Terpesona

1736 Kata
"Pak? Bapak kenapa liatin saya terus dari tadi?" tanya Lily heran, ia lalu menaruh kembali minuman kaleng itu di atas meja. "Ngg--ak, saya nggak ngeliatin kamu!" jawab Ken berdusta. tentu saja Ken tak mungkin mengakui kalau ia sudah terpesona pada Lily saat pertama bertemu. Lily pun mangut-mangut tanda mengerti, ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah sekitar melihat sekelilingnya. benar-benar pemandangan yang indah. desain interior yang mewah dan mahal itu membuat netra Lily betah menatap isi ruangan penthouse mewah milik Ken. "Kamu suka tempat ini?" tebak Ken, saat melihat gadis cantik di depannya ini tak mengalihkan pandangannya sedetikpun. Lily pun menoleh dan tersenyum. "Hehehe Iya Pak, bagus banget ya apartemennya mewah." jawab Lily menyengir, ia begitu terkagum dengan konsep penthouse milik Ken. dimana hampir seluruh isi perabot dalam ruangan ini berwarna gold, menambah kesan mewah dan mahal pada pemiliknya. Lily tau hanya kaum jetset saja yang bisa memiliki hunian super mewah seperti ini. "Kamu bisa sering main kesini, kalau kamu suka." Ken mengulas senyum tipis di bibirnya saat mengucapkan hal itu, membuat si gadis bermata bulat itu menoleh seketika. Nggak salah nih, gue boleh sering main kesini? ihh kalau beneran bakal senang banget lah gue. Lily berkata dalam hati. ia pun tersenyum sendiri saat memikirkan hal itu. "Halo? Lily kenapa senyum-senyum lagi?" tanya Ken penasaran. ini sudah kedua kalinya Ken melihat Lily tersenyum manis saat berada di penthouse miliknya. Lagi-lagi Lily pun kembali tergagap. "Nggak apa-apa, Pak." Lily lalu menggigit bibir bawahnya guna mengusir rasa canggung dihatinya, berdua dengan pria tampan ini membuat Lily menjadi salah tingkah. Hati Ken kembali berdesir, saat melihat Lily melakukan hal itu. tak tahukah Lily bahwa ia terlihat sangat menggoda saat sedang menggigit bibir bawahnya dengan sensual itu, meski Ken tau Lily tak bermaksud menggodanya. "Ehem …" Ken pun berdehem. "Kamu udah makan Ly?" tanya Ken lalu mengambil ponsel di saku celananya. Lily yang di tanya pun menggelengkan kepalanya cepat. sepulang bekerja ia langsung kesini tentu saja ia belum makan sampai saat ini. "Belum Pak." jawab Lily singkat. Tanpa menunggu persetujuan Lily, Ken pun mulai memesan beberapa makanan yang Ken suka. ada spring chicken & foie rolade, wagyu cheek, seared halibut & pizza tuna. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, seorang petugas driver ojek online pun datang dan memencet bel yang ada di depan pintu kamar Ken. "Saya buka pintunya dulu ya?" ucap Ken lalu beringsut dari duduknya. "Oh ya Ly, tolong kamu siapkan piring di atas meja makan itu." ucap Ken lalu menunjuk ke sebuah dapur yang ada di sudut ruangan. Lily mengangguk, tak lama Lily pun berjalan menuju dapur yang tak kalah mewahnya itu. Keren amat ini dapur, seneng banget nih gue kalau punya dapur kek gini. bakalan betah gue seharian masak ini mah. gumam Lily. Lily lalu mengambil dua piring berwarna gold dan menyusunnya di atas meja makan, tak lupa dengan gelas panjang itu pun ia taruh di sampingnya. "Ini Ly, tolong kamu siapkan ya!" ucap Ken lalu menaruh beberapa kantong plastik berisi makanan yang tadi Ken pesan di atas meja. Tanpa banyak bicara Lily melakukan hal yang diperintahkan oleh Ken, setelah siap Ken dan Lily mulai menikmati makan malam mereka bersama-sama, tak ada percakapan diantara keduanya karena Ken memang paling tidak suka ada suara ketika sedang makan. "Kamu makan sedikit sekali, Ly?" tanya Ken, ia lalu mengelap sudut bibirnya dengan tisu satu kebiasaan yang dilakukan Ken setelah selesai makan. Lily pun membalikkan sendok dan garpu yang digunakan di atas piring, pertanda ia sudah menyelesaikan kegiatan makan nya. "Saya sudah kenyang, Pak." ucap Lily