Berdebar kencang

2094 Kata
Lily yang tidak dapat tertidur pulas semalam akhirnya terbangun saat adzan subuh di masjid berkumandang. ia lalu beringsut dari tidurnya dan langsung membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah menyelesaikan kewajiban shalat lima waktu kini Lily sudah berada di dapur, ia ingin membantu sang Ibu membuat sarapan pagi untuk mereka sekeluarga. "Bu masak apa hari ini?" tanya Lily lalu menutup pintu kamarnya dan berjalan mendekat kearah sang Ibu. "Astagfirullah, kamu bikin kaget Ibu aja kak!" pekik Bu Endang terkejut, tak biasanya anak gadisnya ini bangun sepagi ini. "Tumben udah bangun? udah mandi juga?" tanya Bu Endang penasaran. beliau lalu melihat anak sulungnya itu dari atas sampe bawah secara berulang, memastikan bahwa benar Lily anaknya yang sedang berada di depannya saat ini. Lily pun hanya tersenyum membalas pertanyaan sang Ibu. "Pengen aja Bu, masak iya aku mau bangun siang mulu." ucap Lily lalu mengambil alih tugas sang Ibu. Ya, kini Lily tengah memotong wortel, kubis serta jagung. sepertinya pagi ini Bu Endang akan membuat sayur sop ceker untuk sarapan mereka. Bu Endang senang kegiatan masak memasaknya di bantu anak gadisnya pagi ini. biasanya Lily ini sangat sulit di bangunkan jangankan membantu sang Ibu, untuk shalat subuh pun kadang Lily masih sering kesiangan. entah apa yang membuat Lily bisa bangun sepagi ini Bu Endang pun menjadi penasaran di buatnya. "Kak?" panggil Bu Endang saat beliau sedang mencuci beras di wastafel. "Apa Bu?" jawab Lily lalu menoleh sekilas. Bu Endang yang sudah selesai mencuci beras pun langsung menaruhnya di dalam magicom dan tak lupa beliau menekan tombol cook pada magicom itu. "Ibu perhatiin udah dua hari ini motor kamu nggak dibawa pulang sih Kak? kenapa?" tanya Bu Endang lalu mendudukkan dirinya di atas kursi makan. Lily yang sudah berhasil memasukkan berbagai jenis sayuran dan ceker ayam kedalam panci pun menoleh. "Belum aku ambil Bu, kemarin lupa jadi aku naik mobil online lagi deh." jawab Lily menjelaskan, ia lalu ikut mendudukan dirinya di samping sang Ibu. Bu Endang pun tersenyum, sebagai seorang Ibu beliau tau ada sesuatu yang anak gadisnya itu sembunyikan, tapi Bu Endang tidak mau langsung menuduh biarkan nanti Lily terbuka dan menceritakan tentang seseorang yang tengah dekat padanya saat ini. Setelah tiga puluh menit memasak di dapur, kini Lily sudah menyiapkan nasi beserta lauk pauk itu di atas meja. "Widih Lo masak, Kak?" tanya Nino, saat ini pria tampan itu sudah duduk di samping Bu Endang. "Iya No, tadi Ibu juga kaget. tumben banget jam 5 kakakmu udah bangun." Bu Endang lalu menceritakan kejadian tadi pagi saat bersama Lily. Nino pun dengan seksama mendengarkan cerita sang Ibu, ia pun sama terkejutnya melihat sang kakak bisa bangun sepagi itu. "Tumben banget sih kak Lo bisa bangun pagi? jangan-jangan lo kesambet ya, Kak?" ucap Nino tanpa rasa bersalah, ia lalu mengambil satu buah piring dan meletakkan lauk pauk di atas sana. "Emang gue nggak boleh apa gitu bangun pagi?!" jawab Lily ketus, ia lalu mencebikan bibirnya kesal. "Yealah ditanya gitu aja sensi banget sih lo, kak!" jawab Nino tak kalah ketusnya. "Lagian lo aja yang aneh! masak gue bangun pagi lo bilang kesambet!" Jawab Lily kesal. ia lalu mengambil sebuah mangkuk besar dan memasukan sup yang sudah matang kedalam sana. Mereka berdua ini memang tidak pernah akur, ada saja hal yang membuat