Part 11 - Canggung

1421 Kata
Woojin terbangun di kamarnya dengan kepala yang seperti mau lepas. Astaga efek dari alkohol itu benar-benar menyiksanya. Woojin berjanji akan membunuh Jaehoon nanti. Ia melangkah dengan terhuyung-huyung ke dapur. Woojin mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Berusaha mengingat apa yang terjadi setelah ia mabuk. "Ah terserahlah! Yang jelas bangunkan Yeonsoo dulu." Woojin menaruh gelasnya dan melangkah menuju kamar Yeonsoo. Ceklek ... Ceklek ceklek ... "Terkunci?" Woojin mengernyitkan keningnya heran. Aneh. Biasanya Yeonsoo tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Tok tok tok ... "Kang Yeonsoo! Bangunlah! Sudah pagi!" teriak Woojin. Tak ada jawaban. Woojin mencoba mengetuk-ngetuk pintu kamar Yeonsoo lagi. "Kang Yeonsoo cepatlah!" "T-tunggu!" Yeonsoo membalas teriakan Woojin. Ceklek ... Satu keanehan lagi. Sejak kapan Yeonsoo bisa bangun pagi? Belum lagi saat keluar dari kamar, gadis itu sudah mandi dan memakai seragamnya. Dan sejak kapan Yeonsoo suka memakai syal? "Kau sudah siap? Astaga, kau kerasukan ya?" Woojin berniat memegang kening Yeonsoo untuk memeriksa suhu tubuhnya. Yeonsoo mundur dan menepis tangan Woojin. Wajahnya merah padam. Pandangan matanya juga seperti menghindari mata Woojin. "A-aku piket hari ini jadi aku akan pergi sekarang. Aku sarapan di sekolah saja." ucap Yeonsoo sebelum berbalik mengunci pintu kamarnya. Ia pun memakai tasnya dan melangkah meninggalkan Woojin terpaku di depan kamarnya. Yeonsoo benar-benar aneh hari ini. Maksud Woojin, Yeonsoo yang ia kenal selalu berperilaku aneh setiap hari. Tapi untuk hari ini entah karena apa gadis itu berperilaku normal. "Apa ada yang terjadi semalam?" gumamnya. Ia kembali melangkah ke dapur. Matanya menangkap sebuah kertas berwarna kuning yang tertempel di pintu kulkasnya. Ia tak memperhatikan kertas itu tadi. Woojin mencopot kertas itu dan membaca isinya. Ah ... jadi karena ini Yeonsoo bertingkah seperti tadi? 'Aku sudah tahu tentang orientasi seksualmu yang sebenarnya, Kak. Maaf karena selama ini aku sudah salah mengira kau gay.' "Seharusnya aku bersyukur karena ia sudah tidak salah mengira aku gay lagi. Tapi melihat tingkahnya yang canggung padaku ..., Mengapa aku merasa khawatir, ya?" *** Yeonsoo memukul-mukul meja kantin sambil terus terisak. Astaga! Woojin bahkan sudah melihat ia telanjang! Dan pria itu normal? Arrgghh, Yeonsoo ingin bunuh diri saja rasanya! Minkyu memberikan segulung tisu padanya. Yeonsoo langsung mengambil tisu itu dan melap semua air matanya. "Darimana kau mendapat tisu itu?" tanya Jungmyeong. "Toilet pria. Lagipula aku tak ingin membuang-buang uang hanya untuk membeli tisu. Selama ada yang gratis untuk apa cari yang dibayar?" jawab Minkyu. "Aku suka mottomu." Yeonsoo mendongak dan mengajak Minkyu bertos ria. Tapi setelah itu ia kembali menangis meratapi nasibnya. Minkyu duduk di sebelah Yeonsoo. Ia menepuk-nepuk bahu gadis itu untuk menenangkannya. "Jadi ia sudah pernah melihatmu telanjang? Kau juga selalu memakai pakaian yang seksi di apartemennya karena mengira ia gay?" ucap Minkyu. Pemuda itu berdecak, "Ck, dia beruntung sekali!" "Bodoh! Kita disini untuk menghibur Yeonsoo, bukannya untuk memuji betapa beruntungnya Kak Woojin. Walaupun kuakui ia memang beruntung." ucap Jungmyeong. Yeonsoo mendongak dan menatap kedua sahabatnya. "Aku tak punya wajah lagi untuk bertemu dengannya!" isak Yeonsoo. "Mau bagaimana lagi? Kau tinggal di apartemennya bukan?" hibur Jungmyeong. Yeonsoo mengangguk. Kembali menunduk dan mengambil tisu yang masih dipegangi oleh Minkyu. "Bukannya uang tabunganmu sudah cukup untuk menyewa apartemen sendiri? Kurasa cukup untuk lima bulan. Lagipula kau masih bekerja bukan? Kau bisa mengumpulkan uang untuk bulan-bulan berikutnya." saran Minkyu. Yeonsoo menegakkan kepalanya. Ide bagus! Ia mencengkram kedua sisi wajah Minkyu. "Aku bangga kali ini kau menggunakan otakmu dengan baik!" Cup ... Yeonsoo mencium pipi Minkyu dan membuat pemuda itu membeku di tempat. Yeonsoo mengusap air matanya dan berdiri. Ia sudah menemukan solusinya. Yeonsoo tersenyum ceria sambil melangkah meninggalkan teman-temannya yang masih belum sadar. Minkyu yang akhirnya tersadar pun memegangi pipinya. Jungmyeong pun menepuk pundaknya. "Kendalikan perasaanmu kawan. Anggap saja ciuman tadi hanya cobaan ditengah-tengah kehidupan cintamu yang kelam." ucap Jungmyeong. Yah! Minkyu sudah bertekad untuk melupakan Yeonsoo. Ciuman di pipi tadi bukan hal yang penting! Walaupun jantung Minkyu masih berdebar-debar karena ciuman tadi tapi tidak apa-apa! Walaupun wajahnya masih memerah, tidak apa-apa! Ya, tidak apa-apa! *** Woojin tahu Yeonsoo ingin memberitahu sesuatu padanya. Saat ia dan Yeonsoo makan malam tadi, gadis itu masih bertingkah canggung padanya. Saat Woojin membuka pembicaraan, gadis itu malah melamun dan tidak fokus. Oh iya Mengenai skripsinya, berkat Seungwan semua sudah selesai. Dosennya bahkan memuji materi dari skripsinya. Karena itu, Woojin akan sering berada di apartemennya sekarang. Ia tidak ingin Yeonsoo merasa tak nyaman dengannya. "Kak Woojin," akhirnya Yeonsoo memberanikan diri untuk bicara terlebih dahulu. "Ya?" "I-itu ... A-aku berpikir untuk pindah dari apartemen ini dan tinggal sendirian," Tunggu! Tinggal sendiri? Apa maksudnya ini? Apa Jongchan yang menghasut Yeonsoo hingga gadis itu jadi ingin pindah? "Yeonsoo-ya—" "Jangan menyela dulu! Aku merasa tidak enak karena selama ini aku sudah salah sangka terhadapmu. Kau normal dan seperti yang kau tahu, kau bahkan sudah pernah melihat ...," wajah Yeonsoo memerah, "Arrgghhh yang jelas aku ingin tinggal sendiri mulai sekarang!" Woojin mengernyit. Ia mengerti Yeonsoo merasa malu padanya. Tapi tidak harus pindah dari apartemennya juga kan? "Kau masih tanggung jawabku. Yebin menitipkanmu padaku dan dengan kata lain aku walimu sekarang. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu karena kau berada di luar pengawasanku." ucap Woojin mencari alasan. Yeonsoo menggeleng dengan cepat. "Dengan kita tinggal bersama juga akan berbahaya bagiku!" "Apa maksudmu?" Woojin mengernyit, "Kang Yeonsoo jujurlah padaku, apa ada sesuatu yang terjadi saat aku mabuk? Apa aku melakukan hal yang salah padamu?" tanya Woojin. Yeonsoo terdiam. Haruskah ia menceritakannya pada Woojin? "I-itu ...," *** #flashback Yeonsoo tak menyangka kalau kakaknya pernah diperlakukan seperti itu. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah kenyataan bahwa Woojin pernah tinggal bersama kakaknya. Pantas saja Yebin dengan santainya membuat keputusan untuk menitipkan ia pada Woojin. "Jangan-jangan kejadian itu membuat Kak Yebin bertekad menjadi seorang ratu sekolah?" Yeonsoo bergidik, "Hiii mengerikan!" Woojin menoleh pada Yeonsoo. Ia tersenyum aneh. "Kau Kang Yeonsoo bukan? Kang Yeonsoo yang mengira aku gay itu?" Woojin memegang kedua sisi wajah Yeonsoo. Membuat gadis itu terpaksa menunduk. "Bukannya kau memang gay?" cibir Yeonsoo. "Kau salah besar. Aku bukan gay! Dan yang sikapmu yang memperlakukanku sebagai pria gay membuatku frustasi!" Srekk ... Yeonsoo jatuh terbaring di ranjang berkat tarikan Woojin. Woojin yang tadinya berbaring sekarang malah berada di atasnya dan menindihnya. O-ow! Ini posisi berbahaya! Terakhir kali Yeonsoo dan Woojin seperti ini ... Yeonsoo kehilangan keperawanan bibirnya. "Kau tahu? Kau selalu memakai pakaian yang seksi walau tahu kau dan aku hanya berdua di apartemen. Bahkan kau dengan santainya telanjang di depanku. Kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri?" Woojin mengelus pipi Yeonsoo, "Jika aku tidak mengingat kau mengira aku gay ... Mungkin aku akan menganggapmu sedang menggodaku." Yeonsoo berjengit ketakutan. Ok ok tenang Kang Yeonsoo! Tenang! Ah bagaimana ia bisa tenang jika wajah Woojin sudah sedekat itu dengannya? Belum lagi sekarang ia tahu Woojin itu pria normal! Biasanya Yeonsoo takkan percaya walau Woojin bersikeras mengenai orientasi seksualnya yang normal. Tapi saat ini ia sudah benar-benar percaya. Lagipula orang yang sedang mabuk mana bisa berbohong? "K-kak Woojin menyingkirlah dari tubuhku!" pinta Yeonsoo. "Tidak mau~," "Kak Woojin, kumohon!" Bukannya menyingkir, Woojin malah menunduk dan menciumi lehernya. O-ow! Astaga! Astaga! Astaga! "K-Kak Woojin!" Woojin tersenyum mengejek, "Ada apa? Apa pria gay bisa melakukan hal ini pada seorang wanita? Apa yang harus kulakukan agar kau percaya?" Yeonsoo merinding saat Woojin meniup leher dan telinganya. Ia makin ketakutan. Ciuman pria itu turun ke bahunya. Yeonsoo mengutuki dirinya yang hanya memakai tanktop sekarang. Dan saat Yeonsoo mendongak untuk mencium bibirnya ... "Aku percaya! Aku benar-benar percaya! Kau normal! Benar-benar normal!" jerit Yeonsoo. Woojin mendongak kembali, "Kau benar-benar percaya?" Yeonsoo mengangguk dengan cepat. Woojin tersenyum, "Akhirnya kau percaya juga." Bruk ... Pria itu jatuh tertidur di atas tubuh Yeonsoo. Astaga! Tubuh Yeonsoo rasanya seperti ketindihan gajah. "Aku ... Selamat?" #flashback off Wajah Yeonsoo dan Woojin sama-sama memanas. Ok sekarang bukan hanya Yeonsoo yang canggung, tapi Woojin juga. "A-aku penasaran mengenai satu hal," Yeonsoo menatap Woojin takut-takut, "Apa selama kau tinggal dengan kakakku kau juga pernah melakukan apa yang kau lakukan padaku kemarin?" "Tidak pernah! Benar-benar tidak pernah! Percayalah padaku!" elak Woojin. "Aku akan percaya padamu. Lagipula ini semua terjadi karena aku tak percaya padamu." ucap Yeonsoo sambil menunduk. Woojin menghela nafas dan memegangi kedua bahu Yeonsoo. Ia menatap Yeonsoo dengan sungguh-sungguh. "Karena itu, percayalah hal ini juga. Tetaplah tinggal di apartemenku. Aku berjanji takkan melakukan hal aneh apapun padamu." ucap Woojin. Yeonsoo menimbang-nimbang. Haruskah ia? "Apa aku bisa memegang janjimu?" tanya Yeonsoo. "Eum, selama kau tidak telanjang lagi di depanku ... Aku takkan melakukan apapun padamu." "Kak Woojin! Jangan ingatkan aku hal itu lagi!" *** Makassar, 16 September 2016
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN