Yeonsoo tertegun. Ia menatap Woojin. Hatinya tergetar mendengar ucapan pria itu. Ia tiba-tiba dilanda gugup.
Ting ... Tong ...
Bel apartemen Woojin menyelamatkan Yeonsoo.
"Aku buka pintu dulu." Yeonsoo segera kabur dan membukakan pintu untuk tamu itu.
"Kak Jaehoon?"
Ternyata tamu tadi adalah Jaehoon dan wanita yang pernah datang dan mengamuk di apartemen ini. Apa kalian masih ingat? Ya, dia adalah Byun Jaehwa, kakak perempuan Jaehoon. Mata Yeonsoo berbinar saat melihat Jaehoon menyodorkan padanya banyak sekali tas karton.
"Wuaaa ini apa?" tanya Yeonsoo.
"Makanan. Aku dan kakakku ingin makan malam bersama kalian. Aku tahu Woojin pasti baru ingin memasak makan malam." jawab Jaehoon. Pria itu terlihat gelisah. Entah karena apa.
Yeonsoo memandang Jaehoon heran. Tapi ia segera mempersilahkan Jaehoon dan kakaknya untuk masuk ke dalam.
"Kak Woojin letakkan pisaumu! Kak Jaehoon membawa makanan untuk kita!" seru Yeonsoo.
Setelah meletakkan daging yang tadi ia potong di kulkas dan mencuci tangannya, Woojin pun menghampiri mereka. Tapi matanya langsung melotot mendengar panggilan Jaehoon untuknya.
"Sayangku!"
Belum lagi pemuda berwajah imut itu tiba-tiba menghampirinya dan memeluk lengannya. Astaga apa Jaehoon sudah gila?
"Hei lepaskan!" Woojin mendorong kening Jaehoon dengan telunjuknya tapi Jaehoon tetap memeluk lengannya erat.
"Tidak mau! Mengapa kau malu begitu? Hanya ada kakakku dan Yeonsoo!" Jaehoon mengerucutkan bibirnya.
Woojin benar-benar yakin Jaehoon kerasukan hantu perawan di jalan sebelum ke apartemennya. Eh Hantu perawan atau hantu p*****r?
"Ya tak apa Woojin-ah, aku sudah menerima hubungan kalian dengan lapang d**a. Lagipula lebih baik ia bersamamu daripada ia terus bermain dengan hati wanita." ucap Jaehwa sambil tersenyum pengertian.
Jika kalian tanya bagaimana reaksi Yeonsoo ... gadis itu kesal sendiri karena merasa tertipu oleh kata-kata Woojin. Padahal ia sudah hampir percaya dengan ucapan pria itu bahwa ia normal. Ah, Yeonsoo jadi merasa bersalah pada Jaehoon.
"Kak, aku ingin bicara sebentar dengan Sayangku, boleh kan?" pinta Jaehoon pada Jaehwa dengan nada manja.
"Eum, aku akan menaruh makanan tadi di piring." ucap Jaehwa sebelum melangkah ke dapur.
"Aku akan membantu!" Yeonsoo mengangkat semua tas karton tadi.
Jaehoon melepaskan lengan Woojin. Woojin mendengus kasar sambil melipat tangannya. Ia menatap Jaehoon menuntut.
"Sekarang jelaskan!" perintah Woojin.
"Baiklah ... Tapi kumohon jangan terkejut!" Jaehoon menarik nafas, "Park Woojin jadilah kekasihku! "
"Apa kau bilang?!"
***
Minkyu masih merajuk pada Yeonsoo. Pemuda itu masih tak ingin bicara sepatah kata pun pada Yeonsoo. Bila ingin menyampaikan sesuatu pada Yeonsoo pun pasti melalu Jungmyeong. Ia masih kesal karena dulu Yeonsoo menipunya dan membuatnya menunggu di kafe selama berjam-jam sementara gadis itu bersenang-senang bersama Jongchan. Kemarin, gadis itu kembali bersama Jongchan ke kafe tempat Minkyu menunggu dan mengenalkan pemuda itu sebagai teman kencan butanya. Minkyu tentu mengenal Jongchan. Sama dengan Yeonsoo yang merupakan adik kelas Jongchan, Minkyu pun begitu.
Jungmyeong sendiri angkat tangan mengenai masalah Minkyu dan Yeonsoo. Walau Yeonsoo berkali-kali merengek padanya untuk membujuk Minkyu agar memaafkan Yeonsoo ... gadis itu harus disadarkan agar mengerti dan peka terhadap perasaan Minkyu.
"Minkyu-ya hari-hariku jadi mendung tanpamu! Senior Jungmyeong tidak seru! Kau belahan jiwaku! Sahabat sejatiku! Kumohon maafkan aku!"
Yeonsoo teriak-teriak di depan gerbang sekolah sambil memegangi spanduk. Tak ada yang berani menegurnya. Para murid masih sayang nyawa mereka dan para guru masih sayang pekerjaan mereka. Ingat bukan Yeonsoo diakui oleh Woojin sebagai sepupunya yang berarti ia cucu pemilik sekolah?
"Kim Minkyu Kelas III-B! Maafkan aku atau akan terus kupermalukan kau disini! Kau tahu aku sanggup melakukan hal-hal gila bukan?" teriak Yeonsoo.
Minkyu hanya mampu menutupi wajahnya saat seluruh siswa menatap ke arahnya. Yeonsoo sialan! Bagaimana bisa Minkyu jatuh hati pada gadis gila ini?
"Hei hentikan!" teriak Minkyu.
"Tidak mau! Maafkan aku dulu!" balas Yeonsoo.
Minkyu berdecak dan turun dari lantai dua ke lantai tempat Yeonsoo berada. Jungmyeong tertawa dan menyusulnya. Walau hanya bertindak figuran, Jungmyeong tak mungkin melewatkan tontonan menarik ini bukan?
"Kubilang hentikan! Untuk apa kau melakukan hal norak begini?" marah Minkyu begitu ia sampai di gerbang sekolah.
"Salahmu sendiri karena terus mengabaikan permintaan maafku! Jika aku tak melakukan ini kau takkan mau bicara padaku," Yeonsoo menggigit bibirnya, "Maafkan aku, ya?"
"Apa kau tahu apa yang membuatku marah?" tanya Minkyu.
"Karena aku membuatmu menunggu di kafe?" jawab Yeonsoo.
Minkyu terkekeh miris, "Kau salah."
"Lalu apa?" tanya Yeonsoo heran.
"Kau tidak peka dengan perasaanku. Aku menyukaimu, bodoh! Dan kau dengan santainya mengatakan kau ikut kencan buta dan bersenang-senang dengan Senior Jongchan?" Minkyu berdecak, "Hatiku sakit kau tahu?"
Yeonsoo terkejut. Benar-benar terkejut. Ia tak tahu Minkyu memiliki perasaan seperti itu padanya. ia mengira Minkyu bahkan tak menganggapnya sebagai wanita.
"Kau ... Menyukaiku?"
"Ya! Kau puas! Setelah mengataimu norak sekarang aku yang norak menyatakan perasaanku didepan semua orang!" gerutu Minkyu.
"Tapi aku—"
"Aku tahu! Kau hanya menganggapku sahabat. Aku sadar akan hal itu jadi selama ini aku diam saja." ucap Minkyu.
"Minkyu-ya~"
"Tak apa. Tak usah pasang wajah aneh begitu. Aku sudah memaafkanmu jadi bisa kau buang spanduk itu? Aisshh, aku turun pasaran karena kau, dasar menyebalkan!"
Yeonsoo memandangi punggung Minkyu yang menjauh. Pemuda itu terlihat terluka walau mengatakan ia tidak apa-apa. Ia memandangi tulisan di spanduknya tadi. Spanduk yang isinya hanya dua kata tapi itu bisa mewakili perasaannya saat ini.
'Maaf Minkyu-ya!'
***
Woojin menjemput Yeonsoo di toko buku seperti biasa. Ia datang bersamaan dengan Jongchan. Mereka saling menatap dengan pandangan menusuk sambil bersandar di mobil masing-masing.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Woojin ketus.
"Menjemput Yeonsoo, memangnya untuk apa lagi?" ucap Jongchan tak kalah ketusnya.
"Yeonsoo tanggung jawabku jadi kau enyahlah!" perintah Woojin.
"Yeonsoo tanggung jawabmu? Memangnya kau siapa? Ayahnya?" ejek Jongchan.
"Yebin menitipkannya padaku berarti ia tanggung jawabku! Aku berhak menentukan ia boleh dekat dengan siapa saja demi kebaikannya." ucap Woojin.
Jongchan terkekeh meremehkan. Tapi ia segera mengubah ekspresinya begitu melihat Yeonsoo dan Heejoo keluar dari toko buku.
"Yeonsoo-ya!"
Yeonsoo menoleh dan melambai pada Jongchan. Ia mengernyit saat melihat Woojin. Ah, memang salahnya karena tak memberitahu Woojin bahwa ia akan dijemput oleh Jongchan. Yeonsoo melirik Heejoo yang ada di sebelahnya. Ia punya ide.
"Kak Woojin, kau datang? Kebetulan sekali! Bisakah kau mengantar Kak Heejoo pulang? Ya? Kumohon!" pinta Yeonsoo.
Woojin ingin menolak. Tapi mengingat Heejoo memiliki perasaan padanya dan mungkin akan sangat terluka bila ia menolak, ia pun mengangguk.
"Hei kau! Antar Yeonsoo dengan selamat atau kupenggal kau!" ancam Woojin pada Jongchan.
"Ya, siap Kak!" ucap Jongchan dengan nada ceria.
Huft dasar! Woojin mendelik pada Yeonsoo. Gadis itu benar-benar membuatnya kesal. Demi bisa pulang dengan Jongchan ia menyingkirkan Woojin? Awas saja bila Woojin pulang nanti! Ia akan menghukum Yeonsoo habis-habisan!
Saat mobil Jongchan melaju dan menghilang di balik tikungan, Woojin beralih pada Heejoo sambil tersenyum.
"Ayo!"
***
Selama berada dalam perjalanan mengantar Heejoo, Woojin berpura-pura tak menyadari Heejoo beberapa kali mengintip ke arahnya. Ia bertingkah biasa. Dan ia baru tahu berpura-pura bertingkah biasa itu melelahkan.
"Woojin-ssi bagaimana hubunganmu dengan Seungwan? Kudengar kalian berpacaran." tanya Heejoo membuka topik pembicaraan.
"Gosip itu tidak benar. Kami hanya bersahabat. Ia membantuku mengerjakan skripsiku beberapa hari ini. Karena itu kami menjadi sangat dekat." Woojin masih berusaha menjaga perasaan Heejoo.
Heejoo tersenyum simpul. Woojin tak tahu apa yang gadis itu pikirkan. Seungwan dan Heejoo, mereka sama-sama sulit ditebak.
"Woojin-ssi,"
"Hm?"
"Aku tahu kau menguping pembicaraanku dan Seungwan kemarin."
Tubuh Woojin menegang. Heejoo tahu?
"Aku tahu kau tak memiliki perasaan padaku. Lagipula percakapan kita di toko buku tempatku dan Yeonsoo bekerja adalah pertama kalinya kita bercakap-cakap." ucap Heejoo.
Ah, jadi ia benar. Saat di toko buku itulah ia pertama kali berbincang-bincang dengan Heejoo.
"Tapi aku mengenalmu jauh sebelum itu," Heejoo terkekeh, "Apa kau tahu aku, Seungwan dan Yebin dulunya bersahabat?"
Woojin terkejut. Woojin tak tahu bahwa Seungwan dulunya sahabat Yebin. Tahu begitu dulu ia tak perlu susah-susah berguru pada Jaehoon hingga dikira gay.
"Yebin tak pernah menceritakan hal itu padaku." ucap Woojin.
"Kalian baru dekat dengan Yebin saat kelas tiga SMP bukan? Aku tahu ia takkan menceritakannya pada kalian. Kami adalah masa lalu yang ingin ia lupakan." ucap Heejoo sambil tersenyum miris.
"Masa lalu yang ingin ia lupakan?"
***
Makassar, 05 September 2016