keduanya menjadi bertengkar. meski begitu Bu Endang tau kedua anaknya ini saling menyayangi satu sama lain. "Udah jangan pada ribut di meja makan!" larang Bu Endang pada kedua anaknya itu dengan nada yang cukup keras. Mereka kini tengah menikmati sarapan paginya, tidak ada lagi percakapan di meja makan, baik Lily maupun Nino langsung takut saat Bu Endang sudah mengeluarkan suara marahnya. setelah selesai sarapan kedua anak Bu Endang pun berpamitan, seperti biasa mereka selalu menciumi seluruh wajah sang Ibu sebelum berangkat pergi bekerja. "Kak? kamu berangkat kerja sama siapa?" tanya Bu Endang saat mengantarkan Lily kedepan gerbang rumahnya. "Naik mobil online aja Bu." jawab Lily dengan mata yang masih fokus menatap layar ponselnya sedari tadi. "Bareng Nino aja Kak, itu dia baru mau ngeluarin motornya." saran Bu Endang. beliau lalu melirik kearah anak laki-laki nya yang tengah mengeluarkan motor gede berwarna merah itu dari dalam rumah. Lily langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak usah Bu, itu mobilnya udah dateng." tunjuk Lily saat melihat sebuah mobil berwarna silver sedang berjalan mendekat kearah rumahnya. "Aku jalan dulu ya Bu, assalamualaikum." ucap Lily lalu mencium punggung tangan sang Ibu sebelum masuk kedalam mobil. "Hati-hati kak, wa'alaikumsalam." jawab Bu Endang beliau lalu berdoa dalam hati, untuk keselamatan anak sulungnya itu. Nino pun sengaja menekan tombol klaskon pada motornya hingga suaranya yang besar itu berhasil mengejutkan Bu Endang. "Kakak udah jalan, Bu?" tanya Nino tepat didepan sang Ibu. "Iya, naik mobil online baru aja." Bu Endang lalu mengulurkan tangan kanannya pada anak bungsunya itu. "Aku jalan dulu ya Bu? assalamualaikum." ucap Nino lalu menyalakan kembali starter motor gedenya itu. "Hati-hati No!" Bu Endang mengatakan hal itu setengah berteriak pasalnya Nino sudah melajukan motornya dengan kencang. tak lupa beliau juga mendoakan keselamatan anak bungsunya itu. Mas? anak kita sudah besar, mereka sudah bisa cari uang sendiri Mas sekarang. apa kamu nggak kangen Mas sama Lily dan Nino? Gumam Bu Endang dalam hati, tanpa sadar buliran air mata itu kini sudah mengalir tanpa permisi di sudut matanya. () () () Sementara itu di dalam mobil Lily tengah memainkan ponselnya, sejak tadi ternyata ponselnya itu sudah berdering sebanyak lima kali. "Halo Pak Ken? saya sedang di jalan." ( "...." ) "Baik Pak, ini saya sebentar lagi sampai." Klik panggilan pun terputus, Lily lalu memasukan kembali ponselnya itu saat menyadari bahwa ia sudah tiba di restoran bintang lima milik Ken. "Ini Pak, terimakasih." ucap Lily lalu memberikan selembar uang kertas berwarna biru pada supir mobil online itu. "Kembalinya Neng?" ucap Pak supir itu saat melihat Lily sudah membuka pintu mobilnya. "Buat Bapak aja." jawab Lily singkat, ia lalu menutup pelan pintu mobil itu dan kini Lily tengah berjalan masuk menuju restoran. Lily yang baru saja akan mengeluarkan ponselnya dikejutkan saat sebuah tangan besar nan kokoh yang kini tengah menepuk pundaknya pelan. "Lily ayo ikut saya!" ucap pria itu, lalu tanpa permisi ia langsung menggandeng jemari lentik Lily. Ahhh gue di gandeng ini, sumpah demi apapun tangan nya nyaman banget. gumam Lily senang dalam hati. Tanpa penolakan Lily pun mengikuti langkah Ken, ternyata pria tampan itu membawanya masuk ke dalam sebuah ruang VIP yang ada di restoran ini. ruangan ini benar-benar