Sial, satu kata yang terus saja diumpatkan Woojin dalam hatinya. Teman yang dimaksud oleh Yeonsoo benar-benar Jongchan. Pria itu bahkan sedang duduk manis di ruang tamunya saat ini.
Jongchan berkali-kali melirik ke arahnya dengan aneh dan mulai cekikan bersama Yeonsoo. Ada apa dengan pria itu sebenarnya? Jangan-jangan Yeonsoo mulai gila lagi dan ingin menjodohkannya dengan Jongchan? Tapi bukannya gadis itu menyukai Jongchan?
"Kak Woojin bukannya ada jam kuliah hari ini?" tanya Yeonsoo.
Woojin tahu Yeonsoo sedang mengusirnya secara halus. Ha! Memangnya gadis itu pikir dia siapa? Ini apartemennya tapi Yeonsoo berani mengusirnya. Woojin menolak untuk pergi. Lagipula ia tak mungkin membiarkan Yeonsoo berduaan dengan Jongchan.
"Aku lelah dan ingin bolos saja," Woojin berkata sinis, "Aku tak bisa mempercayakan apartemenku pada dua orang remaja labil. Bisa-bisa kalian berbuat yang tidak-tidak."
Yeonsoo mendesis. Dasar menyebalkan! Setidaknya Woojin harus tahu situasi sedikitlah. Yeonsoo sedang dalam masa pendekatan dengan Jongchan. Keberadaan Woojin di tempat ini hanya akan mengganggu mereka.
"Baiklah, aku buat minuman dulu~" Yeonsoo bangkit berdiri dan hendak melangkah ke dapur.
"Jangan bakar dapurku!" seru Woojin.
"Membuat minuman tidak membutuhkan api!" balas Yeonsoo.
Jongchan terkekeh mendengar percakapan mereka. Ia tersenyum karena menyadari Woojin menatapnya menyelidik.
"Kau, sejak tadi kau menatapku aneh. Ada apa? Apa ada yang salah denganku?" tanya Woojin ketus.
"Tidak," Jongchan tersenyum miring, "Aku hanya heran mengapa Yeonsoo bisa salah mengira bahwa kau gay."
Tunggu! Yeonsoo bahkan memberitahu pemuda ini bahwa ia gay? Gadis itu benar-benar!
"Aku tahu dari blog Yeonsoo. Jangan salah mengira bahwa Yeonsoo yang memberitahuku secara langsung." ucap Jongchan seolah-olah ia bisa membaca pikiran Woojin.
"Kau tahu aku bukan gay dari blog Yeonsoo? Kau juga memiliki hobi sejenis dengan Yeonsoo? Atau kau yang gay?" Woojin menatap Jongchan jijik. Takut bila pemuda itu benar-benar gay dan berniat mendekatinya.
"Bisa dibilang hobiku sejenis dengan Yeonsoo. Awal aku melihat fotomu di blog Yeonsoo, aku langsung tahu bahwa pemilik blog itu adalah Yeonsoo walau ia menggunakan nama samaran." Jongchan menyenderkan punggungnya ke Sofa. Masih dengan senyum menyebalkannya.
Woojin tahu ada yang tidak beres tentang pemuda di depannya. Ia menatap Jongchan tajam.
"Lalu setelah kau tahu aku bukan gay kau mau apa?" tanya Woojin.
"Aku tak bisa membiarkan gadis yang kusukai tinggal dengan pria normal sepertimu," Jongchan balas menatap Woojin tajam, "Aku akan melakukan apapun agar Yeonsoo pindah dari apartemenmu."
Ah! Itu dia poinnya! Ternyata cinta Yeonsoo tak bertepuk sebelah tangan. Jongchan juga menyukai gadis itu. Kalau Yeonsoo tahu hal ini, ia pasti akan berteriak kesenangan.
Tapi tunggu! Melakukan apapun agar Yeonsoo pindah dari apartemennya? Yeonsoo itu tanggung jawab Woojin! Yebin menitipkan gadis itu padanya. Woojin takkan membiarkan Woojin seenaknya membuat Yeonsoo pindah.
