Terdengar daun pintu berwarna coklat itu pun di ketuk beberapa kali karena tidak ada jawaban Lily pun berinisiatif membuka pintu tersebut, untung saja Nino tidak menguncinya.
"Assalamualaikum, Bu … Ibu dimana?" Lily berucap setengah berteriak, setelah sebelumnya Lily sudah mengganti pakaiannya yang basah tadi. Karena tak ada jawaban, Lily pun berinisiatif langsung masuk ke dalam kamar sang Ibu.
Lily lalu berjalan perlahan saat melihat Ibunya sedang tertidur pulas, di samping sang Ibu ada Nino yang terus menjaganya.
"No … Nino? bangun sebentar No." ucap lirih berbisik tepat di samping telinga sang adik, ia tak mau membuat Ibunya terbangun.
Nino yang merasa di panggil pun menggeliatkan badannya seketika. "Hmm … lama amat sih Kak! lo beli obatnya di Arab?" tanya Nino sedikit kesal, ia lalu beringsut dari tidurnya.
"Iya maaf, gue aja kehujanan tadi." Lily lalu menarik tangan Nino dan mengajaknya keluar dari dalam kamar Bu Endang.
Nino yang masih mengantuk itu pun hanya bisa menurut saat sang kakak mengajaknya duduk di atas sofa.
"Itu Ibu udah lama tidurnya?" Lily bertanya penasaran. pasal nya jika sudah kumat penyakit asma sang Ibu pasti beliau sampai pagi tak akan bisa tidur.
"Udah dari tadi Kak, Alhamdulillah tadi nemu satu obat di bawah bantal ibu, ibu minum terus tidur deh." ucap Nino menjelaskan, kini ia sudah kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa berwarna merah itu. "Abis nunggu lu kelamaan kak." ucap Nino dengan mata yang sudah terpejam. dan tak lama Nino pun sudah kembali tertidur pulas.
Lily pun menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah adik kandungnya itu.
"Dasar pelor, nggak boleh liat bantal nganggur langsung molor lu, gue masuk kamar dulu, No." ucap Lily lalu berjalan menuju kamarnya yang terletak tepat di samping kamar sang Ibu.
Sampai di kamar Lily tak langsung tidur, ia lalu menoleh ke arah jam dinding yang menggantung manis di tembok kamarnya.
karena waktu baru menunjukan pukul sembilan malam akhirnya Lily pun memutuskan untuk mencuci jaket Ken yang tadi ia pinjam.
"Ya ampun wangi banget sih ini parfumnya, bikin nyaman aja." Lily pun menciumi jaket berwarna hitam itu dan memeluknya sekilas. setelah dirasa cukup Lily pun langsung memasukan Jaket itu ke dalam mesin cuci.
Malam ini sebelum tidur, Lily sedikit membantu meringankan pekerjaan sang Ibu, dengan mencuci semua baju serta mencuri piring kotor yang ada di wastafel.
() () ()
Keesokan harinya pukul enam pagi karena kondisi Bu Endang sudah membaik, beliau pun kini sudah melakukan aktivitas seperti biasa.
Ya, pagi ini Bu Endang tengah berkutat di dapur, beliau sedang memasak tumis cumi asam manis untuk sarapan kedua anaknya itu.
"Lho Ibu kok masak?" tanya Lily saat sedang berjalan menuju dapur.
Bu Endang pun menoleh sekilas dan tersenyum. "Nggak apa-apa Kak, Ibu udah sembuh kok Kak."
"Sini biar aku aja Bu, maafin ya Bu semalam lama beli obatnya, aku kehujanan Bu." ucap Lily lirih, ia menjadi tidak enak hati.
Bu Endang pun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak apa-apa Kak, oh iya motor kamu dimana Kak?" tanya Bu Endang penasaran, pasalnya tadi pagi saat membuka pintu kamar beliau hanya melihat satu motor gede berwarna merah milik anak bungsunya itu.
"Hmmm itu Bu-- motornya aku titipin dirumah temen aku, iya dirumah temen aku Bu." ucap Lily menyengir menampilkan deretan giginya yang putih dan bersih.
Bu Endang pun mengulas senyum tipis di bibirnya, beliau tau ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh anak gadisnya ini. "Kamu udah punya pacar ya Kak?" tebak Bu Endang. "Terus motornya kamu taruh di rumah pacar kamu ya kak?" Bu Endang yang sudah selesai menumis pun langsung mematikan kompor dan berjalan mendekat kearah sang anak.
Wajah Lily sontak memerah bak kepiting rebus, pacar? apa mungkin kelak ia akan menjalin kasih dengan pria tampan itu?
"Astagfirullah, sadar Ly sadar, dia laki orang." gumam Lily dalam hati.
Lily pun menggelengkan kepalanya cepat guna menghilangkan pikiran konyolnya itu.
"Kenapa lu Kak, geleng-geleng kepala? pusing?" tanya Nino heran, ia baru saja keluar dari kamar dan menyusul sang kakak di dapur.
