Yeonsoo menggigiti kukunya sambil terus mondar-mandir di depan apartemen Woojin. Apa yang ia lakukan ini sudah benar? Mengenai Heejoo dan Changbin ... Yeonsoo takut semua akan menjadi lebih rumit pada akhirnya.
"Hei, mengapa kau disini?"
Suara itu sontak membuat Yeonsoo menoleh. Ia mengubah ekspresinya kala menyadari yang menegurnya tadi bukanlah Woojin.
"Aku menunggu Kak Woojin," jawab Yeonsoo.
"Woojin? Bukankah ia pergi menjemputmu di tempat kerjamu tadi?" tanya Jaehoon heran.
"Ya, tapi aku memintanya mengantar rekan kerjaku pulang." jawab Yeonsoo lagi.
Jaehoon mengangguk-angguk mengerti.
"Mengapa kau tak menunggunya di dalam? Ck, dasar bodoh!" ejek Jaehoon.
"Biarkan saja! Eh, tunggu! Apa itu di tanganmu?" tanya Yeonsoo.
Baekhyun menatap kantong plastik di tangannya sambil menyeringai.
"Bila kau penasaran mengapa kau tak lihat sendiri apa ini? Ayo masuk ke dalam!" Jaehoon merangkul Yeonsoo untuk masuk ke apartemen. Menunggu Woojin pulang untuk menjalankan rencananya.
***
Woojin memasuki apartemennya dengan lemas. Matanya membola melihat apa yang dilakukan Jaehoon dan Yeonsoo di ruang tamunya.
"Kak Woojin, kau datang? Ayo kemarilah! Bergabung bersama kami!" ajak Seulgi.
Woojin meneguk ludahnya kasar. Astaga dua orang ini! Woojin menghampiri Yeonsoo dan merebut minuman yang dipegang gadis itu.
"Hei, siapa yang mengizinkan kalian membuat apartemenku berantakan seperti ini?! Tulang ayam berserakan dimana-mana. Tunggu! Bir? Hei Kang Yeonsoo, kau masih enam belas tahun!" marah Woojin.
"Biarkan saja dia. Bukankah kau juga pertama kali meminum ini saat kau masih enam belas tahun?" ejek Jaehoon sambil merebut kaleng bir di tangan Woojin dan memberikannya pada Yeonsoo.
Woojin merebut bir itu lagi dari tangan Seulgi dan meneguknya hingga habis. Yeonsoo menatapnya sambil membola sedangkan Jaehoon menyeringai.
"Dia tanggung jawabku! Aku takkan membiarkan kau mempengaruhinya dengan hal-hal yang negatif!"
Jaehoon mengendikkan bahunya dan membuka kaleng bir kedua sebelum memberikannya pada Yeonsoo. Dan sekali lagi Woojin merebutnya dan meneguknya hingga tandas. Jaehoon terus saja memberi Yeonsoo bir dan dengan bodohnya Woojin terus merebutnya. Dan akhirnya ...
Bruk ...
"Astaga!"
Yeonsoo menjerit ketika Woojin tiba-tiba ambruk ke lantai. Jaehoon tertawa. Misi sukses!
"Kak Jaehoon, apa tidak apa-apa kita melakukan hal ini?" tanya Yeonsoo khawatir.
"Mengapa kau tiba-tiba menjadi penakut begini? Jika ada yang akan dibunuh olehnya saat ia sadar, orang itu pasti adalah aku," Jaehoon tertawa, "Ayo bantu aku membawanya ke kamar!"
Jaehoon dan Yeonsoo kesulitan memapah Woojin karena tubuh pemuda itu yang tinggi dan berat. Oh, apa yang kalian harapkan dari dua kurcaci yang berusaha mengangkat beruang bertelinga lebar?
"Aku tak kuat lagi!" keluh Yeonsoo.
"Aku juga!"
Mereka akhirnya menyerah dan jatuh terduduk di lantai. Woojin ikut jatuh bersama mereka. Pria itu malah sedang memeluk tembok dengan erat sekarang.
"Sebenarnya untuk apa kau membuatnya mabuk begini?" tanya Yeonsoo.
"Beberapa hari ini aku khawatir padanya," Jaehoon mengelus dagunya ala detektif, "Ia terus saja melamun. Lagipula dengan membuatnya mabuk begini, aku bisa balas dendam karena ia menolakku tempo hari."
"B-balas dendam?" pikiran Yeonsoo melayang ke komik gay yang dibacanya tadi pagi. Astaga! Otak fujoshinya mulai mengambil alih.
"Eum, coba lihat ini!"
Jaehoon mendekati Woojin dan berjongkok di depan pria itu. Ia tersenyum miring.
"Woojin-ah~ pakaian dalam warna apa yang kau gunakan saat ini?" tanya Jaehoon dengan manja.
Woojin membuka matanya dan mendongak menatap Jaehoon, ia lalu menunduk menatap celana jeansnya, "Hijau."
Yeonsoo dan Jaehoon sontak tergelak geli.
"Lihat? Beginilah caranya. Ia tak bisa menyembunyikan apapun saat ia mabuk. Aku dan Yebin selalu melakukan ini jika kami khawatir padanya. Saat ia sadar, ia takkan mau mengatakan apa masalahnya pada kami. Karena itu kami melakukan ini." jelas Jaehoon.
"Baiklah, tanyai dia mengenai apa yang ia bicarakan dengan Kak Heejoo tadi!" pinta Yeonsoo
"Apa? Dia bersama Kim Heejoo tadi?"
"Kau akan mengerti nanti. Sekarang cepat tanyakan padanya!"
Jaehoon pun ikut penasaran. Ia kembali berbalik ke arah Woojin.
"Woojin-ah~ apa yang kau bicarakan dengan Heejoo tadi?" tanya Jaehoon.
"Yebin," Woojin mengerjap malas, "Kami bicara tentang masa lalu Yebin."
#flashback
Yebin tersenyum melihat selembar foto yang ada di tangannya. Yeay! Ia berhasil mendapatkan foto pemuda yang ia sukai tanpa ketahuan. Biasanya foto yang ia ambil gambarnya selalu kabur karena ia selalu gemetaran saat melihat wajah pemuda itu
"Kau harus membayarku dengan mahal! Sangat sulit untuk membuat Byun Jaehoon berpose seperti itu kau tahu?" gerutu Heejoo.
"Kau kan dari klub fotografi, apa sulitnya mengatakan kau ingin dia jadi objekmu? Kau tinggal mengatakan ini untuk tugas klubmu." ucap Yebin tak acuh.
Bibir Heejoo mengerucut. Tapi ia tersenyum karena melihat mata Yebin yang berbinar saat memandangi foto itu.
"Kalian sedang apa?" tegur seseorang.
"Wua!"
Yebin sontak menyembunyikan foto tadi di saku seragamnya.
"Hei, kau mengagetkan kami!" protes Heejoo sambil mengelus dadanya.
Seungwan mengendikkan bahunya acuh. Yebin kembali mengeluarkan foto Jaehoon yang disembunyikannya tadi.
"Astaga! Jadi koyak kan!" gerutu Yebin.
"Kau masih menyukai pemuda pendek itu?" Seungwan mengibas-ngibaskan tangannya, "Ia benar-benar di bawah standar, kau tahu?"
"Apa kau bilang? Hei! Walau pendek begitu tapi banyak gadis yang menyukainya. Lagipula kita masih remaja, tingginya pasti akan bertambah saat kita dewasa nanti."
"Terserah kau lah." Seungwan berdecih, "Tapi mengapa kalian ketakutan begitu?"
"Jaehoon adalah kekasih sang Ratu sekolah kita saat ini. Bisa gawat bila ada yang tahu Yebin menyukai Byun Jaehoon dan aku memfotonya diam-diam untuknya." ucap Heejoo khawatir.
"Kau tenang saja, aku takkan membawa namamu dalam masalah ini!" Yebin merangkul bahu Heejoo.
"Demi pria itu kau berani mengorbankan dirimu begitu? Hah, seperti biasa kau memang bodoh!" cibir Seungwan.
"Kau bilang apa tadi? Hei, kesini kau!"
Heejoo sontak tertawa mendengar pertengkaran kedua sahabatnya. Ia menatap foto yang ada di tangan Yebin. Byun Jaehoon, ya?
***
Yebin meronta saat dirinya diseret masuk ke dalam toilet. Sayangnya ia tak mampu untuk melawan para siswi yang menyeretnya itu.
"Lepaskan! Mmbbffttt!" kepala Yebin dicelupkan ke closet oleh para siswi itu.
"Ha! Kau pikir kau pantas untuk menyukai Byun Jaehoon, ha? Sadar dirilah!" ucap salah satu siswi.
Yebin kehabisan tenaga. Kepalanya diangkat dan dicelupkan berulang kali ke dalam toilet itu.
Para siswi itu terus tertawa. Mereka lalu menjambak rambut Yebin. Membuatnya menoleh ke belakang dan menatap Heejoo dan Seungwan yang hanya memandanginya dari jauh tanpa berniat menolong.
"Lihat teman-temanmu yang disana? Apa kau tahu? Merekalah yang memberitahu sang Ratu bahwa kau menyukai prianya." ucap mereka.
Yebin menatap Heejoo dan Seungwan dengan tatapan terluka. Ia tak menyangka teman-temannya mengkhianatinya seperti itu. Ia pun tak melawan lagi saat dirinya kembali disiksa.
Heejoo ingin menolongnya tapi Seungwan menahannya. Heejoo menepis tangan Seungwan.
"Kau yang melaporkannya pada sang Ratu bukan?" desis Heejoo marah.
"Akan lebih baik jika sang Ratu tahu sebelum terlambat. Ia akan lebih disiksa lagi jika ia terlalu lama menyimpan perasaannya. Aku sudah berusaha memintanya untuk melupakan perasaannya. Tapi ia tetap keras kepala. Hanya hal ini yang bisa kulakukan untuknya." ucap Seungwan.
"T-tapi—"
"Cukup diam saja maka kau takkan menambah penderitaannya. Kau tak boleh terlibat atau kau juga akan menerima penderitaan yang sama dengannya. Ayo pergi."
Seungwan menarik tangan Heejoo untuk keluar dari tempat itu. Heejoo hanya dapat bergumam 'maaf' untuk Yebin sebelum mengikuti Seungwan keluar. Ia benar-benar merasa bersalah pada Yebin. Tapi ia tak bisa melakukan apapun.
#flashback off
"Apa kau bilang?! Yebin suka padaku? Wanita tanpa urat malu itu?" jerit Jaehoon tak percaya.
Yeonsoo sontak memukul kepala Jaehoon dengan kencang. Hei! Bagaimanapun Yebin itu kakaknya, tahu!
"Diamlah! Tak perlu histeris begitu, Kak. Lagipula bukannya kau tadi bilang Kak Woojin selalu mengatakan hal yang sebenarnya saat ia mabuk? Itu berarti apa yang ia katakan benar adanya." ucap Yeonsoo.
"Tapi saat ia pertama kali berkenalan langsung denganku ... Ia adalah seorang ratu sekolah! Lagipula yang lebih dulu berkenalan dengannya adalah Park Woojin!" ucap Jaehoon masih tak percaya.
Seulgi menatap ke arah Woojin. Ia menghela nafas.
"Cukup untuk hari ini. Ayo bawa ia ke kamarnya!" Yeonsoo berdiri dan mencoba kembali memapah Woojin.
"Hei, hanya sampai sini saja? Kau tak ingin menanyainya mengenai hal lain?" tanya Jaehoon. Adalah kesempatan yang langka untuk membuat Woojin mabuk.
"Berhenti mengoceh dan bantu aku! Ugghh berat!"
***
Ceklek ...
Seperginya Jaehoon, Yeonsoo masuk ke kamar Woojin. Ia masih penasaran. Walau sejak awal ia tahu Heejoo dan Yebin bermusuhan karena kejadian di masa lalu mereka, tapi ada satu hal yang ia tak tahu dan ingin ia ketahui.
Yeonsoo duduk di pinggiran ranjang Woojin. Menatap langsung ke wajah pria itu. Astaga Woojin tampan sekali! Lihat rahang itu, mata yang terpejam itu, hidung itu dan juga bibir itu! Yeonsoo jadi berpikir yang tidak-tidak lagi sekarang. Oh, ini tidak boleh! Benar-benar tidak boleh!
"Baiklah sekarang ayo fokus!" Yeonsoo menghela nafas.
"Woojin-ah~ bagaimana awal pertemuanmu dengan Kang Yebin?" tanya Yeonsoo sambil menirukan nada Jaehoon saat bertanya tadi.
Woojin membuka matanya. Ia menatap Yeonsoo sayu.
"Kau ingin tahu?" Woojin tersenyum, "Hari itu—"
#flashback
Woojin kembali ke sekolah dengan frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya. Woojin tak percaya Gyoseok tega melakukan hal ini padanya. Sekarang ia harus bagaimana? Ia harus tinggal dimana? Jika ia menginap di sekolah ... kalau ia ketahuan bagaimana?
"Hiks ... Hiks ...,"
Saat melewati toilet wanita, ia mendengar suara tangisan. Woojin memang sering mendengar bahwa sekolahnya itu angker. Tapi ia tak menyangka ia akan menyaksikan sendiri keangkeran sekolahnya.
"P-permisi aku hanya numpang lewat~" ucap Woojin takut-takut.
Woojin berniat pergi tapi sayup-sayup ia mendengar suara wanita.
"T-tolong! Siapa saja yang ada di luar tolong buka pintu ini!"
Woojin meneguk ludahnya kasar. Haruskah ia masuk ke dalam dan memeriksanya? Tapi ia kan pria! Mana boleh masuk ke toilet wanita?
"Ah sudahlah! Lebih baik aku masuk saja!"
Woojin memasuki toilet wanita itu dengan hati-hati. Ia menatap bilik yang sepertinya merupakan sumber suara yang didengarnya tadi.
Tok ... Tok ...
"K-kau manusia atau hantu?" tanya Woojin.
"Hantu!" sahut suara itu.
"Oh, hantu? Kalau begitu aku permisi!" Woojin berniat kabur.
"Tunggu!"
Woojin menghentikan langkahnya. Terdengar suara helaan nafas dari bilik itu.
"Aku manusia! Cepat buka pintu ini! Aku kedinginan!"
"Eumm, sepertinya kau memang manusia, hantu mana bisa menghela nafas?" Woojin mengendik dan mencari sesuatu untuk membuka pintu itu.
Tak ada kunci atau apapun. Mau meminta kunci ke ruang tata usaha pun tidak mungkin karena sudah malam. Pasti guru-guru sudah pulang. Terpaksa Woojin harus mendobrak pintunya.
"Mundurlah!" teriak Woojin.
"Apa?"
Brukk!
Woojin mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Astaga seharusnya pintu ini langsung terbuka seperti di film-film. Ternyata mendobrak pintu membutuhkan banyak tenaga.
Bukk!
Setelah empat kali percobaan akhirnya ia berhasil membuat pintu terbuka. Aduh lengan atasnya sakit sekali!
Woojin terkejut melihat siapa yang ada di dalam bilik itu.
"Hantu!" jeritnya.
"Ah diamlah! Kau berisik sekali!" gadis itu melangkah dengan lemas keluar dari bilik.
Gadis itu hampir ambruk. Untungnya Woojin menahannya.
"Kau manusia. Syukurlah! Eh? Tapi mengapa penampilanmu mengenaskan begini? Baumu juga ... Astaga sulit untuk menjabarkannya." Woojin mengernyit.
"Aku tak butuh komentarmu. Aisshh dua wanita sialan dan Ratu busuk itu! Akan kubalas mereka!" marah gadis itu.
"Kau ... Tunggu! Kau Yebin kan? Kita satu kelas bukan?" Chanyeol menatap Yebin heran.
"Ya, terimakasih telah menolongku." ucap Yebin.
"Tak usah dipikirkan. Eumm sebaiknya kau bersihkan tubuhmu. Aku tunggu diluar." ucap Woojin.
Yebin mengangguk lemas. Woojin pun keluar dari toilet itu. Ah, setelah ini ia harus apa? Suasana disini canggung sekali.
"Apa yang kau lakukan di sekolah malam-malam begini?" suara Yebin membuat Woojin tersadar dari lamunannya.
"I-itu ... Aku ... Itu urusan pribadi!" jawab Woojin. Ia balas bertanya, "Kau sendiri mengapa terkunci di bilik itu?"
Yebin keluar dari kamar mandi. Penampilannya jadi sedikit lebih baik. Hanya saja bau dari seragamnya masih menyengat.
"Menurutmu apa? Kau tentu sudah bisa menebaknya." ucap Yebin.
Woojin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tunggu! Mungkin ia bisa meminta tolong pada Yebin!
"T-tunggu!"
"Apa?" tanya Yebin. Ia ingin segera pulang dan membersihkan tubuhnya.
"Kau tinggal sendirian bukan?" tanya Woojin.
"Begitulah."
"Eumm, aku tidak berniat jahat tapi ... Bisakah aku menginap di rumahmu?" pinta Woojin.
"Apa kau bilang?!"
Woojin tak terlalu berharap Yebin akan menolongnya. Lagipula tindakannya saat ini sangat aneh. Bagaimana bisa ia meminta menginap di rumah seorang gadis yang bahkan tidak akrab dengannya?
Yebin tampak berpikir, "Hmm ... Baiklah! Anggap saja balas budi karena kau menolongku. Tapi sebelum itu ceritakan padaku mengapa kau ingin menginap di rumahku."
Woojin tak percaya hal ini. Yebin membiarkannya menginap di rumahnya? Astaga, Woojin benar-benar tertolong!
" Aku benar-benar tertolong! Terimakasih!"
Dan dari sanalah persahabatan mereka dimulai ...
#flashback off
***
Makassar, 12 September 2016