"Kau tahu?" Woojin tersenyum miring, "Kau benar. Akan berbahaya bila Yeonsoo tinggal bersamaku. Aku bisa melakukan hal yang tidak-tidak padanya."
"Dan sepertinya aku sudah pernah melakukannya satu kali," Woojin menjilat bibirnya dengan gerakan pelan, "Bibir Yeonsoo sangat lembut~."
Jongchan membelalakkan matanya, ia berdiri dan maju untuk mencengkram kerah Woojin, "Berengs—"
"Minuman datang~" Yeonsoo mengernyit melihat posisi Jongchan dan Woojin, "Kalian sedang apa?"
Jongchan melepaskan kerah kemeja Woojin. Woojin merapikan kembali kerah kemejanya. Ia mengambil tasnya dan berdiri.
"Aku tidak jadi bolos Yeonsoo-ya. Jaga rumah baik-baik, mengerti?" Woojin tersenyum. Ia melangkah dan mengacak-acak rambut Yeonsoo sebelum melangkah ke arah pintu.
Jongchan semakin berang dengan tindakan Woojin. Yeonsoo sendiri hanya mengerjap bingung sebelum meletakkan nampan di atas meja.
"Apa aku ketinggalan sesuatu? Ah, tadi posisi kalian seperti sedang berciuman. Seharusnya aku mengambil gambarnya tadi!" jerit Yeonsoo girang.
"Tidak ada apa-apa," Jongchan terdiam sebentar, "Eumm Yeonsoo-ya, apa Woojin-ssi ... pernah melakukan hal-hal yang aneh padamu?"
"Hal-hal aneh ..." Yeonsoo berpikir sebentar, tiba-tiba wajahnya menjadi merah karena mengingat ciumannya dengan Woojin.
Melihat reaksi Yeonsoo membuat Jongchan emosi. Berarti benar Woojin pernah mencium Yeonsoo. Jongchan tahu Yeonsoo belum pernah berkencan dan berciuman dengan pria lain. Berarti itu ciuman pertama Yeonsoo. Sial! Woojin telah merebut sesuatu yang menjadi miliknya.
'Berengsek!'
***
Woojin bersenandung puas setelah mengerjai Jongchan. Ha, wajah pemuda itu lucu sekali saat tahu Woojin pernah berciuman dengan Yeonsoo. Mendengar mereka pernah berciuman saja membuat Jongchan menampilkan ekspresi seperti itu, apalagi kalau mendengar dirinya dan Yeonsoo pernah ... Eh, tunggu! Apa yang sedang Woojin pikirkan ini?
"Wuaaa apa yang membuatmu senang begini?" tanya Jaehoon yang entah sejak kapan ada di sebelahnya.
"Kau datang?" Woojin pura-pura tak acuh.
"Aku memiliki kabar baik untukmu karena itulah aku kesini." Jaehoon tertawa kecil, "Kau tak perlu takut kita akan digosipkan lagi Woojin-ah. Sekarang takkan ada lagi yang menggosipkan kau dan aku gay."
"Ha? Benarkah?" Woojin menoleh dengan cepat.
Jaehoon mengangguk, "Sekarang gosip itu telah berganti dengan gosip kau menjalin hubungan dengan Seungwan."
Woojin mengernyit. Beredar gosip bahwa ia dan Seungwan menjalin hubungan? Ia akui ia dan Seungwan memang sangat dekat saat ini. Tapi ia tak menyangka gosip tentangnya dan Jaehoon akan mudah digeser begitu saja oleh gosip hubungannya dengan gadis itu. Tapi apa Seungwan tak keberatan dengan gosip itu?
"Ada apa? Kau tak senang? Ah aku tahu, sebenarnya selama ini kau bahagia karena digosipkan denganku bukan? Akui saja, jangan malu Woojin-ah. Aku akan menerimamu tak peduli apapun orientasimu." ucap Jaehoon sambil merangkul Woojin.
Woojin mengernyit jijik dan melepaskan rangkulan Jaehoon. Ia melangkah menjauh dari tempat itu meninggalkan Jaehoon sendirian.
"Hei! Park Woojin, kau mau kemana? Hei!"
***
Woojin tak tahu bagaimana ia bisa terjebak dalam situasi ini. Ini benar-benar bukan gayanya. Tapi ia harus melakukan ini karena penasaran.
Tadi saat ia dan Seungwan akan pulang bersama, tiba-tiba Heejoo datang dan meminta Seungwan untuk ikut dengannya. Karena itulah Woojin mengikuti dua orang itu dan berakhir dengan bersembunyi di balik salah satu dinding koridor sambil menguping pembicaraan mereka.
"Aku tak percaya kau melakukan ini padaku!" Heejoo terdengar sangat marah.
"Kau sangat dekat dengan Woojin-ssi padahal kau tahu bagaimana perasaanku padanya. Jika saja tak beredar kabar kau memiliki hubungan dengannya, aku takkan pernah tahu bahwa kau sedang berusaha menusukku dari belakang."
Perasaan? Jangan-jangan ... Tunggu! Yang Woojin pikirkan ini salah bukan? Heejoo tak mungkin suka padanya bukan?
"Aku hanya ...,"
"Hanya apa? Ha? Pantas saja Yeonsoo memanggilmu bermuka dua! Kau tahu aku mencintai Woojin tapi kau berani mendekatinya!"
Seungwan mengubah ekspresinya menjadi sinis. Ia melengkungkan senyuman mengejek.
"Itu salahmu sendiri. Kau selalu memandangnya dari jauh tanpa pernah mengungkapkan perasaanmu padanya hanya karena gosip bodoh bahwa ia dan Jaehoon memiliki hubungan,"
Ternyata benar Heejoo memiliki perasaan padanya. Astaga, jadi ini alasan mengapa Seungwan menjadi aneh saat mereka di toko buku tempat Heejoo dan Yeonsoo bekerja? Ia takut ketahuan bersama Woojin.
"Seharusnya kau mengatakan padaku bahwa gosip itu tidak benar dan bukannya mendekati pria yang kusukai. Aku tak percaya kau tega melakukan ini padaku Seungwan-ah"
Dari sorot mata gadis itu, Heejoo terlihat sangat terluka. Seungwan kembali melengkungkan senyum sinisnya.
"Terimalah kenyataannya Heejoo-ya. Aku juga memiliki perasaan padanya. Apa kau pikir aku akan mengorbakankan perasaanku hanya karena kau juga mencintainya? Aku tidak sebaik itu."
Saat Seungwan melangkah pergi meninggalkan Heejoo, Woojin memandang Heejoo yang mulai menangis. Ia tak mengerti, bagaimana bisa Heejoo memiliki perasaan padanya? Bahkan seingatnya saat di toko buku itulah pertama kalinya Woojin dan Heejoo bertemu.
Kang Yeonsoo, gadis itu pasti tahu sesuatu! Woojin harus menanyakan hal ini padanya nanti. Woojin pun diam-diam keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas ke parkiran. Seungwan pasti mencarinya saat ini. Woojin harus berpura-pura tak mengetahui apapun.
"Seungwan-ah!"
Seungwan menoleh. Gadis itu tersenyum manis. Woojin membalas senyumannya dan segera menghampirinya.
"Kukira kau pulang duluan Woojin-ah."
"Tidak, aku baru saja dari toilet tadi. Ayo!"
***
Yeonsoo mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Woojin. Berkat Woojin ia jadi tak bisa merasakan suasana romantis selama ia bersama Jongchan. Padahal ia hanya berdua bersama pria itu di apartemen Woojin. Jongchan jadi bertingkah aneh setelah bicara pada Woojin tadi. pria itu terus saja melamun. Aissh! Padahal ini kesempatan yang langka bagi Yeonsoo tapi semua harus hancur karena Woojin!
"Aku pulang!"
Woojin langsung ke dapur karena haus. Ia tidak terkejut karena Yeonsoo terus saja menatapnya sengit. Woojin bukanlah orang yang tidak peka seperti Yeonsoo. Ia tahu dengan jelas bahwa Yeonsoo menyalahkannya soal Jongchan.
"Kau ingin makan apa malam ini?" tanya Woojin.
"Aku tidak ingin makan!" Yeonsoo menggembungkan pipinya sambil memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatap Woojin lagi.
"Ya sudah." Woojin mengendik acuh dan menutup kulkasnya.
Yeonsoo menoleh cepat ke arah Woojin.
"Setidaknya bujuk aku untuk makan. Dasar menyebalkan!" marah Yeonsoo.
"Apa urusannya denganku? Kau makan atau tidak pun aku tak akan rugi. Lagipula bila kau tak makan itu bisa menghemat isi dapurku. Kau takkan bisa tidur tanpa makan malam. Sebentar lagi juga kau akan membujukku untuk membuatkanmu makan malam." Woojin tersenyum meremehkan.
Yeonsoo mendengus dan mengambil jaket dan juga dompetnya. Ia hendak makan malam di luar saja. Kalau perlu lebih baik ia menginap di sauna saja hari ini.
"Hei kau mau kemana?" tanya Woojin.
"Mencari makan malam!"
Woojin menahan Yeonsoo. Ia menutupi pintu dengan tubuhnya. Woojin meneguk ludahnya pelan. Yeonsoo tetaplah tanggung jawabnya. Akan berbahaya jika gadis itu berkeliaran malam-malam begini. Yeonsoo bisa merajuk juga ternyata. Dan ini semua hanya karena pria lembek seperti Jongchan.
"Kalau kau tinggal, aku akan masak daging malam ini." tawar Woojin.
Yeonsoo bimbang. Ia tergiur dengan tawaran Woojin. Yeonsoo berpikir sebentar. Menginap di sauna dan makan malam di luar akan menguras dompetnya. Ia mengangguk. Walau ia banyak mendapat uang berkat pekerjaannya di toko buku dan juga dari blognya, Yeonsoo tak ingin menghabis-habiskan uangnya. Lagipula mengapa ia harus mencari yang mahal selama ada yang gratis?
"Baiklah."
Yeonsoo berbalik dan duduk di sofa. Woojin menghampirinya dan mengacak-acak rambutnya sambil tersenyum. Yeonsoo memandangi punggung pria itu yang menghilang ditelan pintu dapur.
"Yeonsoo-ya," panggil Woojin.
"Ya?"
"Mengenai Heejoo, apakah gadis itu benar-benar menyukaiku?"
Yeonsoo spontan menoleh ke arah dapur. Wooojin sudah tahu? Yeonsoo segera berdiri dan menghampiri Woojin di dapur. Pemuda itu sedang sibuk memotong-motong daging.
"Kau sudah tahu?" tanya Yeonsoo.
"Eum, begitulah." ucap Woojin bersikap tak perduli.
Yeonsoo menggaruk tengkuknya canggung. Apakah ia harus menceritakan semuanya pada Woojin?
"Jadi mengenai sifat Kakak Bermuka Dua ... Kau juga sudah tahu?"
Woojin mengangguk, "Tapi aku masih bingung yang manakah sifat sebenarnya."
"Mengenai Kak Heejoo dan Kak Seungwan, akan lebih baik jika kau tak menaruh perasaan pada keduanya. Kuberitahu padamu, baik Kak Heejoo maupun Kak Seungwan adalah orang yang ambisius. Mereka takkan ragu untuk saling menjatuhkan untuk menarik perhatianmu." ucap Yeonsoo serius.
Woojin berhenti memotong. Ia berbalik menatap Yeonsoo.
"Aku tak mengerti, bagaimana bisa Heejoo memiliki perasaan padaku?" tanya Woojin.
"Bukan hakku untuk memberitahumu, Kak," Yeonsoo terkekeh, "Ah~ padahal kau takkan tertarik pada mereka. Tapi dua gadis cantik itu tetap bertarung untuk memperebutkanmu. Benar-benar tidak adil!"
"Kang Yeonsoo, kau masih belum sadar juga?" Woojin menghela nafas, "Bahkan pria yang kau sukai itu langsung sadar padahal baru pertama kali bertemu denganku. Aku pria normal. Aku bisa menaruh perasaan pada salah satu dari gadis itu. Aku bahkan bisa menaruh perasaanku padamu."
****
Makassar, 02 September 2016