sopan, ia lalu melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Ken. Setelah selesai makan tanpa disuruh Lily lalu membersihkan meja makan itu dan membawa piring kotor ke dalam wastafel. tak lupa Lily pun langsung mencucinya. satu kebiasaan yang ia lakukan setelah selesai makan. Semua gerak-gerik Lily tak luput dari pandangan Ken sedikit pun. ia begitu senang saat melihat Lily dengan terampil melakukan pekerjaan rumah tangga. sesuatu yang tidak Ken dapat dari sang istri. jangankan mencuci piring bahkan untuk terjun ke dapur langsung saja istrinya itu tidak mau. Setelah dirasa selesai Lily pun kini tengah mengelap kedua tangannya pada kain yang menggantung di samping kran, ia lalu berjalan menghampiri pria tampan itu yang sedari tadi masih setia duduk di atas kursi makan. "Makasih Pak, atas jamuan makan malam nya. kalau gitu saya pamit pulang." ucap Lily sopan, ia sudah terlalu lama berada di tempat mewah ini. tentu saja itu membuat Lily menjadi tidak enak hati. Ken mengangguk, ia lalu berdiri dan berjalan dari ruangan itu di ikuti Lily dari belakang. "Maaf Pak Ken, ini jaket anda." ucap Lily lalu mengambil satu buat paper bag di atas sofa. ia lalu menyerahkannya pada pria itu. Ken mengangguk, ia lalu mengambil paper bag itu. "Terimakasih Lily." ucap Ken dengan suara bariton nya yang khas itu. Suara jantung Lily berdetak kencang, saat pria ini mengucap rasa terima kasihnya dengan nada yang terdengar sangat sexi di telinga Lily. Ahhh Lily benar-benar menjadi salah tingkah dibuatnya. "Sama-sama Pak, saya yang harusnya terima kasih karena kebaikan Pak Ken telah meminjamkan jaketnya pada saya." Kini Lily terlihat tengah mengambil tas nya yang berwarna navy itu dari atas sofa dan memakainya. "Kalau begitu saya pamit pulang dulu Pak." sambung Lily kemudian. "Saya antar kamu pulang, Ly!!" ucap Ken lalu berjalan menuju kamarnya sebentar guna mengambil kunci mobilnya yang ia letakkan di sana tadi. Lily pun menjadi tidak enak hati, ia yang sudah berada di depan pintu pun berkata. "Nggak usah Pak, saya bisa pulang sendiri." tolak Lily halus, tentu saja Lily tak mau merepotkan pria itu lagi dengan harus mengantarkan dirinya pulang. "Saya antar kamu pulang!" ucap Ken dengan tegas, saat mereka sudah berada di luar apartemen Ken. Lily bisa apa selain menuruti ucapan pria tampan itu. Lily merasakan ada sesuatu hal aneh pada pria itu yang membuat dirinya tak bisa membantah setiap ucapan yang keluar dari bibir tebal milik Ken yang sexi itu. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju private lift, dimana hanya pemilik penthouse mewah itu saja yang dapat menikmati fasilitas ini. saat ini mereka berdua sudah tiba di basemen, Ken pun lalu mengajak Lily masuk kedalam mobilnya. Seatbelt pun terpasang sempurna. "Kamu lupa tidak memakainya." ucap Ken saat selesai memakaikan seatbelt itu di tubuh Lily. Dengan jarak yang begitu dekat, Lily dapat mencium aroma mint dari bibir pria itu yang terasa begitu menyegarkan. "Makasih Pak Ken." ucap Lily tertunduk dengan wajah yang sudah merona merah. Ken tidak menjawab ucapan Lily, ia perlahan mulai melajukan mobil mewahnya itu menuju kediaman Lily. hening tidak ada percakapan diantara mereka berdua hingga setelah melakukan perjalanan hampir tiga puluh menit, mereka berdua sudah sampai di kediaman Lily. "Terimakasih Pak Ken, maaf saya merepotkan anda terus." ucap Lily lalu melepas seat belt nya. Ken mengulas senyum di bibirnya. "Sama-sama Lily." Anjir pake senyum lagi, lama-lama kena diabetes gue senyumannya manis kayak gini. suara hati Lily berkata seperti itu. Lily tak langsung masuk ke rumahnya, ia menunggu mobil Ken perlahan menjauhi kediamannya. seperti kebiasaan Lily sebelum masuk kedalam rumah wanita itu selalu mengetuk pintunya terlebih dahulu. "Assalamualaikum, Ibu." ucap