tertutup. dinding penyekat ruangan ini di lapisi lapisan kaca film, yang tentunya akan memberikan kenyamanan pada setiap pengunjung yang datang ketika sedang menyantap makanan. "Maaf!!!" ucap Ken singkat, ia lalu melepas tautan tangan keduanya. "Nggak apa-apa Pak." jawab Lily lirih. ia lalu menundukkan kepalanya menahan malu. situasi macam apa ini? mengapa dirinya tidak bisa menolak saat tadi Ken menggenggam erat tangannya. "Silahkan duduk Ly!" Ken lalu meminta wanita cantik itu untuk duduk didepannya. Lily mengangguk, ia lalu mendudukkan dirinya tepat di depan Ken. "Maaf Pak, apa id card saya ketinggalan di apartemen Bapak?" Lily menjadi orang yang pertama membuka pembicaraan di antara keduanya. Ya, meski yang sedang Lily tanyakan saat ini hanya sekedar basa-basi saja. Ken pun mengangguk, ia lalu mengambil sesuatu di balik kantong jasnya sebelah kanan. "Ini punya kamu kan?" tanya Ken lalu memperlihatkan id card itu tepat di depan wajah cantik Lily. "Kylie Ghaitsa Roula." ucap Ken sambil membaca nama yang tertera pada id card itu. "Nama yang cantik." sambung Ken lalu mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sepertinya kali ini jantung Lily berdendang lebih keras, bagaimana tidak? pria tampan di depannya ini bahkan mengatakan bahwa nama yang ia miliki begitu cantik, sama saja bukan secara tidak langsung Ken memuji dirinya juga. Lily jadi tambah besar kepala saat Ken juga memberikan seulas senyuman manis padanya. Baper, baper dah ini mah gue lama-lama. gumam Lily menjadi salah tingkah dalam hati. "Makasih banyak ya Pak, maaf jadi merepotkan anda." ucap Lily lirih, ia merasa tidak enak hati saat pria ini rela meluangkan waktunya hanya untuk mengantarkan id card dirinya yang tertinggal kemarin. "No problem!" ujar Ken singkat. tanpa disadari Ken terus memandang wajah cantik wanita di depannya ini. dengan menggunakan blouse berwarna peach serta riasan wajah yang natural membuat Lily terlihat semakin manis dimata Ken. entah ada magnet apa yang membuat Ken seolah tak pernah bosan untuk menatap wajah cantik wanita di depannya ini lebih lama lagi. Bukan Lily percaya diri, tapi Lily amat amat paham dan tahu kalau Ken terus saja memandangi dirinya sedari tadi. "Ehem …" Lily berdehem guna mengusir rasa gugup di hatinya saat ini. "Kalau gitu saya pamit dulu ya Pak Ken?" ucap Lily lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. saat ini waktu telah menunjukkan pukul 7.30 pagi, itu tandanya tiga puluh menit lagi Lily sudah mulai bekerja. "Nggak sarapan dulu?" tanya Ken. kali ini Ken terlihat tengah menopang dagunya yang sudah di tumbuhi bulu-bulu halus itu dengan tangannya kanannya. Lily pun menggelengkan kepalanya cepat. "Makasih Pak, saya sudah makan tadi." jawab Lily dengan nada lembut dan sopan. seperti nya ia sudah tidak bisa berlama-lama berada dekat dengan pria ini. lihatlah bahkan sedari tadi Ken pun masih belum mengalihkan pandangannya. sumpah Lily bisa salah tingkah lama-lama berada di sini. "Saya pamit Pak." ucap Lily lalu beringsut dari duduknya, tak lupa ia mengambil id card itu dan memasukkannya ke dalam tas berwarna pink itu. Di luar dugaan Ken pun melakukan hal yang sama, ia pun kini sudah berdiri tepat di samping Lily. "Ayo saya antar kamu ke kantor!" ucap Ken dan tanpa persetujuannya Lily, Ken kembali menggandeng tangan kanan Lily agar mengikuti langkahnya keluar ruangan. ini kedua kalinya Ken melakukan hal seperti ini pada Lily. Lily jangan ditanya, bahkan ia tidak menolak saat Ken mengenggam tangannya layaknya seorang kekasih. setelah tiba di parkiran mobil, Ken lalu menyuruh Lily masuk kedalamnya. Lily pun mengangguk, namun kali ini ia lebih sigap karena langsung memasangkan seatbelt pada tubuhnya sebelum pria itu melakukannya seperti tempo hari. Ken pun menoleh sekilas, saat di rasa Lily sudah memasangkan seatbelt Ken langsung melajukan kendaraannya secara cepat, mengingat waktu yang terus berjalan. ia tak mau kalau sampai wanita di depannya ini menjadi terlambat saat masuk kerja nanti. "Lily?" panggil Ken lirih. "Kamu bisa masak?" tanya Ken lalu menoleh kearah Lily sekilas, kebetulan saat ini mobil mereka tengah berhenti di perempatan lampu lalu lintas yang tengah berwarna merah itu. Lily yang merasa namanya dipanggil pun menoleh. "Bisa Pak." jawab Lily singkat. "Ada apa ya Pak?" sambungnya kemudian. Lampu lalu lintas itu pun sudah menunjukkan warna hijau, artinya pengguna jalan harus segera melajukan kembali mobilnya. "Saya boleh minta tolong?" tanya Ken dengan pandangan lurus kedepan, ia tengah fokus mengendarai mobilnya saat ini. "Boleh. Bapak mau minta tolong apa?" tanya Lily yang ternyata sedari tadi masih setia menatap ke arah pria tampan itu. "Tolong buatkan saya masakan rumahan!" titah Ken, kini ia terlihat tengah memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung kantor tempat Lily bekerja. Kini mobil Ken pun sudah terparkir sempurna. "Kamu bisa?" tanya Ken yang kini sudah menoleh ke arah Lily. Lily menangguk yakin. "Bisa Pak." tidak apalah Lily akan membuatkan masakan rumahan untuk pria itu, anggap saja ini sebagai bentuk balas budi karena kebaikan pria itu yang sudah sering menolongnya. Ken lalu mengeluarkan satu buah kartu debit berwarna gold dari dalam dompet miliknya itu. "Ini gunakanlah untuk berbelanja bahan masakan besok." ucap Ken sambil mengulurkan kartu debit itu pada Lily. Lily langsung mendorong pelan tangan kanan Ken yang tengah mengulurkan sebuah kartu debit itu untuknya. "Maaf Pak, biar nanti saya aja yang belanja." tolak Lily halus. memang siapa Lily ini sampai harus di kasih kartu debit berwarna gold itu? bahkan mereka baru mengenal dalam hitungan hari, sungguh Lily tak ingin jika nanti pria ini berpikiran bahwa Lily seorang cewek matre. "Ambillah!" ucap Ken tetap keukeh. "Maaf Pak, saya akan memasak untuk Bapak besok tapi--" Lily pun menggantung kalimatnya. "Biar saya aja yang belanja." tegas Lily, dan sepertinya kali ini Lily tak ingin dibantah. Ken pun akhirnya menyerah, sepertinya wanita ini memang tidak mau menerima uang darinya. "Oke!" ucap Ken singkat, ia lalu memasukan kembali kartu debit itu ke dalam dompetnya. Lily pun mengangguk. "Terimakasih Pak Ken, saya permisi." pamit Lily lalu membuka pelan pintu mobil mewah itu. "Lily?" panggil Ken sekali lagi. "Iya Pak." Lily pun menoleh lagi saat mendengar pria itu kembali memanggilnya. "Enjoy your work and have a good day." ucap Ken lalu tersenyum. Lily tidak menjawab ucapan pria itu, ia hanya menyunggingkan senyuman manis sebagai jawabannya. tak lama Lily pun berjalan masuk menuju gedung kantor tempatnya bekerja, sambil terus memegangi dadanya yang terus berdebar kencang. Sementara itu Ken tak langsung menjalankan mobilnya, ia harus memastikan dulu wanita cantik itu masuk kedalam gedung kantornya dengan selamat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN