayang.
Luna mengangguk patuh. "Iya Pi!" ucapannya singkat, sebenarnya tidak masalah juga jika sang mami tidak pulang toh dari kecil Luna memang sering menghabiskan waktunya bersama sang papi. tapi sebagai seorang anak tak bisa di pungkiri Luna pun kadang merindukan sosok sang mami dalam hidupnya.
"Tidurlah sudah malam!" titah Ken lembut pada anak tunggalnya itu.
Luna pun mengangguk, ia lalu merebahkan dirinya di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut sampai sebatas dagu. tak lama Luna pun mulai memejamkan matanya kembali.
Setelah melihat sang anak yang sudah tertidur pulas, Ken pun beringsut dari duduknya.
ia lalu menatap sekeliling kamar sang anak, tepat di dinding terdapat bingkai foto dirinya dengan anak semata wayangnya itu, mulai dari Luna bayi hingga dewasa seperti ini.
bahkan tak ada satupun foto sang istri yang terpajang di sana.
sungguh hati Ken menjadi miris, sebenarnya pernikahan seperti apa yang ia jalani saat ini. istrinya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, sehingga ia melupakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri.
Ken sadar bawah dari awal memang pernikahan ini terjadi atas dasar perjodohan tapi, setidaknya Ken berharap istrinya itu bisa lebih sedikit memandang Luna sebagai buah hati mereka.
Ya, meski sampai saat ini baik Ken ataupun sang istri memang tak pernah ada rasa cinta di hati mereka berdua.