Lily pelan masih terus mengetuk-ngetuk daun pintu berwarna coklat itu sekali lagi. Hingga akhirnya Bu Endang datang dan membukakan nya. "Kok baru pulang Kak?" tanya Bu Endang saat sudah membukakan pintu. beliau pun melihat ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan malam. Lily pun mengecup punggung tangan sang Ibu dengan sopan. "Maaf Bu, tadi aku main dulu kerumah Febby." ucap Lily berdusta. baru kali ini Lily berani berbohong pada Ibunya, tentu saja Lily tak mungkin berkata jujur dan mengatakan bahwa ia baru saja dari apartemen Ken, seorang pria yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu. "Ya sudah, kalau mau makan lauknya di dalam rak piring ya Kak? Ibu udah ngantuk mau tidur dulu." ucap Bu Endang lalu berjalan menuju kamarnya. "Iya Bu." jawab Lily singkat, ia pun sama lalu berjalan menuju kamarnya. Di dalam kamar Lily langsung merebahkan tubuhnya sebentar di atas ranjang. ingatannya kembali pada beberapa jam lalu saat ia sedang bersama Ken. entah mengapa perasaan di hatinya menjadi nyaman saat berada dekat dengan pria itu, bahkan Lily tak segan-segan membayangkan menjadi kekasih dari pria tampan itu. Eh mikir apa sih gue, laki orang tuh ahhh dodol banget dah gue. Lily lalu memukul kepalanya sekilas, saat pikiran itu datang menghampiri isi kepalanya lagi. Lily memilih membersihkan dirinya ke kamar mandi, daripada harus terus-menerus memikirkan pria itu yang jelas-jelas sudah mempunyai anak dan istri itu. setengah jam sudah Lily memanjakan dirinya di dalam kamar mandi, meski ia tidak bisa berendam di dalam bathtub tapi Lily senang berlama-lama di sana. kini Lily tengah mengambil mukenanya di samping ranjang, ia lalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang umat muslim. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam, Lily yang merasakan kantuk pun akhirnya perlahan mulai memejamkan matanya. saat akan memasuki alam mimpi ia pun menjadi terbangun saat mendengar suara getaran pada ponselnya. "Halo siapa nih?" tanya Lily setengah sadar, dengan mata yang masih terpejam. "Kamu sudah tidur Ly?" tanya seorang pria di balik sambungan telepon dengan suara baritonnya yang khas itu. Suara itu Lily tau siapa pemiliknya, dengan sekejap Lily lalu membuka netra nya lebar-lebar. bahkan kini Lily sudah terbangun dan bersandar pada kepala ranjang. "Pak Ken?" tanya Lily memastikan. "Iya ini saya." jawab pria itu singkat. "Ada apa ya Pak? telpon saya malam-malam begini?" tanya Lily penasaran. ia lalu mengingat-ingat adakah benda miliknya yang tertinggal apartemen pria itu, tapi sepertinya tidak. "Bisa kita bertemu besok di restoran milik saya?" tanya Ken pada wanita itu. Lily mengerutkan keningnya bingung, ada perlu apa lagi pria itu ingin bertemu dengannya. "Maaf Pak Ken, ada perlu apa ya Pak?" tanya Lily sopan, biar bagaimanapun Ken sudah bersikap baik padanya, alangkah baiknya ia pun melakukan hal yang sama. "Saya mau mengembalikan id card kamu." jawab Ken to the point. "Tadi saya menemukannya di bawah sofa." sambung Ken kemudian. Lily yang penasaran pun langsung turun dari atas ranjang, ia lalu membuka tas berwarna navy yang tadi ia pakai, lalu memeriksa sebentar dan ternyata benar id card karyawannya tidak ada. "Baik Pak, besok saya akan menemui Bapak di restoran kemarin, tempat saya makan siang sama Selvy kan Pak?" tanya Lily memastikan sekali lagi. "Iya benar, saya tunggu kamu di sana jam 7 pagi ya." ucap Ken sebelum menutup panggilan teleponnya. "Baik Pak." jawab Lily singkat. Lima detik setelahnya panggilan pun terputus, sudut hati Lily tersenyum saat mengingat perkataan pria itu yang ingin kembali bertemu dengan dirinya. ahhh sungguh Lily menjadi tidak sabar menanti esok hari, oh malam cepatlah berlalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN