Pukul delapan malam Luna sudah sampai di mansion utama setelah sebelumnya Ken berhasil menghubungi anaknya itu dan menyuruhnya untuk segera pulang. Ken tengah berdiri di depan pintu menunggu sang anak sambil berkacak pinggang. "Dari mana saja kamu?" tanya Ken saat melihat anak gadisnya itu baru saja turun dari dalam mobil. Ya, dua puluh menit yang lalu Ken meminta pak Asep untuk menjemput Luna di rumah sahabatnya, Laura. Luna pun meremas ujung kaos berwarna pink yang ia kenakan saat melihat tatapan tajam sang papi disertai nada bicara beliau yang dinilai Luna tidak bersahabat itu. "Maaf, Pi." ucap Luna lirih, ia tidak berani menatap wajah sang papi dan memilih menundukkan kepalanya. Ken menghela nafasnya berat, meski Luna sering berbuat nakal tapi Ken sangat menyayangi anak semata wayan