"Kamu sakit Kak? pasti gara-gara kehujanan semalam ya?" Bu Endang pun panik, beliau lalu memegang kening Lily dan memeriksa. "Nggak panas kok, tapi kenapa mukamu merah gitu Kak?" tanya Bu Endang heran.
"Ngg--ak, Nggak apa-apa Bu." jawab Lily tergagap. "Aku makan sarapan duluan ya Bu, takut telat." ucap Lily mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tak mau kalau sampai sang Ibu tau dengan siapa tadi malam ia di antar pulang.
Setelah selesai sarapan, Lily pun berpamitan pada Bu Endang, ia lalu mengecup kening dan punggung tangan Ibunya sebelum berangkat kerja, begitupun dengan Nino.
selama Lily dan Nino bekerja kegiatan Bu Endang sehari-hari hanya menjahit, saat ini Bu Endang membuka usaha permak Levis di rumahnya. meski semua kebutuhan hidupnya sudah dipenuhi oleh kedua anaknya, namun Bu Endang tetap keukeh ingin bekerja alasannya hanya untuk mengisi waktu luang saja.
() () ()
Di tempat kerja Lily menjalankan aktivitasnya seperti biasa, tanpa mengalami kesulitan sama sekali, karena perusahaan ini adalah perusahaan kedua tempat Lily mengais rejeki setelah sebelumnya Lily pernah bekerja di salah satu Bank swasta yang ada di Jakarta.
Hingga pukul lima sore, semua karyawan yang tidak lembur pun bersiap-siap untuk pulang, begitu pun dengan Lily, ia terlihat tengah memoles sedikit wajahnya dengan Lipstik dan bedak yang tadi ia bawa.
"Tumben sih Ly, mau pulang pake dandan segala?" tanya Febby heran, ia lalu mendudukkan dirinya di atas kursi, seraya menatap sahabatnya yang sedang berdandan itu.
Lily tidak menjawab ia hanya mengulas sedikit senyum di bibir tipisnya itu. "Udah yuk balik, keburu hujan nih." ajak Lily pada Febby.
Febby pun mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu, karena memang benar saat ini cuaca sudah mulai mendung.
Lily dan Febby pun berpisah saat di parkiran tadi. saat ini Lily tengah berada di dalam mobil online yang akan membawanya menuju sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Denting lift pun berbunyi kini Lily sudah berada di lantai paling atas tempat dimana penthouse Ken berada.
di sini Lily sekarang di depan pintu kamar penthouse milik Kennard.
Ya, sebelum berangkat tadi Lily sudah berkirim pesan pada Ken bahwa ia akan kesana guna mengembalikan jaket Ken yang semalam Lily pinjam, tentu saja Ken dengan senang hati menunggu Lily di depan loby apartemen miliknya.
"Ayo masuk Ly? kenapa diam hmm?" tanya Ken lalu mengangkat sebelah alisnya. saat melihat tak ada pergerakan dari gadis cantik di depannya ini.
"Masuk, Pak?" tanya Lily memastikan sekali lagi.
"Kamu mau kita ngobrol di depan pintu seperti ini Ly?" kini Ken pun memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Sumpah demi apapun, Ken terlihat lebih semakin tampan dengan posisi seperti ini.
"Buset laki orang kenapa ganteng gini sih." gumam Lily terkagum dalam hati.
"Hello Lily? mau sampai kapan kamu ngeliatin saya kayak gini?" Ken pun menjentikkan jarinya tepat di depan wajah cantik Lily.
Sontak saja membuat Lily tergagap. "Hmm itu-- iya saya masuk, Pak." Lily yang panik karena tertangkap basah telah memandang wajah pria tampan di depannya ini pun memilih buru-buru masuk kedalam penthouse itu, yang kebetulan pintunya sudah terbuka dari tadi.
Ken pun menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, saat melihat tubuh indah Lily dari belakang. tak berapa lama Ken pun ikut masuk kedalam dan tak lupa mengunci pintu apartemen penthouse nya itu.
"Saya cuman punya ini di kulkas, diminum dulu Ly." ucap Ken lalu menaruh beberapa minuman kaleng yang tadi ia ambil di dalam kulkas.
"Makasih Pak, saya minum ya Pak." tanpa rasa malu Lily pun langsung mengambil satu buah minuman kaleng itu dan meminumnya.
Kini Ken pun tengah melihat Lily tanpa berkedip sedikitpun, bagaimana tidak? Lily terlihat sangat sexy saat sisa air minuman kalengan itu mengalir tanpa permisi keluar dari mulut tipis Lily.
Ken menelan susah salivanya saat melihat pemandangan itu secara berulang kali.
"Sial, ini kenapa gue langsung pengen gini sih!" geram Ken kesal dalam hati. Perlahan tapi pasti Ken pun mencoba menetralkan degup jantungnya yang kian berdebar.